NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

si biang kerok

Suara deru mesin motor berkapasitas besar itu memecah ketenangan area parkir gedung F-2 siang itu.

Tanpa aba-aba, motor sport hitam mulus itu melaju kencang, lalu melakukan pengereman mendadak yang sengaja hingga ban belakangnya meraung keras, meninggalkan jejak karet hitam yang membekas tebal di atas semen.

​Asap tipis mengepul, diiringi tepuk tangan dan sorakan riuh dari beberapa mahasiswa yang nongkrong di atas kap mobil.

​Di atas motor itu, Devan menyeringai kecil. Ia membuka helm full face-nya, mengibaskan rambut hitamnya yang agak berantakan, lalu turun dengan santai.

Jaket kulit hitam legam yang sudah jadi ciri khasnya terpasang rapi, membungkus posturnya yang tinggi dan tegap. Sesuai reputasinya, kalau Devan sudah datang, suasana kampus yang tadinya damai pasti langsung berubah jadi tegang.

​"Van! Gila lu, parkiran dosen lu jadiin arena drift!" seru Bimo, salah satu temannya yang langsung menghampiri sambil tertawa lepas. "Nanti Pak Surya lihat, habis lu dipanggil ke ruang Dekan lagi."

​"Biarin," jawab Devan pendek. Suaranya berat dan terkesan malas. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil sebatang rokok tapi tidak menyalakannya, hanya diselipkan di belahan bibirnya.

"Dia paling cuma bisa mengoceh. Lagian parkiran depan penuh, malas gue muter-muter."

​"Tapi tempat yang lu tabrak tadi itu tempat mobilnya Senat Mahasiswa, Dev," timpal Rian, teman Devan yang satu lagi, sambil menunjuk ke arah mobil sedan putih yang bumper belakangnya sedikit tergores akibat gesekan ban motor Devan.

​Devan melirik sekilas, sama sekali tak memperlihatkan rasa bersalah. "Salah sendiri parkir miring begitu. Makan tempat."

​Belum sempat Bimo merespons, suara langkah kaki yang terburu-buru dan ketukan sepatu balet yang khas terdengar mendekat. Suara itu makin lama makin cepat, diiringi napas yang terengah-engah.

​"Devan!"

​Panggilan itu tidak bernada tinggi, tapi tegas dan penuh kekesalan. Devan yang tadinya hendak berjalan santai menuju koridor langsung menghentikan langkahnya. Punggungnya mendadak kaku. Ia tahu betul siapa pemilik suara halus yang berani menyebut namanya tanpa rasa takut itu.

​Devan berbalik lambat-lambat. Di depannya, berdiri seorang gadis dengan kemeja krem rapi, rok lipat di bawah lutut, dan rambut cokelat yang diikat asal.

Aura. Gadis pintar dari jurusan Manajemen yang selalu diandalkan para dosen, dan orang yang paling Devan hindari untuk berada di dekatnya—sekaligus orang yang paling sering menghiasi isi pikirannya.

​Aura berdiri beberapa langkah dari Devan. Matanya yang jernih menatap tajam ke arah Devan, lalu beralih melihat goresan di bumper mobil sedan putih yang ada di belakang motor besar itu.

​"Kamu sengaja, ya?" tanya Aura langsung. Bahunya naik turun karena menahan emosi. "Kamu tahu kan itu mobil panitia untuk acara seminar besok? Kenapa kamu selalu bikin ulah di mana-mana, sih?"

​Devan memasang wajah sedingin mungkin. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit, berusaha keras menutupi detak jantungnya yang mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

​"Gue nggak sengaja," jawab Devan datar.

​"Gue?" Aura memicingkan mata, makin kesal dengan respons Devan yang terlalu santai. "Kamu tuh ya, ditanya baik-baik malah jawabnya ogah-ogahan. Lihat ini, bumpernya tergores! Kamu mau tanggung jawab, nggak?"

​"Kan gue udah bilang, gue nggak sengaja, Aura," kata Devan pelan, kali ini menekankan setiap kata. Mengetikkan nama gadis itu di tenggorokannya saja selalu berhasil membuat Devan merasa aneh.

"Lagian mobilnya cuma lecet dikit. Tinggal dibawa ke bengkel, beres."

​"Dikit kamu bilang?" Aura melangkah mendekat, membuat jarak di antara mereka makin terkikis.

Bau harum samar aroma vanila dari tubuh Aura langsung tercium oleh Devan, membuat cowok itu harus sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mundur.

​"Mobil ini mau dipakai buat jemput pembicara besok pagi, Devan. Kalau lecet begini, panitia yang kena marah. Kamu mikir sampai ke sana nggak, sih?" Aura menatap lurus ke mata Devan. Ada raut lelah dan frustrasi di wajah gadis itu. "Kenapa sih kamu selalu bertindak seenaknya? Kamu pikir kampus ini punya kamu?"

​Beberapa mahasiswa di sekitar tempat parkir mulai berbisik-bisik. Sudah jadi rahasia umum kalau tidak ada yang berani memarahi Devan secara terang-terangan seperti ini. Tapi Aura beda. Gadis itu tidak peduli seberapa ditakutinya Devan di kampus.

​Bimo yang merasa suasana mulai makin panas mencoba menengahi. "Eh, Ra... santai dulu. Nanti biaya catnya gue yang urus deh, gampang—"

​"Aku nggak bicara sama kamu, Bim," potong Aura tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan. "Aku mau Devan yang jawab. Kamu punya rasa tanggung jawab nggak, sih?"

​Devan mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Tatapan mata Aura yang begitu dekat rasanya membakar dirinya. Ia sangat ingin bilang kalau ia akan membetulkan mobil itu sekarang juga, atau membelikan yang baru sekalian demi melihat senyum di wajah Aura. Tapi Devan paham siapa dirinya.

Di mata semua orang, termasuk Aura, dia cuma bad boy urakan yang suka bikin onar. Dan Devan harus tetap mempertahankan benteng itu agar tidak ada satu orang pun—terutama Aura—yang bisa menebak rahasia terbesarnya.

​"Kalau aku nggak mau tanggung jawab, kamu mau apa?" tantang Devan. Suaranya dibuat sedingin dan seangkuh mungkin, meski hatinya meringis saat melihat kilatan rasa kecewa di mata Aura.

​Aura menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang memuncak. Ia menatap Devan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya.

​"Kamu benar-benar nggak punya empati, ya," ucap Aura pelan, tapi kata-katanya menusuk tepat di dada Devan. "Aku kasihan sama kamu, Devan. Kamu cuma tahu cara merusak hal-hal di sekitar kamu."

​Aura menggelengkan kepala, lalu berbalik hendak meninggalkan tempat parkir.

​Namun, saat Aura membalikkan badan, tas kain yang ia cangklong di bahunya tersenggol stang motor besar Devan. Tali tas itu tersangkut, membuat tas Aura tertarik keras dan terlepas dari genggamannya. Isi tasnya langsung berhamburan jatuh di atas semen tempat parkir yang kotor.

​Buku-buku catatan, alat tulis, map dokumen, hingga sebuah album foto kecil yang bersampul kain warna cokelat ikut terlempar keluar.

​"Aduh!" Aura merintih kaget, lalu cepat-cepat berlutut untuk membereskan barang-barangnya yang berserakan.

​Devan refleks ikut berlutut. Tangannya bergerak cepat ingin membantu mengambilkan barang-barang gadis itu. "Sini, aku bantu—"

​"Nggak usah! Jangan sentuh barang-barang aku!" seru Aura sambil menepis tangan Devan dengan agak kasar.

​Tapi gerakan Devan kalah cepat dengan embusan angin siang itu. Angin kencang mendadak bertiup, menyapu album foto kecil bersampul kain milik Aura yang tadi terjatuh dalam posisi terbuka. Lembar demi lembar album itu terkuak karena terpaan angin, lalu terhenti di satu halaman tepat di depan lutut Devan.

​Devan berniat mengambil album itu untuk mengembalikannya pada Aura. Namun, begitu matanya menatap lembaran kertas foto di dalam album tersebut, napas Devan mendadak tertahan. Tangannya membeku di udara.

​Di dalam album pribadi milik Aura itu, tertempel rapi beberapa lembar foto diri Aura sendiri yang diambil dari sudut-sudut kampus secara estetis. Dan Devan mengenali betul sudut pengambilan gambar, pencahayaan, serta gaya editan foto tersebut. Itu adalah foto-foto yang diambil menggunakan kamera DSLR lawas miliknya—foto-foto yang selama ini hanya ia unggah secara rahasia di akun anonim miliknya, @BehindTheLens.

​Bagaimana bisa foto-foto rahasia buatan Devan ada di dalam album pribadi milik Aura?

​Aura yang menyadari Devan mematung menatap album itu langsung kaget. Wajahnya seketika pucat pasi. Dengan panik dan napas memburu, Aura merampas album itu dari lantai sebelum Devan sempat memegangnya.

​"Jangan lihat!" jerit Aura dengan suara bergetar.

​Devan perlahan mendongak, menatap mata Aura yang kini dipenuhi rasa panik dan gelisah yang luar biasa.

​"Aura..." Suara Devan terdengar bergetar, sirna sudah gaya angkuh dan dinginnya yang tadi. "Foto-foto itu... kamu dapat dari mana?"

​Aura memeluk album itu erat-erat di dadanya, melangkah mundur beberapa tindak sambil menatap Devan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!