NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27. Respect

Cahaya matahari pagi mulai menyelusup melalui celah jendela kamar Nathan, menandakan hari baru telah dimulai. Dengan mata yang masih mengantuk, Nathan mengerjapkan matanya, lalu meraba meja di samping tempat tidur untuk mencari ponselnya.

Begitu layar ponsel dinyalakan, seketika rasa mengantuknya langsung lenyap, digantikan oleh gelombang kepanikan yang luar biasa.

Di layar ponselnya tertera puluhan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan darurat dari Acha yang masuk sejak semalam. Nathan baru menyadari kalau baterai ponselnya habis total dan mati sejak malam tadi tanpa dia sadari.

"Ya ampun, Acha..." gumam Nathan dengan jantung yang berdegup kencang.

Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung mencolokkan kabel charger ke stopkontak. Sambil menunggu ponselnya menyala sempurna, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya karena dilanda rasa cemas yang teramat sangat.

Begitu layar ponsel kembali aktif, Nathan tanpa henti langsung menekan tombol panggil untuk menghubungi nomor Acha.

Prrrrtt... prrrrtt... prrrrtt...

Nathan menggigit bibirnya cemas, menunggu sambungan telepon terhubung. Namun, betapa hancur hatinya dan semakin paniknya sia saat nada sambung itu terus berbunyi tanpa ada jawaban sama sekali dari seberang sana. Acha sama sekali tidak mengangkat panggilannya.

Didorong oleh rasa khawatir yang teramat besar akan keadaan sang kekasih terutama mengingat Acha baru saja sembuh dari sakit.

Nathan langsung menyambar jaketnya, menyalakan motornya, dan memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh menuju kosan Acha.

Meski pun panggilan teleponnya terus-menerus diabaikan, pikiran Nathan sempat bergeser ke arah lain untuk menepis rasa takutnya.

Dia mencoba berpikir positif dan menduga-duga, "Mungkin Acha lagi ngambek berat gara-gara semalam aku nggak sengaja ketiduran dan gak angkat teleponnya. Biasalah, dia kan suka ngambek kalau dicuekin."

Merasa situasi mungkin tidak terlalu gawat dan mengira Acha hanya sedang kesal kepadanya, Nathan akhirnya memutuskan untuk menunda kepanikannya sejenak.

Perutnya yang sejak pagi terasa lapar membuatnya berpikir untuk mencari sarapan terlebih dahulu sebelum nanti benar-benar datang membujuk Acha ke kosannya.

Nathan lantas membelokkan laju motornya ke sebuah warung bubur ayam langganannya di dekat jalan raya, berniat membelikan satu porsi makanan hangat untuk meluluhkan hati sang kekasih yang dia kira sedang ngambek.

Tanpa Nathan sadari, di dalam kamar kosannya yang sunyi, Acha sudah tergeletak tak berdaya di lantai dingin akibat pingsan setelah mengalami benturan hebat semalam.

Waktu terus berjalan, sementara nasib Acha di dalam kamar kosannya kini bergantung kepada seberapa cepat Nathan menyadari kebenaran yang jauh lebih buruk dari sekedar sebuah amukan.

Matahari pagi semakin meninggi ketika Vika berjalan gontai keluar dari minimarket tempatnya bekerja. Langkah kakinya terasa sangat berat dan tubuhnya remuk redam.

Bagaimana tidak, selepas Acha pulang semalam, dia dan Amina benar-benar harus bekerja tanpa istirahat hingga pagi hari.

Toko yang padat pembeli ditambah tumpukan pesanan untuk hantaran pernikahan yang harus selesai dan diambil pagi ini membuat mereka berdua harus lembur semalaman suntuk tanpa tidur sedetik pun.

Meski matanya sudah sangat berat dan kepalanya pening karena kelelahan luar biasa, Vika tidak langsung pulang ke kosannya.

Dia menyempatkan diri mampir membeli satu mangkuk bubur ayam hangat, berniat singgah sebentar ke kosan Acha untuk mengantar sarapan sekaligus mengecek kondisi sahabatnya itu sebelum mereka bersiap berangkat kerja bersama.

Sepeda motor matic Vika akhirnya tiba di halaman kosan Acha. Dengan membawa bungkusan bubur di tangannya, dia menaiki tangga menuju lantai atas dan berdiri di depan pintu kamar Acha.

"Cha... Acha, ini aku, Vika," panggil Vika sambil mengetuk pintu beberapa kali.

Tidak ada sahutan dari dalam. Pintu kamar itu bahkan tidak terkunci rapat dan sedikit terbuka. Merasa ada yang tidak beres, Vika memberanikan diri mendorong pintu tersebut pelan-pelan.

"Acha?" panggil Vika lagi sambil melangkah masuk ke dalam kamar yang masih remang-remang.

Seketika itu juga, jantung Vika seolah copot dari tempatnya. Tas belanjaan dan bungkusan bubur di tangannya terlepas begitu saja, jatuh membentur lantai.

Di hadapannya, Acha tergeletak tak sadarkan diri di lantai, dengan tubuh yang meringkuk lemas dan bercak darah kering yang sudah mengering di sekitar jidat serta pelipisnya akibat benturan meja semalam.

"A-ASTAGFIRULOH, ACHA!" jerit Vika histeris.

Panik luar biasa merenggut seluruh sisa tenaga Vika. Tanpa memikirkan rasa lelahnya sendiri, dia langsung terduduk di samping Acha, mengguncang pelan tubuh sahabatnya yang dingin dengan air mata yang seketika tumpah membasahi pipinya.

Air mata Vika tumpah semakin deras. Tangannya yang gemetar hebat langsung merogoh saku celananya, mencari ponsel dengan panik untuk menghubungi satu-satunya orang yang bisa dia mintai bantuan saat itu, yaitu Amina yang baru saja tiba di rumahnya sendiri untuk beristirahat setelah lembur semalaman.

Tanpa membuang waktu, Vika menekan tombol panggil dan menunggu dengan napas memburu. Begitu sambungan terhubung di dering pertama, suara panik Vika langsung meledak di ujung telepon.

"Mina! Amina, ya ampun, kamu harus ke sini sekarang! Gawat, Mina! Acha... Acha pingsan di lantai kamarnya! Di jidatnya ada darah kering, badannya dingin banget, dia nggak sadarkan diri, Min! Aku harus gimana?!" seru Vika histeris, isak tangisnya pecah tak tertahankan.

Di seberang telepon, Amina yang baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur seketika melonjak kaget mendengar teriakan histeris Vika.

Rasa kantuk yang tadinya mendera langsung menguap, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa.

Namun, menyadari bahwa Vika sedang dilanda kepanikan tingkat tinggi yang justru bisa memperburuk keadaan.

Amina berusaha keras menenangkan dirinya sendiri meskipun jantungnya ikut berdegup kencang.

"Vika! Hei, Vika, kamu dengerin aku! Tarik napas dulu, jangan panik!" seru Amina dengan nada tegas namun bergetar lewat sambungan telepon.

"Kalau kamu panik dan nangis terus, kita nggak bakal bisa nolong Acha. Tenangin diri kamu, oke? Coba cek dulu, Acha masih bernapas atau nggak?"

Mendengar instruksi logis dari Amina, Vika langsung menarik napas panjang, berusaha meredam isak tangisnya yang sesenggukan.

Dengan jari yang masih bergetar ketakutan, dia mendekatkan tangannya ke hidung Acha, lalu meraba pergelangan tangan sahabatnya itu.

"Bernapas, Mina... Napasnya masih ada, tapi lemah banget. Nadinya juga kerasa pelan," lapor Vika dengan suara gemetar, melaporkan kondisi terkini Acha kepada Amina.

Mendengar laporan Vika bahwa Acha masih bernapas meskipun kondisinya sangat lemah, Amina langsung mengambil keputusan tegas untuk mengambil kendali situasi.

"Bagus, kalau gitu sekarang kamu dengar baik-baik instruksi aku, yah" ujar Amina dengan suara tegas dan penuh keyakinan dari seberang telepon.

"Jangan panik lagi, ya. Aku bakal langsung beresin barang sebentar, kunci kamar, dan aku OTW sekarang juga ke kosan Acha! Jangan gerakan Acha sembarangan sebelum aku sampai."

Tidak berhenti sampai di situ, Amina sadar bahwa membawa Acha ke rumah sakit membutuhkan biaya dan izin atau tindakan cepat.

Sementara kondisi mereka berdua terutama Acha sangat memprihatinkan akibat dipekerjakan berlebihan.

"Satu lagi, Vika," lanjut Amina dengan nada geram.

"Nanti kalau Ibu Ema sok tahu atau protes pas kita bawa Acha, biar aku yang hadapi dan maki-maki Ibu Ema habis-habisan! Nggak usah peduliin omelan dia lagi. Nyawa Acha jauh lebih penting dari pada toko atau omelan bos bawel itu! Tunggu aku, ya, jangan ke mana-mana!"

Klik. Sambungan telepon langsung ditutup oleh Amina.

Di kamar kosan Acha, Vika menghela napas sedikit lebih lega. Mendengar tekad kuat dari Amina, dia merasa tidak sendirian menghadapi situasi yang mencekam ini.

Vika segera merapikan posisi Acha senyaman mungkin sambil menunggu kedatangan Amina yang sedang meluncur dengan penuh amarah dan kecemasan demi menyelamatkan sahabat mereka.

Tak berselang lama, suara deru sepeda motor disusul ketukan pintu yang tergesa-gesa terdengar dari luar kamar kosan. Vika yang sedang menemani Acha langsung bergegas membukakan pintu.

Ternyata Amina datang bersama Ibu Ema, sang pemilik toko, yang tampaknya langsung dihubungi atau dicegat oleh Amina di jalan.

Wajah Ibu Ema yang biasanya galak dan penuh tuntutan kini tampak pucat pasi dan diliputi rasa bersalah yang teramat sangat begitu melihat kondisi Acha yang terbaring lemas dengan luka kering di jidatnya.

"Ya ampun, Acha... astaga, kenapa bisa sampai separah ini?!" seru Ibu Ema kaget, suaranya sedikit bergetar karena panik melihat anak buahnya tak berdaya.

Tanpa membuang waktu untuk saling menyalahkan, mereka bertiga langsung bergerak cepat.

Vika dan Amina membimbing tubuh Acha untuk dipindahkan dan dibaringkan kembali secara hati-hati ke atas tempat tidur.

Amina dengan sigap membuka botol minyak angin, lalu mengoleskannya ke pelipis, leher, telapak tangan, dan kaki Acha untuk membantu menghangatkan tubuh sekaligus merangsang kesadarannya agar segera terbangun. Sementara itu, Vika berlari kecil ke dapur kosan untuk menyiapkan air hangat.

Begitu air hangat siap, Vika menuangkannya ke dalam botol kaca bekas sirup yang ada di kosan, lalu membungkusnya dengan handuk kecil.

Botol hangat itu kemudian ditempelkan secara hati-hati di telapak tangan serta kaki Acha yang masih terasa dingin mencengkeram akibat demam dan syok semalam.

Melihat kondisi Acha yang belum juga membuka mata, Ibu Ema langsung merogoh tasnya dengan tergesa-gesa untuk mengeluarkan ponsel.

"Biar saya yang urus semuanya. Kita harus bawa Acha ke rumah sakit sekarang juga," ucap Ibu Ema dengan nada penuh penyesalan.

Dia segera membuka aplikasi ride-hailing di ponselnya untuk memesan taksi online. "Mobil saya dari kemarin masih di bengkel belum kelar, jadi kita pakai mobil online aja biar cepat."

Sambil menunggu mobil online pesanan Ibu Ema tiba di depan gerbang kosan, Vika dan Amina terus mengusap tangan Acha dengan lembut, tak henti-hentinya berdoa agar sahabat mereka itu segera sadar dan mendapatkan pertolongan medis yang semestinya.

Perlahan-lahan, kelopak mata Acha mulai bergetar. Suara isak tangis dan keributan kecil di sekitarnya berhasil menariknya kembali dari kesadaran yang sempat hilang.

Dengan napas yang masih tersengal dan kepala yang berdenyut hebat, Acha membuka matanya.

Pandangannya yang tadinya buram perlahan-lahan menangkap wajah Vika, Amina, dan sosok Ibu Ema yang berdiri cemas di sisi tempat tidurnya.

"Acha... Kamu sudah sadar, Nak?" ucap Ibu Ema dengan nada penuh rasa bersalah.

Sementara Vika dan Amina langsung menghembuskan napas lega sambil memegang tangan Acha.

Meskipun sekujur tubuhnya terasa remuk dan lemas tak bertenaga, Acha langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar rencana mereka untuk membawanya ke rumah sakit. Suaranya terdengar sangat parau dan berbisik lemah.

"J-jangan... Jangan bawa aku ke rumah sakit..." mohon Acha sambil mencengkeram pelan lengan Vika, menolak keras.

"Nanti... nanti mamah sama papah tahu... Aku nggak mau bikin mereka khawatir dan kepikiran di rumah..."

Melihat ketakutan dan kekeraskepalaan Acha yang masih memikirkan orang tuanya di tengah kondisi fisik yang sudah separah ini, hati Ibu Ema semakin dihantam rasa bersalah yang teramat dalam.

Perempuan paruh baya itu lantas menunduk, menatap Acha dengan tatapan penuh penyesalan.

"Acha, kamu jangan ngomong begitu dulu ya, Sayang," suara Ibu Ema bergetar, nyaris menangis.

"Ibu yang salah... Ibu minta maaf sebesar-besarnya sama kamu. Ini semua murni karena kelalaian Ibu yang memaksa kamu lembur kemarin padahal badan kamu belum benar-benar pulih dari sakit. Kalau saja Ibu tidak egois dan menuruti saran kalian, kamu pasti nggak akan jatuh sakit sampai terluka begini."

Amina dan Vika yang mendengarnya ikut mengelus punggung Acha dengan lembut, mencoba menenangkan sahabat mereka yang masih ketakutan setengah mati jika orang tuanya sampai tahu insiden ini.

Langkah kaki Nathan yang tadinya terburu-buru mendadak terhenti begitu ia tiba di depan halaman kosan Acha.

Suasana di sekitar kamar kosan Acha tampak tidak biasa, pintu yang terbuka setengah, serta sebuah mobil online yang terparkir tepat di depan gerbang membuat dahi Nathan mengernyit bingung.

Didorong oleh rasa cemas yang kian melonjak, Nathan mempercepat langkahnya dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar.

"Acha—!" panggilannya terhenti di udara, membuat napasnya seketika tercekat.

Di hadapannya, pemandangan yang tersaji membuat jantung Nathan seolah berhenti berdetak. Acha tampak terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah pucat pasi dan perban serta luka kering di jidatnya.

Di sampingnya, Vika dan Amina berdiri dengan mata sembab, sementara Ibu Ema tampak berdiri menatap penuh rasa bersalah.

"A Nathan?!" seru Vika kaget melihat kehadiran pemuda itu.

Tanpa memedulikan siapapun yang ada di dalam kamar, Nathan langsung melangkah lebar menerobos kerumunan kecil itu.

Dia menjatuhkan diri berlutut di tepi kasur, menatap ngeri ke arah kekasihnya yang tak sadarkan diri.

Rasa bersalah langsung menghantam telak dadanya karena sempat mengira Acha hanya ngambek semalam.

"Acha! Bangun, Cha! Ini aku, Nathan..." panggil Nathan panik sambil menggenggam jemari Acha yang terasa dingin.

Melihat kondisi Acha yang sudah separah itu, Nathan tidak mau lagi mendengarkan perdebatan atau rencana pergi ke rumah sakit yang ditolak Acha sebelumnya.

Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil keputusan tegas yang memotong semua keraguan di ruangan tersebut.

"Nggak usah pakai taksi online. Biar Acha aku yang bawa pulang sekarang juga ke rumah orang tuanya!" seru Nathan dengan suara tegas penuh ketegasan, tidak terima dibantah.

Sebelum ada yang sempat merespons, Nathan dengan sangat hati-hati menyelipkan kedua tangannya, mengangkat tubuh Acha yang terkulai lemas ke dalam gendongannya.

Dengan langkah lebar dan sorot mata penuh kecemasan, dia membawa Acha keluar meninggalkan kamar kosan menuju motornya.

Bertekad segera menyerahkan kekasihnya itu ke pelukan kedua orang tuanya agar mendapatkan perawatan medis yang layak di rumah.

Nathan membawa Acha pulang dengan pelan-pelan menuju rumahnya Acha walaupun kesadaran Acha hampir pudar tetapi Acha tetapi menolak untuk pegi ke rumah sakit dan memutuskan untuk pulang ke rumah saja

Gerbang rumah Acha akhirnya terbuka setelah Nathan menekan bel berkali-kali dengan tidak sabar.

Begitu pintu utama terbuka, Ranti langsung terperanjat kaget, menjatuhkan cangkir teh yang sempat dipegangnya hingga pecah berkeping-keping di lantai.

Melihat putri kesayangannya digendong dalam keadaan terkulai lemas, pucat pasi, dengan luka kering di jidatnya, darah Ranti seketika berdesir naik ke kepala.

"YA ALLAH, ACHA! Anakku...!" teriak Ranti histeris, air matanya langsung tumpah seketika tanpa bisa dicegah.

Ranti berlari menghampiri Nathan di ambang pintu, kedua tangannya gemetar hebat saat menyentuh wajah Acha yang terasa dingin. Kepanikan yang luar biasa merenggut napasnya.

Wanita paruh baya itu sama sekali tidak menyangka bahwa panggilan telepon malam tadi adalah kebohongan besar, dan putrinya kini pulang dalam kondisi yang begitu memprihatinkan.

"Nathan! Ini... ini kenapa bisa begini? Kenapa Acha jadi babak belur dan nggak sadar kayak gini, Nak?!" rintih Ranti sambil mencengkeram lengan Nathan, memohon penjelasan di tengah isak tangisnya yang pecah.

Nathan melangkah masuk dengan hati-hati ke dalam rumah, membawa tubuh Acha yang terkulai lemas langsung menuju kamar tidur pribadi gadis itu.

Diikuti oleh Ranti yang terus menangis histeris di belakangnya, Nathan perlahan membaringkan Acha di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman.

Begitu kepala Acha menyentuh bantal, Ranti langsung terduduk di sisi ranjang, menggenggam erat tangan putrinya yang terasa dingin sambil mengusap-usap keningnya yang terluka.

Nathan berdiri di samping ranjang dengan napas yang masih memburu dan rasa bersalah yang teramat besar menggelayuti hatinya.

Dia menatap Ranti, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi.

"Tante... Maafin Nathan, Tante," ucap Nathan dengan suara parau dan bergetar.

"Semalam Acha sempat menelepon Nathan, tapi handphone Nathan mati karena baterainya habis. Tadi pagi pas Nathan tahu dan ngecek, Nathan langsung ke kosannya..."

Nathan menelan ludahnya yang terasa kelat, mencoba merangkai kronologi dengan jujur agar Ranti paham.

"Waktu Nathan sampai di sana, Acha sudah ditemukan sama teman-temannya dalam kondisi pingsan di lantai, Tante. Jidatnya juga sepertinya sempat terbentur sesuatu soalnya sudah terdapat dari yang sudah kering" lanjut Nathan menjelaskan dengan raut wajah penuh penyesalan.

Mendengar penjelasan itu, isak tangis Ranti semakin menjadi-jadi. Dia menatap Nathan dengan tatapan penuh tanya dan cemas yang teramat sangat.

"Terus... kenapa nggak langsung dibawa ke rumah sakit, Nathan? Kenapa malah dibawa pulang ke sini?!"

Nathan menggeleng pelan, lalu menatap nanar ke arah Acha yang masih memejamkan mata rapat-rapat.

"Sebenarnya tadi teman-temannya dan atasannya Acha sempat mau bawa Acha ke rumah sakit, Tante. Tapi... meskipun kesadaran Acha hampir pudar dan dia lemas banget, Acha terus-terusan menolak. Dia bilang tidak mau dibawa ke rumah sakit karena takut Tante sama Om khawatir kalau tahu dia sakit parah," ungkap Nathan dengan suara berat.

"Acha bersikeras minta pulang ke rumah saja..."

Mendengar betapa besar usaha putrinya yang tetap berusaha melindungi perasaan orang tuanya bahkan di saat-saat melemah seperti itu, dada Ranti terasa dihantam gelombang haru dan sedih yang luar biasa.

Dia mendekap tubuh Acha yang rapuh ke dalam pelukannya, menangis sejadi-jadinya di atas bahu sang anak.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ranti langsung bangkit dari sisi ranjang. Meski hatinya dipenuhi rasa panik dan cemas, dia tahu dia harus bertindak cepat demi keselamatan putrinya.

Dengan tangan yang masih bergetar, dia menyambar ponselnya dari atas meja dan segera menghubungi dokter keluarga mereka langganan mereka untuk datang langsung ke rumah.

Tidak lama kemudian, dokter pribadi keluarga tiba dengan membawa peralatan medis lengkap.

Nathan dan Ranti dengan cemas menunggu di sisi ranjang sementara sang dokter memeriksa kondisi Acha secara menyeluruh, memeriksa denyut nadi, mendengarkan detak jantung, mengukur tekanan darah, serta mengecek luka di keningnya.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter menghela napas pelan lalu menyampaikan diagnosanya kepada Ranti dan Nathan.

"Kondisi Acha cukup mengkhawatirkan," ujar sang dokter.

"Tubuhnya mengalami dehidrasi berat karena kekurangan cairan akibat demam tinggi dan tidak makan semalaman. Ditambah lagi, tekanan darahnya anjlok sangat rendah, yang membuatnya pingsan dan lemas tak berdaya."

Mendengar penjelasan itu, Ranti kembali menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tangis agar tidak pecah kembali.

Dokter segera menyiapkan peralatan medis dan memasang selang infus pada lengan Acha untuk mengembalikan cairan tubuh serta memulihkan staminanya.

Sambil menunggu cairan infus mengalir dan kesadaran Acha benar-benar pulih sepenuhnya, Ranti dan Nathan dengan setia mendampingi di samping tempat tidur, terus memanjatkan doa agar gadis itu segera melewati masa kritisnya.

Cairan infus yang mengalir perlahan mulai memberikan sedikit warna di wajah Acha yang tadinya pucat pasi.

Nathan setia duduk di kursi kecil samping tempat tidur, terus menggenggam jemari Acha yang masih terasa dingin.

Dengan penuh kelembutan, dia mengelus puncak kepala kekasihnya, menyalurkan kehangatan dan rasa bersalah yang masih bergemuruh di dadanya karena sempat abai semalam.

Di tengah suasana kamar yang hening, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ranti masuk bersama seorang pria paruh baya yang membawa sebuah botol kecil minyak urut di tangannya.

Pria itu adalah Om Alex, seorang tukang pijat tradisional langganan keluarga yang sudah sangat dipercaya turun-temurun untuk mengatasi kelelahan otot, masuk angin, maupun demam tinggi.

"Om Alex, tolong bantu pijat badannya Acha ya. Biar urat-uratnya yang kaku dan dingin karena menggigil semalaman bisa agak longgar," pinta Ranti dengan nada cemas.

Melihat pria asing mendekati ranjang dan hendak memijat tubuh Acha yang sedang diinfus, mata Nathan seketika membelalak kaget.

Di benaknya sempat berkecamuk rasa heran dan protes, "Kenapa kondisinya sudah lemas begini, demam tinggi, bahkan baru dipasang infus, malah dipijit? Bukannya lebih baik istirahat total atau dibawa ke rumah sakit kalau belum sembuh?"

Nathan hampir saja membuka suara untuk menghentikan dan mempertanyakan keputusan Ranti. Namun, sedetik kemudian, dia segera menepis jauh-jauh pikiran buruk dan keraguannya.

Nathan sadar, Ranti adalah ibu kandung yang paling tahu apa yang terbaik untuk putrinya, dan Om Alex pun sudah berpengalaman menangani keluarga mereka sejak lama.

Yang paling utama sekarang adalah kesembuhan dan keselamatan Acha, batin Nathan meyakinkan dirinya sendiri.

Dia lantas mengurungkan niatnya untuk protes, memilih untuk bergeser sedikit memberi ruang, lalu kembali fokus menatap Acha dengan penuh kasih sayang, berharap perawatan tradisional itu bisa membantu tubuh kekasihnya segera pulih sepenuhnya.

Berkat cairan infus yang mengalir stabil serta pijatan hangat dari Om Alex yang melancarkan kembali peredaran darahnya yang sempat membeku, keajaiban kecil mulai terlihat.

Perlahan-lahan, warna kulit Acha yang tadinya sepucat kertas kini mulai berangsur pulih. Napasnya yang tadinya tersengal-sengal kini terdengar jauh lebih teratur dan tenang.

Tak lama kemudian, bulu mata lentik Acha bergetar pelan. Kelopak matanya terbuka, menampakkan sorot mata yang meskipun masih menyisakan sisa-sisa kelelahan, kini sudah jauh lebih sadar dibandingkan tadi pagi.

"Acha... Syukurlah, Nak. Kamu sudah sadar," ucap Ranti dengan suara bergetar penuh haru, langsung merengkuh tubuh putrinya dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu selang infus di tangannya.

Nathan yang duduk di samping ranjang terpaku seketika. Matanya membelalak tak percaya melihat perubahan drastis pada diri Acha.

Di dalam hatinya, dia dilanda rasa takjub bercampur bingung.

"Kok bisa? Padahal tadi pagi kondisinya parah banget sampai pingsan dan lemas tak berdaya, tapi sekarang sudah bisa buka mata dan kelihatan mendingan secepat ini?"

Pikiran Nathan sempat ingin mempertanyakan keampuhan metode pengobatan tradisional yang baru saja disaksikan keluarganya.

Namun, dia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk sibuk bertanya-tanya atau meragukan sesuatu.

Melihat senyum tipis yang mulai terukir di bibir Acha saat menatapnya, segala kebingungan di kepala Nathan seketika menguap begitu saja.

Baginya, tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain melihat kekasihnya kembali membuka mata dan melewati masa kritisnya dengan selamat.

Di tengah kelegaan yang menyelimuti kamar tersebut, suasana mendadak sedikit mereda ketika Om Alex mulai membereskan botol minyak urutnya dan bersiap pamit.

Sebelum melangkah keluar, dia menyempatkan diri mengobrol pelan dengan Ranti di dekat pintu kamar, sementara Nathan tetap setia duduk di sisi ranjang menemani Acha.

Tanpa sengaja, pendengaran Nathan menangkap percakapan serius antara Om Alex dan Ranti yang membahas kondisi keluarga kerabat mereka yang lain.

"Makanya, Bu Ranti, jaman sekarang kita harus lebih hati-hati sama orang terdekat," bisik Om Alex dengan nada prihatin.

"Saya sudah mengecek kondisi Alfian. Pantas saja perubahannya sikapnya sangat dingin dan tidak peduli dengan keluarga orang tuanya sendiri. Usut punya usut, ternyata dia itu diguna-guna sama istrinya sendiri, Suci, dibantu sama mertuanya alias Umi Nani... Umi nya Suci"

Mendengar nama Umi Nani disebut-sebut sebagai pelaku di balik ilmu sihir atau praktik dukun, dahi Nathan langsung mengernyit kaget. Dia merasa informasi itu sangat tidak masuk akal.

Di dalam kepalanya, Nathan langsung menolak mentah-mentah tuduhan tersebut.

Umi Nani adalah sosok wanita paruh baya yang sangat dikenal di lingkungan mereka sebagai orang yang sangat saleh, taat beragama, dan kesehariannya selalu lekat dengan ibadah serta pengajian.

Bagi Nathan, sangat mustahil seseorang yang tampak begitu saleh dan alim tega melakukan perbuatan syirik seperti santet atau guna-guna.

Namun, sesaat setelah gejolak ketidakpercayaan itu muncul di benaknya, Nathan memilih untuk menahan diri.

Dia tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga orang lain, apalagi memperpanjang perdebatan di tengah situasi rumah Acha yang baru saja tenang.

Nathan segera menepis jauh-jauh prasangka dan rasa penasarannya. Dia mengalihkan seluruh perhatiannya kembali kepada Acha, mengusap lembut punggung tangan kekasihnya yang masih terpasang selang infus.

Bagi Nathan saat ini, tidak ada hal yang lebih penting selain memulihkan kesehatan Acha sepenuhnya.

Wajah Ranti seketika memucat seketika mendengar penuturan Om Alex. Kabar mengejutkan tentang anak pertamanya.

Alfian, yang disebut-sebut menjadi korban ilmu hitam oleh istri dan mertuanya sendiri, membuat darah Ranti berdesir hebat. Rasa terkejut dan amarah langsung bercampur aduk di dadanya.

Namun, menyadari bahwa percakapan sensitif dan kelam itu bisa didengar oleh Acha yang baru saja siuman serta Nathan yang masih setia menemani di samping ranjang, Ranti buru-buru menguasai diri.

Dia tidak ingin membuat Acha kembali syok atau kepikiran di tengah kondisi tubuhnya yang masih lemah.

"Eh, mari Om Alex, kita ngobrolnya di teras depan saja ya," bisik Ranti sambil melirik cemas ke arah tempat tidur anak gadisnya.

Ranti lantas mempersilakan Om Alex keluar dari kamar, menutup pintu perlahan-lahan rapat-rapat, lalu melanjutkan percakapan serius tersebut di luar ruangan agar privasi dan ketenangan Acha tetap terjaga.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!