NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Lepaskan aku

Aisyah memalingkan wajahnya dengan cepat sebelum bibir Ayden sempat menyentuh kulitnya. Gerakan penolakan yang spontan itu membuat langkah Ayden terhenti seketika di udara.

"Aisyah?" panggil Ayden lagi, nadanya berubah heran. "Ada apa?"

Aisyah mendongak. Matanya yang sembab dan memerah menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Suaranya bergetar menahan gelombang emosi yang siap meledak. "Siapa Ratih, Ayden?"

Hening menyergap. Untuk sepersekian detik, gerakan tangan Ayden yang sedang merapikan kerah kemejanya terhenti kaku. Namun, dengan kecepatan yang mengerikan, ekspresi terkejut di wajah pria itu lenyap tanpa bekas, berganti dengan topeng ketenangan yang sempurna.

Ayden melempar jasnya ke sandaran sofa, lalu duduk di samping Aisyah dengan gestur santai, seolah pertanyaan itu tidak memiliki arti apa pun baginya.

"Oh, wanita tua yang datang siang tadi?" sahut Ayden ringan, mengibaskan tangannya di udara seakan mengusir nyamuk. "Bi Sumi sudah memberi tahu lewat telepon sebelum aku jalan pulang. Jangan dipikirkan, Aisyah. Dia hanya pengemis gila yang mencari uang."

Aisyah mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Pengemis gila?"

"Ya, pengemis gila," ulang Ayden dengan nada meyakinkan, bibirnya mengukir senyum tipis yang terkesan mengayomi. "Dia dulu pernah bekerja sebentar di rumah keluarga besarku, tapi dipecat karena ketahuan mencuri dan mengalami gangguan jiwa. Dia sering berkeliaran di kawasan orang kaya untuk menjual cerita bohong demi mendapatkan uang kasihan. Aku terkejut dia bisa menembus pengamanan lantai bawah. Besok aku akan menegur tim keamanan gedung."

"Dia tahu namaku, Ayden!" bentak Aisyah, suaranya melengking memecah kesunyian ruangan. "Dia tahu nama almarhum Papaku! Dia tahu nama keluarga Rahardja!"

Ayden menyipitkan matanya tipis, namun suaranya tetap tenang dan lembut, terkontrol dengan sangat rapi. "Tentu saja dia tahu, Sayang. Pernikahan kita diberitakan di media bisnis beberapa bulan lalu. Nama keluarga besar kita terpampang di mana-mana. Orang-orang seperti dia memanfaatkan informasi itu untuk mengetuk pintu dan mencari simpati."

"Bohong..." bisik Aisyah dengan gelengan kepala perlahan. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai menetes membasahi pipinya yang pucat. "Kau bohong, Ayden..."

"Aisyah, dengarkan aku—"

"Jangan panggil aku seperti itu!" jerit Aisyah histeris. Ia berdiri mendadak dari sofa, melangkah mundur untuk menjauhkan dirinya dari Ayden. "Jangan berakting seolah-olah kau sangat peduli padaku! Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku?! Kenapa kau menyembunyikan masa lalumu, kematian orang tuamu, dan kebencianmu pada keluargaku?!"

Udara di ruang tamu itu mendadak terasa membeku. Senyuman manis di wajah Ayden perlahan-lahan luntur, menyisakan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.

"Aisyah, kau mulai bicara yang tidak-tidak," kata Ayden, suaranya merendah, bernada peringatan yang dingin. "Wanita tua itu sudah meracuni pikiranmu dengan dongeng karangannya."

"Dongeng karangan?!" tangis Aisyah pecah, dadanya naik turun tersengal-senggal dalam tangisan yang makin tak terkontrol. "Lalu bagaimana dengan foto tua di bawah karpet meja kerjamu?! Wajah Papaku yang dirobek dengan penuh kebencian! Bagaimana dengan berkas-berkas kebangkrutan Dinantara Utama yang kausimpan dalam kotak arsipmu?! Dan bagaimana dengan telepon jam dua pagi itu, Ayden?! Siapa kontak 'F'?! Apa yang dimaksud dengan Tahap Satu dan Tahap Dua?!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Aisyah bagaikan lemparan batu yang menghantam kaca air yang tenang. Ayden berdiri perlahan dari duduknya. Sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan gelap yang menutupi tubuh Aisyah.

"Kau membongkar barang-barangku?" tanya Ayden pelan, namun setiap kata dipenuhi dengan tekanan yang pekat dan berbahaya.

"Aku tidak perlu membongkar apa pun untuk tahu bahwa kau sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan padaku!" jerit Aisyah histeris, tangannya gemetar menunjuk dada Ayden. "Kenapa kau menikahiku, Ayden?! Jawab aku! Kenapa kau bersikap begitu manis setiap pagi, menyeduhkan kopi untukku, memelukku, dan mengucap janji di depan penghulu kalau kau sebenarnya membenciku?! Kenapa kau menjadikan hidupku panggung sandiwaramu?!"

Ratapan Aisyah menggema di seluruh sudut penthouse mewah itu. Rasa sakit, ketakutan, dan pengkhianatan melebur menjadi satu insiden histeria yang mengoyak dada. Seluruh ilusi kehangatan yang ia rasakan selama ini hancur berkeping-keping menjadi debu.

"Aisyah, cukup. Cukup histerisnya," ucap Ayden datar. Ia melangkah maju mendekati Aisyah.

"Jangan mendekat!" teriak Aisyah sambil mendorong dada Ayden dengan sisa tenaganya saat pria itu mencengkeram kedua bahunya. "Lepaskan aku! Jangan sentuh aku dengan tangan beracunmu itu!"

Aisyah memberontak keras dalam cengkeraman Ayden. Ia memukul dada bidang suaminya, berusaha melepaskan diri dari dekapan yang mendadak terasa bagaikan jerat besi. Namun, perbedaan kekuatan fisik di antara mereka terlalu jauh. Ayden menahan kedua lengan Aisyah, lalu menarik tubuh wanita yang gemetar itu ke dalam pelukannya secara paksa.

"Lepas! Ayden, lepaskan aku!" jerit Aisyah di dada Ayden, suara terisak dan napasnya mulai terengah-engah akibat kehabisan oksigen.

"Ssst... tenang, Aisyah. Tenang..." bisik Ayden di dekat telinga istrinya. Tangan Ayden mengelus rambut panjang Aisyah dengan gerakan yang teratur dan lembut, melingkarkan lengannya rapat-rapat mengunci tubuh Aisyah yang terus memberontak.

"Jangan sentuh aku... tolong... jangan..." cicit Aisyah, tenaganya perlahan habis terkuras oleh tangisan histerisnya sendiri.

"Dengarkan aku, Sayang," bisik Ayden lagi. Suaranya terdengar begitu merdu, halus, dan penuh kelembutan. "Kau hanya sedang lelah. Kau terlalu banyak berpikir dan membiarkan orang luar mengacaukan pikiranmu. Tidak ada rahasia besar. Tidak ada rencana buruk. Aku ada di sini bersamamu. Kau adalah istriku. Aku mencintaimu... Kau tahu betul betapa aku mencintaimu, bukan?"

Kalimat-kalimat penenang itu mengalir lancar dari bibir Ayden. Kata-kata yang dulu selalu berhasil membuat dada Aisyah bergetar hangat dan merasa aman. Namun kini, suara itu terdengar begitu hampa, kosong, dan tanpa jiwa. Seperti nada musik yang dimainkan oleh sebuah mesin tanpa hati.

Perlahan-lahan, gerakan memberontak Aisyah mereda. Tangisannya berganti menjadi isakan pelan yang menyedihkan.

Dengan sisa kekuatan yang ada di dalam raganya, Aisyah menahan dadanya di tubuh Ayden dan mendorong dirinya sedikit ke belakang. Ia mengangkat kepalanya, mencoba mendongak untuk melihat wajah pria yang mendekapnya begitu erat.

"Ayden..." panggil Aisyah lirih, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.

"Ya, Sayang?" sahut Ayden lembut, mengulas senyum manis yang biasa ia tunjukkan setiap pagi di meja makan.

Aisyah menatap lurus ke dalam kedua manik mata Ayden.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—sejak hari pertama mereka mengikat janji di bawah langit senja—Aisyah benar-benar memperhatikan binar di mata suaminya. Dan detik itu juga, sesuatu di dalam batin Aisyah patah secara mutlak.

Tidak ada binar kehangatan di sana. Tidak ada cinta, tidak ada ketulusan, tidak pula ada kelembutan yang selama ini ia agungkan. Di balik senyuman manis yang terukir di bibir Ayden, kedua pupil mata pria itu tampak begitu redup, gelap, dan hampa.

Yang ada di dalam tatapan Ayden hanyalah sebuah dinding es yang sangat tebal, dingin, dan tak tersentuh. Tatapan seorang pemburu yang sedang mengamati mangsanya yang tak berdaya dalam perangkap.

Aisyah tertegun kaku. Tangisannya terhenti seketika, berganti menjadi sensasi dingin luar biasa yang menjalar cepat dari telapak kakinya hingga menembus ubun-ubun. Cermin jiwanya yang selama ini mempercayai kehangatan sang suami, kini mengalami retakan pertamanya yang teramat dalam.

Ia tidak sedang dipeluk oleh seorang suami yang mencintainya. Ia sedang dikurung oleh sesosok monster yang bernapas tanpa hati.

Aisyah membiarkan tubuhnya bersandar kaku dalam dekapan Ayden, menutup matanya rapat-rapat saat kegelapan dan rasa mati rasa mulai merayapi relung hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!