Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG
Hening malam itu terasa mencekik. Jarum jam dinding di ruang tamu seolah berdetak lebih keras dari biasanya, memecah kesunyian rumah yang kian terasa asing. Ratih tak henti mondar-mandir, langkah kakinya yang gelisah meninggalkan jejak kecemasan di atas lantai yang dingin.
Sesekali ia menyibak gorden usang mengintip ke arah gerbang yang masih tertutup rapat. Gelap. Hanya lampu jalan yang berkedip malas, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran motor atau sosok anaknya.
Biasanya, sebelum tengah malam, sebuah pesan singkat akan muncul di layar ponsel Ratih. Malam ini berbeda. Layar ponselnya tetap gelap, membisu tanpa notifikasi kabar Putra pergi nongkrong bersama teman-temannya atau sekedar latihan boxing yang lokasinya tak begitu jauh dari jarak rumah.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi yang mencekam. Ratih masih berdiri mematung di balik tirai jendela ruang tamu, matanya kini tak lepas menatap gerbang kayu yang mulai kusam. Detak jantungnya seirama dengan detak jam dinding—cepat dan penuh kecemasan.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang sangat ia kenali memecah keheningan malam. Lampu sorot kendaraan itu menyapu dinding pagar saat memasuki pekarangan. Seketika, ketakutan yang sejak tadi menghimpit dada Ratih meledak menjadi pusaran emosi yang carut-marut, ada amarah yang membakar, rasa kesal yang meluap, namun di dasar hatinya, ada embusan lega yang luar biasa.
Tanpa membuang waktu, Ratih menyambar sapu lidi di balik pintu dan menyentak daun pintu hingga terbuka lebar. Sementara, Putra yang baru saja mematikan mesin motornya, saat tangannya bergerak melepas helm, ia tidak menyadari sosok ibunya yang sudah berdiri dengan napas memburu di anak tangga teras.
"Dari mana saja kamu, hah?!" Teriak Ratih, suaranya serak karena menahan tangis sekaligus amarah. Langkahnya gusar, berjalan cepat menghampiri...
Plaaaak!
Belum sempat Putra meletakkan helmnya di atas jok, ujung sapu lidi itu sudah mendarat telak di bahu dan lengannya. Ratih memukulnya dengan sisa tenaga yang ia miliki, seolah ingin menumpahkan seluruh rasa khawatir yang menyiksanya selama berjam-jam tanpa kabar.
"Sudah jam berapa ini?! Kamu sengaja mau buat Ibu mati berdiri karena khawatir?!" Lanjut Ratih, kembali melayangkan sabetan ke arah putranya.
"Aduh! Aduh, Ma! Sakit!" Putra merintih kesakitan. Ia refleks menjatuhkan helmnya dan menutupi wajah dengan kedua tangan, mencoba melindungi diri dari sabetan ibunya yang bertubi-tubi. "Ampun, Ma! Putra bisa jelasin!"
Tubuh Ratih gemetar. Sapu di tangannya perlahan turun, namun matanya masih berkaca-kaca menatap anak tunggalnya yang meringkuk di depannya. Malam itu, di bawah temaram lampu teras, kelegaan akhirnya menang melawan amarah, meski sisa-sisa rasa perih masih tertinggal di sana.
Tak lama, Putra kembali menegapkan tubuhnya. "Mama apa-apaan si?! Putra baru datang bukan di sambut malah di sambat!"
Ratih mendesis pahit. "Menyambut anak sepertimu? yang sudah buat Ibu kamu sendiri, cemas?! Darimana kamu, jawab?! Gak ada notif gak ada kabar...!"
"Mama itu bukan pacar aku!" Dengue Putra. "Setiap menit detik aku harus kasih kabar!"
"Tapi Mama itu Ibu kamu!" Tandas Ratih.
Plaaaaak!
"Au." Rintis Putra. "Iya, aku ngerti! Mama bisa gak si gak usah pakai pukul-pukulan. Aku ini udah besar!"
"Iya!" Balas Ratih. "Tapi pikiran kamu itu gak dewasa-dewasa!" Jelasnya, memukul kepala Putra.
"Ma... udah, Ma. Udah! Aku habis nolong Bu Salma."
Gerak Ratih mendadak terhenti seketika. "Bu-Bu Salma?" Ulangnya, terbata. Suaranya nyaris hilang ditelan udara malam yang kian menusuk dingin.
Putra tidak segera menjawab. Alih-alih memberikan penjelasan yang sangat dinantikan Ratih, ia justru melemparkan pandangan waspada ke sekeliling. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, menyisir setiap sudut bayangan di lorong jalan remang itu, memastikan tidak ada telinga lain yang menangkap percakapan mereka
"Kita bicara di dalam," Bisik Putra tajam. Nada suaranya tidak menerima bantahan.
"Ada apa emang dengan guru cantik itu?" Desak Ratih.
Putra hanya menuntun lengan Ibunya untuk segera masuk ke dalam rumah.
****
Langkah kaki Salma terasa begitu berat saat melewati ambang pintu rumah. Keheningan yang menyambutnya terasa mencekik, seolah dinding-dinding rumah itu ikut menertawakan kenaifannya. Dulu, ia menyangka Erwin adalah pelabuhan terakhirnya—sosok laki-laki yang akan menjadi "rumah" tempatnya pulang dan menetap selamanya.
Namun kenyataannya, rumah yang ia bangun dengan susah payah itu justru runtuh lebih hebat dari kegagalan masa lalunya. Salma memejamkan mata kemudian, tapi bayangan itu justru semakin nyata. Kilasan ingatan saat ia mendapati Erwin berbagi ranjang dengan wanita lain terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Air matanya kembali menetes, membasahi wajahnya yang sudah terlalu lama tertusuk oleh hawa dingin dan luka. Perlahan, rasa mual mendesak di kerongkongannya. Bukan hanya dikhianati, Salma merasa dikotori. Bayangan suaminya menyentuh kulit wanita lain dengan cara yang sama seperti saat menyentuhnya terasa sangat menjijikkan, hingga ia merasa ingin menguliti dirinya sendiri agar rasa "kotor" itu hilang.
Dulu, ia pernah di khianati oleh Randi. Di duakan hatinya oleh lelaki yang jelas tak memihaknya, sama seperti yang Erwin lakukan sekarang.
"Kenapa harus terulang lagi?" Bisiknya parau di tengah isak tangis yang mulai pecah. "Kenapa kali ini jauh lebih menyakitkan?"
Ia berjalan lunglai menuju ke sudut ruang tamu, di mana sebuah bingkai kayu elegan memajang foto pernikahan mereka. Di sana, mereka tersenyum begitu cerah, seolah dunia hanya milik berdua.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang bersanding dengan foto itu—matanya sembab, wajahnya pucat, dan jiwanya tampak kosong. Kemarahan yang sedari tadi terpendam di balik rasa sedih tiba-tiba meluap. Dengan tangan gemetar, ia meraih bingkai itu.
Praaaang!
Tanpa ragu, Salma menghantamkan bingkai itu ke lantai marmer. Kaca pelindungnya hancur berkeping-keping, retakannya membelah wajah Erwin dan dirinya dalam foto tersebut. Salma jatuh terduduk di samping serpihan itu, membiarkan lututnya berdekatan dengan tajamnya kaca.
Ia menatap nanar sisa-sisa potret bahagianya yang kini berantakan. Retakan kaca itu adalah cerminan sempurna bagi hatinya saat ini, hancur, tajam, dan tidak akan pernah bisa utuh kembali dengan cara yang sama.
Aku minta maaf, tapi aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi. Kamu sudah lihat sendiri. Aku mencintai Manda.
Salma menangis, ia bahkan menjerit dalam hatinya. Rusak hancur, terkoyak, entah apalagi nama yang bisa menggambarkan hatinya malam ini. Di hari ulang tahun pernikahannya yang seharusnya istimewa, hadiah yang Erwin berikan justru sesuatu yang lebih sulit untuk dilupakan.
Tak lama, getar ponselnya menyala. Salma terisak sesak. Dengan gemetar, ia meraih ponsel dari dalam tas. Binar bola matanya mendapati sebuah panggilan.
Mama
Begitu nama yang terpampang jelas di layar, seakan kehadirannya muncul sebagai satu-satunya tempat di mana ia diizinkan untuk menjadi rapuh.
Dengan jari yang masih gemetar hebat, Salma akhirnya menggeser ikon hijau itu dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo, sayang... happy anniversary!" Suara Desi lantang terdengar jelas.
"Salma... ini Mama Mona sekarang lagi sama Mama kamu," Suara Mona ikut menyahut di sebrang sana. "Mama pengen tahu kabar kamu dengan Erwin. Gimana? Erwin udah Pulang? Dia kasih hadiah pernikahan kamu apa, sayang?"
Suara telepon itu bukan lagi sekadar getaran di udara, melainkan perwujudan dari dua sosok ibu yang begitu ia cintai, yang perlahan membuat pertahanan Salma retak. Di bayangannya, wajah Mona dan Desi tampak berseri-seri, penuh harap akan sebuah dongeng bahagia yang mereka susun untuk anak-anaknya.
Salma memejamkan mata kuat-kuat. Di ruang tamu yang sunyi, seakan mengejeknya. Tak ada bunga, tak ada makan malam romantis, bahkan tak ada Erwin. Yang ada hanyalah aroma kehampaan yang memenuhi setiap sudut rumah.
"Salma? Sayang? Kok diam saja? Kamu sedang diberi kejutan ya sama Erwin?" Suara Mona kembali mengusik, kali ini dengan nada menggoda yang membuat dada Salma semakin sesak.
Satu tetes air mata akhirnya lolos, membasahi pipinya yang dingin. Salma menjauhkan ponsel itu sejenak, membekap mulutnya dengan telapak tangan agar isak tangisnya tidak bocor melalui lubang mikrofon.
"Salma...," Suara Desi kini terdengar lebih lembut, ada nada cemas yang mulai menyelinap. "Kamu nggak apa-apa, kan?"
Awalnya, Salma berusaha bungkam, berusaha diam. Ia takut jika ia membuka mulut, yang keluar bukanlah kata-kata, melainkan raungan luka yang selama ini ia pendam sendiri. Namun seiring desakan kedua Ibunya...
"Salma?"
Salma terisak sesak, ia menangis pecah pada akhirnya.
"Sa-sayang, kamu kenapa?"
"Maaaaaa..." Jerit Salma terisak sesak. "Jemput aku pulang sekarang juga, aku mohon... Ma!"
****