Btari harus menjalani pernikahan kontrak setelah ia menyetujui kerja sama dengan Albarra Raditya Nugraha, musuhnya semasa SMA. Albarra membutuhkan perempuan untuk menjadi istru sewaan sementara Btari membutuhkan seseorang untuk menjadi donatur tetap di panti asuhan tempatnya mengajar.
Sebenarnya Btari ragu menerima, karena hal ini sangat bertolak belakang dengan prinsip hidupnya. Apalagi Btari menikah hanya untuk menutupi skandal Barra dengan model papan atas, Nadea Vanessa yang juga adalah perempuan bersuami.
Perdebatan selalu menghiasi Btari dan Barra, dari mulai persiapan pernikahan hingga kehidupan mereka menjadi suami-istri. Lantas, bagaimanakah kelanjutan hubungan kedua manusia ini?
Bagaimana jika keduanya merasa nyaman dengan kehadiran masing-masing?
Hingga peran Nadea yang sangat penting dalam hubungan mereka.
Ini kisah tentang dua anak manusia yang berusaha menyangkal perasaan masing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edelweis Namira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN ANEH
Tinggal tiga hari lagi acara pameran amal untuk Kepedulian terhadap Palestina akan diselenggarakan. Beragam kesibukan mulai memenuhi waktu Btari. Setelah tadi siang dari toko buku, Btari melanjutkan kesibukannya di galeri bersama anggota timnya yang lain.
Btari menatap Barra dengan kening berkerut ketika lelaki itu tiba-tiba muncul di depan galeri. Saat ini Btari masih sangat sibuk di ruang galeri bersama beberapa fotografer lainnya, tempat ia sedang berdiskusi dengan timnya. Awalnya Btari enggan menemui Barra, namun tiba-tiba Alvian datang dan meminta Btari menemui Barra dulu. Akhirnya gadis itu menemui lelaki itu.
Btari berjalan menemui Barra yang kini sedang berdiri menatap lurus ke jalanan. Hujan turun dengan lebat sore ini. Lelaki itu tampaknya belum pulang ke rumah. Masih dengan kemeja hitam yang ia gulung sampai siku. Sama persis dengan pakaian yang ia kenakan saat pergi bekerja pagi tadi. Jika dilihat dari samping dengan jarak dekat seperti ini, Barra terlihat seperti model. Tubuhnya tinggi, walaupun ia suka makan banyak namun karena rajin olahrgaa, tubuhnya justru ideal. Terlihat berotot dipadukan dengan wajah yang......tampan. Kalau saja Btari tidak pernah bermasalah dengan Barra semasa sekolah, mungkin Btari bisa menjadi salah satu penggemarnya.
Btari berdiri di samping Barra. Gadis itu melirik jam tangannya, lalu menatap Barra, "Kenapa kamu ada di sini?"
Barra tidak balas menatap Btari. Namun dengan nada serius ia menjawab, "Aku jemput kamu."
Terdengar lucu memang. Btari bahkan tertawa pelan mendengar tiga kata yang diucapkan Barra. "Tumben. Tapi aku nggak butuh dijemput." Ia kembali melirik jam tangannya. "Aku masih ada diskusi. Kamu bisa pulang duluan."
Barra menyilangkan tangan di dada, tidak bergerak "Aku akan tunggu, atau kamu ikut sekarang."
"Nggak dua-duanya. Kamu pulang saja sana. Ini terlalu cepat untukku pulang. Nggak usah terlalu baik begini, Bar."
Mendengar penolakan halus Btari, Barra lalu mengubah arah pandangannya. Kini ia menatap gadis sekaligus istrinya ini dengan serius.
"Kalau begitu aku tunggu kamu disini. Jangan banyak menolak kebaikan suamimu." Ucapnya tegas.
"Nggak perlu, Barra. Kita bisa bertemu nanti di rumah. Aku masih ada kerjaan. Kalau kamu nunggu disini aku nggak enak sama timku."
Barra tersenyum miring. Ia kemudian memasukkan tangannya ke saku celana. "Kalau begitu pilihannya kamu pulang bareng aku. Tadi aku sudah bicara dengan Alvian dan dia mengizinkan."
Btari diam. Ia ingin menolak lagi namun melihat wajah Barra yang terlihat menahan amarah, akhirnya ia diam sejenak.
Tim Btari yang berada di ruangan itu saling bertukar pandang, merasa canggung dengan ketegangan yang jelas terlihat. Btari menghela napas, merasa tidak ada gunanya berdebat di depan orang lain.
Btari menghela napasnya. Ia mengalah, "Baiklah, aku ambil tasku dulu." Jawabnya dengan nada datar.
Lelaki itu mengangguk lalu Btari langsung mengambil tasnya dan berpamitan dengan timnya. Raut tidak nyamannya tetap terlihat walau semua timnya mengangguk mengiyakan dengan santai. Kalau bukan malas berdebat di depan orang banyak, Btari rasanya ingin menolak mentah-mentah ajakan Barra.
"Ayo!" Ajak Btari yang hendak berlari menembus hujan.
Namun dengan sigap, bahunya di rangkul Barra dan lelaki itu dengan cepat menyiapkan payung untuk mereka berdua.
Btari menegang seketika. Walaupun ia juga ikut berjalan cepat di samping Barra, namun tetap saja tubuhnya masih begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Barra. Terakhir mereka bisa sedekat ini adalah ketika menghadiri undangan klien Barra.
Ah, Btari seperti berada di adegan drama korea yang sering Indy tonton. Berjalan berdua dengan satu payung di tengah-tengah hujan.
"Hati-hati," Ucap Barra di tengah-tengah suara hujan.
Btari tidak menjawab. Ia masih mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Apalagi perlakuan Barra yang sering spontan membuat Btari harus benar-benar siap dengan segala perlakuannya.
"Wajahnya jangan cemberut begitu. Bukannya harus menampilkan wajah yang manis ya di depan suami." Kata Barra begitu mereka sudah di dalam mobil.
"Kalau suaminya bukan kamu sih, iya." Jawab Btari ketus.
"Jangan marah-marah. Nanti makin cantik." Canda Barra membuat Btari mendelik tajam.
Tanpa memperdulikan tatapan tajam dan perkataan ketus Btari yang masih tidak suka dijemput olehnya, Barra langsung melajukan mobilnya.
Mobil Barra melaju perlahan di bawah hujan yang cukup deras. Suara wiper menjadi satu-satunya yang terdengar di antara mereka. Btari duduk diam di kursi penumpang, menatap jendela yang dipenuhi tetesan air. Barra di sebelahnya tampak serius, rahangnya tegang, dan tangan kirinya mencengkeram kemudi dengan kuat.
Cukup lama keduanya bertahan dalam keheningan. Namun Barra jelas tidak menyukai diamnya Btari.
"Sebegitu nggak sukanya kamu dijemput sama aku, Bi?" Tanya Barra, dengan suara yang jelas menahan emosi.
Tanpa menatap Barra, Btari menjawab dengan nada tak kalah dingin. "Nggak usah drama deh, Bar. Kamu nggak perlu bersikap perhatian begitu."
"Menerima perhatian dari suami sendirikan nggak apa-apa."
Btari tertawa pelan. Terkesan sinis. "Kalau suaminya bukan kamu sih, nggak apa-apa." Jawab Btari datar.
Barra enggan berdebat. Hingga kesunyian semakin terasa di antara keduanya. Hanya suara hujan yang jelas terdengar. Namun lagi-lagi Barra tidak tahan dengan keheningan ini.
"Jadi, kamu sering ketemu Ardya?" Tanya Barra dengan nada.....kurang suka.
Btari menoleh dan menatap Barra dengan bingung, "Maksud kamu apa?"Tanyanya.
Barra melirik ke arahnya sejenak, lalu kembali fokus ke jalan,"Aku tanya, kalian sering ketemu?" Tanya Barra lagi.
Btari mengernyitkan dahi. Masih bingung dengan arah pertanyaan Barra. "Aku nggak ngerti arah pertanyaan kamu. Kalau kamu tanya sering atau nggak, ya sering. Aku udah cerita ke kamu ya apa hubunganku dengan beliau." Ujar Btari tenang.
"Termasuk ketemuan di toko buku?" Tanya Barra. Wajahnya masih seperti tidak suka.
"Nggak sengaja ketemu lebih tepatnya. Kamu nggak usah berasumsi aneh-aneh."
"Nggak bakalan aneh-aneh kalau kalian nggak kelihatan akrab kayak gitu."
Btari mengerutkan dahi, merasa nada bicara Barra seperti menuduhnya memiliki hubungan dekat dengan Ardya. "Kamu nggak lagi nuduh aku berhubungan sama Pak Ardya, kan, Bar? Lagian kamu dengar dan lihat dimana sih keakraban kami berdua?"
Saat ini tepat mereka berhenti di perempatan lampu merah. Saat itulah, Barra menunjukkan foto Btari dan Ardya saat sedang tertawa di toko buku. Sekilas memang terlihat akrab. Namun mengingat hubungannya dengan Barra yang hanya menjalin kerja sama, Btari malas menjelaskannya kepada Barra apa yang terjadi sebenarnya. Lagipula ia malas berdebat dengan Barra. Lelaki di sampingnya ini suka berasumsi negatif jika berkaitan dengan Ardya.
"Nggak penting dari siapa. Aku hanya nggak suka kamu terlalu dekat dengan Ardya." Ungkap Barra kembali fokus ke jalan.
"Nggak usah berlebihan gitu, Bar. Kami juga kebetulan bertemu." Jelas Btari menatap ke luar mobil.
"Kebetulan? Kamu yakin cuma itu?" Suara Barra terdengar dingin.
Btari menahan napas, lalu menghela perlahan, "Aku nggak tahu kenapa kamu marah soal ini, Bar. Pak Ardya adalah sponsor utama pameranku. Wajar kami sering bertemu. Lagipula pembicaraan kami nggak lebih dari membicarakan pekerjaan."
"Aku nggak mau kamu dekat sama dia terus dia manfaatin kamu karena skandalku dengan Nadea. Dia nggak sebaik yang kamu kira, Bi."
Btari memijit pelipisnya. Perdebatan dengan Barra seolah tidah menemukan ujung, "Aku kerja sama dia secara profesional, bukan soal urusan pribadinya. Aku nggak peduli gimana hubungannya dengan kamu apalagi istrinya. Selagi ia bisa diajak bekerja sama, why not? Jangan lupa bahwa hubungan kita berdua juga hanya karena kerja sama. Kita berdua juga nggak memikirkan tentang urusan pribadi masing-masing ketika awal menyepakati ini. Jadi jangan bertindak berlebihan tentang Pak Ardya." Ujar Btari tenang namun dengan nada tegas.
Barra terdiam. Penjelasan panjang itu membuat Barra tertampar. Namun tetap saja, ada ketidakrelaan di hatinya melihat Btari tertawa lepas seperti itu ketika bersama Ardya.
Sementara dengan dirinya, Btari lebih sering berdebat dan bicara seperlunya. Pun ketika senyum hanya senyum kecil. Seperti ada jarak yang diciptakan di antara mereka berdua.
"Aku cemburu, Btari." Ungkapnya pelan. Sesuatu yang ia tahan sedari tadi akhirnya terungkap secara sadar.
Btari menoleh padanya. Wajahnya jelas terkejut. "Kenapa kamu cemburu? Kita tidak punya hubungan khusus, Bar."
Barra menghela napasnya perlahan. Ia menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Btari dibuat bingung oleh perilaku Barra yang aneh sedari tadi.
"Aku nggak suka lihat kamu dekat dengan Ardya. Mungkin juga dengan lelaki lain. Mungkin terdengar bohong, tapi itu tulus dari hatiku. Aku tidak mengerti mengapa hatiku memanas melihat fotomu bersama Ardya." Ujar Barra menatap lurus pada Btari.
Sementara itu Btari menyipitkan mata seolah memastikans sesuatu. Hingga akhirnya gadis itu tersenyum sinis.
"Jangan terlalu mudah mengucapkan itu, Bar. Aku saja ragu dengan apa yang kamu bilang. Ingat, selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan hubunganmu dengan kekasihmu itu karena aku sadar posisiku sedari awal bagaimana. Jadi jangan memintaku untuk melakukan hal lain diluar perjanjian kita." Jawab Btari tenang.
"Maaf, Bi."
Btari berusaha tenang. "Kamu nggak salah, Bar. Aku tidak pernah menyalahkanmu dengan keadaan kita yang sekarang. Aku tidak pernah berharap lebih dengan pernikahan yang kita jalani ini. Jadi kamu pun harus begitu. Kamu saja mencintai kekasihmu itu, bagaimana bisa tiba-tiba kamu merasa cemburu melihatku dengan lelaki lain. Jangan bercanda soal perasaan, Barra."
Barra terdiam. Benar apa yang dikatakan Btari. Namun semakin hari, Barra semakin sulit melepaskan gadis ini. Ntahlah, Barra sendiri sulit mendeskripsikan perasaannya kepada Btari. Namun tiba-tiba dengan berani ia menggenggam tangan Btari. Belum sempat Btari mengeluarkan kata-kata penolakan, Barra lebih dulu bicara dengan begitu lembut, sesuatu yang tidak pernah Btari duga sebelumnya.
"Kalau aku melepaskan Nadea, apakah kamu mau menjadi istriku yang sebenar-benarnya, Bi?"