Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Cahaya fajar pertama menyapa Jihan bukan lewat matanya, melainkan telinganya. Ia terbangun oleh suara yang seharusnya tak bisa ia dengar... gemericik seekor semut yang menyeret sehelai daun kering, dan denting lembut embun terakhir yang jatuh dari ujung daun ke batu kecil. Semuanya terasa dekat. Terlalu jelas.
Perlahan, Jihan membuka mata.
Rasa sakit yang semalaman mencengkeram tubuhnya telah lenyap, digantikan aliran hangat yang menyebar dari dada ke seluruh tubuh. Udara pagi tak lagi menusuk dingin, seolah ada selubung tipis yang melindunginya. Pandangannya pun berubah... serat kulit kayu tampak tajam, urat daun terlihat jelas.
Ini tubuhnya. Namun terasa baru.
Tak jauh dari sisa api unggun yang hampir padam, Kakek Danu duduk bersila dengan mata terpejam, tenang seperti arca. Di sisi lain, Raras masih tertidur pulas di atas kulit hewan, wajahnya damai tanpa sisa ketakutan.
Jihan menatap kulit hewan itu. Warnanya kelabu, sangat mirip dengan Serigala Taring Panjang yang memburu mereka semalam. Dadanya berdesir... apakah itu kebetulan, atau binatang itu benar-benar telah dikalahkan?
“Kau sudah bangun, anak muda.”
Suara Kakek Danu terdengar tanpa ia membuka mata.
“Energi Pil Penguat Roh itu menyatu dengan ragamu lebih cepat dari dugaanku. Bakatmu mungkin bukan pada jalur tenaga dalam, tapi daya tahan hidupmu… luar biasa.”
Jihan bangkit duduk. Gerakannya ringan, nyaris tanpa beban. Ia mengepalkan tangan, merasakan kekuatan baru yang mengalir di dalam tubuhnya. Napasnya terasa dalam, stabil... seolah ia baru saja dilahirkan kembali.
Ia segera membungkuk dalam-dalam.
“Kakek Danu… terima kasih. Jihan tak tahu bagaimana harus membalas kebaikan ini.”
“Tak perlu,” jawab Danu tenang.
“Kau menyelamatkan Nona Muda dari Serigala Taring Panjang. Tak ada lagi utang di antara kita.”
Mata Jihan membelalak.
Ia tak pernah membayangkan tindakannya... yang semata didorong janji pada sang ibu.. akan berbuah sejauh ini. Dengan tubuh yang kini lebih kuat, harapan untuk menyembuhkan ibunya terasa sedikit lebih dekat.
Pikirannya melayang pada kisah tentang pendekar beladiri. Ia menatap Kakek Danu dengan lebih saksama. Pria itu jelas bukan orang biasa.
Dan kata bakat yang disebutkannya terus terngiang.
“Kakek Danu,” ujar Jihan ragu,
“apa maksud Kakek ketika mengatakan bakatku bukan pada tenaga dalam?”
Mata Danu perlahan terbuka. Pandangannya menelusuri tubuh Jihan, seolah melihat sesuatu yang tak kasatmata. Ia menghela napas sebelum berbicara.
“Dalam dunia beladiri, seorang pendekar menyerap energi alam dari langit dan bumi, menyalurkannya ke Lautan Spiritual. Di sanalah energi itu dipupuk menjadi tenaga dalam... bekal untuk mempelajari teknik dan menembus tingkatan berikutnya.”
“Ada sembilan tingkatan dalam Jalan Menuju Keabadian,” lanjutnya.
“Pendekar Batu, Perunggu, Perak, Emas, Bumi, Langit, Agung, Suci… dan puncaknya, Pendekar Abadi.”
Jihan mendengarkan tanpa berkedip. Jalur itu terdengar jauh... nyaris mustahil... namun hatinya bergetar.
“Adapun bakatmu—”
“Berisik sekali.”
Suara itu memotong penjelasan.
Raras terbangun, mengucek mata sambil menatap sekeliling. Saat pandangannya jatuh pada Jihan, matanya membelalak.
“Kau… sudah sembuh?”
Ia bangkit tergesa, melangkah ke arahnya tanpa memperhatikan tanah di bawah kaki. Akar pohon mencuat, dan tubuhnya oleng.
Jihan bergerak refleks. Dalam satu gerakan sigap, ia menangkap Raras sebelum terjatuh.
Jarak mereka begitu dekat.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Degup jantung terdengar jelas, napas mereka bersatu dalam hening pagi. Rona merah merambat di pipi keduanya.
“Ekhem.”
Suara Kakek Danu memecah momen itu.
Jihan segera melepaskan tangannya, berdiri kaku sambil menggaruk kepala. Raras mundur selangkah, wajahnya memerah hingga ke telinga.
“Anak muda memang penuh semangat,” gumam Danu santai.
“Tapi simpan saja momen seperti itu saat orang tua ini tak ada.”
Raras buru-buru mengalihkan pandangan, lalu menatap Jihan dengan khawatir.
“Kondisimu bagaimana?”
“Sudah jauh lebih baik,” jawab Jihan jujur.
“Syukurlah!” Raras tersenyum lega.
“Kalau begitu, ikutlah bersamaku ke istana. Ibunda pasti ingin bertemu denganmu.”
“I-istana?”
Kata itu terasa asing di telinga Jihan.
“Oh, benar,” ujar Raras, seolah baru ingat.
“Aku belum memperkenalkan diri.”
Ia menegakkan badan.
“Namaku Raras Muria.”
Nama itu menghantam benak Jihan.
Muria.
Nama kerajaan tempat ia tinggal.
Rumor yang pernah ia dengar di desanya berkelebat di kepalanya, tentang seorang nona muda usil dari kerajaan yang datang ke Kota Mandala.
Kini semuanya masuk akal. Sikapnya yang bebas, blak-blakan, dan, tentu saja, tingkah lakunya yang ceroboh.
"Raras Muria… nona muda usil dari kerajaan…"
Tak heran jika gadis ini nekat dan selalu berada dalam masalah.
Gadis ini bukan gadis bangsawan biasa.
Ia adalah putri kerajaan!
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"