SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: NAMA YANG TIDAK SEHARUSNYA DISEBUT
Kereta keluarga Shen meninggalkan gerbang putih itu ketika bayang-bayang pinus tua sudah memanjang sampai ke tengah halaman.
Tidak ada yang berbicara banyak di dalam kereta. Tuan Shen memegang gulungan kecil yang tidak ia buka. Nyonya Lin sesekali mengatakan sesuatu kepadanya dengan suara rendah, tentang hadiah yang diterima dengan baik, tentang Nyonya Wen yang tampak puas, dan Tuan Shen menjawab dengan anggukan. Bibi Qin duduk di dekat pintu dengan punggung lurus seperti biasa. Di luar jendela, derap kuda Yucheng terdengar teratur, tidak tergesa dan tidak tertinggal.
Ruyin memandang jalan. Ia lebih diam dari pagi tadi, dan ia tahu itu terlihat. Namun tidak ada yang menegurnya. Mungkin mereka mengira ia hanya lelah oleh jamuan.
"Jalur lewat Hanshui lebih tenang daripada lewat Yingchuan."
Ia membiarkan kalimat itu lewat satu kali, lalu menutup pintunya.
———
Chang'an menjelang sore tampak seperti kota yang tidak pernah mendengar nama apa pun yang mengganggu. Para pedagang menurunkan tirai kios satu demi satu. Seorang tukang daging mengelap pisaunya dengan kain basah sambil bersiul. Anak-anak berlari melewati sela kereta, saling mengejar dengan layang-layang kertas yang ekornya menyapu debu. Dari sebuah kedai, bau kuah kaldu dan jahe menyusup melalui celah tirai, dan seorang perempuan di ambang pintu memanggil suaminya pulang makan.
Semuanya biasa. Itu yang terasa ganjil. Satu nama kecil telah menggeser sesuatu di dalam dirinya, sementara di luar kereta, kota berjalan seperti tidak ada yang bergeser.
---
Di rumah, makan malam ringan disajikan lebih awal karena semua orang letih. Bubur, sayur rebus, dan sepiring kecil jamur tumis. Tuan Shen makan dalam diam dan pamit ke ruang bacanya setelah mangkuk kedua. Nyonya Lin menyuruh dapur menyiapkan teh jahe, lalu pergi mengganti jubah.
Ruyin menunggu sampai Bibi Qin datang ke kamarnya membawa nampan kecil. Ia duduk di dekat jendela dan membiarkan pelayan itu menuang teh.
"Bibi, waktu aku pulang dari Selatan kali ini, kita lewat Hanshui, bukan?"
"Benar, Nona. Dua malam kita berhenti di sana."
"Kalau waktu aku berangkat dulu, delapan tahun lalu? Bibi ingat jalurnya?"
Bibi Qin menaruh teko dengan perlahan. "Sebagian saja, Nona. Perjalanan lama. Banyak yang sudah kabur."
"Tentu." Ruyin meniup tehnya. "Bagaimana dengan Yingchuan?"
Cawan di tangan Bibi Qin baru setengah terangkat. Ia meletakkannya kembali ke nampan dengan sangat pelan, nyaris tanpa bunyi, dan karena itulah Ruyin mendengarnya. Napasnya tertahan sebentar, lalu keluar lagi.
"Yingchuan itu kota besar di jalur tengah, Nona. Banyak rombongan melewatinya."
"Itu bukan jawaban."
"Perjalanan lama sudah terlalu jauh untuk saya ingat dengan jelas, Nona." Ia menunduk, merapikan serbet yang sudah rapi. "Kalau Nona lelah, sebaiknya istirahat."
Ruyin tidak mendesak. Ia mengangguk dan membiarkan pelayan tua itu pergi, dan menyadari bahwa Bibi Qin tidak sedang menyangkal. Ia seperti seseorang yang berdiri di depan pintu yang ia tahu isinya, dan tidak yakin boleh membukanya.
———
Yucheng ia temukan di serambi halaman tengah, duduk di anak tangga dengan jubah luar yang sudah dilepas, melepas sepatu berkuda dan mengibaskan debunya.
"Kau belum tidur?"
"Kakak sendiri juga belum." Ruyin duduk di sebelahnya. "Putra Mahkota tadi menyebut Yingchuan."
Tangan Yucheng yang sedang menepuk sepatu berhenti sebentar, lalu berlanjut. "Aku dengar."
"Kakak tahu kenapa ia menyebutnya?"
"Banyak kota yang dilalui orang kalau bepergian ke Selatan." Ia meletakkan sepatu di sisi anak tangga. "Bisa saja ia hanya salah menyebut. Orang yang sering berurusan dengan peta suka tertukar nama."
"Ia bilang ia mungkin keliru. Tapi ia tidak tertukar soal lima belas hari."
Yucheng tidak menjawab. Di kejauhan, seorang pelayan membawa lentera melintasi koridor, bayangannya menggeliat di dinding.
"Apakah Kakak pernah mendengar nama itu," tanya Ruyin pelan, "dalam urusan keberangkatanku?"
Jeda itu cukup panjang untuk Ruyin hitung. Satu, dua, tiga. Seperti menghitung hujan sampai reda.
"Aku mendengar banyak nama waktu itu, Ruyin," kata Yucheng akhirnya. Suaranya lembut, tanpa nada membela diri. "Ibu dan Ayah bicara dengan banyak orang. Aku tidak ingat satu per satu." Ia menoleh dan tersenyum tipis. "Kau terlalu banyak memikirkan satu kalimat orang lain. Putra Mahkota bicara dengan banyak orang setiap hari, dan tidak semuanya ia ingat dengan tepat."
Itu bukan kebohongan. Ruyin tahu itu. Tetapi ia juga tahu bahwa kakaknya baru saja menjawab tiga pertanyaan yang tidak ia ajukan, dan tidak sekali pun menjawab yang ia tanyakan.
"Mungkin," katanya.
Yucheng menepuk kepalanya sebentar, dengan gerakan yang sama seperti dulu, lalu berdiri dan masuk ke dalam. Ruyin tidak mengikutinya.
———
Nyonya Lin menerimanya di kamar tidurnya sendiri, duduk di dekat lampu dengan rambut yang sudah dilepas separuh. Teh jahe masih mengepul di meja kecil. Ia tidak tampak terkejut melihat Ruyin di ambang pintu. Ia hanya menggeser bantalan di sampingnya.
"Duduklah. Kau pasti ingin bertanya."
"Ibu tahu aku akan datang?"
"Seorang ibu tahu kapan anaknya membawa pertanyaan pulang." Nyonya Lin menuang teh untuknya. "Tanyalah."
Ruyin menerima cawan itu dengan kedua tangan. "Apakah aku pernah melewati Yingchuan?"
Nyonya Lin tidak menjawab. Lampu berderik kecil. Dari balik dinding terdengar langkah pengurus rumah yang mengunci gerbang belakang.
"Perjalanan dari Selatan panjang, Nak. Tidak semua kota bisa kau ingat."
"Aku tidak bertanya apakah aku mengingatnya. Aku bertanya apakah aku pernah ke sana."
Nyonya Lin menatap cawannya sendiri. Ruyin melihat jemarinya mengencang di sekitar tepi porselen, lalu mengendur. Ketika ia bicara lagi, suaranya masih lembut, hanya sedikit lebih rendah.
"Kalau seseorang menyebut nama sebuah kota setelah delapan tahun, jangan terburu-buru menganggapnya berarti sesuatu. Orang di istana sering berbicara dengan maksud yang bukan milik kita." Ia mengangkat wajah. "Dan jangan memikirkan hal ini sampai tidak bisa tidur. Itu permintaan Ibu."
"Itu bukan jawaban, Ibu."
"Aku tahu." Nyonya Lin tersenyum, dan senyum itu letih. "Minumlah tehmu. Jahenya sudah kuberi lada."
Ruyin minum. Rasanya hangat, persis seperti yang ia sukai. Ibunya tidak menyangkal, tidak membenarkan, dan tidak sekali pun berbohong. Ia hanya menutup pintu dengan sangat lembut, seperti menutup pintu kamar anak yang sedang tidur.
———
Malam itu Ruyin duduk sendiri di mejanya. Ia menyusun apa yang ia punya: catatan perjalanan yang hanya menyebut Hanshui, kalimat Putra Mahkota, cawan yang diletakkan terlalu pelan, jeda yang sepanjang hitungan hujan, jemari yang mengencang di tepi porselen. Tidak seorang pun memberinya jawaban sederhana. Dan di sela semuanya, sebuah pola yang ia mulai kenali: mereka tidak sedang bingung ketika nama itu disebut. Mereka sedang berhati-hati.
Ia mengambil selembar kertas kosong, mencelupkan kuas, dan menulis satu kata di tengahnya.
'Yingchuan.'
Tinta mengering perlahan. Ia menatap dua karakter itu lama sekali. Selama delapan tahun ia berusaha mengingat apa yang hilang dari dirinya, dan selalu membayangkannya sebagai potongan waktu, sebuah musim, sebuah wajah. Tidak pernah sebagai sebuah tempat.
Mungkin yang tertinggal di suatu tempat bukan hanya ingatannya.
Mungkin ada sebuah kota yang tidak pernah diberitahukan kepadanya, dan semua orang yang menyayanginya telah sepakat, tanpa pernah mengatakannya, untuk tidak menyebut namanya di rumah ini.