Queen Li tumbuh dalam kekacauan—dikejar rentenir, hidup dari perkelahian, dan dikenal sebagai gadis barbar yang tidak takut siapa pun. Tapi di balik keberaniannya, tersimpan rahasia masa kecil yang bisa menghancurkan segalanya.
Jason Shu, CEO dingin yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan, diam-diam telah mengawasinya sejak lama. Ia satu-satunya yang tahu sisi rapuh Queen… dan lelaki yang paling ingin memilikinya.
Ketika rahasia itu terungkap, hidup Queen terancam.
Dan hanya Jason yang berdiri di sisinya—siap menghancurkan dunia demi gadis barbar tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Beberapa hari kemudian.
Jason tampil rapi dengan setelan hitam, berdiri di ruang kerjanya ditemani Rey.
“Bos, pertemuan malam ini telah ditentukan. Pesawat sudah disiapkan,” lapor Rey.
“Setelah urusan selesai, aku ingin langsung pulang,” jawab Jason dengan nada serius.
“Aku tidak bisa meninggalkan Queen terlalu lama. Hatiku tetap tidak tenang, meski dia berada di rumah sendiri.”
“Baik, Bos,” jawab Rey singkat.
Saat itu pintu terbuka.
“Kakak,” seru Queen sambil melangkah masuk.
Jason menoleh dan tersenyum lembut.
“Queen, hari ini aku harus berangkat. Besok pagi aku sudah kembali. Kalau kau butuh apa pun, katakan saja pada Bibi.”
“Baik, jangan khawatir,” jawab Queen tenang.
Jason mendekat.
“Apa kau menginginkan sesuatu? Akan kubelikan untukmu.”
Queen menggeleng.
“Tidak. Aku hanya ingin beristirahat.”
Jason mengangguk, lalu mengecup dahi gadis itu dengan lembut.
“Baiklah. Tunggu aku pulang.”
Keesokan paginya.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamar Queen. Mansion itu tampak tenang seperti biasa, terlalu tenang.
Queen duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang sejak tadi ia genggam. Entah kenapa, sejak Jason berangkat semalam, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang.
“Tenanglah… Kak Jason akan segera pulang,” gumamnya pelan.
Ia bangkit dan keluar kamar. Lorong mansion lengang, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri.
Di ruang makan, Bibi sedang menyiapkan sarapan.
“Nona, sarapannya sudah siap,” ucap wanita paruh baya itu.
“Terima kasih, Bi,” jawab Queen sambil duduk.
Baru beberapa suap, ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Queen mengerutkan kening, lalu mengangkatnya.
“Hallo?”
Hening beberapa detik…
lalu terdengar suara pria, rendah dan asing.
“Akhirnya kau sendirian.”
“Siapa Anda?” suaranya bergetar.
“Jangan panik. Kami hanya ingin bicara.”
Sambungan terputus.
Queen menatap layar ponsel dengan wajah pucat.
Beberapa saat kemudian, listrik di mansion padam sesaat, lalu kembali menyala.
“Bi?” panggil Queen.
“Iya, Nona?” jawab Bibi dari dapur.
“Tidak apa-apa,” jawab Queen cepat, berusaha terlihat tenang.
Namun saat ia menoleh ke arah taman, dadanya mendadak sesak.
Gerbang belakang sedikit terbuka.
Padahal ia ingat betul, gerbang itu selalu terkunci rapat.
Di ruang keamanan, kamera taman belakang mendadak mati.
Lampu indikator berubah merah.
Pada saat yang sama, ponsel Queen kembali bergetar.
Sebuah pesan masuk.
“Keluar sendiri ke taman.”
“Jangan beri tahu siapa pun.”
“Atau kau tak akan melihat Jason pulang dengan selamat.”
Wajah Queen langsung memucat.
Tangannya gemetar hebat.
“Ini… jebakan,” bisiknya, namun rasa takut lebih kuat dari logika.
Queen menoleh ke arah dapur, ke arah Bibi yang masih sibuk dan tidak menyadari apa pun.
Nama Jason terngiang di kepalanya.
Dengan napas tertahan, Queen perlahan bangkit dari kursinya dan melangkah menuju pintu taman belakang…
"Kakak Jason selama ini sangat waspada. Mustahil sesuatu terjadi padanya, "batin Queen. "Tapi aku harus tahu siapa yang bisa masuk ke rumah ini. Pengawasan di sini sangat ketat. Jangan-jangan… ada pengkhianat."
Seorang pria berdiri di tengah halaman belakang. Wajahnya tertutup masker, kepalanya tertunduk di balik topi.
“Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” tanya Queen tegas.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah lain.
“Lihat sendiri,” ucapnya singkat.
Queen menoleh—
Beberapa bawahan Jason tergeletak di tanah, tidak bergerak.
“Apa yang kau lakukan pada mereka?” suara Queen meninggi.
“Tenang saja,” jawab pria itu datar.
“Mereka hanya terpapar asap yang membuat tidak sadarkan diri. Lima jam lagi mereka akan bangun.”
Queen mengepalkan tangan.
“Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Siapa yang membantumu?”
Sebuah suara lain menyahut dari belakangnya.
“Aku.”
Queen terkejut dan berbalik.
Seorang pria mengenakan seragam tukang pembersih halaman berdiri di sana, topinya ditarik rendah.
“Kau…” mata Queen membesar.
“Jadi kau mata-mata mereka? Selama ini kau datang hanya untuk mengintai?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Benar. Demi membawamu pergi, aku harus menyamar.”
“Jason Shu tidak ada di sini. Tentu saja kami harus memanfaatkan kesempatan ini,” ucap pria bermasker itu dengan suara rendah.
“Queen Lin, ada seseorang yang sudah lama menunggumu.”
Queen menatapnya tanpa gentar.
“Roy Chen?” tanyanya dingin.
“Dia yang ingin menemuiku, bukan?”
Pria yang menyamar sebagai tukang pembersih terkekeh kecil.
“Cukup pintar.”
Queen mengepalkan tangan.
“Kalian hanya berani bertindak saat Jason tidak ada di sini,” katanya tajam.
“Mengirim mata-mata, menyamar, lalu menyerang secara pengecut.”
Pria itu melangkah mendekat setengah langkah, sorot matanya dingin di balik masker.
“Pengecut atau tidak, yang penting kau sekarang berdiri di hadapan kami.”
“Dan satu hal yang pasti—kau tidak akan bisa pergi sebelum bertemu dengannya.”
hai teman teman .... ayo ramaikan karya ini dgn follow tiap hari dan juga like, komen dan jangan ketinggalan beri hadiah yaaaaaaa
sungguh, kalian gak bakalan menyesal, membaca karya ini.
bagus banget👍👍👍👍
top markotop pokoknya
hapus donh🤭🤭
kau jangan pernah meragukan dia, queen
👍👍👌 Jason lindungi terus Queen jangan biarkan orang2 jahat mengincar Queen
.
ayoooooo tambah up nya.
jangan bikin reader setiamu ini penasaran menunggu kelanjutan ceritanya
ayo thor, up yg banyak dan kalau bisa up nya pagi, siang, sore dan malam😅❤️❤️❤️❤️❤️❤️💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
kereeeeennn.......💪