Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Perasaan Romeo
Romeo mulai merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Dulu, dia tidak yakin apa yang sebenarnya ia rasakan untuk Tina. Mungkin, pernikahan mereka yang diawali dengan perjodohan membuatnya bingung, apakah ini cinta atau hanya kewajiban.
Tapi kini, setelah melalui berbagai momen bersama—dari canda tawa hingga perdebatan kecil—dia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ikatan pernikahan.
Malam-malam panjang di mana ia melihat Tina tertidur, perasaan nyaman saat ia membalurkan minyak di perutnya, dan cemburu kecil yang timbul saat melihatnya dengan orang lain, membuatnya sadar.
Mungkin, dia sudah jatuh cinta pada Tina. Perasaan ini datang perlahan, tumbuh dari perhatian-perhatian kecil yang mereka berikan satu sama lain.
Romeo tahu, cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan atau ditentukan sejak awal. Tapi sekarang, ia merasa bahwa ia tidak bisa lagi mengabaikan perasaannya. Mungkin, inilah waktunya untuk benar-benar menerima Tina bukan hanya sebagai istrinya, tetapi sebagai teman hidup yang akan menemani sepanjang perjalanan yang panjang ini.
"Selamanya itu sangat lama," pikirnya. Tapi kini, selamanya tidak terasa menakutkan. Justru, selamanya bersama Tina terdengar seperti masa depan yang dia inginkan.
...****************...
Pagi itu, Romeo terbangun lebih awal dari biasanya. Ia menatap Tina yang masih terlelap di sampingnya sejenak, sebelum memutuskan untuk bangun dan bersiap-siap ke kantor. Hari ini adalah hari Senin, dan ia tahu akan jadi hari yang sibuk.
Sementara itu, Tina juga terbangun tidak lama setelahnya, lalu segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sebagai guru, Tina juga punya tanggung jawab besar hari ini dengan upacara bendera di sekolah.
Mereka berdua tak sempat berbicara banyak di pagi yang terburu-buru ini. Setelah sarapan, Romeo mengucapkan selamat tinggal dan mencium kening Tina sebelum bergegas keluar menuju kantornya. Tina tersenyum tipis dan kembali fokus pada tugasnya, menyiapkan diri untuk sekolah.
Saat tiba di kantor, Romeo menyadari bahwa hari itu lebih sibuk dari yang ia bayangkan. Setelah beberapa pertemuan, klien penting menuntut pembahasan yang lebih panjang. Di sela-sela waktu istirahat, Romeo mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Tina.
Hari mulai malam, Romeo masih sibuk dengan komputernya membuat data untuk meeting tentang project akhir tahun. Karena bos besar akan diganti, jadi selama ini para karyawan belum tau siapa yang akan menjadi calon direktur utama.
"Romeo? Lo masih sibuk aja?" tanya Choki pada sahabatnya itu, sekarang Romeo adalah manajer di divisi pemasaran.
Romeo mengangkat kepala sebentar, wajahnya sedikit lelah tapi tetap fokus, "Iya nih Choki... Data ini harus kelar sebelum besok pagi, pasalnya calon direktur baru kemungkinan bakal cek langsung hasil kerjaan kita semua. Gue juga pengen cepat-cepat pulang buat nemenin Tina," ujarnya sambil kembali melihat layar monitor yang penuh dengan angka dan grafik.
Choki mendekat dan bersandar di meja kerja Romeo, "Waduh, Lo ini ya... Baru aja benerin hubungan sama istri, jangan lagi jadi orang kantoran yang selalu ngeles di kantor ya. Lagian tentang bos baru itu, kabarnya anak direktur utama bahkan ada yang bilang orangnya cukup ketat sama timnya," katanya dengan nada yang sedikit misterius.
"Ya makanya Lo lihat sendiri kan ya." kata Romeo sambil meraih beberapa kertas-kertas. "Pulang aja, kasian istri lo tinggal terus." ajak Choki lagi lalu membantu Romeo merapikan kertas-kertas di atas mejanya.
Lalu menarik tangan Romeo, mereka terpisah di tempat parkir mobil lalu pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Tina membantu neneknya menyusun makanan untuk makan malam.
Nenek Tina melihat cucunya yang sibuk mengatur hidangan di meja makan, lalu menepuk bahunya lembut, "Tenang saja nak, nanti Romeo pasti cepat datang. Kamu sudah banyak bantu ya, boleh aja istirahat sebentar sambil menunggu dia," ujar nenek dengan senyum hangat.
Tina mengangguk dan menyeka tangan di serbet, mata kadang mengarah ke pintu depan rumah sambil berharap suaminya segera tiba. Setelah menata makanan di meja, Tina masuk ke kamarnya. Tak lupa ia mengirim pesan pada suaminya: "Sayang, hati-hati di jalan ya. Makan malam sudah siap nih."
Setelah mengirim pesan, ia merenung sejenak sambil melihat dekorasi kamar yang mereka susun bersama. Tiba-tiba ia ingat pada sahabatnya yaitu Dinar, yang sudah lama tidak mereka ajak bicara. Tanpa berlama-lama, ia mengambil ponsel dan menekan tombol telepon untuk menghubunginya.
Beberapa detik kemudian telepon terhubung. "Din! Gimana kabarmu? Udah lama nih kita nggak cerita-cerita," ujar Tina dengan nada ceria begitu suara Dinar terdengar di ujung sambungan.
Telepon terhubung, suara Dinar terdengar ceria dari ujung sambungan, "Tinaa! Aaaa kangen banget sama lo!"
"Iya Din, iya gue juga! Udah lama nih kita nggak bisa cerita-cerita langsung kaya gini."
Dinar senang karena Tina akhirnya menghubunginya, "Bener banget! Nah,kenapa telpon pasti ada apa-apanya."
Tina melihat jam dinding, lalu memulai pertanyaan. "Emm... Din, gue bingung deh sebenernya. Romeo akhir-akhir ini kayak cuek banget, sibuk terus dengan kerjaannya, jarang bisa ngomong panjang. Gue ngerasa kayak gue yang selalu ngejar dia terus..."
Dinar mengangguk mengerti,"Oh, gitu ya? Hmm.. Gue kasih saran ya, Tin, kayaknya lo harus kasih dia 'jatah' deh. Siapa tau dia jadi lebih perhatian kalo lo mulai ambil langkah itu. Mungkin itu yang dia tunggu. Dateng Dateng malah curhat."
Tina menghela napasnya,"Tapi gak apa-apa, Mungkin gue punya solusi, Gak apa-apa apapun itu."
Dinar tersenyum jahil tetapi tak bisa di lihat oleh Tina, "Oh, gitu ya? Hmm.. Gue kasih saran ya, Tin, kayaknya lo harus kasih dia 'jatah' deh."
Tina mengerutkan keningnya, ia merasa deg-degan mendengarnya, kemungkinan ini belum kepikiran. "Hah? Gue malu Din ngomongin beginian. Lagian ini kan perjodohan, gue sama Romeo masih berusaha kenal satu sama lain."
Dinar menjawab dengan tenang," Tin, lo kan udah nikah, perjodohan atau bukan, itu suami lo. Mungkin ada yang berubah sama Romeo, tapi lo belum pernah kasih 'hak' dia sebagai suami kan? Coba aja deh, mungkin itu bisa bikin dia lebih tertarik buat perhatiin lo."
Tina tau maksud dari Dinar, tetapi ia masih ragu dengan kemampuannya ini,"Gue nggak tau, Din... Kayaknya gue butuh waktu buat mikirin ini."
Dinar, menghela napasnya mengerti perasaan Tina."Ya nggak apa-apa, tapi jangan kelamaan, Tin. Siapa tau ini bisa jadi solusi buat lo berdua. Kadang komunikasi fisik juga penting dalam hubungan."
"Apa gue nanya aja sama dia soal itu?" Kata Tina yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Kalau pengalaman gue sih, pancing aja, biar nggak keliatan lo yang mulai duluan." Kata Dinar yang mulai jahil.
"Tapi gue gak bisa mancing hal kayak gitu."
"Tenang aja, gue kasih tau caranya. Mulai dari yang simpel dulu. Kayak pas lo lagi berdua, lo bisa bilang kalau lo kangen ngobrol yang lebih deket sama dia. Nggak usah langsung ke inti, tapi biar dia yang mulai tangkap sinyalnya."
"Duh, gimana ya... Gue masih bingung." Kata Tina lagi masih bingung.
Dinar menasehati Tina,"Santai aja, Tin. Lo bisa coba pas suasananya santai. Lo udah nikah, jadi lo berhak untuk ngobrol soal apapun yang penting buat hubungan kalian."
"Kalian kan udah biasa dari SMP,Kenapa hal begini gak bisa?"
"Yaiyalah beda itu pas SMP mana tau begitu."
Dinar tertawa pelan,"Boong banget."
"Trus gue harus mulai darimana? Gue bingung."
Dinar menjelaskan,"Mulai dari yang ringan aja. Pas kalian lagi berdua, coba tanyain soal hari-harinya dulu. Misalnya, ‘Gimana kerjaan kamu?’ atau ‘Kamu lagi capek ya?’ Dari situ, lo bisa pelan-pelan buka obrolan tentang perasaan lo. Kayak, ‘Aku ngerasa kita udah jarang ngobrol deket kayak dulu.’ Gitu-gitu aja dulu."
"Hmm, oke. Tapi kalau dia cuma jawab singkat atau nggak nangkep gimana?" Tanya Tina pada Dinar.
"Hmm, oke. Tapi kalau dia cuma jawab singkat atau nggak nangkep gimana?"
"Gak peka ya." ucap Dinar menebak.
"Ya gitu deh." Jawab Tina membenarkan.
Dinar memberikan saran kepada temannya dengan penuh perhatian."Gue yakin kalau dia bakalan peka sama hal begini."
"Kalau gitu, kasih dia waktu buat nangkep sinyalnya. Yang penting, lo udah mulai. Kadang cowok emang gitu, harus dipancing lebih dari sekali baru ngerti. Yang penting, lo nggak terlalu langsung to the point, tapi dia jadi mikir."
"Oke deh, gue coba. Semoga aja berhasil."
"Atau Lo terkam aja dia." Ucap Dinar tawanya terdengar puas.
"Ya kalik gue nerkam." ucapnya sambil tersenyum malu.
"Eh Tina, kayaknya Choki udah pulang nih, gue mau nganu sama dia." ucap Dinar pada Tina sambil tertawa. Tina yang mendengar itu ikut tertawa kikuk.
"Ouh ya, Lo juga jangan lupa praktekin apa yang gue bilang, biar bisa nganu-nganu sama Romeo..." Dinar tertawa terbahak-bahak, namun ketika Tina ingin menjawab tapi Dinar malah mematikan teleponnya.
...****************...
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamarnya terbuka, terlihat Romeo yang baru datang dari kantor. Penampilan Romeo sedikit berantakan dengan lengan kemejanya yang dinaikkan, lalu rambutnya yang sedikit berantakan dan dasinya yang longgar. Sekian kalinya ia sangat terpesona dengan ketampanan Romeo.
Tina langsung berdiri dari tempat duduknya di atas ranjang, wajahnya sedikit terkejut tapi segera berubah menjadi senyum hangat. "Romeo sayang, akhirnya datang juga." ucap Tina lega sambil melangkah mendekat, lalu dengan lembut membersihkan sedikit keringat yang menetes di dahi Romeo.
"Udah makan?" Tanya Romeo pada Tina, ia menggeleng pelan. "Nenek bilang Lo belum makan, malah nunggu gue ya?"
Tina mengangguk perlahan sambil menunduk sedikit, "Iya sayang... gue biasanya makan sama Lo. Nenek sudah makan duluan tadi, dia bilang biarin kita berdua aja."
Romeo menarik Tina lebih dekat dan memeluk pinggangnya lembut, wajahnya menunjukkan rasa bersalah, "Maafin gue ya, kerjaannya memang banyak banget akhir-akhir ini. Kayaknya jadi kurang perhatian sama istriku."