Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Bayangan di Rawa Bakau
Perahu kayu kecil itu mengapung pelan mengikuti celah arus air asin yang pekat. Kabut tebal muara membungkus perairan luar Kota Yunjiang, menyembunyikan siluet Ma Huang yang berlutut kaku di atas papan perahu yang basah.
Darah kehitaman terus meleleh pelan dari sela-sela giginya, menetes menghantam lantai kayu yang terendam air laut tipis. Hantaman pedang keemasan Zhao Feng telah mengguncang Dantian Ma Huang yang memang sudah retak, memicu gejolak liar dari racun Ular Hijau yang mendekam di dalam Jalur Darah Pemakan Bencana.
Ma Huang memusatkan sisa tenaga dalamnya, menekan kedua jarinya kencang ke tiga titik meridian utama di sekitar ulu hati. Rasa sakit membakar menjalar seketika ke seluruh rongga dadanya, seolah ribuan jarum tembaga membara menusuk jaringan daging dan otot fisiknya dari dalam.
Ia memuntahkan gumpalan darah kental bercampur serpihan racun mengering ke dalam air laut. Napasnya terdengar memburu kaku, namun warna kehitaman di sekitar leher dan wajahnya perlahan menyusut, terdorong kembali ke dalam lingkaran meridian pusat.
Dayung kayu pendek di pinggir perahu diambilnya dengan gerakan gemetar. Dengan sisa kekuatan lengannya, Ma Huang mengayuh perahu menembus kerapatan akar-akar pohon bakau raksasa yang mencuat dari dasar lumpur hitam Teluk Sunyi.
Di balik bentangan pohon bakau yang lebat, sebuah pondok nelayan beratap daun nipah yang sudah lama ditinggalkan berdiri miring di atas tiang-tiang kayu lapuk. Sinar temaram dari lilitan minyak jarak berkedip tipis dari celah dinding bambu pondok tersebut.
Ma Huang mengikatkan tali perahu pada salah satu akar bakau yang tebal, lalu melangkah turun menjejak lumpur asin hingga sebatas lutut. Langkah kakinya berat, tetapi Pedang Tulang Hitam tetap berada kencang di dalam cengkeraman tangan kanannya.
Pintu bambu pondok terdorong pelan. Tiga bilah pedang panjang langsung teracung lurus dari kegelapan ruangan, mengincar leher dan dada Ma Huang secara bersamaan.
"Tahan!" suara parau Lu Gang memecah ketegangan seketika.
Tiga prajurit Serigala Hitam menurunkan senjata mereka dengan cepat saat mengenali sosok tinggi yang berdiri di ambang pintu. Lu Gang, yang duduk bersandar pada tiang utama ruangan dengan perban kain lusuh melilit pahanya, bernapas lega seraya menangkupkan kedua tangannya di udara.
"Tuan Muda selamat," bisik Lu Gang dengan sepasang mata berbinar di bawah remang lampu minyak. "Kami melihat ledakan meriam dari arah dermaga dan menduga yang terburuk."
Ma Huang melangkah masuk, menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kecil yang berbau uap garam dan minyak kayu putih. Tiga pengawal yang tersisa mengalami luka sabetan pedang di bahu dan lengan, tetapi luka-luka itu telah diikat kencang menggunakan kain linen tipis.
"Zhao Feng dan Jian Yue terkecoh oleh tabung palsu yang kulempar ke muara," kata Ma Huang seraya mendudukkan tubuhnya di atas lantai bambu. Ia menyandarkan Pedang Tulang Hitam di samping lututnya.
Lu Gang meringis pelan saat menggeser posisi duduknya. "Tabung palsu? Jadi tabung tembaga yang kuberikan di gudang garam tadi..."
"Hanya umpan berisi gulungan kertas kosong," potong Ma Huang kaku. "Kepingan peta yang sebenarnya tidak pernah meninggalkan tanganmu, Kapten Lu."
Lu Gang tertegun sejenak. Tangannya refleks menyentuh lapisan dalam sabuk kulitnya yang telah terkoyak. Ma Huang tersenyum tipis, merogoh saku dalam jubahnya sendiri dan mengeluarkan selembar kain sutra tipis berwarna cokelat kusam yang telah dilipat rapi sejak ia menggeledah jasad Jian Gang di Lembah Angin Hitam.
"Saat aku membunuh Jian Gang, aku menemukan kain sutra ini di saku dadanya," ujar Ma Huang seraya membentangkan kain itu di atas lantai bambu di antara mereka. "Jian Yue berpikir dia hanya kehilangan separuh peta, padahal Jian Gang sudah menyalin seluruh denah makam bawah tanah tersebut dalam kain sutra ini."
Tiga pengawal Serigala Hitam mendekat, menatap garis-garis tinta hitam yang menggambarkan seluk-beluk lorong rahasia di bawah Kota Yunjiang.
Denah di atas kain sutra itu memperlihatkan jaringan saluran air kuno yang membentang dari bawah Balai Kota Yunjiang, melintasi pondasi benteng utama, hingga berujung pada sebuah ruang batu raksasa tepat di bawah dasar pelabuhan. Di pusat ruang batu tersebut, terukir gambar tatanan pintu besi ganda bertuliskan Segel Besi Hitam.
"Tiga hari lagi," kata Lu Gang seraya menunjuk salah satu titik bertuliskan gerbang timur. "Jian Yue akan menggelar pesta pertunangannya dengan Murid Utama Sekte Pedang Suci di Balai Kota. Seluruh pejabat dan petinggi sekte akan berkumpul di sana."
"Pesta itu adalah pengalihan perhatian," sahut Ma Huang dingin. Matanya mengamati setiap kelokan lorong di denah sutra. "Jian Yue akan memanfaatkan keramaian pesta untuk menyusupkan para tetua sekte ke dalam makam bawah tanah tanpa menarik perhatian persekutuan dagang lainnya."
Lu Gang mengangguk pelan, raut wajahnya yang penuh kerutan tampak mengeras. "Jika mereka berhasil membuka Segel Besi Hitam dan menguasai komando tiga ribu tentara bayaran di batas selatan, posisi Keluarga Jian tidak akan pernah bisa disentuh lagi. Seluruh Kota Yunjiang akan jatuh sepenuhnya di bawah cengkeraman mereka."
"Itu tidak akan pernah terjadi," kata Ma Huang pelan namun menusuk. "Kita akan menyerang lebih dahulu sebelum mereka sempat menyentuh pintu makam."
Seorang pengawal Serigala Hitam yang bernama Xiao Feng melangkah maju. "Tuan Muda, jumlah kita hanya tersisa lima orang. Pasukan penjaga Balai Kota dipenuhi murid-murid Sekte Pedang Suci yang menguasai formasi pedang gabungan. Bagaimana kita bisa menerobos masuk?"
Ma Huang menjangkau botol keramik kecil di balik pinggangnya, lalu menuangkan cairan hijau pekat ke atas permukaan ubin bambu. Hawa asam yang menyengat langsung memenuhi udara ruangan, membuat bambu tua itu menghitam dan rapuh dalam hitungan detik.
"Kita tidak perlu bertarung terbuka menembus barisan depan mereka," terang Ma Huang. "Saluran air bawah tanah di bawah dermaga selatan ini terhubung langsung dengan sistem pembuangan Balai Kota. Aku akan meracuni pasokan air minum di kediaman dalam para tetua sekte dua jam sebelum pesta dimulai."
Lu Gang menatap racun hijau di bambu dengan mata berbinar tajam. "Racun Ular Hijau akan melumpuhkan aliran Qi mereka dari dalam tanpa menimbulkan bentrokan fisik yang besar. Begitu formasi pedang mereka kacau, kita bisa merebut makam tersebut."
"Bukan hanya melumpuhkan," sergah Ma Huang. "Aku akan memastikan tidak ada satu pun tetua Sekte Pedang Suci yang keluar dari ruangan itu dalam keadaan bernapas."
Ma Huang kemudian memejamkan mata, bersila di atas lantai bambu untuk memulai penyembuhan meridiannya secara mendalam. Ia mengambil dua jarum perak dari pinggangnya, membenamkan jarum-jarum tersebut ke titik meridian di dadanya untuk mengunci penyebaran retakan Dantian.
Rasa sakit luar biasa membuat keringat dingin membasahi seluruh jubah Ma Huang. Kulit di sekitar leher dan lengannya perlahan memucat, sementara hawa dingin dari Inti Bencana terus berputar perlahan mengikis sel-sel daging yang rusak akibat hantaman Qi emas Zhao Feng.
Lu Gang dan tiga pengawal Serigala Hitam duduk mengepung Ma Huang, menggenggam senjata masing-masing seraya berjaga penuh di depan pintu dan jendela pondok nelayan. Suara gesekan batu pengasah pada bilah golok bergema halus di dalam ruangan, menyatu dengan deru ombak malam Teluk Sunyi.
Dua jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Hawa dingin di dalam tubuh Ma Huang perlahan stabil, dan napasnya kembali teratur meskipun kekuatan Inti Emasnya belum pulih sepenuhnya.
Tiba-tiba, Xiao Feng yang berdiri memantau di celah bambu jendela berbisik tegang. "Tuan Muda! Ada pergerakan di luar!"
Ma Huang membuka matanya seketika. Kilatan merah melintas di dalam pupil matanya saat ia berdiri memegang Pedang Tulang Hitam.
Di luar pondok nelayan, lima obor merah menyala terang di balik kegelapan hutan bakau. Suara derakan akar bakau yang terpijak sepatu besi terdengar mendekat dari tiga arah yang berbeda, mengepung tempat persembunyian mereka dengan cepat.
"Pasukan Pemburu An Ying," bisik Lu Gang seraya mencabut golok bergeriginya dengan susah payah. "Bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini begitu cepat?"
Suara langkah kaki berhenti sepuluh langkah dari depan pintu bambu. Sebuah panah berujung kain membara meluncur deras menembus atap daun nipah pondok, membakar bagian atas bangunan tua itu dalam sekejap.
"Ma Huang!" sebuah suara nyaring dan melengking bergaung dari luar. "Jian Yue sudah menduga kau akan bersembunyi di Rawa Bakau! Serahkan kain sutra denah makam, atau kami bakar hidup-hidup kalian di dalam pondok ini!"
Ma Huang menatap kobaran api yang mulai merembet cepat ke dinding bambu. Ia melirik Lu Gang dan tiga pengawal yang siap bertempur hingga titik darah terakhir, lalu mengencangkan cengkeramannya pada gagang pedang hitam.
"Kalian bertiga lindungi Kapten Lu menerobos pintu belakang," perintah Ma Huang dingin seraya melangkah maju ke pintu depan yang mulai membara. "Aku yang akan menghabisi pasukan pemburu ini."