Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tanpa menunggu tanggapan lebih jauh dari kedua orang tuanya, Aisha memutar tubuhnya lalu melangkah menuju pintu keluar rumah.
Melihat gerakan itu, Zavran tersentak. Pria itu melangkah kencang, menyambar pergelangan tangan Aisha sebelum gadis itu sempat menyentuh daun pintu.
"Mau ke mana kamu?!" bentak Zavran. "Kamu mau lari juga seperti kakakmu?!"
Aisha menghentikan langkahnya, menepis kasar tangan Zavran lalu berbalik menatap langsung ke dalam manik mata pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kamu tidak dengar saya bilang apa tadi?!" sembur Aisha.
Zavran mengerutkan kening kencang, terperanjat mendengar nada bicara Aisha yang begitu menantang.
Pria yang semula sangat dominan itu mendadak ragu, menatap gadis bergamis dan berhijab di depannya dengan pendar ketidakpastian.
"Kamu... kamu ingin menikah denganku..." jawab Zavran tak percaya bahwa gadis yang beberapa detik lalu menolaknya mentah-mentah kini berdiri tegap menyatakan hal itu.
"Nah, dengarkan?! Apa perlu diulangi lagi?" sahut Aisha dingin. "Ayo! Sekarang kita ke meja akad!"
Aisha hendak berbalik lagi menuju pintu depan, namun Zavran buru-buru menahannya kembali. Matanya menyapu penampilan Aisha dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Dengan pakaian seperti ini?!" tanya Zavran dengan dahi berkerut dalam, menunjuk pakaian Aisha yang jauh dari kesan formal, apalagi sebuah acara pernikahan.
"Iya!"
"Tidak bisa!" potong Zavran tegas. "Kamu harus ganti pakaian dulu!"
"Nggak!" bentak Aisha keras. "Aku cuma menggantikan posisinya! Dan aku tidak akan pernah memakai gaun pengantin milik dia!"
"Aisha, tidak bisa!" bentak Zavran balik.
"Pernikahan ini sakral! Meskipun saya tahu kamu tidak menginginkan semua ini, tapi jangan permalukan diri kamu sendiri di depan orang banyak! Jangan buat acara ini terlihat seperti lelucon!"
Aisha tertawa sumbang. "Lelucon? Bukannya sejak awal semua ini memang lelucon yang kalian buat untuk saya?!"
"Cukup!" sela Zavran, tak memberi ruang untuk perdebatan lagi. "Ikut saya ke atas!"
Tanpa memedulikan pemberontakan Aisha, Zavran mencengkeram erat pergelangan tangan gadis itu. Aisha tak berdaya ketika diseret secara paksa melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Sambil melangkah menarik Aisha, Zavran mendongak tajam menatap Pak Abdullah dan Ayah Aisha yang berdiri kaku.
"Yah! Bilang ke Penghulu dan tamu di luar untuk menunggu sebentar lagi!" seru Zavran. "Kami butuh waktu sepuluh menit!"
Pak Abdullah mengangguk kaku, buru-buru menuju area luar untuk menenangkan para tamu dan Pak Penghulu.
Begitu sampai di ambang pintu kamar pengantin lantai dua, Zavran menghentikan langkahnya.
Matanya yang tajam menangkap sosok Maya yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak ketakutan.
"Kamu!" panggil Zavran dingin pada Maya.
Maya tersentak hebat, meremas jemarinya yang gemetar. "I-iya, Mas...?"
"Masuk ke dalam!" perintah Zavran. "Bantu dia berganti pakaian sekarang juga! Dan berikan riasan di wajahnya kalau perlu. Saya beri waktu sepuluh menit, tidak lebih!"
"Ba-baik, Mas! Baik!"
Zavran lalu menoleh pada Aisha, mendorong gadis itu masuk ke dalam kamar dengan dorongan pelan namun tegas.
"Sepuluh menit, Aisha," bisik Zavran di samping telinga Aisha. "Ganti pakaianmu, atau saya sendiri yang akan memaksamu turun ke meja akad dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Brak!
Zavran menutup pintu kamar dengan kencang, meninggalkan Aisha yang berdiri mematung di tengah ruangan yang hancur berantakan, berdua dengan Maya yang gemetar menatapnya.
**
Di dalam kamar pengantin, kebaya pengantin putih bernilai puluhan juta milik Melani masih tergeletak berantakan di atas lantai.
Aisha berdiri mematung di dekat cermin besar.
Maya melangkah mendekat dengan jemari gemetar.
Dengan hati-hati, ia mengambil sebuah gaun kebaya cadangan berwarna krem lembut berhias payet sederhana dari dalam lemari, busana yang disiapkan untuk acara keluarga malam nanti.
"Mbak Aisha..." panggil Maya lirih. "Mari, Maya bantu ganti baju..."
Aisha tidak langsung bergerak. Tatapannya kosong memandangi kebaya putih yang tergeletak di lantai, lalu perlahan menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Pipi kirinya masih memerah membekaskan rasa panas akibat tamparan keras Ayahnya beberapa menit lalu.
"Lucu ya, Maya..." bisik Aisha dengan suara bergetar pelan, menyunggingkan senyum tawar yang begitu hancur.
"Aku terbang puluhan ribu kilometer dari Skotlandia... bayangin bakal meluk Ayah sama Ibu, cerita betapa kangennya aku sama rumah... Tapi ternyata aku pulang cuma buat jadi tumbal."
Air mata Maya akhirnya menetes melintasi pipinya. Ia memegang kedua bahu Aisha lembut dari belakang, berusaha menyalurkan sedikit kehangatan di tengah badai yang menghancurkan saudaranya itu.
"Mbak... jangan bicara seperti itu, Mbak..." tangis Maya pecah pelan. "Maya nggak sanggup liat Mbak Aisha diginiin... Mbak nggak salah apa-apa..."
"Nggak salah?" Aisha tertawa hambar.
"Kata Ayah tadi, aku yang salah, May. Aku yang salah karena nggak mau sama Adit... Aku yang salah karena nggak pernah ada di sini saat Melani butuh. padahal... padahal selama ini aku yang selalu ngalah. Aku yang selalu dibuang..."
Aisha meremas ujung gamisnya erat-erat. "Setiap kali Melani minta sesuatu, aku yang harus ngalah. Setiap kali Melani ada masalah, aku yang dituntut ngertiin. Dan sekarang... saat dia hamil anak laki-laki lain dan kabur dari tanggung jawab, aku yang harus bayar kebodohan dia pakai hidupku?"
"Mbak Aisha..." Maya menyeka air matanya dengan kasar, lalu mulai melepas resleting gamid Aisha dan membantunya membalutkan kebaya krem tersebut ke tubuh Aisha yang terasa dingin kaku.
"Kalau Mbak memang nggak mau... Mbak kabur saja lewat jendela samping seperti Mbak Melani! Maya yang bakal tahan Mas Zavran di luar!"
Aisha menghentikan tangan Maya yang sedang merapikan lipatan kain di pinggangnya. Aisha menoleh, menatap mata sepupunya lekat-lekat.
"Kabur?" bisik Aisha pelan, sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Ke mana aku harus kabur, Maya? Rumah yang harusnya jadi tempat aku pulang saja sudah nggak menginginkan aku lagi. Kalau aku kabur, Ayah bakal jantungan, nama keluarga ininakan tercoreng dan mereka bakal makin benci sama aku seumur hidup."
Aisha menghela napas panjang. Ia membiarkan Maya menyematkan beberapa jarum di jilbab krem polosnya dan menyapu sisa-sisa air mata di pipinya.
"Mungkin ini memang jalanku, May..." tutur Aisha pasrah, menatap pantulan dirinya yang kini sudah berbalut kebaya.
"Lelaki di luar sana... Zavran... dia tidak mencintaiku, dan aku tidak mengenal dia sepenuhnya. Tapi kalau ini satu-satunya cara supaya Ayah dan Ibu puas memanfaatkan hidupku... biar aku jalani."
Maya memeluk tubuh Aisha rapat-rapat dari belakang, terisak sesenggukan di bahu sepupunya.
"Maafkan Tante dan Om ya, Mbak... Maafkan kami semua yang nggak bisa lindungin Mbak Aisha..."
"Nggak apa-apa, Maya," bisik Aisha, mengelus lembut lengan sepupunya. "Terima kasih ya sudah bantu aku..."
Tuk... Tuk...
Suara ketukan pintu yang keras memotong keheningan haru di antara mereka.
"Waktu sepuluh menit sudah habis!" suara Zavran terdengar tegas dari balik pintu. "Keluar sekarang, Aisha.