Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
"Aku Carlos, aku keturunan raja Attar!" Carlos bersuara dengan lantang sambil memperlihatkan lencana lambang kerajaan kepada mereka semua.
Mereka semua saling pandang. Karena yang mereka ketahui, garis keturunan raja Attar sudah tidak ada lagi.
"Benar, pemuda yang berdiri dihadapan kalian adalah pewaris tahta yang sesungguhnya," ucap kakek Bahram menimpali.
"Apa ada bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa pemuda itu adalah keturunan raja Attar?" tanya salah satu rakyat yang ikut hadir disitu.
"Lencana ditangannya adalah satu bukti bahwa dia keturunan raja Attar," jawab kakek Bahram.
Mereka belum percaya, karena yang memiliki lencana tersebut belum tentu keturunan raja Attar. Buktinya raja Andreas memilikinya dan kemudian di rampas oleh raja William.
Dari situ mereka menyimpulkan, bisa saja pemuda ini mencuri lencana tersebut dan mengaku-ngaku sebagai pewaris tahta.
"Kami tidak percaya, kami perlu bukti yang kuat baru kami bisa percaya!" serunya dengan lantang.
Kemudian mereka yang lain juga melayangkan protes mereka jika mereka tidak percaya dengan Carlos sebagai keturunan raja Attar.
Walaupun mereka dapat merasakan aura berbeda dari seorang Carlos. Namun mereka belum percaya sepenuhnya. Mereka tidak ingin hanya diiming-imingi janji palsu oleh seorang pemimpin mereka.
Terlepas dari raja yang jahat seperti raja William, mereka tentu tidak ingin terjerumus ke lembah yang sama.
Dari mata dunia, negara ini terlihat makmur sejahtera. Namun mereka tidak tahu jika rakyat mereka tercekik oleh pajak tinggi dan peraturan yang tidak masuk akal.
"Hanya ada satu cara pembuktian lagi," kata kakek Bahram.
Kakek Bahram pun penasaran, apakah Carlos benar-benar bisa mencabut tombak yang tertancap di dekat singgasana raja.
Lalu kakek Bahram meminta mereka untuk menyaksikan sendiri secara langsung saat Carlos mencabut tombak tersebut.
"Kakek tidak pernah bilang tentang masalah ini," kata Randy. Dia sendiri juga tidak tahu dengan tombak sebagai pembuktian bahwa mereka adalah keturunan raja Attar.
"Kita lihat saja," ujar Lina.
Mereka sudah berkumpul di ruang istana tempat duduk raja. Raja William pun dibawa untuk menyaksikan sendiri bagaimana Carlos mencabut tombak tersebut.
Carlos sebenarnya ragu, ia takut tidak bisa mencabut tombak tersebut. Walaupun dirinya memiliki darah keturunan raja Attar, tapi tetap saja ia merasa ragu.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Carlos dalam hati.
Carlos hendak memegang tombak tersebut, namun ajaibnya tombak itu tercabut dengan sendirinya dan tumbang ke tangannya. Seolah ada tarikan magnet dari tangan Carlos.
Carlos pun memegang tombak tersebut dan mengangkatnya keatas. Semua yang melihatnya pun tertegun takjub.
Dari sekian banyak orang yang berusaha untuk mencabut nya, namun tidak ada satupun yang berhasil.
Kakek Bahram tersenyum, begitu juga dengan keluarga Henderson yang lain. Sekarang rakyat yakin jika pemuda di depannya ini adalah pewaris tahta yang sesungguhnya.
"Bagaimana? Apa kalian masih ragu?" tanya kakek Bahram. Mereka semua menunduk hormat dan tidak ada lagi yang membantah.
"Dari sekian banyak orang yang berusaha untuk mencabut nya, apa ada yang berhasil? Tidak, kan?" tanya kakek Bahram menambahi.
Mereka tidak menjawab, karena apa yang dikatakan oleh kakek Bahram ada benarnya. Kakek Bahram pun menyuarakan jika raja mendatang adalah Carlos.
Raja William tertunduk, ia tidak bisa apa-apa sekarang. Dia sudah kalah dan hanya menunggu waktu untuk menjalani hukuman.
Didepan banyak orang, Andreas mengumumkan akan memenjarakan raja William dan tahta nya juga di cabut sebagai raja.
Bersama penasehat istana yang juga komplotan William pun akan di jatuhi hukum. Sedangkan permaisuri dan para selir akan ikut bersama William.
Para pelayan sudah takut bercampur cemas kalau-kalau mereka juga akan di berikan hukuman. Namun kenyataannya tidak, karena mereka tidak bersalah.
Dan itu semua atas kebijakan Carlos dalam menangani masalah ini. Para prajurit dan pengawal juga tidak menerima hukuman. Karena mereka juga tidak bersalah dan hanya menuruti perintah.
Mereka menunduk hormat saat dinyatakan tidak di hukum oleh raja Andreas. Raja Andreas sebelumnya juga meminta pendapat Carlos sebelum membuat keputusan.
Setelah semuanya selesai, para rakyat pun kembali ke kediaman masing-masing dengan perasaan senang.
Mereka yakin jika Carlos menjadi pemimpin mereka, hidup mereka akan kembali makmur. Sementara William dan pengikutnya di bawa ke sebuah pulau dimana raja Andreas di tahan dulu.
Bahkan penjagaannya akan diperketat dari sebelumnya. Agar para tahanan tidak bisa lolos.
"Nak, lencana ini Paman serahkan kepadamu. Paman yakin kamu bisa memimpin negara ini dengan adil seadil-adilnya," ucap Andreas.
Carlos menoleh ke keluarganya, namun pandangannya menangkap sosok yang tidak di kenalnya di antara keluarganya.
Sosok itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Carlos hendak menghampiri sosok itu, namun sosok itu menghilang.
"Opa, Papa, apa kalian melihat seseorang melambaikan tangannya?" tanya Carlos setelah dekat dengan Arthur dan Randy.
Keduanya saling pandang, lalu menggeleng. Carlos pun bertanya kepada yang lain, namun tidak ada yang melihat sosok itu.
"Masa sih, jelas-jelas orang itu ada diantara kalian. Beliau berpakaian seperti seorang raja, dan ...." Carlos tidak meneruskan ucapannya.
Ia menatap papanya dan Opanya. Arthur dan Randy merasa heran karena ditatap oleh Carlos.
"Ya, Tuhan. Apakah itu raja Attar? Wajahnya ada kemiripan dengan papa dan Opa," batin Carlos.
Padahal ia juga mirip dengan dengan sang papa. Jadi ia juga mirip dengan raja Attar.
"Kenapa Nak?" tanya Carlina.
"Tidak ada apa-apa Ma, mungkin halusinasi ku saja," jawab Carlos.
Keluarga Henderson untuk sementara akan menginap di istana. Para pelayan tentu sibuk membereskan semuanya.
Carlos mengeluarkan dua lencana tersebut didepan keluarganya dan juga kakek Bahram. Kemudian kakek Bahram meminta untuk menyatukan keduanya.
Ternyata cocok, lalu kakek Bahram meminta Carlos untuk meletakkan lencana tersebut pada peti yang selama puluhan tahun tidak pernah dibuka.
Saat dua lencana itu di letakan, peti tersebut pun akhirnya bisa di buka. Ternyata didalamnya ada pakaian raja dan ratu dan dua buah mahkota.
Juga ada coin yang terbuat dari emas, peta negara dan foto keluarga raja Attar. Termasuk foto Abbas waktu kecil.
Tanpa sadar Randy meneteskan air matanya saat melihat foto sang kakek saat kecil.
"Berarti raja Attar sudah punya firasat jika ia akan wafat. Itu sebabnya lencana ini dibagi menjadi dua," ucap kakek Bahram.
Kakek Bahram juga tidak kenal dengan raja Attar, dia hanya mendengar cerita dari sang kakek. Waktu itu dia pun masih kecil.
"Sekarang tanggung jawab kerajaan ini ada dipundak mu Nak," kata Andreas sambil menepuk pundak Carlos.
"Benar, sudah saatnya tanggung jawab ini kami kembalikan kepadamu. Kami hanya bisa mendukungmu dari belakang," kata kakek Bahram menimpali.
"Semoga di tanganmu, rakyat lebih makmur sejahtera," ujar perdana menteri.
"Mumpung semuanya ada disini, dihari penobatan raja nanti, bagaimana jika kita nikahkan saja mereka?" usul Andreas menawarkan putrinya.
"Setuju," sahut Carlina dan yang lainnya serentak. Sofia hanya tertunduk malu, sementara Carlos tidak membantah dan juga tidak mengatakan iya.
Jadi Arthur, Carlina, Lina dan Randy akan berada di sini sampai hari penobatan Carlos sebagai seorang raja.
Sedangkan yang lain akan kembali terlebih dahulu, nanti mereka akan kembali lagi pada hari penobatan sekaligus pesta pernikahan Carlos dan Sofia.
yg penting seru💪💪💪💪💪