Anissa terpaksa menerima perjodohan atas kehendak ayahnya, dengan pria matang bernama Prabu Sakti Darmanta.
Mendapat julukan nona Darmanta sesungguhnya bukan keinginan Anissa, karena pernikahan yang tengah dia jalani hanya sebagai batu loncatan saja.
Anissa sangka, dia diperistri karena Prabu mencintainya. Namun dia salah. Kehadiranya, sesungguhnya hanya dijadikan budak untuk merawat kekasihnya yang saat ini dalam masa pengobatan, akibat Deprsi berat.
Marah, kecewa, kesal seakan bertempur menjadi satu dalam jiwanya. Setelah dia tahu kebenaran dalam pernikahanya.
Prabu sendiri menyimpan rahasia besar atas kekasihnya itu. Seiring berjalanya waktu, Anissa berhasil membongkar kebenaran tentang rumah tangganya yang hampir kandas ditengah jalan.
Namum semuanya sudah terasa mati. Cinta yang dulu tersususn rapi, seolah hancur tanpa dia tahu kapan waktu yang tepat untuk merakitnya kembali.
Akankan Anissa masih bisa bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Ke esokan harinya.
Anissa bangun pagi hari, karena rencananya pagi ini dia akan mengunjungi mertuanya yang masih di rumah sakit Yogyakarta.
Setelah selesai berhias, dia masih terdiam duduk tenang di depan meja rias kuno.
Dia melirik kearah ponselnya, yang kini tergeletak disampingnya. Biasanya, Prabu selalu memberikan beberapa pesan atau bahkan panggilan kepadanya. Tapi sudah hampir 2 hari, ponsel Anissa terasa sunyi tanpa ocehan dari sang suami.
Dan itu menimbulkan pertanyaan besar bagi Anissa saat ini. Akankah suaminya baik-baik saja? Atau, ada sesuatu yang sedang menimpa~Prabu?.
Lamunannya kembali, saat mendengar suara klakson mobil di depan sudah tiba.
Dint
Dint
Anissa segera bangkit, lalu segera berjalan keluar sambil memakai tas selempang di bahunya.
"Dengan ibu Anissa?" sapa sang sopir setelah turun.
Anissa mengangguk sopan, "Benar pak! Saya sendiri. Sebentar, saya kunci dulu ...." jawab Anissa sambil mengunci pintu rumahnya.
Setelah semuanya selesai, Anissa langsung berjalan pelan menuju taxi online yang sudah dia pesan. Karena obat yang sudah dia minum, telapak kakinya tidak terasa nyeri lagi. Jadi Anissa sudah dapat berjalan, walaupun harus pelan.
"Langsung berangkat ya, bu?"
"Baik pak! Kita langsung ke rumah sakit saja."
Tepat pukul 8 pagi, Anissa berangkat dari rumah. Anissa duduk dengan tenang, sambil menurunkan sedikit kaca samping. Perlahan, dia mulai menghirup udara pagi, walaupun tidak lama pedesaan itu berganti dengan padatnya jalanan kota Salatiga.
Anissa tidak lupa masih mengenakan selendang satin untuk menutupi kepalanya, serta masker sebagai penutup setengah wajahnya. Dia berharap, disaat nanti di ruamh sakit, dia tidak akan bertemu dengan Prabu.
'Semoga saja, ibu tidak mencurigai apapun padaku' gumam batin Anissa penuh harap.
Mobil itu berhenti di persimpangan lampu merah. Karena terkena sedikit kemacetan.
'Wanita itu? Bukanya dia yang kemarin hampir aku tabrak? Siapa dia sebenarnya ... Kenapa selalu memakai selendang putih itu? Mencurigakan!'
Batin seorang Pria yang kini menatap kearah posisi duduk Anissa, saat kaca mobil mereka saling terbuka sedikit. Dan kebetulan, Anissa sedang menurunkan maskernya, karena tadi dia ingin menghirup udara pedesaan, saat belum sampai di kota.
Pria itu terus menoleh ke samping, menatap dengan tatapan penuh tanya besar. Ada perasaan sedikit terkesima saat melihat cantinya wajah Anissa. Siapapun yang melihat, pasti juga akan merasakan hal yang sama.
"Gara ... Saya mau kamu ikuti mobil di samping ini!" ucap Pria tadi menyuruh anak buahnya.
Pria bernama Gara itu hanya mengangguk sopan, sambil berkata. "Tapi Tuan ... Bukanya pagi ini kita ada pertemuan dengan perusahaan tuan Brahma?" jawabnya mengingatkan Tuannya.
"Kita tunda satu jam kedepan. Bilang pada Nara, untuk mengatur ulang jadwal metting saya!" timpal Pria dewasa tadi.
"Baik tuan!" jawab Gara. Tanganya lalu terulur kearah saku celanan untuk segera menghubungi sekertaris Tuannya.
Dan selang menunggu beberapa menit, mobil yang Anissa tumpangi kini berjalan kembali. Perasaan lega kini terasa dalam hatinya, setelah hampir 10 menit terjebak macet dekat Alun-Alun kota Salatiga.
"Ada apa ya pak? Sepertinya ramai sekali?" tegur Anissa penasaran.
"Sepertinya ... Nanti siang akan ada acara Festival di Alun-Alun kota, bu!"
Anissa mengangguk paham. Dan memang, nanti siang ada serangkaian acara festival dalam rangka peresmian pembangunan baru Alun-Alun Kota Salatiga.
Hampir dua jam perjalanan, kini mobil yang Anissa tumpangi, sudah berhenti di depan halaman.
"Terimakasih pak! Saya turun dulu," ucap Anissa setelah menyelesaikan transaksinya.
"Baik bu! Saya permisi!"
Setelah itu, Anissa langsung saja bergegas masuk kedalam.
~Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta~
"Tuan, untuk apa kita sampai di rumah sakit Yogyakarta?" tegur Gara setelah mobilnya berhenti di depan rumah sakit tersebut.
Sementara Tuannya, pria itu masih terdiam. Namun tatapanya melekat pada tubuh Anissa yang semakin berjalan menjauh.
Tanpa aba-aba, Pria itu langsung turun. Sehingga membuat sang asisten seketika membolakan mata atas sikap aneh Tuannya barusan.
Anissa berjalan sambil menarik selendangnya, agar semakin menutupi kepala bawahnya. Penulis cantik itu sejak tadi berharap, semoga nanti dia tidak bertemu dengan suaminya di dalam rumah sakit ini.
Rasa khawatir dan gugup, sejak tadi berkecamuk dalam hatinya. Dia yang sedang berjalan sendiri, sejak tadi tampak was-was merasa ada yang sedang mengikuti jalannya dari belakang.
Di saat menyelusuri lorong, Anissa sempat berhenti sejenak. Dengan cepat dia menolehkan wajahnya ke belakang. Dan apa, ternyata tidak ada orang yang mengikuti langkahnya.
Huh!
Desahnya pelan, mungkin saja karena rasa pesimis yang terlalu kuat, hingga membuat halusinasi dalam pikiranya berlebihan.
Anissa melanjutkan lagi langkahnya, hingga dia berhasil tiba di depan ruang rawat bu Laksmi.
Ceklek!!
'Dia memasuki ruangan rawat seseorang? Apa ada keluarganya yang sakit?' batin Pria misterius tadi, yang kini berhasil membuntuti jalan Anissa hingga sampai di depan ruang rawat bu Laksmi.
"Anissa ... Sini sayang!" lirih bu Laksmi menyungging senyum bahagia.
Mbok Siti spontan membolakan mata. Wanita parubaya itu terperanjat, saat melihat Nyonya mudanya berada di hadapanya saat ini juga. Lalu ... Apa maksud dari Tuan mudanya, yang mengatakan kepergian sang Nyonya.
Anissa segera menurunkan selendangnya serta membuka masker putih. Dia membalas senyuman bu Laksmi, berjalan mendekat.
"Kamu datang sendiri ... Dimana suamimu? Sudah beberapa hari perasaan ibu tidak tenang! Tapi syukurlah, jika kalian baik-baik saja ...." tutur bu Laksmi tersenyum lega.
Degh
Anissa tak bergeming, saat kalimat dari sang mertua membuatnya berpikir dua kali lebih kuat. Jadi, selama kepergiannya, Prabu juga tidak pernah mengunjungi ibunya? Lantas, kemana perginya pria itu? Anissa tida yakin jika suaminya itu baik-baik saja.
"Ibu jangan terlalu berpikir! Ibu harus fokus dengan kesehatan ibu terlebih dahulu. Kami baik-baik saja! Hanya kemarin ... Kami berdua di sibukan dengan beberapa acara di Magelang! Jadi belum sempat kembali ke Yogyakarta."
Bu Laksmi mengulurkan tanganya, menepuk-nepuk pelan tangan menantunya saat ini. Ada perasaan sedikit lega, ternyata rumah tangga putranya baik-baik saja.
"Ibu sudah makan, tadi Nissa bawakan bubur buatan Nissa sendiri. Tadi bikinya banyak, agar mbok Siti juga bisa ikut makan! Bubur ini dulunya biasa di buatkan nenek, saat Nissa sakit demam ...." kekeh Nissa memecah suasana.
Sejujurnya, mulut mbok Siti terasa kelu, ingin saja menanyakan tentang masalah semua ini. Namun masih dia tahan, mengingat kesehatan bu Laksmi yang baru tahap pemulihan.
"Ayo mbok Siti, dimakan buburnya!" ucap Anissa sambil mengaduk buburnya terlebih dahulu.
Drrt
Drrt
Dan di saat yang bersamaan, ponsel mbok Siti yang saat ini tergeletak diatas meja, tiba-tiba bergetar ada panggilan masuk.
Dan itu adalah Elang.
'Duh Gusti ... Kepiye iki, kok malah den Elang pake menelfon segala. Ada apa ya? Untuk sementara, aku harus bersikap tidak tahu apa-apa'
Setelah berperang batin, mbok Siti langsung saja menerima panggilan tersebut.
"Iya, hallo Den?"
Degh
Anissa yang mendengar kata 'Den' spontan langsung meletakan kembali sendok tersebut. Perasaan was-was spontan menyeruat dalam batinnya. Dia hanya takut, jika orang tersebut adalah Prabu.
"Oh, de Elang ada meting? Ah ya baik, nanti simbok sampaikan sama Nyonya besar! Iya, baik Den ...."
'Ternyata Elang' batin Anissa yang merasa lega.
"Oh ya mbok, satu lagi! Jika Anissa ada singgah di rumah sakit, cepat hubungi saya! Karena ini penting!" seru Elang kembali sebelum memetikan ponselnya.
Mbok Siti menatap sekilas ke arah Nyonya mudanya. Dia benar-benar harus berbuat bagaimana dengan kenyataan yang ada di depannya saat ini. Namun mbok Siti tidak kegapah, dia harus menanyakan terlebih dahulu terhadap Anissa, sebelum Elang tahu keberadaan istri Prabu saat ini.
"Baik Den!"
Setelah panggilan terputus, Elang kembali masuk kedalam ruang rawat Prabu.
"Aku harus kembali ke Yogja! Ada kerjaan yang harus aku selesaikan." ujar Elang menatap sepupunya.
"Pergilah!" jawab Prabu.
Setelah kepergian Elang. Prabu mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya pada ranjang.
"Bagaimana perkembangan anak buahmu, dalam mencari istriku?"
Fahmi mendekat, "Hari ini mereka akan bergerak menuju Yogja tuan! Siapa tahu Nyonya muda ada singgah ke rumah sakit Nyonya besar," jawab Fahmi sopan.
Mbok Marni yang juga ada disana, "Tuan muda ... Non Ailin sudah den Elang kembalikan pada orang tuanya! Maaf, jika kami lancang. Tapi saya rasa, semua masalah berawal dari kehadiran Nona! Anda sekarang hanya fokus pada kesehatan Anda terlebih dahulu ... Masalah Nyonya, biar Aden yang memikirkannya!" terang mbok Marni.
"Tidak mbok! Anissa istriku ... Aku tidak akan memikulkan beban tanggung jawab kepada orang lain. Aku sudah cukup sehat, jika untuk mencarinya!" kata Prabu saat menatap mbok Marni. "Fahmi ... Bilang pada dokter, jika hari ini saya ingin keluar."
Fahmi semakin tidak habis pikir. Bagaimana mungkin dokter mengijinkan, jika wajah Prabu saja masih begitu pucat.
"Jangan dulu Tuan! Anda harus memikirkan kesehatan anda terlebih dulu!" bukan Fahmi yang menjawab, melainkan mbok Marni.
"Tuan, anda tenang saja! Biar masalah Nyonya saya yang turun tangan sendiri."
Fahmi berganti menatap mbok Marni, "Saya titip Tuan, mbok! Saya pergi dulu ...."
Mbok Marni hanya mengangguk, dan membiarkan pria muda itu melenggang keluar.
*
*
*
"Elang ....."
Suara perempuan itu berhasil membuat langkah Elang terhenti. Dia menolehkan wajah ke arah samping dengan mata membola.
'Wanita ular itu sedang apa di sini? Aku tidak akan membiarkan dia tahu, jika Prabu di rawat di rumah sakit ini'
"Elang, ternyata ini kamu?" seru Mutia disaat dia sudah berada didepan Elang.
"Mutia ... Mau apa kamu kesini?"
dah tau penyakitan mlh nikah tp nyiksa istrinya bawa pulang wanita lain pula.
semoga smpat minta maaf ke anisa sebelum mati tu si Prabu.
✨🦋1 Atap Terbagi 2 Surga ✨🦋
udah update lagi ya dibab 62. nanti sudah bisa dibaca 🤗😍
alasan ibu mertua minta cucu, bkn alasan krn kau saja yg ingin di tiduri suamimu.
tp ya gimana secara suaminya kaya raya sayang banget kan kl di tinggalkan, pdhl mumpung blm jebol perawan lbih baik cerai sekarang. Anisa yg bucin duluan 🤣🤣. lemah
mending ganti kartu atau HP di jual ganti baru trus menghilang. balik nnti kl sdh sukses. itu baru wanita keren. tp kl cm wanita pasrah mau tersiksa dng pernikahan gk sehat bukan wanita keren, tp wanita lemah dan bodoh.
jaman sdh berubah wanita tak bisa di tindas.
yg utang kn bpk nya ngapain mau di nikahkan untuk lunas hutang. mnding #kabur saja dulu# di luar negri hidup lbih enak cari kerja gampang.
karena ini Annisa terkejut, bisa diganti ke rasa sakit seolah sembilu pisau ada di dadanya. maknanya, Annisa merasa tersakiti banget
setahuku, penulisan dialog yang benar itu seperti ini.
"Mas? Aku tak suka dengan panggilanmu itu Terlalu menjijikan untuk didengar, Annisa," ucap Parbu dingin dengan ekspresi seolah diri Annisa ini sebegitu menjijikan di mata Prabu.
Tahu maksudnya?
"BLA BLA BLA,/!/?/." kata/ucap/bantah/seru.
Boleh kasih jawaban kenapa setiap pertanyaan di dialog ada dobel tanda baca. semisal, ?? dan ?!. Bisa jelaskan maksud dan mungkin kamu tahu rumus struktur dialog ini dapet dr mana? referensi nya mungkin.