Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daily Kampus
"Aduh, telat, nggak, ya?" Raisa menggerutu pelan seraya mempercepat langkahnya.
Tok... tok... tok...
Langkah kaki Raisa menggema di koridor kampus. Senyum manis tersungging di bibirnya saat menyapa beberapa kenalan yang berpapasan.
"Cha!"
"Hai!" balas Raisa ceria.
Langkah Raisa terhenti di depan sebuah ruang kelas. "Belum mulai?" tanyanya.
"Belum," jawab Andini singkat.
Beberapa teman sekelasnya tampak duduk santai di bangku panjang koridor.
"Duh, untung nggak telat," ujar Raisa lega sambil mendudukkan diri di sebelah Indah.
"Biasa, dosennya ngaret 20 menit," sahut Indah sambil terkekeh.
Raisa membalasnya dengan senyum tipis. "Udah dapat kelompok buat presentasi minggu depan?" tanya Indah tiba-tiba.
Raisa menoleh, berusaha mengingat-ingat. "Belum," jawabnya singkat.
"Ikut kelompok kita aja!" Andini menyambar antusias.
"Rendy ngebet banget bisa sekelompok sama kamu," timpal Indah sambil menggoda Raisa.
"Ah, bisa aja kamu," celetuk Raisa, mencoba mengingat sosok Rendy yang perlahan muncul dalam ingatannya. Rendy, teman laki-laki yang dulu gigih mengejarnya hingga akhirnya mereka bersahabat.
"Eh, Raisa!" Andini kembali memanggil, membuat Raisa menoleh.
"Ya?"
"Nanti pulang kuliah kita mau nonton, mau ikut?" tanya Andini penuh harap.
"Emm, gimana ya?" Raisa ragu, karena sudah punya rencana lain.
"Ikut aja, yuk! Rame-rame, kok," Indah berusaha meyakinkan.
Raisa terdiam sejenak, menimbang ajakan itu. "Kita lihat nanti, ya," jawab Raisa masih ragu.
Tiba-tiba, dari arah samping, seseorang menggeser Andini yang duduk di sebelah Raisa.
"Ikutlah, masa nggak? 'Aa' Rendy kan juga ikut," celetuk Rendy yang tiba-tiba sudah duduk di samping Raisa, tangannya bahkan merangkul bahu Raisa.
"Iih, apaan, sih? Main rangkul-rangkul aja," Raisa melepaskan tangan Rendy dari bahunya.
Rendy hanya menyengir melihat Raisa yang tampak risih. "Nanti perginya sama 'Aa' Rendy," kata Rendy lagi sambil menatap Raisa.
"Awas kalau pegang-pegang," ancam Raisa, sedikit menjaga jarak.
"Ngik... ngik... ngik..."
Indah dan Andini tertawa cekikikan melihat interaksi lucu antara Rendy dan Raisa.
Tak lama kemudian,
Tok... tok... tok...
Suara sepatu Pak Munawar terdengar dari kejauhan. Beliau tampak terburu-buru memasuki ruang kelas.
Seketika, Raisa, Indah, Andini, dan Rendy bangkit berdiri. Semua mahasiswa yang menunggu di koridor berhamburan masuk ke dalam kelas.
Setelah kelas usai, Raisa memutuskan untuk tidak ikut nonton bioskop bersama teman-temannya.
"Maaf, ya, aku nggak bisa ikut," ucap Raisa.
"Yah... kenapa?" tanya Indah sedikit kecewa.
"Aku ada urusan," jawab Raisa. "Maaf, ya," kata Raisa lagi sambil melambaikan tangan ke arah teman-temannya seraya beranjak pergi.
"Iya, iya, Cha," kata Andini memaklumi.
"Lain kali aku janji ikut," kata Raisa sambil berlalu.
Raisa lebih memilih pergi ke Gramedia, sesuai rencana awalnya. Entah mengapa, beberapa hari ini ia terus memikirkan untuk pergi ke toko buku itu, seolah ada energi yang menariknya ke sana.
"Kangen sama tempat ini," ucap Raisa sambil tersenyum melihat Gramedia yang ada di depannya.
Saat melangkah menuju pintu masuk, Raisa berpapasan dengan Diana, teman satu kampusnya.
"Cha, Raisa!" sapa Diana sambil menepuk bahu Raisa. Raisa menoleh.
"Eh, Die!" sahut Raisa seraya tersenyum.
(Diana adalah teman satu kampus Raisa, namun berbeda jurusan. Raisa di Jurusan Administrasi Keuangan, sedangkan Diana anak Komunikasi).
"Sendirian aja?" tanya Diana basa-basi.
"Iya, nih. Kamu sama siapa?" ucap Raisa balik bertanya.
"Aku sama sepupu aku..."
Deg!
"Haaah!" Raisa kaget bukan main, suaranya sedikit meninggi.
"Kamu kenapa?" tanya Diana heran, sedikit terkejut dengan reaksi Raisa.
"Mati aku," ucap Raisa dalam hati.
"Ke mana lagi, nih, orang?" Diana mencari keberadaan sepupunya.
Sebetulnya, saat itu Raisa ingin menghindar dan kabur, namun dari arah belakang, Digta tampak menghampiri mereka.
"Nah, itu dia!"
"Duh, mati aku," ucap Raisa pelan, berusaha menutupi wajahnya dengan rambut.
"Eugh..." Digta terpaku menatap Raisa. Walaupun Raisa berusaha menyembunyikan wajahnya, Digta tetap mengenalinya.
"Kenalin, ini sepupu aku, Digta," ucap Diana.
"Eugh..." Raisa tampak kurang fokus, mulai gugup.
"Oh, hai," sahut Raisa kikuk sambil melambaikan tangan.
"Raisa, teman kampus," ucap Diana sambil menoleh ke arah Digta.
"Hai, Raisa," ucap Digta sedikit tersenyum. Detik itu, Digta baru tahu nama gadis yang memeluknya beberapa hari lalu.
"Eugh, tumben," Diana heran melihat Digta yang tampak ramah, tidak seperti biasanya.
"Apa kabar?" tanya Digta, masih menatap Raisa sambil tersenyum tipis.
"Baik, aku baik," Raisa tampak masih kikuk, sedikit memalingkan wajahnya. Ia tak berani menatap mata Digta.
Diana merasakan ada yang aneh dari interaksi kedua orang ini.
"Nggak nyangka, ya, bisa ketemu lagi," kata Digta, membuat Raisa menatapnya.
"Heuh..." Raisa semakin salah tingkah, tersenyum tipis menanggapi ucapan Digta.
"Kalian udah saling kenal?" Diana tampak kaget sambil menatap Digta dan Raisa bergantian.
"Iya, gitu deh. Bukan begitu, Raisa?" ucap Digta dengan mimik meledek.
"Hee... iya, kita udah kenal," Raisa mulai khawatir. Ia takut Digta akan membongkar aibnya pada Diana.
"Eh, masuk, yuk!" ucap Raisa memotong percakapan, seraya beranjak masuk ke dalam Gramedia.
Diana dan Digta segera menyusul Raisa dari belakang.
"Cha, tunggu!" Diana berhasil menyusul Raisa.
"Kita sama-sama aja," kata Diana lagi sambil berjalan di samping Raisa.
"Eugh..." Mata Raisa spontan menatap Digta. Sekarang malah Raisa yang jadi salah tingkah sendiri.
"Keluarkan aku dari situasi ini," gumam Raisa dalam hati.
Raisa hanya mengangguk setuju.
"Sikap lo beda banget, ya? Sekarang lebih pendiam," celetuk Digta tiba-tiba berbisik.
"Heuh..."
Jantung Raisa mulai berdebar. Seketika tubuhnya lemas. Kali ini, ia benar-benar ingin pingsan.
"Mati aku," gumam Raisa lagi dalam hati. Ia tak sanggup mengingat kejadian memalukan beberapa hari lalu saat memeluk Digta di depan umum.
"Ih, ceritain, dong, gimana kalian bisa kenal?" Diana mulai penasaran.
"Heuh..." Jantung Raisa memompa berkali-kali lebih cepat.
Glub!
Raisa menelan ludah, wajahnya tampak pucat, tatapannya mulai kosong. Ia hanya bisa pasrah jika aibnya terungkap sekarang.
"Eugh, rahasia," celetuk Digta seraya mengedipkan mata ke arah Raisa.
"Cobaan apa lagi ini?" Raisa membatin. Ia seperti tersengat listrik berkali-kali. Otaknya memutar ulang adegan Digta mengedipkan mata padanya.
"Ada apa, sih? Aku kok jadi penasaran," Diana tampak penasaran, melirik sepupunya.
Digta hanya menyengir, sementara Raisa tampak masih bengong.
"Mulai main rahasia-rahasiaan," ucap Diana seraya menaiki tangga menuju lantai dua, meninggalkan Raisa dan Digta. Tak disangka, Digta malah mendekat ke arah Raisa.
"Jadi, kamu temannya Diana?" tanya Digta berbisik.
"Eugh..." Raisa menoleh ke arah Digta. Mereka sedikit terkejut karena wajah mereka begitu dekat.
"Ups!" Digta tak kalah kaget.
Raisa memalingkan wajahnya, rona merah tampak di wajahnya.
"Hmm, kemarin aja meluk-meluk," ungkap Digta sambil berjalan santai mendahului Raisa naik ke lantai dua.
"Haaah..."
Raisa hanya memandangi punggung Digta dari belakang, lututnya terasa lemas.
*"Bawa aku pergi dari sini...." *Raisa membatin lagi dalam hati.
Raisa berjalan lunglai seolah rohnya terlepas dari jasadnya.
"Huh... hah... huh... hah..."
Dengan susah payah, akhirnya Raisa sampai di lantai dua setelah melewati tangga melingkar yang cukup panjang dan melelahkan.
"Tumben banget ke Gramedia, biasanya ke mall mulu?" tanya Diana menghampiri Raisa.
Namun, Raisa tak menyadarinya, matanya fokus tertuju pada Digta yang berada di ujung ruangan.
Diana yang menyadari hal itu kemudian tersenyum sambil memperhatikan Raisa.
"Euhmmm..." Diana berdeham, namun Raisa tetap tak menyadarinya.
"Sepupu ku cakep, ya?" tanya Diana.
Raisa reflek mengangguk menanggapi ucapan Diana.
"Menarik," celetuk Diana masih memperhatikan Raisa.
"Eugh..."
"Apanya yang menarik?" Raisa kaget, menoleh ke arah Diana.
"Tatapan kamu ke sepupu aku," kata Diana sambil tersenyum menggoda Raisa.
"Eugh..., sejak kapan kamu di sini?" tanya Raisa gelagapan.
"Dari tadi," sahut Diana masih menyengir.
"Eugh, jangan mikir yang nggak-nggak," kata Raisa tampak gugup.
"Kalau naksir bilang aja," ucap Diana, tertawa kecil menggoda Raisa.
Hal itu membuat Raisa semakin salah tingkah.
"Aku ke sana dulu, ya," kata Raisa, langsung kabur dari hadapan Diana.
"Eh, mau ke mana, Cha?" kata Diana.
Namun, Raisa terus berlalu.
"Aaaa, aku sudah tak tahan lagi!" Gumam Raisa dalam hati.
"Mudah-mudahan mereka nggak ke sini," ucap Raisa pelan.
Setelah merasa aman, Raisa mulai leluasa berjalan mengitari tempat itu. Ia benar-benar merasa nyaman bisa jauh dari Diana dan Digta.
"Haah... syukur mereka nggak lihat aku,"
Saat ini, ia tak ingin pusing memikirkan Digta dan Diana. Raisa mulai menyibukkan diri mencari beberapa buku bahasa Inggris sesuai rencananya.
"Dimulai dari yang mudah," ucap Raisa sambil memilih beberapa buku. Ia ingin mulai belajar bahasa Inggris karena menyadari sangat lemah dalam berbahasa asing itu.
"Kayaknya dua aja cukup," ucap Raisa lagi.
Waktu terus berjalan. Entah berapa lama Raisa berada di tempat itu.
Raisa mulai celingukan mencari keberadaan Diana dan Digta.
"Mereka kayaknya udah pergi," ucap Raisa, sekarang bisa bernapas lega.
"Yey, aku bebas!" Raisa tampak tersenyum sendiri.