Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana di lorong rumah sakit terasa sangat mencekam.
Suara mesin defibrillator dan langkah kaki para medis yang berlarian akhirnya digantikan oleh keheningan yang menyesakkan.
Setelah perjuangan hidup dan mati, dokter berhasil mengembalikan detak jantung Liana, meski sangat lemah.
Tubuhnya yang tak berdaya segera dilarikan ke ruang ICU dengan bantuan berbagai alat penunjang hidup yang menempel di tubuhnya.
Abi sampai di depan ruang ICU dengan napas yang hampir putus.
Pakaiannya berantakan, dan wajahnya mencerminkan kehancuran total.
Begitu ia melihat tanda "ICU" menyala merah, langkahnya terhenti.
Ia melihat Angela yang sedang memeluk Mama Prameswari yang masih terguncang hebat.
"Keluarga Nyonya Liana?" Seorang dokter spesialis keluar dengan wajah yang sangat serius.
Abi segera mendekat. "Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?"
Dokter tersebut menatap Abi dengan pandangan yang sulit diartikan, antara simpati dan keprihatinan mendalam.
Ia memberikan isyarat agar Abi mengikutinya sedikit menjauh dari kerumunan.
"Detak jantungnya sudah kembali, tapi kondisinya masih sangat kritis. Namun, Tuan Abi, yang paling mengkhawatirkan kami bukan hanya kondisi fisiknya, melainkan kondisi kejiwaannya," ujar Dokter itu dengan nada rendah.
Abi langsung terdiam dan jantungnya berdebar kencang.
"Istri Anda mengalami Major Depressive Disorder dengan kecenderungan bunuh diri yang sangat tinggi. Tindakannya tadi bukan sekadar gertakan atau mencari perhatian. Dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya karena merasa dunianya sudah tidak lagi memiliki ruang aman. Secara psikis, Liana mengalami trauma berat yang membuatnya menolak eksistensi dirinya sendiri, termasuk janin yang dikandungnya."
Dokter itu menghela napas panjang. "Jika ia sadar nanti, ada kemungkinan ia akan kembali mencoba menyakiti dirinya sendiri. Dia melihat kehamilannya bukan sebagai anugerah, melainkan sebagai sumber penderitaan. Kami harus mengikat tangannya ke ranjang atau memberinya obat penenang dosis tinggi agar dia tidak mencelakai dirinya atau janinnya lagi."
Mendengar penjelasan itu, pertahanan Abi runtuh sepenuhnya.
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan.
"Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan?" rintih Abi di balik telapak tangannya.
Ia teringat betapa Liana dulu adalah gadis yang ceria, yang menatapnya dengan penuh kekaguman.
Sekarang, karena ambisinya untuk membahagiakan Genata dan ketidakmampuannya mengambil sikap, ia telah mengubah Liana menjadi sosok yang begitu membenci hidupnya sendiri.
Ia sadar, ia bukan lagi pelindung bagi Liana, melainkan monster yang membuat istrinya merasa kematian adalah satu-satunya jalan keluar.
Abi berdiri terpaku di balik kaca ruang ICU yang dingin, menatap sosok yang terbaring lemah di sana.
Pemandangan itu begitu menyayat hati dimana Liana, istrinya, kini terbaring dengan berbagai selang yang menopang hidupnya, dan yang paling menyakitkan, kedua tangannya terikat ke pinggiran ranjang agar ia tidak kembali menyakiti dirinya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah ingatan masa lalu berputar di kepala Abi seperti kaset lama yang diputar ulang.
Belasan tahun yang lalu, di taman belakang rumah Mama Prameswari yang asri...
Liana kecil, dengan gaun putih berenda dan rambut dikuncir dua, berlari ke arah Abi sambil membawa setangkai bunga sepatu.
Wajahnya begitu ceria, matanya berbinar penuh kepolosan.
"Paman Abi! Paman Abi!" seru Liana kecil sambil memeluk kaki Abi yang saat itu baru pulang kuliah.
Abi tertawa dan menggendongnya. "Ada apa, Tuan Putri Kecil?"
Liana menatap Abi dengan tatapan yang sangat tulus, lalu berkata dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
"Paman Abi ganteng sekali. Kalau Liana sudah besar nanti, Liana mau menikah dengan Paman Abi saja!"
Saat itu, Abi hanya tertawa lepas sambil mengacak rambutnya.
"Kamu ini bicara apa, Li? Kamu harus cari pangeran yang jauh lebih hebat dari Paman."
"Tidak mau! Maunya sama Paman Abi!" jawabnya keras kepala sambil memeluk leher Abi erat-alih.
Ingatan itu menghantam dada Abi seperti palu godam.
Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang kaku.
Gadis kecil yang dulu begitu memuja dan mencintainya, gadis yang menyerahkan seluruh masa depan dan mimpinya untuk menikahinya, kini justru ingin mati karena dirinya.
Liana yang dulu menganggap Abi sebagai pahlawan dan pangerannya, sekarang melihat Abi sebagai monster yang paling menakutkan dalam hidupnya.
"Li..." bisik Abi, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Maafkan aku. Pangeranmu ini ternyata adalah orang yang menghancurkan duniamu."
Abi menyentuhkan telapak tangannya ke kaca ICU, seolah ingin meraih tangan Liana yang terikat itu.
Ia melihat dada Liana naik turun dengan lemah, berjuang untuk setiap napas yang ia hirup.
Di dalam rahim Liana, ada nyawa kecil yang sedang berjuang, namun di dalam kepala Liana, hanya ada keinginan untuk berhenti berjuang.
Abi menyadari bahwa cinta Liana yang dulu begitu murni telah ia bakar menjadi abu kebencian yang sangat pekat.
Tiba-tiba, monitor jantung di dalam ruangan itu berbunyi lebih cepat.
Kelopak mata Liana bergerak-gerak gelisah. Ia mulai tersadar dari pengaruh obat penenangnya, namun begitu ia merasakan tangannya terikat, napasnya mulai tersengal penuh ketakutan.
Pintu ruang ICU bergeser perlahan. Seorang perawat keluar dengan wajah cemas dan memberi isyarat kepada Abi bahwa Liana sudah sadar sepenuhnya dan ingin bicara. Namun, peringatan perawat itu membuat jantung Abi mencelos:
"Tolong tenang, Tuan. Kondisinya masih sangat tidak stabil."
Abi melangkah masuk dengan kaki gemetar. Bau tajam antiseptik dan suara ritmis mesin pendeteksi jantung menyambutnya.
Di atas ranjang, Liana tampak sangat kecil, dikelilingi kabel-kabel dan selang.
Tangannya masih terikat, namun matanya yang terbuka menatap Abi dengan pandangan yang jauh lebih tajam daripada sebilah pisau.
"Mas..." suara Liana nyaris menyerupai bisikan, parau dan kering.
Abi berlutut di samping ranjang, mencoba meraih tangan Liana yang terikat.
"Iya, Sayang. Mas di sini. Maafkan Mas, Li. Mas mohon, jangan lakukan itu lagi."
Liana tidak menangis. Matanya kering, namun penuh dengan keputusasaan yang absolut.
Ia menatap tangannya yang terikat, lalu beralih menatap wajah Abi.
"Tolong lepaskan aku, Mas. Atau kalau kamu tidak mau melepaskanku, bunuh saja aku sekarang. Bekap aku dengan bantal itu, Mas. Aku lelah. Aku tidak mau bangun lagi di dunia yang ada kamu dan Mbak Genata di dalamnya."
"Li, jangan bicara begitu..." Abi terisak, kepalanya tertunduk di sisi ranjang.
"Aku bukan manusia bagimu, kan? Aku hanya mesin. Sekarang mesin ini rusak, Mas. Mesin ini tidak mau bekerja lagi. Tolong, biarkan aku pergi."
Mendengar permintaan istrinya untuk dibunuh daripada harus hidup bersamanya, Abi merasa dunianya benar-benar kiamat.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Liana dengan tekad yang lahir dari penyesalan terdalam.
Ia menyadari bahwa mencintai Liana bukan lagi berarti memilikinya, melainkan membebaskannya.
"Tidak, Li. Dengar Mas," Abi menggenggam tangan Liana yang terikat, suaranya bergetar namun tegas.
"Aku bersumpah demi Tuhan dan demi nyawa anak kita. Mas tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Termasuk diriku sendiri."
Liana hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
"Mas, akan menceraikan Genata, Li. Hari ini juga Mas akan urus semuanya. Dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di hidup kita. Dan setelah kamu sembuh, setelah kamu kuat. Mas akan berikan kebebasan penuh padamu."
Abi menarik napas panjang, air matanya jatuh ke atas sprei.
"Kalau kamu ingin pergi dariku, pergilah. Kalau kamu ingin menceraikanku, aku akan tanda tangani suratnya tanpa bantahan. Aku tidak akan menahanmu lagi sebagai tawanan. Aku hanya ingin kamu hidup, Li. Tolong, tetaplah hidup."
Liana terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat ada kejujuran yang menghancurkan di mata Abi. Namun, luka yang sudah terlanjur dalam membuat kata-kata itu terasa seperti angin lalu.