NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI KEDUA

Alya bangun jam 5 pagi bukan karena demam, tapi karena lapar.

Untuk pertama kalinya dalam 6 hari sejak masuk RS, ia bangun dan yang ia rasakan bukan sesak, bukan mual, bukan dingin menggigil. Ia merasa perutnya keroncongan.

"Mas..." panggilnya pelan.

Arga yang tertidur di kursi HCU dengan kepala menempel di tepi bed langsung terbangun. Posisi yang sama seperti di ICU 4 hari lalu, tapi sekarang di HCU yang ada jendelanya.

"Iya? Menggigil lagi?" tanyanya langsung, trauma hari pertama.

Alya menggeleng, tersenyum kecil. "Lapar."

Arga diam 2 detik, lalu hampir tertawa karena lega. "Lapar?"

"Iya. Ada bubur nggak?"

Itu kalimat yang tidak pernah Arga dengar selama Alya dirawat. Selama ini Alya selalu bilang "nggak mau makan", "mual", "nggak nafsu". Hari kedua setelah ATG hari pertama yang mengerikan kemarin, ia minta makan.

Bu Ratna yang tidur di sofa pojok juga terbangun. "Alya lapar? Ya Allah, Ibu pesankan."

Mbok Sari yang datang jam 5.30 dengan rantang langsung buka. Bukan bubur saring RS, tapi nasi tim ayam jamur lembut yang ia buat jam 4 pagi.

Alya makan 10 suap. Lebih banyak dari 7 suap kemarin siang. Tangannya masih gemetar habis menggigil kemarin, tapi ia suap sendiri.

Dokter datang jam 7 pagi visit.

"Gimana, Bu Alya, habis perang kemarin?" tanyanya sambil lihat monitor. Suhu 37,6. Turun dari 39,8 kemarin malam. Tekanan 110/70 naik dari 90/60 kemarin. Jantung 88 normal.

"Lapar, Dok," jawab Alya.

Dokter tersenyum. "Itu tanda bagus. Reaksi ATG hari pertama itu seperti badai. Kalau badainya lewat dan Ibu lapar, artinya tubuh Ibu menerima. Hari ini hari kedua, biasanya reaksinya 50% lebih ringan."

"Jam 3 sore lagi, Dok?" tanya Arga, sudah hafal jadwal.

"Jam 3 sore lagi. 8 jam lagi. Vial kedua dan ketiga."

Alya menatap kantong infus ATG yang masih tergantung kosong dari kemarin. "Masih bakal menggigil lagi, Dok?"

"Mungkin menggigil, tapi tidak sehebat kemarin. Tubuh Ibu sudah kenal. Kita sudah kasih obat anti-alergi 1 jam sebelum infus, jadi lebih aman."

Siang itu, HCU lebih ramai. Pak Pramono, ayah Alya, datang dari kampung dengan membawa keranjang buah. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk di samping Bu Ratna dan melihat Alya makan.

"Alya sudah lapar lagi, Pak," bisik Bu Ratna ke suaminya.

Pak Pramono mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah."

Pukul 14.00, persiapan hari kedua dimulai. Perawat memberikan suntikan hidrokortison dan antihistamin 1 jam sebelum ATG, untuk mencegah alergi berat seperti kemarin.

Alya sudah pakai 2 lapis selimut dari sebelum infus dimulai. Trauma.

"Mas, nanti kalau aku menggigil lagi, jangan panik ya," kata Alya ke Arga sebelum infus dimulai. "Kata dokter itu normal."

Arga mengangguk, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Alya erat. "Aku nggak panik. Aku di sini."

Pukul 15.00 tepat, tetes pertama hari kedua masuk.

Menit 1-20 aman. Alya hanya merasa dingin di tangan, seperti kemarin.

Menit ke-30, menggigil datang lagi. Tapi benar kata dokter, tidak sehebat kemarin.

Kemarin giginya bergemeletuk keras sampai bed bergetar. Hari ini hanya bibir dan tangan yang bergetar. Suhu naik ke 38,9, tidak sampai 39,8. Jantung 100, tidak 115.

"Dingin..." bisik Alya, tapi suaranya masih bisa jelas, tidak seperti kemarin yang hampir tidak keluar.

Arga langsung selimuti, gosok punggung. Bu Ratna istighfar di pojok, tapi tidak sepanik kemarin.

"Bagus, Bu Alya, reaksi lebih ringan," kata dokter yang standby di samping. "Tahan 30 menit lagi, biasanya setelah itu turun."

Benar, jam 16.00, menggigil berhenti. Suhu turun ke 38,3. Alya tidak lemas total seperti kemarin, masih bisa minum air putih sendiri.

"Mas, lihat," kata Alya jam 16.30, sambil menunjuk jendela. "Taman bunga kuningnya kelihatan lagi."

Arga menoleh. Taman bawah RS memang terlihat dari jendela HCU lantai 5. Bunga-bunga kecil kuning yang kemarin Alya bilang mau lihat.

"Kelihatan," kata Arga. "Besok kalau kamu sudah selesai ATG 4 hari, aku minta dokter bolehin kamu duduk di kursi roda, kita turun ke taman itu."

Alya menatap Arga. "Janji yang diusahakan?"

Arga ingat kalimatnya di Bab 19 malam mau pulang. "Janji yang diusahakan."

Infus hari kedua selesai jam 23.00 lagi, sama seperti kemarin. 8 jam.

Setelah selang besar dilepas, perawat memberikan siklosporin oral, pil kecil kuning yang harus diminum Alya setiap 12 jam seumur hidup sampai sumsumnya tumbuh.

"Pil ini yang akan jaga pabrik kamu biar nggak diserang lagi, Bu," kata perawat.

Alya menelan pil itu dengan air. Pahit.

Jam 23.30, HCU sudah sepi. Bu Ratna dan Pak Pramono pulang ke rumah singgah RS karena Alya sudah stabil. Tinggal Arga dan Alya.

"Mas," panggil Alya pelan, setelah minum pil.

"Iya?"

"Tadi siang suster bilang, hasil lab trombosit aku naik jadi 22 ribu."

Arga kaget. "Naik? Kemarin 16 ribu kan?"

"Iya. Tadi pagi 16 ribu, siang tadi 22 ribu. Kata dokter mungkin karena transfusi kemarin, tapi juga bisa tanda awal sumsum mulai respon."

Itu pertama kalinya dalam 7 hari angka darah Alya naik, bukan turun. Dari 45 ribu turun terus ke 18, ke 16, sekarang 22.

Arga menggenggam tangan Alya. "Lihat, pabrik kamu mulai diisi lagi."

Alya tersenyum, mata sudah mengantuk karena obat antihistamin.

"Mas masih di sini besok hari ketiga?"

"Masih. Sampai hari keempat selesai. Sampai kamu bisa turun ke taman itu."

Alya mengangguk, lalu tertidur, dengan syal krem masih di bahunya.

Arga duduk di kursi HCU, membuka HP. Ada chat baru dari Keisya jam 22.00.

Keisya: Hari kedua gimana?

Arga: Lebih ringan. Nggak sampai 40. Sekarang trombosit naik jadi 22 ribu.

Keisya: Alhamdulillah. 4 hari lagi selesai. Kamu kuat ya.

Arga membalas singkat: Makasih.

Lalu ia matikan HP. Di luar jendela, taman bunga kuning masih diterangi lampu taman, menunggu Alya yang besok hari ketiga ATG, dan lusa hari keempat, mungkin bisa turun melihatnya lebih dekat.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!