Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
Davis menatap kecewa kepergian Silva dengan salah satu teman cowoknya. Ini yang ketiga kalinya Silva ketahuan olehnya dibonceng cowok itu. Sungguh tidak bisa dibiarkan, lama-lama Silva bisa jadi terus-terusan menerima ajakan temannya itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Silva juga sudah tidak peduli denganku? Jangankan peduli menerima cintaku saja tidak," dengus Davis bingung.
Di tempat yang berbeda, Silva segera menghentikan Ramon, tepat di gang biasa menuju rumahnya. Setiap kali Ramon mengantar, Silva tidak pernah mau diantar sampai rumah. Silva takut, sang mama akan marah jika ia diantar laki-laki selain gojek.
"Ram, sudah di sini saja," hentinya.
Ramon menghentikan motornya dengan mendadak, sehingga membuat dada Silva terdorong ke punggung Ramon.
Silva sedikit meringis merasakan area dadanya sakit.
"Kenapa selalu berhenti di sini, padahal aku ingin sekali-kali antar kamu sampai rumah?"protes Ramon kecewa.
"Maaf, Ram. Mungkin lain kali saja, ya. Ya sudah, aku pulang, ya." Silva segera berlalu tanpa menunggu Ramon bicara lagi. Terpaksa Ramon mengalah, lagipula dia senang akhir-akhir ini Silva berhasil dibujuknya untuk diantar pulang, meskipun hanya sampai gang depan saja.
Lima belas menit kemudian, Silva tiba di rumah. Silva melihat mobil sang papa belum ada di pekarangan, itu artinya kedua orang tuanya belum pulang.
Rumah nampak sepi, meskipun ada Bi Acah pembantu rumah, tapi atmosfernya berbeda. Silva segera menaiki tangga, tiba di lantai dua, kakinya ia tujukan ke kamar bekas Davis yang sudah kosong selama seminggu ini.
Perlahan Silva membuka pintu kamar itu. Di dalamnya gelap, karena lampunya mati dan gordennya tidak dibuka. Silva memasuki kamar itu, lalu menutup pintu kamar perlahan. Ia buka gordennya agar cahaya dari luar bisa masuk ke dalam. Seketika kamar itu terang benderang karena terang dari luar.
Silva membaringkan tubuhnya di atas ranjang Davis. Ada rasa rindu yang menerpa dadanya. Silva terbayang kembali masa-masa selalu digoda dan dihampiri Davis ke kamar, lalu tiba-tiba mencium pipinya dengan gemas.
"Aku sungguh rindu suasana itu. Tapi, aku harus berusaha menghindari Kak Davis sesuai perintah mama," gumamnya. Salah satu cara untuk menghindari Davis, yakni Silva berani menerima tawaran Ramon untuk diberi tumpangan saat pulang. Padahal selama Davis masih menjadi kakaknya di sini, Davis selalu memperingatkannya agar ia tidak pernah menerima ajakan siapapun.
"Maafkan aku, Kak. Aku sudah beberapa kali melanggar perintah kakak. Itu semua semata-mata atas maunya mama. Aku tidak ingin perasaan cinta kakak ke aku terus tumbuh, seperti yang mama mau," gumam Silva lagi seraya menangis. Kali ini dia benar-benar sedih karena begitu merindukan Davis.
Jam menunjukkan pukul enam sore. Silva menggeliatkan tubuhnya di atas ranjang Davis. Setelah kesadarannya sudah sepenuhnya terkumpul, Silva merasa kaget kenapa dirinya bisa-bisanya tertidur di kamarnya bekas Davis.
Silva perlahan bangkit, ia merasakan sangat nyaman ketika tidur di atas ranjang bekas Davis ini. Sebelum beranjak dari kamar Davis, Silva menatap lekat kamar itu dengan tatap sedih.
Deru mobil sang papa sudah terdengar dari pekarangan rumah, tepat Silva keluar dari kamar Davis. Silva segera menuju kamarnya sebelum Mama Verli melihatnya.
"Silva tunggu," tahan Mama Verli. Silva menahan langkahnya. Silva menyesal kenapa tadi tidak segera masuk kamar.
"Ya, Ma," sahutnya seraya membalikan badan. Mama Verli terlihat menyimpan marah, sementara Silva tidak merasa punya salah terhadap sang mama.
"Kamu sudah berani ikut tumpangan orang lain. Bukan sekali mama melihat kamu dibonceng orang dan motor yang sama. Kamu sengaja dekat-dekat laki-laki untuk kamu jadikan pacar?" todong Mama Verli menuduh.
Untuk sejenak Silva hanya terpaku, dia tidak menduga kalau sang mama sudah memergokinya ikut tumpangan Ramon.
"Ti~tidak, Ma. Silva hanya ikut karena terpaksa. Bukankah itu cara yang bisa membuat Kak Davis berhenti mencintai Silva?" tukas Silva sedikit gugup.
"Bukan begitu caranya. Kalau seperti itu, sama saja kamu ingin membuat harga diri kamu jatuh. Mama tidak suka kamu mulai dekat-dekat dengan laki-laki manapun sebelum kamu sukses," tekan Mama Verli tidak suka.
"Maafkan Silva, Ma. Silva terpaksa ikut teman Silva. Lain kali Silva janji tidak akan mau diajak," ucap Silva sembari berlalu. Hal ini membuat Mama Verli meradang, ia seolah tidak dihargai Silva.
"Tunggu sebentar, mama belum selesai, main pergi saja," marahnya sembari menatap tajam ke arah Silva. Silva menahan langkahnya dengan tubuh sedikit merunduk.
"Berbaliklah, tatap wajah mama, jangan membelakangi. Tidak sopan," sentaknya membuat Silva tersentak. Tidak biasanya sang mama marah seperti itu dengan nada yang keras.
Silva membalikkan badan perlahan, saat ini ia merasa sangat takut dengan sang mama yang marah.
"Mama peringatkan sekali lagi, kalau sampai kamu ketahuan menerima ajakan laki-laki manapun, mama tidak segan menghukum kamu. Kamu tahu, kenapa mama marah seperti ini, karena mama takut kamu kebablasan. Mama takut kamu terpengaruh oleh pergaulan yang tidak benar," ujar Mama Verli dengan suara yang masih kencang.
"Iya, Ma. Silva minta maaf."
"Kamu tahu, akibat pergaulan bebas banyak anak muda yang masa depannya sia-sia dan tidak jelas. Hamil duluan, narkoba, minum-minuman keras dan masih banyak lagi. Semua itu hanya akan membuat kita terperosok ke dalam lubang kehinaan."
"Jadi, jangan pernah coba-coba melanggar perintah mama, kecuali kalau kamu mau kembali menjadi seonggok sampah. Mama tidak peduli," tegas Mama Verli sembari berlalu.
Silva tersentak mendengar ucapan terakhir sang mama. Ia begitu sedih, mana mungkin ia memilih menjadi seonggok sampah. Ia saja dulunya bagai seonggok sampah yang secara tidak sengaja ditemukan sang mama kemudian dirawatnya sehingga menjadi seperti ini.
"Maafkan Silva, Ma. Silva tidak bermaksud melanggar perintah mama," batin Silva seraya berjalan menuju kamarnya dengan air mata yang berderai.
Di dalam kamar, Silva belum henti menangis. Dia merasa hidupnya sedih sejak terungkap siapa dirinya sebenarnya, terlebih setelah Davis pergi dari rumah ini.
"Kak Davis, aku kangen kakak." Sembari menangis, Silva berulang kali memanggil nama Davis. Dia begitu merindukan Davis.
Sementara itu, Davis kini sedang bersiap pergi. Salah satu teman letingnya memaksanya untuk dikenalkan dengan salah satu sepupunya.
"Ayolah, Bro, kalau tidak cocok, kamu tinggal bilang saja. Kalau cocok, lanjutkan dan gaskan," ujar Dewa sangat mendukung.
Dengan terpaksa Davis memenuhi permintaan Dewa, meskipun hatinya belum bisa move on dari yang namanya Silva.
Pertemuan itu pun terjadi. Davis dan perempuan itu bertemu di sebuah kafe. Ternyata saudara sepupunya Dewa lumayan cantik dan masih mahasiswi di salah satu universitas swasta.
Davis terkesan, sebab perempuan muda itu terlihat attitudenya bagus.
akhirnya direstui juga...
nunggu Davis tantrum dulu ya ma
berhasil ya Davis 😆😆😆👍👍