NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marahnya Ayu

#27

“Mmm, begini saja, gimana kalau kamu coba membuatnya untuk dirimu sendiri,” usul Giana memberi solusi. 

Ayu terdiam, begitu banyak, apa dan kenapa berseliweran di kepalanya, selama ini ia tak sempat memikirkan membuat pakaiannya sendiri. Kini ia diberi kesempatan membuat pakaian untuknya sendiri. 

“Apakah aku bisa, Bu?” 

“Bisa, pasti!” jawab Giana yakin. 

“Ini adalah langkah pertama menghargai dan mencintai dirimu sendiri, dirimu yang selama ini berjuang, belajar, menaklukkan hambatan dan rintangan, hingga bisa berada di titik ini. Ayo tunjukkan dengan cara memberi hadiah untukmu sendiri,” bisik Giana. 

Dengan wajah berbinar penuh keyakinan, Ayu menjawab, “Baik, Bu. Akan saya coba.” 

“Good, aku tunggu hasilnya minggu depan. Gunakan kain seadanya dulu. Jika dengan kain seadanya hasilnya sudah memikat, maka aku yakin, jika menggunakan kain sesuai kriteria, hasilnya akan lebih spektakuler,” puji Giana, karena sangat yakin dengan kemampuan Ayu. 

“Semoga, Bu. Saya yakin, saya pasti bisa.” 

Transformasi Ayu selama 20 tahun ini sungguh mengagumkan, kini ia bukan wanita desa lugu yang terpaksa menerima kenyataan pahit pengkhianatan suaminya. Tapi Lembayung Senja, si wanita dewasa yang matang karena di tempat begitu banyak pengalaman pahit secara bertubi-tubi. 

Selepas kepergian Giana, Ayu kembali membawa buku sketsa miliknya ke sel. Sementara itu, ada sepasang mata yang tampak dengki melihat kecemerlangan serta kedekatan Ayu dengan Giana. Karena dia tak pernah bisa mendekat pada Giana sekeras apapun usahanya. 

Wanita itu adalah rekan Ayu di kelompok menjahit, sama-sama bisa menjahit, tapi kenapa hanya Ayu yang bisa dekat dengan Giana. Bahkan jahitan Ayu pun lebih rapi ketimbang jahitan wanita lain, yang tergabung di kelas menjahit. 

Wanita itu terus mengikuti langkah kaki Ayu, berpura-pura sibuk dengan buku di tangannya. Namun Ayu juga bisa lengah, wanita itu meletakkan buku sketsa di atas meja, kemudian pergi ke toilet di ujung lorong. Saat itulah Susi mulai beraksi, dengan cara mencuri buku sketsa milik Ayu, dan membawanya pergi meninggalkan ruangan. 

•••

“Yu, Kau sudah dengar kah, si Kinan bebas besok?” ucap Fita sembari mereka bertugas mencuci nampan bekas makan malam bersama, karena hari ini mereka piket di ruang makan dan dapur. 

“Lho, katanya bulan depan?”

“Iya, remisinya sudah di ACC.” 

Sejenak Ayu termenung, banyak diantara para rekannya yang mengajukan remisi, dan rata-rata semuanya mendapat keringanan hukuman. Mulai dari beberapa bulan, hingga tahun. 

Namun, tak demikian dengan dirinya, yang entah kenapa pengajuan remisinya selalu gagal dengan berbagai alasan. Padahal Ayu selalu berkelakuan baik, dan termasuk napi yang aktif di kegiatan sosial antar para napi. 

“Kau tak mengajukan remisi lagi, kah?” tanya Fita. 

“Kau saja lah, Fit,”

“Ih, manalah bisa, masa kurungan ku masih 10 tahun kedepan. Kalau kau, kan, sisa beberapa tahun lagi, bila bisa berkurang dua tahun, itu sangat lumayan.” 

“Tak lah, sudah lelah kali aku, karena ujungnya hanya mendapat penolakan. Lebih baik aku diam dan menunggu angin baik berhembus ke arahku. Aku yakin pada saat kesempatan itu datang, tak ada lagi dinding kokoh yang mampu menghalanginya,” sahut Ayu yakin. 

“Sekarang aku fokus menempa diri dengan keterampilan dan keahlian,” imbuhnya. 

“Nah, aku setuju kalau ini. Aku doakan kau sukses, Yu. Bolehlah nanti aku minta pekerjaan padamu bila sudah bebas.” 

“Amin. Memang itu tujuan dan cita-citaku, Fit. Karena aku tak yakin diluar sana masih ada yang mau menerima mantan narapidana seperti kita.” 

Waktu terus berlalu sementara mereka menyelesaikan pekerjaan, Ayu kembali ke sel nya guna mulai mencicil pekerjaan rumah yang Giana berikan. Tentunya setelah menjalankan kewajiban lima waktunya. 

Tapi tiba di tempatnya, Ayu tak menjumpai buku sketsa miliknya, yang tadi ada di atas meja ruangan kecil tersebut. 

“Mbak Nik, lihat buku sketsaku, nggak?” tanya Ayu pada rekan satu sel nya.

“Buku? Buku yang mana?” 

“Buku yang berwarna merah, yang sering aku pakai menggambar.” Ayu mencari-cari hingga ke bawah meja, namun tak juga ia menemukan benda yang sedang ia cari. 

Mbak Nik pun tak tinggal diam, wanita itu ikut pula mencari hingga ke kolong lemari besi, barangkali buku itu terjatuh. “Disini juga tak ada.” 

“Duh, kemana, ya?” gumam Ayu, sambil berpikir. 

Tiba-tiba, seseorang menyelinap ke sel Ayu. “Ssst,” ujarnya memberi kode. 

Ayu dan Mbak Nik menoleh, wanita itu memberi kode dengan tangan agar Ayu mendekat. Ia membisikkan sesuatu yang membuat wajah Ayu merah padam. 

Ayu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, wanita itu melangkahkan kakinya cepat, ini bukan hanya perkara buku yang hilang. Tapi Susi dan kelompoknya selalu mencari gara-gara dengan Ayu. 

“Woi! Ayu! Mau kemana, kau?” tanya Ratna wanita itu sudah bersama Ayu sejak awal-awal menjadi napi, bisa dibilang mereka sama-sama dibesarkan pengalaman buruk serta nasib yang tidak berpihak. 

Ayu yang tak menjawab, justru semakin membuat Ratna penasaran. Wanita itu bangkit dari baringnya, “Mbak Nik, kenapa lagi, dia?”

“Biasa, Susi dan kelompoknya sedang cari masalah.” 

Mendengar hal itu, Ratna ikut mengumpat kesal. “Kurang ajar! Apa tak jera mereka bulan lalu aku bikin babak belur.” 

Ratna membuang tusuk gigi yang sejak tadi ia pakai untuk membersihkan sela-sela giginya. Dan dengan sigap mengikuti langkah kaki Ayu ke tempat geng Susi berada. 

Dari kejauhan, Susi dan gengnya sedang asyik bercanda sambil menikmati pijatan dari orang-orang yang mereka rundung sama-sama. 

Ayu mendekat tanpa rasa takut, kini rasa takut sudah tak ada lagi dalam kamus hidupnya. Karena sehari-hari Ayu hanya mengizinkan dirinya menjadi berani, berani mencoba, berani melawan, berani memperjuangkan hak nya selama ia tak bersalah. 

“Aaakkh! Sakit, Bego!” 

“Sakit, tapi manusia bodoh sepertimu, tak jera cari masalah denganku,” balas Ayu, sambil tetap mempertahankan cengkraman tangannya di rambut Susi. 

“Jangan ada yang mendekat, bila masih ingin bernafas lega esok hari!” ancam Ratna dengan sebatang kayu di tangannya, otomatis teman-teman Susi mundur beberapa langkah. 

“Mana bukuku?” tanya Ayu geram. 

Susi menjerit, “Lepaskan!” 

“Kembalikan dulu bukuku?!” Cengkeraman Ayu semakin kuat. 

“Yu, lihat!” 

Mbak Nik memungut sampul berwarna merah milik Ayu di sisa-sisa api pembakaran. 

Ayu meradang, hingga tanpa sadar mengarahkan tinjunya ke wajah Susi. 

“Wanita, sial!” maki teman Susi. 

Geng Susi seperti penguasa zalim, tapi secara senioritas Ayu dan rekan-rekannya sudah lebih lama berada di lapas. Jadi mereka sudah tahu bagaimana cara melawan dan melindungi diri. 

Ratna lebih dulu menangkis serangan teman Susi, kemudian memutar lengan wanita itu hingga ke belakang punggungnya. “Sudah ku bilang jangan ikut campur urusan mereka!” hardik Ratna. 

Karena kalah tenaga, teman Susi pun hanya diam dan pasrah melihat Susi dijambak dan dihajar habis-habisan oleh Ayu. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!