"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Strategi vs Hati
“Aku tidak akan peduli!” Kalimat itu adalah kalimat yang sama diucapkan oleh Kate sejak beberapa saat yang lalu.
Malam kian larut, waktu sudah berlalu cukup lama setelah kejadian siang hari dan rencana Kate yang gagal total itu. Istri jenderal besar itu kini sedang berada di kamar utama kediaman Ardan, menolak turun dari ranjang sejak beberapa saat yang lalu.
Dia menarik selimut, merapatkan kakinya mendekat ke lutut. Wajah ketusnya masih terpampang jelas sampai sekarang, belum berganti sedikitpun. Tatapan matanya tajam, dengkusan kasar terdengar berulang kali.
Singkatnya. Kate merajuk.
“Aku tidak mengantuk bukan karena menunggu pria itu!”
Kate melirik ke arah jam lonceng, sudah menunjukan waktu tengah malam. Kelopak matanya mengkhianati ucapannya, Kate mengantuk. Tapi otaknya tidak membiarkan dirinya untuk langsung pergi ke alam mimpi begitu saja.
Kepalanya sedikit menoleh ke pintu kamar, lalu kembali memalingkan wajahnya. “Aku tidak menunggu dia!” Katanya kepada dirinya sendiri.
Kate bahkan menolak mengaku kepada dirinya sendiri meski dia sedang sendirian. Meski mulutnya berkata dia tidak menunggu, fakta kalau dia masih duduk dan menolak tidur itu cukup jelas menjawab kalau dia sebenarnya menunggu Salvatore.
“Aku benci pria itu!” Sungutnya. “Aku juga tidak sedang menunggu, aku benci. Aku hanya sedang tidak bisa tidur, jadi terpaksa duduk disini. Bukan karena aku mengkhawatirkan dia yang belum pulang,” lanjutnya dengan nada ketus yang khas.
Namun mau berapa kali pun Kate menolak, fakta selalu mengkhianati ucapannya. Matanya mulai berair, rasa kantuk juga menyerang dengan cepat, kesadarannya hampir hilang jika dia membiarkan keinginannya kalah dan tidur.
Brak.
Kate menyingkap selimutnya dengan cepat. “Oke, aku memang mengantuk!”
Ia lalu bangun dari ranjang, mengenakan alas kaki tidurnya dan berjalan keluar kamar. “Aku keluar kamar bukan karena aku mau mencari jenderal, aku hanya belum mau tidur. Aku mau mencari angin malam,” alibinya kesekian kalinya.
Langkah kaki sang nyonya rumah Ardan itu menapak di lantai yang dingin, menyusuri koridor lantai itu sambil sesekali mengerjapkan matanya, mengusir rasa kantuk yang berulang kali dia sangkal.
Kate mencoba menyangkal pikirannya bahwa dia sebenarnya khawatir dan penasaran dimana Salvatore sekarang sampai-sampai sudah larut malam begini belum menampakkan batang hidungnya di kamar utama mereka. Apakah dia sesibuk itu sampai tidak memberikan kabar kalau memang harus lembur?
“Apakah memberi tahu ada pekerjaan mendesak adalah sesuatu hal yang sulit?” Gerutu Kate pelan.
Langkah kakinya yang lambat menyusuri koridor, mengingat sudah tengah malam, lentera yang dinyalakan pun hanya beberapa. Suasananya sudah sepi, Kate juga tidak bisa melihat pengawal yang sedang berjaga.
“Sepi sekali.”
Kate tetap melangkahkan kakinya. “Aku sedang mencari udara segar, bukan sedang mencari tahu dimana pria itu berada,” teguh Kate kepada hatinya sendiri.
Bahkan dalam kesunyian dan rasa kantuk, Kate sama sekali enggan menunjukan kepeduliannya yang nyata tanpa alibi kepada suaminya.
Kesunyian itu menjadi pendamping setiap langkah yang dibawa oleh Kate, sampai wanita itu sempat berhenti beberapa saat. Matanya menyipit sedikit, rasa lega sekaligus penasaran membuncah di dadanya.
Setidaknya dia ada di rumah, batin Kate tak sadar merasa lega.
Ruang kerja Salvatore masih menyala terang, artinya ruangan itu masih dipakai. Kate tidak perlu khawatir berlebih karena faktanya Salvatore mungkin hanya lembur, bukan bertugas mendadak pergi ke perbatasan seperti yang dibayangkan.
Kate sebenarnya bisa saja berbalik langsung ke kamar utama begitu tau suaminya sedang lembur, mengingat kejadian siang tadi yang masih membekas di hatinya juga, Kate memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya.
Namun malam itu, entah ada dorongan aneh apa yang membuat Kate si putri paling gengsi di kerajaan itu menolak berbalik dan menuruti rasa penasarannya. Apa yang sedang dikerjakan pria itu sampai larut malam?
Di dalam sana, pendar lampu minyak menerangi Salvatore dan Sonia yang sedang berdiri berdekatan di balik meja mahoni. Salvatore mengenakan kemeja yang tergulung hingga siku, sementara Sonia sibuk menunjuk-nunjuk sebuah gulungan peta.
"Jalur ini harus diperketat, Sal," terdengar suara Sonia yang tegas. "Pos penjagaan sayap timur terlalu terbuka. Jika terjadi infiltrasi di malam hari, area kediaman utama akan menjadi sasaran empuk."
Salvatore mengangguk pelan. "Kau benar. Masukkan Divisi Tiga untuk memperkuat rotasi dua jam sekali di sektor itu."
Kate mematung di luar celah pintu. Matanya menajam. Rasa kantuknya seketika menguap, berganti dengan rasa tersinggung yang membakar dada. Tengah malam begini, hanya berdua di dalam ruangan?
Gengsi tingginya berteriak agar ia segera berbalik. Namun rasa tidak terima menahannya. Kate menarik napas panjang, membusungkan dada, lalu mengetuk pintu dua kali dengan ketukan yang tegas.
Tok, tok.
Dua orang di dalam ruangan seketika menoleh.
Kate melangkah masuk satu tapak. Wajahnya seputih porselen, dingin, kaku, dan berjarak. Tangannya bersedekap di depan dada.
"Mansion ini adalah kediaman pribadi, bukan markas perang perbatasan," tegur Kate dengan nada suara yang tenang, tajam, dan penuh sindiran. "Apakah jadwal patroli mansion ini begitu rumit sampai harus menyita waktu sampai larut malam? Kurasa aku dan para pengawal mansion cukup tahu area rumah ini tanpa perlu menyita waktu tamu."
Salvatore mendongak, menatap Kate dengan raut polos tanpa dosa. Otak militernya sama sekali tidak menangkap sindiran cemburu di balik kata-kata istrinya. Ia merespons murni secara teknis.
"Peta jalur patroli ini terhubung langsung dengan rute luar perbatasan, Kate," jawab Sal tenang dan datar. "Pengawal mansion hanya paham area dalam, sementara Sonia lebih paham topografi wilayah perbatasan itu. Makanya kami harus merapikannya bersama malam ini.”
Sal memperhatikan piyama tipis serta raut lelah yang ditutupi topeng dingin oleh istrinya. Karena tulus ingin Kate istirahat dan tidak perlu ikut pusing, Sal menambahkan dengan nada biasanya, barito yang datar: "Ini urusan taktis yang menyita waktu. Kau tidak perlu repot memikirkannya... tidurlah dulu.”
DEG.
Kalimat itu diucapkan Salvatore dengan nada yang amat sangat polos tanpa dosa, tetapi rasanya sanggup menghancurkan seluruh benteng pertahanan mental Kate Ravental hingga menjadi debu tak berharga.
Bagi Salvatore, itu mungkin kalimat perhatian. Namun karena dia tidak jago dalam memberikan pengertian, ditambah nadanya terkesan dingin, bagi Kate, kalimat itu sangat. melukainya.
Darah di dalam tubuh Kate mendadak membeku. Bibirnya gemetar tipis, kepalanya terasa berdenyut hebat oleh hantaman rasa malu dan perih yang amat sangat dahsyat.
Penjelasannya sangat logis dari sudut pandang militer Sal. Tapi di hadapan Kate sang istri sah yang sudah menunggunya sampai tengah malam, menahan kantuk, dan membuang gengsinya untuk mendatangi ruangan ini, kalimat itu adalah penolakan paling brutal.
Pria itu secara terang-terangan menyuruhnya pergi tidur karena menganggap dirinya kalah paham dibanding Sonia!
Sonia yang berdiri di sebelah Sal sempat melirik Kate, lalu menunduk kaku tanpa bersuara, menyadari aura ruangan yang mendadak membeku parah.
Kate berdiri terpaku di ambang pintu. Jemari tangannya meremas piyama sutranya hingga buku-buku jarinya memutih. Tenggorokannya terasa begitu sempit menahan gelombang air mata kekesalan yang mendadak menggenang panas di sudut matanya.
Namun, Putri Raventhal menolak menangis di depan mereka. Ia menelan bulat-bulat rasa pahit itu, lalu menegakkan kepalanya kembali.
Sebuah senyuman tipis—amat sangat tipis, dingin, dan kosong—terukir di bibirnya yang memucat.
"Begitu..." bisik Kate dengan suara yang luar biasa tenang, namun menyimpan retakan dalam di setiap suku katanya. "Kalau begitu... selamat bekerja, Jenderal."
Tanpa menunggu balasan dari Salvatore, tanpa melirik Sonia sedikit pun, Kate memutar tubuhnya dengan cepat. Gaun tidurnya berkibar halus saat ia melangkah lebar-lebar menyusuri lorong dingin menuju kamar utama.
Salvatore menatap kepergian istrinya dengan dahi bertaut tipis. Pria batu itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar-benar gagal menangkap badai emosi yang baru saja ia ciptakan. Sepertinya dia sangat lelah, batinnya polos.
Sementara itu, di kamar utama.
Kate melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap dan dingin. Ia tidak lagi membuang-buang waktu menatap jam lonceng, tidak lagi menatap pintunya dengan harapan konyol, dan tidak lagi membiarkan air matanya menetes untuk pria yang bahkan tidak punya otak untuk memahami hatinya.
Dengan jari-jarinya yang dingin dan gemetar hebat, Kate menyambar gagang pintu kayu mahoni utama.
KLIK!
Suara putaran kunci besi bergema nyaring di dalam kamar yang sepi.