NovelToon NovelToon
Menikahi Pewaris Cacat

Menikahi Pewaris Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Orang Disabilitas / CEO
Popularitas:148.2k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

​"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."

​"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
​Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.

"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."

​Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.

​Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?

Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Varo Si Bocah Gembul

Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore hari. Suara gemuruh petir bersahut-sahutan di luar, mempertebal keheningan di lantai atas mansion Velmore.

Levara melangkah masuk ke kamar utama seraya membawa cangkir teh hangat. Langkah kakinya mendadak terhenti saat melihat Dante terbaring di atas tempat tidur tanpa mengganti kemeja kerjanya. Pria itu memejamkan mata erat-erat dengan napas berat dan memburu.

"Dante?" panggil Levara pelan seraya meletakkan cangkir di meja.

Ia mendekat, lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Dante.

"Astaga, panas sekali!" seru Levara kaget. "Dante, kamu dengar aku?"

Dante membuka matanya perlahan. Pandangannya tampak sayu dan sayu akibat keletihan. "Levara?"

"Tubuhmu panas tinggi!" Levara mengusap pipi Dante yang hangat memerah. "Kamu sakit sejak kapan?"

"Saya ... cuma sedikit lelah," bisik Dante serak. "Bukan masalah besar. Jangan khawatir."

"Tidak khawatir bagaimana?" potong Levara gemas seraya menaikkan selimut ke dada Dante. "Tubuhmu membakar begini masih bilang bukan masalah besar? Kamu pikir kamu terbuat dari besi?"

Dante menyunggingkan senyum tipis yang lemah. "Saya harus memastikan semua laporan keamanan dan tim hukum selesai malam ini, Levara."

"Persetan dengan laporan!" cetus Levara tegas. "Kamu terus memaksakan diri bekerja dari pagi sampai malam. Kamu lupa kalau tubuhmu juga butuh istirahat?"

"Levara, saya—"

"Tunggu di sini," potong Levara cepat. "Jangan mencoba bangun!"

Levara melangkah terburu-buru ke kamar mandi, lalu kembali membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia duduk di tepi kasur persis di sebelah Dante.

"Buka kemejamu," perintah Levara.

Dante mengerutkan kening. "Apa?"

"Buka kemejamu, Dante. Aku mau mengompres dan menyapu keringatmu supaya demamnya cepat turun," jelas Levara sabar namun tak mau dibantah.

"Saya bisa sendiri, Levara ...,"

"Jemari tangan kananmu masih terbebat, dan tangan kirimu gemetar karena lemas," tembak Levara menatap lurus mata Dante. "Mau nurut atau aku buka paksa?"

Dante menghela napas panjang, akhirnya menyerah. "Buka paksa? Bahasamu makin berani."

"Karena suamiku sangat keras kepala," balas Levara seraya mulai melepas kancing kemeja Dante satu per satu.

Dante terdiam saat jemari halus Levara menyentuh kulit dadanya yang panas membara. Levara memeras handuk hangat, lalu menyapukannya dengan lembut ke leher dan dada Dante.

"Maaf," gumam Dante pelan.

Levara menghentikan tangannya. "Maaf untuk apa?"

"Merepotkanmu malam-malam begini," sahut Dante menatap Levara lekat. "Harusnya saya yang melindungimu, bukan malah membuatmu repot mengurus orang sakit."

Levara mendengus pelan, menatap mata Dante dengan tatapan hangat. "Dante, coba dengar aku baik-baik."

"Ya?"

"Kita ini sudah menikah," ujar Levara lembut. "Kamu sudah berulang kali pasang badan mempertaruhkan keselamatanmu demi membentengiku dari Julian Velmore. Mengurusmu saat sakit begini bukan beban, tapi kewajibanku sebagai istri. Paham?"

Dante menatap wanita di hadapannya tanpa berkedip. "Kamu benar-benar menganggap diri kamu istri saya?"

Pipi Levara merona tipis, namun ia tetap menatap Dante tanpa ragu. "Memangnya kita sedang main rumah-rumahan? Secara hukum dan di mata publik, aku istri sahmu dan secara pribadi ... aku peduli padamu."

Sudut lips Dante terangkat tipis. "Terima kasih, Levara."

"Sekarang minum air hangat ini dulu," kata Levara seraya meraih gelas di meja.

Levara menopang punggung tegap Dante dengan satu tangan, membantunya bersandar sedikit. Ia menyodorkan gelas ke bibir Dante dengan sangat hati-hati.

"Pelan-pelan minumnya," bisik Levara.

Dante meneguk air itu perlahan hingga habis, lalu kembali bersandar di bantal. "Tenggorokan saya terasa lebih mendingan."

"Bagus. Sekarang tidurlah," perintah Levara seraya meletakkan kembali kain kompresan di dahi Dante.

Saat Levara hendak berdiri untuk mengganti air baskom, tangan kiri Dante bergerak cepat meraih jemari Levara, menggenggamnya erat dalam sapuan hangat.

"Mau ke mana?" tanya Dante penuh kepasrahan yang jarang sekali ia perlihatkan.

Levara menoleh, tertegun melihat binar di mata suaminya. "Cuma mau mengganti air kompresan, Dante."

"Jangan lama-lama," bisik Dante rendah. "Jangan tinggalkan saya sendirian."

Levara tersenyum sangat manis melihat sisi manja Dante yang tersembunyi di balik ketegasannya selama ini. Ia membalas genggaman tangan Dante dengan tak kalah erat.

"Aku cuma ke kamar mandi sebentar," bujuk Levara pelan. "Setelah itu aku bakal duduk di sini menemanimu sepanjang malam. Aku tidak akan ke mana-mana."

Dante mengangguk pelan, lalu perlahan melepaskan genggamannya. "Janji?"

"Iya, janji, Tuan Velmore," balas Levara tertawa kecil. "Sekarang pejamkan matamu dan istirahat."

"Baik, Nyonya Velmore," jawab Dante menuruti ucapan istrinya.

Levara bergegas merapikan kompresan dan duduk kembali di samping tempat tidur Dante, menggenggam kembali tangan pria itu hingga napas Dante teratur dalam tidurnya.

Tok!

Tok!

"Pakeeet,"

Levara menoleh ketika menangkap pergerakan kecil di balik pintu. Terlihat Varo mengintip ragu sebelum akhirnya melangkah mendekat. Anak itu sudah mengenakan baju tidur bergambar kartun, tetapi ada yang aneh dengan wajahnya, kedua pipinya penuh dengan taburan gula halus, seolah ia baru saja sukses mencuri kue tanpa ketahuan. Dengan sisa-sisa rasa penasaran, tatapan matanya tertuju pada Dante yang terbaring tertidur lelap di atas tempat tidur.

"Kenapa itu olang?" tanya Varo berbisik, menunjuk Dante dengan dagunya.

"Om-mu sedang sakit, jangan berisik, ya," bisik Levara lembut. Ia meraih tubuh mungil Varo dan mendudukkannya dengan pangkuan hangat. Levara memandangi paras anak itu yang sangat menggemaskan. Awalnya, ia pikir Varo hanya bocah nakal biasa. Namun, setelah mengetahui perjuangan berat Varo yang berhasil lolos dari cengkeraman maut, rasa kagum dan bangga seketika memenuhi hatinya.

"Ooo, cakit ...," gumam Varo manggut-manggut. Namun, hanya bertahan sedetik sebelum matanya mendadak menyipit penuh kecurigaan.

"Pula-pula itu, mau nalik pelhatian betina itu. Iya, pula-pula dia, Onty. Coba tampal, pacti bangun," lanjut Varo polos, menatap Levara tanpa dosa seolah sarannya adalah sebuah kebaikan mutlak.

Levara tak sanggup menahan kekehannya. "Hush, enggak boleh begitu. Ayo ikut Aunty," ucap Levara seraya menggendong Varo keluar kamar secara perlahan. Sampai di luar, ia mengambil selembar tisu dan dengan telaten mengusap lembut sisa-sisa gula halus di pipi bocah itu. Setelahnya, pandangan Levara menyapu ke sekeliling interior rumah Dante yang begitu megah dan megah layaknya sebuah istana.

"Rumah Papa Evran memang besar, tapi tidak sebesar ini. Ini sih benar-benar istana," gumam Levara kagum.

Atensinya kemudian terhenti pada sebuah bingkai foto berukuran besar yang menggantung di dinding. Di sana, terekam sosok Dante sebelum tragedi melumpuhkannya, berdiri gagah tanpa bantuan kursi roda, memancarkan aura dingin, tegas, dan tajam tanpa rasa takut sedikit pun.

Levara tersenyum tipis, ada sejumput harapan yang tersirat di matanya. "Suatu saat om-mu pasti bisa berdiri lagi," ucap Levara pelan.

Varo menggaruk pipinya yang tidak gatal, merespons dengan gaya khasnya. "Di kulci loda aja nakal dia, Onty, apalagi belkelialan kayak culut. Beltingkah dia," celetuk Varo polos yang seketika memancing tawa kecil Levara laGi.

"Kenapa kamu tidak suka om-mu, hm? Dia kan sudah sangat baik padamu, memberimu makan enak, sampai-sampai kepalamu jadi licin seperti lampu bohlam begini," goda Levara lembut.

Raut wajah Varo mendadak berubah. Tingkah tengilnya menguap seketika. Anak itu menyandarkan kepalanya yang mungil di dada Levara, lalu jari-jemari kecilnya mulai memainkan rantai kalung yang melingkar di leher Levara.

"Valo takut ... Om dah nda cayang Valo lagi kalau punya kelualga balu. Kelualga Valo ... cuma Om Cate itu aja," lirihnya pelan, terdengar begitu rapuh.

Dada Levara berdesir pendar. Sekarang ia paham sepenuhnya alasan di balik sikap nakal dan serampangan bocah ini. Varo tidak benar-benar nakal, ia hanya seorang anak kecil yang ketakutan setengah mati jika satu-satunya kasih sayang yang ia miliki harus terenggut.

"Aunty kan juga keluarga baru Varo sekarang," bisik Levara menenangkan, mengusap punggung Varo penuh kehangatan.

Mendengar itu, Varo mendongak mendadak. Wajah muramnya hilang berganti dengan senyuman lebar yang mengembang cerah. "Onty cayang, mau jadi pacal Valo?"

"Eh?" Levara tersentak kaget, tak menyangka akan ditembak oleh bocah lima tahun. "Ya jangan dong! Bisa ngamuk om-mu nanti."

Varo mengerjapkan matanya polos, lalu menyeringai kecil. "Panggil nanti doktel ceteles, bial macuk lumah cakit olang ceteleees," jawab Varo santai.

"Heuh?"

1
Aprisya
sedih banget😭😭😭😭😭 peyuuuk jauh buat lavera
Aprisya
semoga papa edlan Masih hidup
Aprisya
semoga suatu saat Dante bisa berjalan
Aprisya
Alhamdulilah lavera selamat
juwita
nanti sm othor di kasih istri sholehah🤭🤭
Aprisya
udah kalah tapi Masih sok sokan kamu pak tua bangka bau tanah
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
tak pikir arelio ini pengacara ternyata polisi ya?? 🤔🤔 salah paham sy Thor 🤣
Aprisya
semangat Dante 🥰🥰🥰
🇦 🇵 🇷 🇾👎
aq hdp rp ny ud perg jauh
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bnr kn filing dr awal msik hdp
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Sastri Dalila
👍👍👍
Gustinur Arofah
aku juga 😭😭😭😭😭😭😭😭
Sastri Dalila
🤗🤗
Syifa Azhar
q kira masih bisa bertemu dalam keadaan hidup 😭😭
Humaira
😭😭😭😭😭
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good syg moga brhsl... gk sbr perang
Sastri Dalila
🥺👍
Syifa Azhar
selamat menikmati hadiah utama di depan mata David Veyron 😬😬
Nisa Via
Layu dan gugur yaa Arelio cintamu
sini onty peluk 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!