Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 - MONSTER YANG LEPAS RANTAI
Lorong beton yang tadinya dipenuhi kepulan debu itu mendadak sunyi senyap. Tiga anggota *Ghost Hounds* yang tersisa di ambang pintu langsung membeku saat melihat rekan mereka yang berada di posisi paling depan tersentak keras ditarik ke dalam bayangan.
Tidak ada suara tembakan. Tidak ada teriakan. Hanya terdengar bunyi *krak* yang memuakkan, disusul suara benda berat jatuh berdebum ke lantai.
"Target melawan! Buka tembakan!" teriak salah satu pemburu, mengarahkan senapan serbunya ke dalam kegelapan lorong. Senter taktisnya menyapu liar.
Tapi Kael bergerak lebih cepat dari kilatan cahaya senter itu.
Pria raksasa itu merendahkan tubuhnya, meluncur di atas lantai beton berdebu dan menyapu kaki pemburu kedua hingga pria itu jatuh terjengkang. Sebelum pemburu itu sempat menarik pelatuk, tangan Kael yang berbalut plester hitam melesat ke atas. Bilah *karambit* yang melengkung mengoyak celah sempit di antara helm *kevlar* dan rompi anti peluru pemburu itu, tepat di titik nadi lehernya.
Darah menyembur deras. Kael tidak membuang waktu sedetik pun. Dia menarik tubuh pemburu yang sedang meregang nyawa itu, menjadikannya tameng hidup tepat saat dua pemburu lainnya menembak membabi buta.
*TATATATATA!*
Rentetan peluru tertahan oleh rompi anti peluru pada mayat yang dipegang Kael. Menggunakan momentum dorongan peluru, Kael melemparkan mayat itu ke arah kedua pemburu yang tersisa, membuat mereka terhuyung mundur.
Sang bayangan melesat keluar dari lorong, menabrak mereka berdua seperti truk tronton yang kehilangan rem.
Kael mencengkeram laras senapan pemburu ketiga, memelintirnya dengan kekuatan monster hingga pergelangan tangan pria itu patah seketika.
"AARGH!" jerit pria itu kesakitan.
"Terlalu lambat," bisik Kael sedingin es.
Lutut Kael menghantam dada pria itu dengan sangat keras, meremukkan tulang rusuknya menembus pelindung *kevlar*, lalu diakhiri dengan satu tebasan *karambit* mematikan di bawah rahang.
Pemburu keempat mundur panik, mencoba menarik pistol dari sarung di pahanya karena senapan panjangnya sudah tidak efektif di jarak sedekat ini. Tapi Kael bahkan tidak memberinya kesempatan berkedip. Kael menendang lutut pemburu itu hingga patah terbalik, lalu menghantamkan kepalan tangannya yang berlilit plester tepat ke kaca *visor* helm pria itu.
*PRAAANG!*
Kaca polikarbonat yang didesain tahan peluru kaliber kecil itu hancur berkeping-keping akibat pukulan mentah Kael. Pemburu keempat ambruk ke tanah, tidak sadarkan diri dengan wajah hancur lebur.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik. Empat pembunuh elit bayaran yang terkenal paling mematikan di dunia bawah tewas mengenaskan di tangan seorang pria yang bahkan tidak membawa senjata api.
Di dalam bunker, Valeria berdiri mematung di depan layar monitor CCTV. Napas wanita itu tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar melihat pembantaian brutal yang baru saja terjadi.
Dia tahu Kael kuat. Dia tahu Kael sangat mematikan. Tapi Kael yang selama sepuluh tahun ini melindunginya selalu bertarung dengan terukur, efisien, dan seolah selalu menahan diri. Kael yang sedang dia tonton di layar ini benar-benar entitas yang berbeda. Pria itu bergerak murni menggunakan insting membunuh kelas atas, buas, liar, dan tidak punya belas kasihan sedikit pun.
"Gila..." gumam Valeria tanpa sadar menelan ludah. Tubuhnya sedikit bergetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena rasa takjub yang luar biasa gila.
Sementara itu, di halaman bengkel rongsokan, delapan anggota *Ghost Hounds* yang tersisa langsung mengambil formasi tempur saat mendengar keributan dari arah pintu masuk bunker.
Komandan mereka, seorang pria bule bertubuh kekar dengan codet memanjang di mata kirinya, memberi isyarat tangan. Pasukannya menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran mengepung reruntuhan pintu masuk. Senapan mereka semua terarah ke satu titik.
Asap debu perlahan menipis, ditiup oleh angin laut pagi.
Dari balik reruntuhan pintu baja itu, Kael melangkah keluar dengan santai. Di kedua tangannya, darah segar menetes dari bilah *karambit* dan plester hitam yang membalut buku-buku jarinya. Kemeja hitam Kael sudah compang-camping, dan perban di bahunya kembali merah pekat, tapi pria itu berdiri tegak seolah rasa sakit tidak pernah ada di kamus hidupnya.
Delapan laras senapan langsung mengunci kepalanya.
"Lepaskan senjatamu dan berlutut! Kami cuma butuh kepala Valeria!" bentak komandan *Ghost Hounds* itu, suaranya menggema lantang.
Kael tidak berlutut. Pria raksasa itu malah menyeringai lebar, sebuah tawa buas bergetar di tenggorokannya. Dia menatap satu per satu delapan pemburu itu dengan tatapan meremehkan.
"Hanya ini yang bisa dibeli Paman Surya dengan dua puluh juta dolar?" ejek Kael, suaranya berat dan mengancam, mengintimidasi seluruh pasukan elit itu sendirian. "Kalian tidak lebih dari sekumpulan badut berseragam."
"Tembak kepalanya!" raung sang komandan murka.
Tepat saat jari-jari mereka menarik pelatuk, Kael sudah bergerak. Pria itu menendang sebuah drum oli kosong berkarat di dekatnya dengan kekuatan penuh, menerbangkannya ke arah formasi musuh sebagai distraksi, lalu dia sendiri melesat ke arah berlawanan, berlindung di balik bangkai mobil rongsokan.
*TATATATATATA!*
Rentetan peluru menghancurkan drum oli dan bangkai mobil itu, tapi target mereka sudah hilang.
"Menyebar! Cari bajingan itu! Dia sendirian dan terluka!" perintah komandan panik.
Dua orang pemburu bergerak hati-hati mendekati bangkai mobil tempat Kael menghilang. Mereka menyusuri sisi kiri dan kanan.
Tiba-tiba, dari atas kap mobil yang penyok, sosok Kael melompat turun seperti bayangan maut. Dia mendarat tepat di atas pundak pemburu pertama, menggunakan berat tubuhnya untuk membanting pria itu ke tanah hingga lehernya patah.
"Di sini!" teriak pemburu kedua, menembakkan senapannya secara membabi buta.
Kael menghindar dengan gerakan *roll* ke tanah, memungut sebuah linggis besi karatan yang tergeletak di rumput, lalu melemparkannya seperti tombak. Linggis itu melesat membelah udara dan menancap telak di dada pemburu kedua, menembus pelat rompinya akibat dorongan tenaga yang sangat tidak masuk akal.
Enam orang tersisa. Kepanikan mulai merayap di mata para pemburu elit itu. Mereka tidak sedang memburu manusia, mereka sedang diburu oleh iblis.
"Kumpul! Bentuk formasi berlian! Lindungi titik buta!" teriak sang komandan mulai berkeringat dingin.
Kael tidak memberi mereka waktu bernapas. Dia tahu staminanya akan segera habis karena pendarahan di bahunya, jadi dia harus menyelesaikan ini dengan kekuatan mentah.
Kael membuang *karambit*-nya ke tanah. Pisau itu terlalu pendek untuk menembus formasi rapat. Dia merangsek maju dengan tangan kosong, berlari zig-zag menghindari hujan peluru yang mengarah padanya.
Satu peluru berhasil menyerempet pinggang Kael, tapi Kael bahkan tidak mengernyit.
Pria raksasa itu melompat, menjadikan atap mobil rongsokan sebagai pijakan, lalu menerjang langsung ke tengah-tengah formasi enam orang itu. Benturan keras terjadi. Kael menggunakan seni bela diri campuran tingkat ekstrem yang hanya bisa dipelajari di ring kematian bawah tanah.
Satu pukulan keras menghantam rahang pemburu terdekat, disusul sikutan mematikan yang meremukkan tenggorokan pemburu di sebelahnya. Saat dua pemburu lain mencoba menembaknya dari jarak dekat, Kael menangkap laras senapan mereka, menariknya kuat-kuat hingga kedua pria itu saling bertabrakan, lalu Kael menghantamkan kedua kepala mereka yang berhelm *kevlar* itu secara bersamaan sampai terdengar bunyi retakan tengkorak.
"Mati kau, keparat!" sang komandan berteriak kalap, membuang senapannya yang kehabisan peluru dan mencabut pisau tempur *Bowie* bergerigi.
Komandan itu menerjang Kael, mengayunkan pisaunya ke arah leher Kael dengan kecepatan luar biasa.
Kael tidak mundur. Pria itu menyambut serangan itu dengan tangan kosong. Dia membiarkan mata pisau itu menggores lengan kirinya, lalu menggunakan lengannya yang berdarah itu untuk menjepit tangan sang komandan.
Dengan tangan kanannya yang masih berfungsi sempurna, Kael mencengkeram wajah komandan bule itu. Jari-jari besarnya menekan kuat rahang dan pipi pria itu.
"S-sialan! Lepaskan!" rintih komandan itu meronta hebat, mencoba menusuk perut Kael dengan tangan kirinya yang bebas, tapi Kael mengunci pergerakannya dengan lutut.
Kael menatap lurus ke dalam mata komandan pemburu elit yang kini dipenuhi teror murni.
"Berikan salamku untuk iblis di neraka," bisik Kael sedingin es.
Kael mengerahkan seluruh sisa tenaga monsternya. Dengan satu sentakan memutar yang sangat brutal dan cepat, dia memutar kepala sang komandan hingga 180 derajat.
*KRAAAAAAK!*
Tubuh komandan itu seketika lemas seperti boneka kain yang putus talinya. Kael melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat pria yang memimpin *Ghost Hounds* itu jatuh terjerembap ke tanah berdebu.
Satu pemburu terakhir yang masih hidup dan menyaksikan komandannya mati dengan cara semengerikan itu langsung kehilangan akal sehatnya. Dia menjatuhkan senjatanya, berbalik, dan mencoba lari terbirit-birit ke arah mobil.
Kael menunduk, memungut pisau *Bowie* milik komandan yang mati tadi, menimbang beratnya sejenak, lalu melemparkannya dengan kekuatan penuh ke arah pemburu yang kabur itu.
Pisau besar itu melesat cepat dan menancap dalam tepat di tulang belakang pemburu terakhir, membuatnya jatuh tersungkur dan tewas seketika sebelum dia sempat menyentuh gagang pintu mobil.
Hening.
Angin laut kembali berhembus, menerbangkan debu dan mengaduk bau anyir darah segar yang kini menggenangi halaman bengkel rongsokan itu. Dua belas anggota elit *Ghost Hounds* tewas dibantai tanpa sisa dalam waktu kurang dari lima menit.
Kael berdiri di tengah-tengah lautan mayat itu. Dada bidangnya naik turun dengan sangat cepat, napasnya tersengal-sengal mencari oksigen. Seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki berlumuran darah musuh dan darahnya sendiri. Plester di tangannya sudah robek dan basah kuyup oleh darah merah pekat. Matanya yang tajam menatap kosong ke depan, sisa-sisa insting membunuhnya masih menari-nari liar di udara.
Di dalam bunker, Valeria merosot berlutut di depan layar monitor. Tubuhnya lemas, bukan karena sakit, tapi karena kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya setelah melihat pertunjukan kekuatan absolut barusan.
Selama ini, dia pikir dialah yang mengendalikan Kael. Dia pikir Kael adalah pedang yang bergerak sesuai perintah tangannya.
Tapi setelah melihat pria itu membantai pasukan elit dengan tangan kosong demi melindunginya... Valeria akhirnya sadar. Kael bukan sekadar pedang. Kael adalah monster sungguhan yang sengaja mengikatkan rantainya sendiri pada tangan Valeria, hanya karena dia memilih untuk tunduk pada ratunya.
Dan hari ini, rantai itu benar-benar sudah lepas.