NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Keresahan Kalendra

"Ikut aku!"

Setelah puas menghajar Pram, Kalendra meludah tepat di samping dokter itu terkapar. Kemudian, ia tarik lengan Kanaya tanpa sepatah kata. Meninggalkan ketegangan yang masih sangat terasa.

Rio segera merogoh saku celananya. Mencari ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.

"Halo, rumah sakit kota?" sapa tangan kanan Kalendra itu, setelah panggilannya terhubung.

"Tolong kirimkan ambulan ke kediaman Wijaya." ujarnya sembari melirik Pram yang tengah meringkuk kesakitan.

Meringis tertahan, Rio bergidik sendiri. Kondisi Pram jauh dari kata baik. Bahkan iya yakin, dokter itu mengalami patah tulang tidak hanya di satu tempat. Kalendra--- bosnya itu tidak main-main memberikan pelajaran kepada siapapun yang berani mencari gara-gara dengannya.

Sementara di sisi Kalendra, dia masih setia menarik tangan Kanaya dengan amarah yang masih menguasainya. Menyeret istrinya itu menuju kamar mereka.

"Kalendra, sakit." keluh Kanaya saat merasakan lengannya dicengkram erat.

"Kalendra-- kau marah dengan Pram, tapi kenapa---

Kalendra menghentikan langkahnya. Netranya menyorot sang istri tajam.

"Jangan sebut nama bajingan itu Kanaya. Aku benci mendengarnya."

Kanaya hendak membalas, namun kata-katanya terpaksa menggantung di tenggorokan, kala Kalendra kembali menariknya kasar. Perempuan itu bahkan kuwalahan mengimbangi langkah suaminya yang lebar.

Sampai pada tempat tujuan, Kalendra menarik tuas pintu kamar mereka. Membawa Kanaya masuk ke dalamnya, sebelum akhirnya menutup pintu itu rapat-rapat dan menguncinya.

"Ka-- Kalendra, tenangkan dirimu. Kau sedang marah---" Kanaya panik. Pasalnya, wajah Kalendra terlihat sangat menyeramkan saat ini.

Kalendra melepas cekalannya. Jemarinya berganti merambat pada dagu Kanaya dan merematnya. Tidak kasar. Namun cukup kuat untuk mengutarakan kepemilikan.

"Kalendra-- aku salah apa?" tanya Kanaya mencoba untuk tenang.

Ini semua gara-gara Pram! Dia yang berulah tapi kenapa aku juga terkena getahnya?! sungut Kanaya di dalam hati.

"Salahmu?" lirih Kalendra. Menarik dagu Kanaya agar semakin mendekat padanya.

"Salahmu karena membuatku hampir gila setiap harinya."

Kanaya ingin kembali bersuara. Namun-- niatnya kalah cepat dengan gerakan Kalendra yang tiba-tiba menyambar bibirnya kasar dan menekan. Penuh ambisi yang tak terkontrol.

Kanaya melototkan matanya. Dia ingin memberontak. Sayangnya, Kalendra malah semakin memperdalam ciu-mannya. Satu tangannya menarik pinggangnya, sedangkan tangan yang lainnya menarik tengkuknya.

Tidak. Ciuman ini, mengingatkan Kanaya pada malam di mana Kalendra mengamuk padanya. Menuduhnya menambahkan obat pada minuman laki-laki itu.

Berpegangan pada kemeja sang suami, kaki Kanaya melemas. Kalendra yang menyadarinya, mengangkat tubuh ringan perempuan itu. Membiarkan kaki Kanaya melingkar indah pada pinggangnya.

Kanaya tidak tahu ini. Apa salahnya sehingga Kalendra juga melampiaskan amarahnya kepadanya.

Menyesap bibir Kanaya kuat, hingga sang empunya mendesis lirih, Kalendra melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Menjatuhkan tubuh sang istri beserta dirinya yang berada di atas perempuan itu.

Kalendra melepaskan ciumannya. Memberikan kesempatan bagi Kanaya untuk menghirup udara dengan rakus dan terburu.

"Ka--Kalendra, dengarkan aku---emhhh."

Sialan. Laki-laki itu tidak mengijinkan Kanaya untuk berbicara.

Sembari terus mencumbu Kanaya, tangan Kalendra mulai nakal dengan masuk ke dalam dress yang Kanaya gunakan. Ahh, brengseknya hari ini Kanaya menggunakan dress sebatas lutut. Membuat suaminya itu lebih leluasa melancarkan aksinya.

Kanaya menggeleng pelan. Ia memang ingin menyerahkan diri seutuhnya untuk Kalendra, tetapi tidak dengan kondisi yang seperti ini. Bukan ini yang Kanaya bayangkan ketika mereka akan melakukan penyatuan untuk pertama kalinya. Maka, ia gigit bibir bawah Kalendra. Berharap laki-laki itu tersadar dan menyudahi ciumannya yang tanpa jeda.

Berhasil. Kalendra menggeram lirih. Melepas pangutannya saat merasakan perih pada bibirnya. Netra yang berkabut gairah itu menatap Kanaya tajam.

"Kalendra, kendalikan dirimu. Jangan lampiaskan amarahku padaku." ujar Kanaya. Membelai rahang sang suami yang membuat sang empu memenjamkan matanya, menikmati sentuhan itu.

"Kau marah. Tapi apa salahku? Kenapa kesalahan Pram harus kau---aww!"

Kanaya begitu terkejut kala dengan sigap, Kalendra menangkap tangannya yang bermain di rahang laki-laki itu.

"Bukankah aku sudah mengatakan ini-- jangan sebut nama bajingan itu." desis Kalendra rendah.

Menelan salivanya dalam, Kanaya mencoba menerbitkan senyumnya. Menarik tangan di genggaman Kalendra, ia kecup punggung tangan sang suami.

"Maaf, tidak akan aku ulangi lagi."

"Kau akan kembali padanya Kanaya? Kau akan meninggalkanku?"

Kanaya terperangah. Pertanyaan bodoh macam apa yang baru saja Kalendra lontarkan.

"Hei, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Kanaya yang tak menghilangkan kecemasan di dalam diri Kalendra.

"Jawab saja. Kau akan pergi dan kembali pada bajingan itu?"

"Tentu saja tidak!" tukas Kanaya segera.

"Dengarkan aku---" Kanaya menangkup kedua sisi rahang tegas milik Kalendra.

Suasana yang semula tegang dan panas, kini berubah menjadi lebih intim dan--- dalam. Kanaya menatap manik Kalendra. Mencoba membangun kepercayaan suaminya itu pada dirinya.

"Aku istrimu. Selamanya akan seperti. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut." jelas Kanaya tegas, namun penuh kelembutan di dalam nadanya.

Sekarang, Kanaya sedikit paham. Kalendra--- dia hanya takut. Laki-laki itu kalut. Mengira Kanaya akan pergi meninggalkannya karena hasutan dari Pram.

Jadi, setelah dia melampiaskan emosinya pada Pram, semua itu seakan belum cukup saat Kanaya-- sumber ketakutannya hanya diam dan tidak memberikan klarifikasi apa-apa.

Apakah Kalendra menyimpulkan keterdiamnku sebagai bentuk kepercayaan pada Pram?

"Aku milikmu Kalendra. Harus berapa kali aku bilang, bahwa aku ingin memulai semuanya dari awal bersamamu."

"Kau tidak akan meninggalkannku?" tanya Kalendra ingin kepastian.

"Aku akan selalu bersamamu sampai akhir nafasku."

"Bahkan, jika aku adalah laki-laki brengsek?"

Ada jeda untuk sesaat. Jeda yang membuat Kalendra mengira, Kanaya menjadi ragu. Memikirkannya, membuat tangan yang masih menahan lengan sang istri mengetat.

"Aku akan menerima semua yang ada pada dirimu. Keposesifanmu, obsesimu, cintamu, semuanya. Entah itu baik atau buruk, aku menerima segala yang kau punya."

Hati Kalendra berdesir. Perasaan resah yang menggerogoti hatinya perlahan menghilang.

"Hanya satu yang tidak bisa aku terima." Kanaya kembali berujar. Membuat ketenangan yang baru saja Kalendra dapatkan seolah lenyap. Tubuh laki-laki itu menegang dengan raut wajahnya yang pias.

"Orang ketiga. Aku tidak bisa memaafkan kesalahan yang satu ini. Jika suatu hari, kau berpindah ke lain hati, katakan saja. Jangan sembunyi-sembunyi."

"Dan jika hari itu ada, maka tanpa perlu kau minta, aku akan pergi de---"

"Shhtttt." sela Kalendra menempelkan telunjuknya pada bibir mungil Kanaya, meminta perempuan itu untuk diam.

"Itu tidak akan pernah terjadi. Lebih baik aku mencongkel kedua mataku, daripada harus mengkhianatimu." bisik Kalendra dengan suara beratnya itu.

"Bagaimana aku bisa mengkhianatimu, bahkan aku rela melakukan apapun untuk mendapatkanmu." meskipun itu dengan cara kotor sekalipun.

Kanaya sempat terhenyak dengan tatapan Kalendra yang menggelap. Kabut obsesi itu semakin pekat. Ahhh, tetapi tidak buruk juga. Kanaya suka dengan obsesi Kalendra padanya.

Mengalungkan lengannya pada bahu sang suami, Kanaya mengecup rahang tegas laki-laki itu sikat. Setelahnya bibir yang telah lancang itu menyunggingkan senyum simpul yang menawan.

"Oke, jadi sekarang sudah jelas, hm? Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku tidak akan terpengaruh oleh Pr--- bajingan itu dan pergi meninggalkanmu."

"Hmm." suara Kalendra terendam kala dia menyembunyikan wajahnya pada leher Kanaya. Mengendusnya, meresapi wangi yang memabukkan.

"Tapi, bukankah kita harus melanjutkan sesuatu yang tertunda?"

Kanaya mendelik. Tentu dia tahu kemana arah pembicaraan laki-laki di atasnya ini.

"Tidak! Kau harus bekerja. Ingat, aku tidak suka laki-laki miskin!" tolak Kanaya mentah-mentah.

Sayangnya, bukannya takut dan patuh, Kalendra justru mengeluarkan seringainya.

"Libur sehari tidak akan membuat suamimu ini jatuh miskin. Tidak ada alasan untuk menolak."

1
Sulati Cus
bener tahta tertinggi dlm mencintai, melepaskan dia berbahagia walaupun bkn dg kita🤣
mbuh
kok KY pernah baca plot ini ya
lupa dmn
Ahrarara17
Lanjut kak, lanjut
Ahrarara17
Kalendra dilawan 😌😌
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!