NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.17 -Sandaran

Reynan terpaku menatap tubuh Aylin yang gemetar hebat, apa yang terjadi?

"Maaf, Tuan. Lebih baik anda pergi, atau saya akan memanggil orang-orang untuk mengusir anda." Ancam Renata dengan tegas, dia tidak takut karena kawasan cafe ramai orang.

Reynan pun mundur dan pergi begitu saja, dia akan kembali lagi nanti.

Pintu kafe akhirnya tertutup.

Langkah kaki Reynan menjauh, tapi dadanya Aylin justru semakin sesak.

Tubuhnya melemah. Tangannya gemetar hebat, napasnya terputus-putus seolah udara di sekitarnya menghilang.

“Aylin…” panggil Renata panik.

Aylin menggeleng keras. Tangannya mencengkeram dada sendiri. Lalu naik ke rambut dan mengacak-acak rambutnya sendiri.

“S-sakit… Mbak…” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku… nggak bisa napas…”

Aylin berusaha menarik nafas dengan kuat, namun dia malah semakin sesak.

Renata langsung memeluk Aylin, menuntunnya duduk di kursi terdekat.

“Tarik napas pelan-pelan ya, Lin. Lihat aku,” ucap Renata mencoba menenangkan, meski hatinya ikut gemetar melihat kondisi Aylin.

Aylin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun, tubuhnya menggigil.

“Dia datang lagi…” lirihnya putus. “Kenapa dia datang lagi… aku takut…”

Renata menelan ludah. Dadanya perih. Bingung dengan apa yang terjadi, tapi dia mencoba untuk menenangkan Aylin.

“Dia sudah pergi, Lin. Kamu aman sekarang,” bisiknya lembut.

Namun trauma tak semudah itu pergi.

Air mata Aylin tumpah tanpa bisa dicegah. Tangisnya pecah—bukan tangis keras, tapi tertahan, menyakitkan, seperti luka lama yang dipaksa terbuka.

Beruntung belum ada pengunjung yang datangan. Renata panik, lalu segera menghubungi seseorang.

Aksara.

Di ruang rapat, ponsel Aksara bergetar. Nama Renata muncul di layar.

“Ada apa, Renata?” tanyanya begitu panggilan terhubung.

“Aksara… Aylin dia. Dia… kayak kena panic attack. Tolong ke kafe sekarang,” suara Renata terdengar bergetar.

Jantung Aksara langsung berdetak dengan hebat.

“Apa?” kursinya terdorong keras saat ia berdiri. “Aku ke sana sekarang.”

Tanpa peduli rapat, Aksara langsung mengambil kunci mobil dan berlari keluar. Semua orang yang ada di ruang rapat saling pandang, beruntung asisten Jo langsung mengambil alih rapat.

Tiga puluh lima menit kemudian, pintu kafe terbuka keras.

“Aylin!” panggil Aksara.

Matanya langsung menangkap sosok Aylin yang duduk meringkuk di pojok ruang, wajahnya pucat, matanya merah, napasnya masih belum stabil.

Aksara berjongkok di depannya.

"Aylin." Panggil Aksara.

"Ini aku, Aksara."

Aylin mendongak perlahan. Saat menyadari siapa yang ada di depannya, tangisnya justru makin pecah.

“Mas…” suaranya bergetar. “Dia datang…”

Aksara tak bertanya siapa.

Ia langsung menarik Aylin ke dalam pelukannya—hati-hati, seolah takut tubuh itu akan hancur.

“Tenang,” bisiknya berulang. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.”

Aylin mencengkeram kemeja Aksara kuat-kuat, seperti anak kecil yang ketakutan kehilangan pegangan.

“Kenapa dia muncul lagi…?” isaknya. “Kenapa dia selalu datang buat nyakitin aku…”

Aksara menutup mata. Dadanya terasa panas. Walau tak mengerti apa yang Aylin katakan.

"Sudah ya, tenang. Aku disini gak akan kemana-mana." Bisik Aksara, memeluk Aylin.

Saat itu juga, Aksara membawa Aylin pergi.

Beruntung, pengganti Aylin bisa masuk hari itu, dan Aksara—sebagai pemilik kafe—langsung memberikan bonus tambahan.

Mobil melaju meninggalkan pusat kota. Aylin hanya diam, menatap jalanan yang perlahan berubah lebih lengang.

Aksara tidak membawanya ke apartemen. Ia tahu, Rosalind pasti akan panik jika melihat kondisi Aylin sekarang.

Mobil berhenti di sebuah rumah yang tenang, dikelilingi pepohonan dan taman kecil. Udara terasa sejuk, jauh dari hiruk-pikuk kota.

“Ini rumah siapa?” tanya Aylin pelan, menyadari tempat itu asing.

“Rumahku,” jawab Aksara singkat. “Ayo, masuk.”

Aksara menuntun Aylin duduk di ruang tamu. Ia meletakkan dua botol minuman dingin di meja kecil.

“Minum dulu,” ucapnya lembut.

Aylin menurut. Tegukan pertama membuat napasnya perlahan kembali teratur.

Aksara tidak mendesak. Ia hanya duduk, menunggu.

“Mau cerita?” tanyanya akhirnya.

Aylin menunduk. Jarinya saling menggenggam erat.

Apakah ia sanggup mengatakannya?

“A-aku…” suaranya tertahan.

“Gak apa-apa,” potong Aksara pelan sambil tersenyum. “Kalau belum bisa, jangan dipaksakan.”

Aylin bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke halaman belakang—tempat bunga-bunga tumbuh rapi, sayuran kecil berbaris, dan pohon tua menaungi sudut taman. Entah kenapa, tempat itu membuat dadanya sedikit lebih ringan.

“Dia… Ayahku,” ucap Aylin akhirnya, membelakangi Aksara.

“Ayah?” gumam Aksara, nyaris tak bersuara.

“Dia meninggalkan aku dan Mama,” lanjut Aylin lirih. “Saat aku masih kecil. Saat aku butuh sosok Ayah… sosok yang melindungi ku.”

Aylin menoleh. Matanya berkaca-kaca.

“Dia berselingkuh. Memilih wanita lain. Katanya… Mama sudah tidak menarik lagi.”

Aksara mengepalkan tangan, menahan emosi.

“Sejak Papa menceraikan Mama, hidup kami hancur,” lanjut Aylin. “Mama depresi berat. Aku diasuh Nenek dan Kakek. Semua harta mereka habis buat pengobatan Mama.”

Aylin menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

“Mama bukan sembuh,” suaranya bergetar. “Dia malah semakin sakit. Sampai… satu kejadian buruk menimpaku.”

Aksara menegang. Ia tahu, kalimat itu bukan hal kecil.

Aylin menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.

“Aku… kehilangan banyak hal, Aksara,” bisiknya.

“Dan sejak saat itu, Mama berusaha bangkit. Demi aku saat kami gak punya siapa-siapa.”

Ia terdiam lama.

Dalam hati, Aylin menelan kalimat yang tak sanggup ia ucapkan keras-keras.

Aku sudah tidak utuh lagi.

Aksara berdiri. Perlahan, tanpa menyentuh lebih dulu, ia mendekat.

“Kamu gak harus jelasin semuanya sekarang,” ucapnya pelan. “Aku gak butuh detail buat ngerti kalau kamu terluka.”

Ia berhenti di hadapan Aylin.

“Tapi satu hal yang harus kamu tahu,” lanjutnya tegas. “Apapun yang terjadi di masa lalu, itu bukan salahmu.”

Aylin mengangkat wajahnya. Tangisnya pecah.

Untuk pertama kalinya, seseorang tidak menatapnya dengan kasihan.

Tidak menghakimi.

Tidak menuntut.

Aksara membuka tangannya—memberi pilihan.

Aylin maju sendiri… dan bersandar di dadanya.

Dan saat itu, Aksara tahu—

ia tidak hanya sedang melindungi istrinya.

Ia sedang menjaga luka yang selama ini dipikul sendirian.

Aksara menatap Aylin yang tertidur dengan tenang. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas siang. Sebentar lagi waktu makan siang—dia berniat memasak sesuatu untuk Aylin.

Namun langkahnya terhenti saat ponsel berdering.

Arvano.

Aksara menghela napas, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo.”

“Sa… kamu di mana?” suara Arvano terdengar lirih, dibuat-buat. “Tolong aku, Sa.”

“Ada apa?” tanya Aksara dingin.

“Sudahlah, jangan banyak tanya,” potong Arvano. “Aku mau kamu datang ke apartemen. Sekarang.”

Aksara terdiam sejenak.

“Kalau enggak?” lanjut Arvano, suaranya berubah mengancam. “Jangan salahkan aku kalau aku kasih tahu semua ke mertua kamu.”

Rahang Aksara mengeras.

“Jangan pernah macam-macam, Arvano,” desisnya.

Arvano terkekeh kecil. “Takut, ya?”

Kali ini Aksara tersenyum—bukan senyum hangat, melainkan senyum dingin yang berbahaya.

“Kalau kamu berani melakukan itu,” ucap Aksara pelan namun tajam, “aku akan mencabut semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati.”

“Apa maksud lo—”

“Termasuk kafe yang kamu kelola,” potong Aksara tegas. “Aku akan menyerahkannya pada Aylin. Dan kamu—”

Aksara berhenti sejenak, memastikan setiap katanya menusuk.

“—bersiaplah dipecat.”

Di seberang sana, Arvano terdiam.

“Aku tidak akan meninggalkan istriku,” lanjut Aksara.

“Terutama saat kondisinya seperti ini. Jadi pikirkan baik-baik langkahmu.”

Klik.

Aksara mematikan panggilan.

Dia menoleh ke arah kamar, memastikan Aylin masih tertidur dengan tenang. Tatapannya melembut seketika.

Bersambung ...

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!