NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:114.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Aroma karbol yang tajam kian menusuk indra penciuman nya Shanum sebelum kelopak matanya benar-benar terbuka. Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya yang masih kabur. Perlahan, kesadarannya terkumpul, dan hal pertama yang ia ingat adalah hantaman keras mobil hitam itu.

Seketika, tangan Shanum bergerak cepat meraba perutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat jemarinya tidak lagi merasakan gundukan hangat yang selama tujuh bulan ini menjadi tumpuan harapannya. Perutnya kini rata, kosong, dan dingin.

"Bayiku... mana bayiku?!" teriak Shanum. Suaranya pecah, mengguncang kesunyian bangsal rumah sakit.

Pintu terbuka kasar. Bu Siti, sang nenek, melangkah masuk dengan napas tersengal. Melihat cucunya meronta di atas ranjang, air mata wanita tua itu langsung luruh. Ia segera memeluk pundak Shanum yang bergetar hebat.

"Nduk, kamu yang sabar, Nduk... Istighfar," bisik Bu Siti dengan suara parau.

"Nek, mana bayiku, Nek? Katakan padaku dia baik-baik saja, kan! Dia cuma dipindahkan ke ruangan lain, kan?" Shanum mencengkeram lengan baju neneknya, matanya membelalak mencari kepastian.

Bu Siti hanya bisa terdiam, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang lebih dalam. Keheningan itu menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Shanum. Kecelakaan ojek itu telah merenggut segalanya, bayi yang ia pertahankan meski sang suami tega menceraikannya lewat pesan singkat dari negeri seberang sebulan yang lalu. Kini, di saat ia merasa sudah berada di titik nadir, takdir justru merampas satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup.

Dua Minggu Kemudian

Matahari sore menyelinap masuk melalui celah jendela kamar yang remang. Di sudut ruangan, sebuah mesin jahit tua milik mendiang ibunya berdiri membisu. Shanum duduk bersimpuh di lantai, mendekap sepotong baju bayi perempuan berwarna merah muda dengan detail renda yang cantik, baju yang ia jahit sendiri dengan penuh cinta setiap malam.

Ia menciumi kain lembut itu, membayangkan aroma bayi yang seharusnya kini ia timang. Air matanya kembali jatuh membasahi jahitan yang ia buat dengan sisa-sisa harapan.

"Putri kecilku..." bisik Shanum lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sepi. "Rasanya Bunda ingin sekali pergi menyusul mu, Nak. Dunia ini terlalu dingin untuk Bunda hadapi sendirian."

Ia terdiam sejenak, menoleh ke arah pintu kamar di mana terdengar langkah kaki Bu Siti yang menyeret, sesekali terdengar rintihan kecil karena penyakit jantungnya yang sering kumat. Shanum memejamkan mata erat, memeluk baju bayi itu lebih kencang ke dadanya.

"Namun, Bunda tidak bisa meninggalkan Nenek Siti seorang diri di sini. Hanya beliau yang Bunda punya, dan hanya Bunda yang beliau miliki."

Dalam kesedihan yang membiru, Shanum dipaksa untuk tetap bernapas, meski jiwanya seolah sudah ikut terkubur bersama malaikat kecilnya.

*

*

Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari saat kesunyian rumah petak itu pecah oleh suara erangan tertahan. Shanum, yang belum sepenuhnya terlelap karena masih memeluk baju bayi mungilnya, tersentak bangun. Ia mendapati Bu Siti sedang mencengkeram dada kirinya dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin yang membasahi keningnya.

"Nek! Nenek kenapa?" suara Shanum bergetar hebat.

"Sakit, Nduk... rasanya sesak sekali," rintih Bu Siti dengan napas yang tersengal.

Tanpa pikir panjang, Shanum segera mencari bantuan. Dengan sisa tabungan yang kian menipis, ia membawa sang nenek ke Rumah Sakit Citra Medika. Di dalam taksi, pikiran Shanum berkecamuk. Esok pagi seharusnya menjadi hari pertamanya bekerja sebagai ART di sebuah rumah mewah di komplek sebelah. Ia sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk menyambung hidup, namun kini nyawa neneknya sedang di ujung tanduk.

Di Depan Ruang IGD

Setelah pemeriksaan cepat, seorang perawat menghampiri Shanum dengan raut wajahnya yang serius.

"Mbak Shanum, kondisi Bu Siti kritis. Ada penyumbatan serius dan beliau harus segera menjalani operasi pasang ring malam ini juga. Ini rincian biayanya, mohon segera diurus ke bagian administrasi agar tindakan bisa segera dilakukan."

Shanum menerima selembar kertas itu. Angka yang tertera di sana seakan menghantam jantungnya lebih keras dari kecelakaan dua minggu yang lalu. Puluhan juta rupiah. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam?

Shanum terduduk lemas di bangku panjang koridor. Ia menangkupkan wajah ke telapak tangannya. "Ya Allah... kenapa cobaan Mu datang bertubi-tubi? Bayiku pergi, suamiku berkhianat, dan sekarang Nenek..." ia berbisik lirih, hampir menyerah pada takdir.

Namun, di tengah keputusasaannya, deru langkah kaki yang tegas mendekat. Seorang pria tinggi dengan jas putih dokter yang rapi lewat di depannya. Di belakangnya, beberapa asisten tampak sibuk mencatat instruksinya.

"Siapkan ruang operasi sekarang. Saya yang akan menangani pasien serangan jantung di bed nomor tiga," ucap dokter itu dengan suara bariton yang tenang namun penuh wibawa.

Ia adalah Dokter Daniel Lee, seorang spesialis jantung yang baru saja dipindahtugaskan dari salah satu rumah sakit ternama di Singapura. Kabarnya, ia adalah "si tangan dingin" yang sanggup menyelamatkan nyawa di saat-saat paling kritis sekalipun.

*

*

Sore itu, Shanum kembali ke rumah sakit dengan tubuh yang letih luar biasa setelah seharian bekerja di rumah majikan barunya. Ia beruntung sang majikan memberinya izin pulang lebih awal setelah mendengar musibah yang menimpanya.

Di lobi, ia berpapasan dengan Pak Budi, petugas keamanan rumah sakit yang sudah mengenalnya sejak lama.

"Mbak Shanum! Wajahnya kok kuyu sekali? Oh iya, beruntung sekali Bu Siti ditangani langsung oleh dokter baru itu," sapa Pak Budi ramah.

"Dokter baru, Pak?" tanya Shanum bingung.

"Lho, Mbak belum tahu? Itu Dokter Daniel Lee. Dia baru pindah dari Singapura. Bukan cuma hebat dan masuk banyak artikel kesehatan internasional, tapi beliau itu terkenal sangat dermawan. Sering sekali membantu biaya pasien yang kurang mampu kalau beliau lihat keluarganya sungguh-sungguh ingin sembuh," jelas Pak Budi antusias.

Mendengar hal itu, ada binar harapan yang kembali menyala di matanya Shanum. Ia teringat sosok dokter yang ia lihat sekilas semalam, sosok yang terlihat begitu tenang namun mematikan keputusasaan.

"Dokter Daniel Lee..." gumam Shanum. "Apakah beliau jawaban dari doa-doaku, Pak?"

Shanum segera melangkah menuju ruang rawat kelas tiga, tempat neneknya berada. Ia bertekad untuk mencari keberanian menemui Dokter Daniel. Bukan hanya untuk memohon kesembuhan neneknya, tapi juga untuk berterima kasih karena telah memberi secercah cahaya di tengah kegelapan hidupnya yang seolah tak berujung.

Bersambung...

1
Kusii Yaati
dan... Daniel kayaknya kamu butuh obat tensi deh,biar emosimu agak terkontrol 😩
Patrick Khan
aku suka😍😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih akak cantik 🙏😉
total 1 replies
Patrick Khan
cemburu emang merusak akal kok..🤸🤸🤸
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju
total 1 replies
Patrick Khan
nangis q nenek ketemu natan..eh oas ketemu sanum dredeg kan tenan ..gelut meh🤣🤣🤣🤸
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gelut kak, biar seru 🤣🤣🤣
total 1 replies
~Ni Inda~
Yaaaa...bodohhh
Aihhh...dokter kok bodoh
Beginilah klw emosi menguasai diri...logika mati apalagi matahati...tak dihiraukan
Minta maaf sm abang ipar...obatin luka yg kau beri tadi...baik²in dia...jgn sampai Shanum dibawa pergi 🤣🤣🤣
~Ni Inda~: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
Patrick Khan
wes karepmu lah sanum danil😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
~Ni Inda~
Weslah Niel
Seterahmulahhh
Asal jgn nyesel aja ntar
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
wes km golek perkoro num🤣🤣🤣
Patrick Khan
sanum golek perkoro..gk tau jujur yoan gregetan q😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: awas nanti tensimu naik, kak 🤣🤣🤣
total 3 replies
Teh Euis Tea
maka Daniel jgn emosi aj di duluin klu udah begini kan jd malu, harusnya km dengerin dulu cerita Nathan kan km seorang dokter berpendidikan tinggi tp kalah sm emosi
deuhh jd pengen nyubit othor saking gemesnya🤭🤭🤭🤭🤭
Kusii Yaati: betul Thor, mereka klop sama" menjengkelkan ,aq aja sampai gregetan bawaannya pengen misuh" 😂
total 6 replies
Lisa
Makanya dengerin dulu penjelasan dari Nathan..jgn keburu emosi aj Daniel..
dewi rofiqoh
Mungkin jika Nathan gk langsung main peluk, daniel gk bakalan langsung ngamuk🤔🤔
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul, kak 🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
makany Daniel jadi laki2 jgn emosian tuh ka alu sendiri jadinya bukannya cari tau siapa Natha alah lgsg baku ha tam aja hadeeeh trauma sih trauma tp ga gitu jg kali
Ariany Sudjana
katanya dokter itu Daniel, tapi bodohnya kebangetan. katanya punya banyak anak buah, tapi ga mau cari tahu kebenarannya, sebelum bertindak, dasar bodoh
sri hastuti
akhirnya terungkap ,jd daniel bisa lega, dan traumanya bisa sembuh, sebab shanum tdk berbuat macam2, tetap setia , karena nathan adalah kakaknya kandung 👍👍
Lisa
Daniel ini emosi melulu..seharusnya ditanya dulu kenapa Nathan memeluk Shanum..
Teh Euis Tea
aku ikutan sedih 😢😢😢😢😢 dgn ucapan Daniel yg merendahin Shanum, emang Shanum salah dan Daniel trauma tp ya ga begitu jg x Daniel klu udah gitu jd nyakitin hati shanum
Ariany Sudjana
bodoh kamu Daniel, dokter tapi emosi tinggi, kamu banyak punya anak buah, tapi bukannya cari kebenarannya, malah sibuk menghajar orang lain
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dia gk kepikiran kesitu kak, logikanya tertutup oleh rasa cemburunya
total 1 replies
Ilfa Yarni
tuhkan shanum benarlah arumi adiknya nayhan tp aka kah shanum percaya dgn apa yg dikatakan nathan nantinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semoga saja percaya Bun
total 1 replies
Ani
kenapa nenek siti gak dibawa sekalian sih.. kan jadi salah paham lagi.. Daniel kok yo gak bisa nahan emosi sih..
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aku juga genes kak🤣😉
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!