Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Bab 18 Istri Polos Tuan Garra
"Elisa ... mungkin sebelumnya aku terlalu lunak padamu. Kali ini, aku tidak akan seperti kemarin. Sekarang ... kau tangan tangan!"
Pak Garra menarik tangan Elisa. Tangan Garra uang satunya mengambil bolpoin. Minta agar Elisa langsung tanda tangan.
"Nggak! Saya Nggak mau ... tolong jangan paksa saya. Biarkan saya membesarkan anak ini. Saya sudah gak punya siapa-siapa ... saya hanya punya anak ini," mata Elisa memerah.
Bulir bening menetes jatuh ke pipi. Sepertinya dia benar-benar ditekan oleh keadaan.
Anggara yang tadi sempat dingin, ia melepaskan tangan Elisa. Gadis itu memohon dan sampai mengeluarkan air mata. Bukan sedang akting, Garra mungkin merasa sedikit kasihan.
"Keluar sekarang!" usirnya.
Elisa tak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung jalan cepat meninggalkan Garra sendiri.
Saat Elisa sudah pergi, mata Anggara menatap map itu.
"Dia tidak mau tanda tangan ... dia mau anak itu? Tidak mungkin. Untuk hidup layak saja dia tak bisa! Aku harus cari cara, agar dia segera tanda tangan!"
Di dalam kamarnya.
Elisa langsung menelpon Susan di dalam kamar mandi. Dia tahu, Cctv di mana-mana. Paling aman cuma di dalam kamar mandi.
Tuttt!!!
Panggilan pertama tak kunjung diangkat. Elisa mulai gelisah. Ia menelpon lagi.
Barulah diangkat.
"Susan!!! Hallo!!"
Susan yang baru saja ke kamar, dia menutup pintu dan mengambil headset.
"Eh, Lis. Bagaimana kabarmu?"
"Susan ... tolong aku."
"Eh, kenapa bisik-bisik. Hallo ... Lis. Kamu gak apa-apa kan? Kamu kenapa?"
Elisa sudah memutuskan, dia lebih baik pergi dari Tuan Garra tersebut. Pria itu hanya mau anaknya. Elisa sebatang kara, dia juga ingin anak itu. Jalan satu-satunya adalah kabur.
Ia mau minta tolong pada Susan, untuk menjemputnya. Tentunya harus hati-hati
Biar tidak ada yang curiga. Karena penjaga di sana lumayan ketat.
Elisa di telepon pun menjelaskan panjang lebar. Mau tak mau, dia mengaku. Apa yang sebenarnya terjadi.
Jelas Susan dibuat kaget dan tak percaya. Sang sahabat dalam masalah yang serius.
"Lisa ... tenang. Kamu tenang.. jadi, kamu kemarin bohong sama aku? Itu cuma karangan kamu? Jadi kamu hamil anak laki-laki kaya itu?" Susan bertanya dengan detail. Karena dia masih tak percaya.
"Benar," Elisa menjawab singkat. Matanya tertuju pada pintu kamar mandi. Takut tiba-tiba ada yang masuk dan mendengar.
"Ya ampun ... terus? Bukannya kamu harus senang? Dia bawa kamu ke tempat tinggalnya. Dia pasti mau tanggung jawab, Lis."
Hening
Terdengar Elisa menyusut hidung, sepertinya dia menangis diam-diam.
"Dia cuma mau anak ini, San. Dia suruh aku tanda tangan juga tadi."
"Maksud kamu, Lis? Tunggu ... Aku belum paham."
Elisa mencoba menjelaskan, meskipun suaranya sudah serak dan hidungnya buntu.
"Dia cuma anak yang aku kandung."
"Hah???? Gila. Laki-laki gak bermoral!!!" maki Susan kelepasan.
"Tolong nanti aku, San. Bantu aku keluar dari sini. Nanti, aku bisa cari cara untuk keluar, tapi kamu tolong aku ... jemput aku."
"Tenang ... jangan panik. Aku mau bahas masalah ini sama Mas Dimas. Pasti dia bisa bantu!"
"Makasih Susan, maaf ... aku harus menyeret kamu ke masalahku."
"Jangan khawatir, aku sudah anggap kamu sodara. Sekarang kamu tenang, kita atur pelan-pelan. Jangan gegabah, aku takut dia nyakitin kamu, Lis."
Tok tok tok
Terdengar suara pintu kamar diketuk.
"San, sudah dulu! Aku matikan telepon!" ucap Elisa buru-buru.
Elisa merapikan pakaiannya, dia keluar dan membuka pintu.
Cukup kaget, di depan ada Anggara yang berdiri sambil menyandarkan kepalanya di tembok kamarnya. Di satu tangannya, memegang gelas, berisi minuman warna merah pekat.
Aroma alkohol terasa, sepertinya Anggra habis minum.
"Kenapa anda ke mari!" tanya Elisa takut. Mungkin karena bau alkohol.
Anggara meminum sampai gelasnya kosong, kemudian dia maju. Hingga cuma berjarak sejengkal, Elisa reflek mundur. Namun, tangan Garra mencengkram satu lengannya.
"Anda mau apa? Tolong lepaskan!"
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,