cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMUNCULAN KING COBRA JANTAN & BETINA
Api, Nafas, dan Niat
Malam semakin tua ketika rombongan benar-benar meninggalkan rumah Mang Zondol. Jalan kampung sunyi, hanya suara jangkrik dan langkah kaki yang menemani.
Rumah Mang Dedi tak jauh dari kediaman Mbah Klowor—rumah panggung sederhana dengan halaman cukup luas. Di sanalah mereka berkumpul kembali, bukan sebagai tamu, tapi sebagai orang-orang yang tahu: malam ini bukan untuk tidur nyenyak.
Tikar digelar. Teh kembali diseduh. Lampu petromaks dinyalakan, cahayanya bergetar pelan.
Mang Dedi membuka pembicaraan. “Apa pun yang Dol pilih nanti… kita tetap harus siap.”
Pak Dosen Deden mengangguk. “Rantai ini sudah jalan. Tidak bisa dihentikan hanya dengan nasihat.”
Nurdin menyandarkan punggung ke tiang rumah. “Minimal kita tahu sekarang, mereka pakai orang kampung buat jadi perantara.”
Mbah Klowor duduk diam, tongkatnya di pangkuan. “Orang lapar mudah diarahkan,” katanya lirih. “Makanya yang harus kita hadapi bukan cuma Nakata… tapi rasa takut orang-orang.”
Sandi mendengarkan tanpa menyela. Matanya tenang, tapi rahangnya mengeras.
Setelah pembicaraan cukup, Mang Dedi berdiri. “Biar nggak terlalu tegang… kita bikin api unggun.”
Nurdin langsung bangkit. “Siap. Tugas negara.”
Mereka menyusun kayu kering di halaman. Api dinyalakan. Nyala jingga menari, menghangatkan udara malam yang mulai dingin.
Amelia duduk di bangku bambu, selimut tipis di pundaknya. Matanya mengikuti satu sosok yang melangkah menjauh dari lingkaran api.
Sandi.
Ia berdiri di tanah lapang, menutup mata. Mengatur napas.
Tarik… tahan… hembuskan.
Gerakannya pelan, terukur. Bukan pamer. Bukan kasar.
Langkah kuda-kuda terbentuk. Tangan bergerak—memotong udara, menahan, menyalurkan. Setiap gerakan diiringi napas yang dalam, seolah tenaga muncul dari pusat tubuh, bukan dari otot.
Amelia menatap tanpa berkedip.
Ia pernah melihat banyak orang berkelahi. Tapi ini berbeda.
Ini bukan menyerang—ini menguasai diri sendiri.
Sandi memusatkan tenaga. Telapak tangannya mengarah ke sebatang kayu yang berdiri.
Hembusan napas terakhir dilepas.
Duk.
Kayu itu bergetar, retak halus muncul di permukaannya.
Nurdin yang sedang meniup api unggun melongo. “Ya ampun… itu kayu bukan mantan pacar, kan?”
Mang Dedi terkekeh. “Ilmu napas.”
Amelia tersenyum, hangat. Ada rasa aman yang tumbuh melihat punggung Sandi di cahaya api.
Di sisi lain halaman, Mbah Klowor memperhatikan dengan serius.
Matanya menyipit, bukan karena api—tapi karena ketertarikan.
“Ilmu apa itu?” tanyanya pelan pada Mang Dedi.
“Merpati Putih,” jawab Mang Dedi. “Padepokan lama. Sandi belajar cukup dalam.”
Mbah Klowor mengangguk pelan. “Napasnya bersih. Tidak terburu-buru. Tidak rakus tenaga.”
Ia bangkit perlahan, mendekati Sandi yang baru saja mengakhiri gerakannya.
“Kamu,” kata Mbah Klowor. “Belajarnya dari siapa?”
Sandi menoleh, sedikit terkejut, lalu menunduk hormat. “Dari guru padepokan, Mbah.”
Mbah Klowor menatapnya lama. Api unggun memantulkan cahaya di mata tua itu.
“Ilmu seperti itu,” katanya pelan, “kalau jatuh ke tangan yang salah… jadi bencana. Tapi kalau di tangan orang yang tepat… bisa jadi penyangga banyak nyawa.”
Sandi menunduk lebih dalam. “Saya cuma belajar untuk melindungi.”
Mbah Klowor tersenyum tipis. “Itu jawabannya.”
Api unggun berderak. Nurdin mengaduk kayu. Mang Dedi menuang kopi.
Amelia memandang Sandi—bukan dengan cemas, tapi dengan bangga.
Dan di halaman kecil rumah Mang Dedi, malam itu bukan hanya rencana yang mulai disusun…
tapi juga keyakinan, bahwa mereka tidak berdiri dengan tangan kosong.
Ubi Bakar dan Pukulan Pamungkas
Api unggun kian membesar. Mang Dedi menusuk ubi dan singkong dengan bilah bambu, lalu menaruhnya di sela-sela bara.
“Kalau urusan besar dibahas perut kosong, hasilnya cuma emosi,” gumamnya.
Nurdin tertawa kecil. “Betul. Strategi paling dasar manusia: makan dulu.”
Aroma singkong bakar menyebar, bercampur bau kayu kering. Malam yang dingin terasa lebih ramah.
Sandi berdiri agak menjauh, mengatur napas setelah latihan. Tubuhnya basah oleh keringat, kaus tipis menempel di dada dan bahu yang terlatih. Otot-ototnya terlihat jelas di cahaya api.
Amelia memperhatikannya dari jarak aman.
Bukan dengan nafsu—melainkan dengan kekaguman yang jujur.
Ia tersenyum sendiri, lalu cepat-cepat menunduk ketika sadar tatapannya terlalu lama.
Namun ada sepasang mata lain yang juga memperhatikan.
Mbah Klowor.
Bukan pada tubuh semata, tapi pada keseimbangan napas dan postur Sandi.
“Kemari,” panggil Mbah Klowor pelan.
Sandi mendekat, duduk bersila di hadapan lelaki tua itu.
“Kamu punya dasar yang bagus,” kata Mbah Klowor. “Tapi kamu belum tahu bagaimana mengunci tenaga di satu titik.”
Sandi menegakkan punggung. “Mohon diajari, Mbah.”
Mbah Klowor meletakkan dua jarinya di dada Sandi. “Tenaga dalam bukan soal keras. Tapi soal diam sebelum menghantam.”
Ia lalu mengajarkan satu teknik—pukulan pamungkas.
Bukan rangkaian panjang, hanya satu gerakan sederhana:
Tarik napas ke pusar.
Kunci di tulang belakang.
Lepas melalui telapak… tanpa emosi.
Sandi mempraktikkan. Awalnya gagal. Tenaga bocor.
“Jangan niat menjatuhkan,” tegur Mbah Klowor. “Niatkan menghentikan.”
Pada percobaan berikutnya, Sandi memejamkan mata. Napasnya stabil. Saat telapak tangannya diarahkan ke batu besar—
Buk.
Batu itu tak pecah… tapi retak halus muncul seperti urat rambut.
Mang Dedi terdiam.
Nurdin menelan ludah.
Amelia menutup mulutnya, kagum.
Mbah Klowor mengangguk puas. “Cukup. Jangan sering dipakai. Ilmu ini cuma keluar kalau perlu.”
Sandi menunduk hormat. “Terima kasih, Mbah.”
Mbah Klowor lalu duduk lebih dekat. Nada suaranya berubah—lebih lembut, lebih pribadi.
“Kamu sayang perempuan itu?” tanyanya tiba-tiba, matanya melirik ke arah Amelia yang sedang menerima singkong bakar.
Sandi terdiam sejenak. Ia jujur.
“Saya sayang… tapi sebagai teman dekat,” jawabnya. “Saya jaga dia. Tapi tidak lebih.”
Mbah Klowor menatapnya lama. “Hati-hati dengan jawabanmu sendiri.”
Sandi mengangkat kepala.
“Kadang,” lanjut Mbah Klowor, “orang paling berbahaya bukan musuh… tapi perasaan yang kamu simpan tapi tak kamu akui.”
Sandi terdiam.
“Kalau kamu hanya menganggap dia teman,” kata Mbah Klowor pelan, “pastikan tindakanmu juga berteman. Jangan sampai tubuhmu siap berkorban… tapi hatimu menyangkal.”
Api unggun berderak.
Ubi matang.
Amelia tertawa kecil bersama Mang Dedi dan Nurdin, tak tahu pembicaraan itu—tapi merasakan ada sesuatu yang berubah.
Mbah Klowor berdiri, menepuk bahu Sandi.
“Ilmu boleh kau kuasai. Tapi hati… harus jujur.”
Malam itu, Sandi menatap api lebih lama dari biasanya.
Bukan memikirkan pukulan pamungkas—
melainkan satu pertanyaan yang kini tak bisa ia hindari lagi.
Pesan dari Sang Raja
Api unggun mulai mengecil. Bara merah berdenyut pelan, sementara malam makin sunyi. Angin hutan membawa bau tanah basah dan dedaunan tua.
Tiba-tiba…
api bergetar.
Bukan karena angin.
Mbah Klowor langsung berdiri. Tongkatnya menjejak tanah, matanya menajam ke arah batas gelap pepohonan.
Sandi ikut menoleh. Napasnya otomatis teratur.
Dari balik semak, sesuatu bergerak.
Daun terbelah perlahan.
Lalu muncul kepala besar dengan mahkota alami di lehernya.
KING COBRA.
Tubuhnya panjang, tebal seperti batang kelapa muda. Sisiknya mengilap terkena cahaya api. Matanya tenang—bukan mata pembunuh, tapi mata penguasa hutan.
Nurdin yang sedang mengunyah singkong langsung kaku.
“Ya Allah…” bisiknya. “Itu… itu ular apa truk molen?”
Mang Dedi refleks berdiri, tapi Mbah Klowor mengangkat tangan.
“Tenang,” katanya pelan. “Dia datang bukan untuk menyerang.”
King cobra itu berhenti sekitar tiga meter dari api unggun. Ia tidak mendesis. Tidak mengangkat tubuhnya tinggi. Ia hanya menunduk sedikit—gestur yang tidak mungkin dilakukan ular biasa.
Mbah Klowor melangkah maju satu langkah.
“Sudah lama kau tak menampakkan diri,” ucapnya dengan suara rendah, dalam bahasa yang tak sepenuhnya dimengerti manusia.
Sandi merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia tahu—ini bukan ilusi.
King cobra itu bergerak perlahan, melingkar setengah, lalu menggerakkan kepalanya dengan ritme tertentu. Seperti berbicara.
Mbah Klowor memejamkan mata, mendengarkan.
Wajahnya berubah.
“Dia datang membawa kabar buruk,” kata Mbah Klowor akhirnya.
Nurdin menelan ludah. “Lebih buruk dari gigitan?”
“Koloninya,” lanjut Mbah Klowor, “ditangkap.”
Api unggun berderak keras seolah menegaskan.
“Di penangkaran ular… di tengah hutan,” terjemahnya. “Banyak. Betina. Anakan. Dijadikan komoditas.”
King cobra itu menggeser tubuhnya, matanya memantulkan cahaya api. Ada amarah yang tertahan, tapi lebih besar dari itu—ada kesedihan.
“Dia minta tolong,” kata Mbah Klowor pelan. “Bukan untuk dirinya. Untuk kaumnya.”
Amelia tanpa sadar menggenggam tangan Mang Dedi.
Sandi berdiri tegak.
Lalu sesuatu yang tak pernah dibayangkan siapa pun terjadi.
King cobra itu bergerak ke arah Sandi.
Nurdin spontan mundur dua langkah. “Eh—eh—eh—itu ke kita!”
Sandi tidak bergerak. Napasnya stabil. Kakinya kokoh menapak tanah.
King cobra itu berhenti tepat di depan Sandi…
lalu melingkar perlahan di sekitar kakinya.
Bukan mengikat.
Bukan mengancam.
Memohon.
Sandi merasakan dingin sisik itu, berat tubuhnya, dan… sesuatu yang lain.
Tekanan batin. Kesedihan. Permintaan.
Mbah Klowor membuka mata lebar.
“Dia memilihmu,” katanya lirih.
“Apa maksudnya, Mbah?” tanya Sandi pelan.
“Dia tahu kamu punya tenaga untuk melawan manusia,” jawab Mbah Klowor. “Dan hati yang belum tercemar.”
King cobra mengangkat kepalanya sedikit, tepat setinggi dada Sandi, lalu menunduk lagi.
“Dia minta kamu membantu membebaskan koloninya,” lanjut Mbah Klowor. “Karena manusia hanya akan mendengar manusia.”
Nurdin sudah pucat. “Aku… aku baru pertama kali lihat king cobra segede ini… dan sekarang dia kayak… sungkem.”
Mang Dedi bergumam, “Ini bukan kebetulan.”
Sandi menatap ular itu. Perlahan, ia berlutut satu lutut—bukan karena takut, tapi karena hormat.
“Aku manusia,” katanya pelan. “Aku nggak janji bisa menyelamatkan semuanya. Tapi aku janji… aku nggak akan berpaling.”
King cobra itu diam beberapa detik.
Lalu perlahan melepaskan lingkarannya.
Ia menatap Mbah Klowor sekali lagi, seakan mengucap terima kasih.
Kemudian, tanpa suara, tubuh raksasanya bergerak mundur…
dan lenyap ke dalam gelap hutan.
Api unggun kembali tenang.
Tak ada yang langsung bicara.
Mbah Klowor menatap Sandi lama.
“Sekarang kamu tahu,” katanya. “Ini bukan lagi urusan manusia saja.”
Sandi mengepalkan tangan pelan.
Di malam itu, takdir mereka bergeser satu langkah lebih dalam—
ke wilayah di mana manusia, uang, dan ular
tak bisa lagi dipisahkan.
Ratapan Sang Induk
Belum sempat ketegangan benar-benar reda, udara hutan kembali berubah.
Api unggun meredup sendiri, seakan nyala api ikut menahan napas.
Dari arah yang berbeda—lebih gelap, lebih sunyi—terdengar gesekan tanah yang berat namun tertata. Bukan gerakan pemburu.
Ini langkah… ibu.
Mbah Klowor langsung menoleh. Wajahnya menegang, bukan karena takut—melainkan karena rasa hormat yang dalam.
“Yang ini… lebih berat lukanya,” gumamnya.
Dari balik semak muncul king cobra betina.
Tubuhnya sedikit lebih besar di bagian perut, sisiknya kusam di beberapa bagian, matanya tidak menyala oleh amarah—melainkan kesedihan yang menekan. Gerakannya lambat, hati-hati, seolah setiap sentimeter tanah mengingatkannya pada sesuatu yang hilang.
Ia berhenti di hadapan Mbah Klowor.
Lalu…
ia menundukkan kepalanya rendah, lebih rendah dari yang dilakukan pejantan sebelumnya.
Amelia merinding. Tangannya bergetar.
Nurdin menelan ludah. “Ini… ini bukan sembarang ular…”
King cobra betina itu mulai bergerak, melingkar kecil, lalu menghentakkan ujung ekornya ke tanah dengan ritme tertentu. Suaranya bukan desis marah—melainkan getaran pilu.
Mbah Klowor memejamkan mata, mendengarkan.
Rahangnya mengeras.
“Telurnya…” katanya pelan.
“Telur-telurnya diambil.”
Semua terdiam.
“Manusia serakah,” lanjutnya, suaranya mulai berat. “Masuk ke penangkaran di tengah hutan. Mengambil telur sebelum menetas. Dijual. Dipisah. Hilang jejak.”
King cobra betina itu mengangkat kepalanya sedikit. Matanya basah oleh kilau api—bukan air mata, tapi energi duka yang nyata.
“Ia minta tolong padaku,” kata Mbah Klowor lirih. “Sebagai penjaga keseimbangan. Ia ingin telur-telurnya ditemukan kembali. Bukan untuk balas dendam… tapi untuk hidup.”
Amelia menutup mulutnya. “Ya Allah…”
Belum sempat siapa pun bicara, tanah kembali bergetar.
King cobra jantan muncul kembali.
Kali ini ia tidak berjalan pelan.
Ia meluncur cepat ke arah Sandi dan kembali melingkari kaki Sandi, lebih erat dari sebelumnya. Lehernya mengembang, mahkota terbuka penuh.
HSSSSSSS—!
Desisnya keras, menggema di dada semua yang mendengar.
Nurdin refleks mundur jauh. “Aku… aku nggak sanggup… sumpah…”
Mbah Klowor mengangkat tangan tinggi. “Tenang! Itu bukan ancaman!”
Ia menoleh ke Sandi, wajahnya serius.
“Dia bukan marah,” kata Mbah Klowor. “Dia memohon.”
King cobra jantan menunduk, lalu mengangkat kepalanya ke arah Sandi, tepat sejajar dengan jantungnya. Desisnya kembali terdengar, lebih panjang, lebih dalam.
Mbah Klowor menerjemahkan, suaranya bergetar:
“Aku mohon dengan sangat…
manusia bernapas bersih…
temukan anak-anakku…
yang dicuri sebelum mengenal dunia.”
Sandi menutup mata.
Ia merasakan getaran itu—bukan di kaki, tapi di dada.
Rasa kehilangan.
Rasa tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh ke pundaknya.
Perlahan, ia berlutut. Tangannya diletakkan di tanah, telapak terbuka.
“Aku tidak menjanjikan hasil cepat,” katanya dengan suara rendah namun tegas.
“Tapi aku bersumpah… aku akan mencari.”
King cobra jantan berhenti mendesis.
King cobra betina menggeser tubuhnya mendekat, lalu menyentuhkan ujung kepalanya ke tanah—tanda kepercayaan tertinggi di dunia mereka.
Mbah Klowor membuka mata. Napasnya berat.
“Kalau telur-telur itu tidak ditemukan,” katanya pelan, “keseimbangan hutan akan runtuh. Dan manusia… akan ikut menanggung akibatnya.”
Api unggun kembali menyala lebih terang—seolah alam mencatat sumpah itu.
Di malam itu, di antara api dan sisik,
Sandi tak lagi sekadar saksi.
Ia telah dipilih—
bukan oleh manusia,
melainkan oleh kehidupan itu sendiri.
Malam yang Menjaga Diam
Setelah pertemuan dengan dua penguasa hutan itu, tak ada yang banyak bicara lagi.
Pintu rumah Mang Dedi ditutup perlahan. Api unggun dibiarkan mati sendiri, menyisakan bara merah yang perlahan padam—seperti malam yang memilih diam agar luka-luka bisa beristirahat.
Satu per satu, mereka masuk ke dalam.
Di kamar belakang, tiga kasur kembali digelar.
Amelia baru saja merebahkan badan ketika Santi langsung menyenggol sikunya.
“Dokter Amelia,” bisik Santi dengan nada penuh makna, “tadi itu bukan ular yang melingkarin kaki Mas Sandi doang kan?”
Sinta ikut mendekat, senyumnya usil. “Iya… aku lihat ada ular perasaan juga.”
Amelia menarik selimut sampai ke dagu. “Kalian berdua… bisa nggak sih serius satu malam aja?”
“Serius kok,” jawab Santi cepat. “Serius melihat kamu melongo sambil deg-degan.”
Pipi Amelia menghangat. “Aku cuma… kaget.”
“Ya iya,” Sinta tertawa kecil. “King cobra segede itu siapa yang nggak kaget.”
Santi mendekat lagi, berbisik, “Tapi cara kamu lihat dia… itu bukan kaget.”
Amelia memalingkan wajah. “Tidur.”
Sinta menepuk selimutnya. “Tenang. Kita jaga rahasia. Tapi ingat ya—hati itu kayak hutan. Kalau kelamaan dipendam, bisa meledak.”
Amelia tak menjawab. Tapi senyum kecil muncul tanpa izin.
Di kamar depan, Mang Dedi sudah berbaring di samping istrinya.
Halimah tidur di antara mereka, napasnya teratur, wajahnya damai.
Mang Dedi menatap langit-langit sebentar, lalu menghela napas panjang.
“Alhamdulillah,” gumamnya. “Masih diberi malam begini.”
Tangannya meraih tangan istrinya. Mereka tidur tanpa kata—cukup dengan rasa aman.
Di sudut ruang tengah, Nurdin sudah kalah telak.
Tubuhnya telentang, satu tangan di dada, satu kaki keluar dari tikar.
“Ngkrrr… ngkrrr…”
Dengkurnya stabil, konsisten, seperti mesin diesel tua.
Sandi sempat melirik, hampir tersenyum.
“Singkong bakar pamungkas,” gumamnya pelan.
Sementara itu, Sandi memilih duduk bersila di dekat jendela.
Punggung tegak. Mata terpejam.
Napasnya diatur perlahan—masuk lewat hidung, turun ke perut, keluar tanpa suara.
Ajaran Mbah Klowor dan Merpati Putih berpadu.
Ia mengosongkan pikiran…
namun justru bayangan Amelia yang datang paling dulu.
Ia tak melawan. Hanya mengatur napas.
Jauh di sudut rumah, Mbah Klowor duduk sendirian, memandang lampu minyak.
Ia tersenyum kecil.
“Ilmu itu bukan soal kuat,” bisiknya.
“Tapi soal siapa yang hatinya cukup lapang untuk menanggungnya.”
Tongkatnya disandarkan.
Ia merasa tenang—tenang yang jarang ia rasakan.
Tengah malam.
Amelia terbangun.
Entah karena mimpi, entah karena perasaan yang tak mau diam.
Ia bangkit perlahan, menyelimuti Santi dan Sinta, lalu melangkah keluar kamar.
Di ruang tengah, ia melihat Sandi masih duduk bermeditasi.
Tubuhnya diam. Napasnya teratur. Wajahnya tenang, tapi lelahnya terasa.
Tanpa suara, Amelia mengambil selimut tipis.
Ia mendekat, berlutut perlahan, dan menyelimuti bahu Sandi.
Tangannya sempat ragu—lalu berhenti sejenak di udara.
Akhirnya, ia menyelipkan selimut itu dengan hati-hati, seolah takut mengganggu dunia yang sedang dijaga lelaki itu.
Sandi tidak membuka mata.
Namun napasnya sedikit berubah—lebih hangat.
Amelia berdiri, menatapnya sebentar.
“Terima kasih,” bisiknya sangat pelan.
Entah untuk keberanian. Entah untuk perlindungan. Entah untuk rasa aman yang tak pernah diminta.
Ia kembali ke kamar dengan langkah ringan.
Di malam yang sunyi itu,
tak ada pengakuan, tak ada janji—
hanya selimut,
napas yang terjaga,
dan hati yang pelan-pelan menemukan tempatnya sendiri.