Kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi pelayan pebisnis misterius dan kejam agar organ tubuhnya tidak dijual oleh pria itu akibat ulah ibunya sendiri.
Namun, ia tetap berusaha melarikan diri dari sangkar Tuannya.
Sebuah rahasia besar sang CEO terkuak saat pelayan itu hadir dalam kehidupannya yang membuat pria itu marah besar dan berencana membuat hancur kehidupan gadis itu.
Bagaimana kelanjutan cerita mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Kebebasan Sementara
...****************...
Anna masih sibuk membersihkan dapur ketika Damian berjalan ke arahnya. Ia sudah rapi dengan setelan jas hitam yang terlihat sempurna seperti biasa. Tanpa basa basi Damian mengeluarkan kartu debit berwarna hitam ke arah Anna.
"Ini untukmu."
Anna menatap kartu itu dengan bingung lalu menoleh ke Damian. "Untuk apa?"
"Anggap saja bonus. Belanjalah sesukamu."
Anna mengerutkan keningnya. "Bonus? Aku bahkan tidak melakukan sesuatu yang luar biasa."
Damian menatapnya sejenak lalu menyeringai kecil. "Kau masih hidup setelah memakan sarapan buatanku. Itu sudah cukup luar biasa."
"Itu bukan sesuatu yang patut dirayakan." jawabnya sambil mendengus.
Damian mengangkat bahunya. "Pokoknya gunakan saja. Aku tak mau tahu, tapi saat aku pulang nanti, pastikan kau sudah membeli sesuatu."
Anna menatap katyi itu sekali lagi, merasa ini sangat aneh. Ini pertama kalinya ia diberikan sesuatu yang begitu mewah tanpa alasan yang jelas. Bahkan sebelumnya jika ingin berbelanja Damian hanya memberikan jatah perminggu.
" Tapi.. Aku tidak terbiasa belanja seperti ini," gumam Anna ragu.
Damian mendekat sedikit menatapnya dengan ekspresi serius. "Sekarang dan seterusnya, biasakanlah. Gunakan uangku untuk membeli apapun yang kau inginkan."
Anna menatap lekat mata Damian. Entah kenapa, kata-kata Damian terdengar seperti perintah mutlak yang tak bisa dibantah dan.. Penuh perhatian.
Sebelum Anna bisa menolak lagu, Damian sudah mengambil jas ya dan berjalan menuju pintu. Ia menoleh sekilas ke arah Anna.
"Oh, dan jangan coba-coba mengembalikan kartu itu. Aku tidak akan menerimanya."
Lalu, pintu tertutup.
Anna menatap kartu ditangannya dan mendesah panjang.
"Kenapa aku merasa baru saja masuk ke dalam perangkap?"
...****************...
Dengan rasa yang sedikit malas, Anna pun memutuskan untuk berbelanja hari ini. Ia berjalan perlahan di dalam Mall, melihat-lihat berbagai barang dengan kebingungan yang jelas terlihat pada wajahnya.
Ini pertama kalinya ia diberikan kebebasan untung membeli apapun yang ia inginkan, tapi nyatanya justru utu yang membuatnya jadi kebingungan.
Kebebasan yang ia inginkan dulu ternyata bisa ia lakukan juga, tapi rasanya jadi sedikit hampa. Perasaannya pada Damian membuatnya menjadi bimbang.
Anna menghela napas, hari ini ia cukup menikmati waktunya saja. Ia melihat-lihat berbagai pikiran pakaian yang tergantung rapi di rak. "Kenapa sulit sekali?" gumamnya.
Setelah berkeliling cukup lama, ia akhirnya memutuskan untuk membeku beberapa potong pakaian sederhana, sepasang gelas dan beberapa cemilan yang terlihat menarik. Ia tidak tahu harus membeku apa lagu dan jujur saja, menghabiskan yang Damian seenaknya terasa aneh baginya.
Setelah menyelesaikan pembayaran, ia berjalan keluar dengan membawa kantong belanjaannya. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, perasaan aneh merayap tubuhnya.
Anna menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari tahu. Tapi yang terlihat hanya keramaian biasa di dalam Mall. Ia menghela napas pelan dan mengabaikan perasaannya.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya sambil melanjutkan langkah menuju pintu keluar.
Tapi sebelum ia mencapai pintu,
"Hei, Apa—"
Seseorang tiba-tiba menariknya lengannya dengan kasar. Anna sempat memberontak sebelum sesuatu yang dingin menyentuh pinggangnya.
"Jangan melawan kalau tidak mau mati."
Anna membeku, jika ia bergerak, pisau itu dengan mudah menusuknya. Anna mencoba menoleh. Namun, seseorang dari belakangnya dengan cepat menutupi mulutnya dengan kain. Aroma aneh langsung menusuk hidungnya yang membuat kepalanya berputar seketika.
Penglihatannya mulai mengabur. Nafasnya melemah.
Orang-orang sekitarnya tetap berjalan tanpa menyadari apa yang terjadi. Seakan Anna hanyalah bayangan di tengah keramaian.
"Damian... Tolong aku.." gumamnya dalam hati sebelum semua pandangannya menjadi gelap.
.
.
.
Next👉🏻
(Makasih sudah baca yak)
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩