Novel ini merupakan series kedua dari Billionare Love Story. Novel pertama sudah dirilis dan sudah tamat. Tapi kehidupan Alena dengan Dave masih bisa ditemukan di novel ini.
Kali ini bercerita tentang pria kedua yang bertemu kembali cintanya yang sempat hilang karena acara pertemuan orangtuanya. Apakah Sandra dan Calvin bisa menemukan kembali cinta mereka yang sempat memudar karena perpisahan selama 13 tahun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pranikah
Pintu kamar Sandra diketuk dengan pelan. Ia membuka matanya dan berjalan ke pintu. Ibunya sedang berdiri disana.
"Mau sampai kapan kamu diem dikamar?"tanya Icha sambil berjalan kedalam.
Sandra diam. Ia berjalan kembali ke ranjangnya dan merebahkan diri.
"Mau menghindar juga gak bisa, pernikahan kamu seminggu lagi. Sesuai kesepakatan kita, pernikahan kalian cuma dihadiri keluarga dan teman-teman kamu."
Sandra bangun kembali. "Seminggu?" tanyanya shock.
"Makanya jangan diem dikamar terus.." jawab Icha sambil berjalan keluar.
"Ma, bentar ma.. Maksud mama seminggu lagi acaranya?" tanya Sandra tidak percaya.
"Kalian yang minta cepet." jawab Icha sambil berjalan keluar.
Sandra terdiam. Ia tidak percaya, laki-laki itu akan menjadi suaminya seminggu kedepan. Sandra duduk dikursi riasnya. Ia menatap dirinya dicermin. Menikah dengan Calvin adalah mimpinya. Tapi dulu. Ketika ia masih bisa dibohongi. Sandra mulai membayangkan sesuatu.
Ada pelaminan dimana ia dan Calvin bersanding berdua. Tinggal dirumah yang sama hanya berdua. Tinggal di kamar yang sama hanya ber.... Sandra menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak mau. Terang-terangan Calvin mengatakan tidak mencintainya. Ia tidak mau tinggal dengan Calvin. Hatinya sudah tertata rapi dan melupakan cintanya pada Calvin. Ia harus bertindak jika Calvin berlaku macam-macam padanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mulai mengeluarkan kertas dan mencatatnya.
Alena menunggu Sandra di cafenya. Setelah berbulan madu, ia terkejut mendengar cerita jika Sandra dan Calvin akan menyusulnya untuk menikah. Waktu sudah malam tapi cafenya masih ramai. Oh, ia juga mendengar Sandra marah besar pada Calvin karena memberikan keputusan sepihak.
Dari kejauhan ia bisa melihat Sandra masuk sambil membawa tas kecilnya. Dan kali ini ia tampak berbeda. Ia memakai dress. Tanpa sadar Alena berkata "wow". Sandra tersenyum dari kejauhan. Ia langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat.
"Miss you, Sandra!" seru Alena.
"Gimana bulan madu kamu?" tanya Sandra gemas.
Alena menariknya ke meja yang masih kosong.
"Bulan madu kita luar biasa. Kamu gak akan nyangka, Dave bener-bener manjain aku. Aku sampe gak boleh banyak gerak." jawab Alena sambil tertawa.
"Terlalu. Masa kamu gak boleh banyak gerak." protes Sandra.
"Enak loh nikah, San." goda Alena.
Sandra hanya tersenyum hambar. Enak buat orang yang gak terpaksa kayak kita, pikirnya.
Alena melihat perubahan wajah Sandra. "Kenapa? Aku denger kamu mau nikah sama Calvin?"
Sandra terdiam ketika minuman mulai disajikan. Ia mengaduk-aduk minumannya. "Begitulah. Semuanya gara-gara Edward. Kalo ada disini sekarang, aku pengen kasih perhitungan saking keselnya."
Alena tertawa. "Tapi kalian cocok, Sandra."
"Gak semanis yang keliatannya. Sampe sekarang aku gak tau mau dibawa kemana pernikahan kita nanti."
"Kalian pasti bisa." ucap Alena.
Calvin sedang berada dijalan. Ia mengendarai mobilnya. Disampingnya duduk Dave dengan angkuhnya. Sepanjang perjalanan ia terus membicarakan Alena sampai ia merasa mual.
"Sampe sekarang aku belum ketemu sama Sandra. Padahal pernikahan kita tinggal seminggu lagi." ucap Calvin memotong ucapan Dave.
"Kenapa?"
"Kayaknya dia masih marah."
Dave tertawa. "Dua wanita yang bisa bikin kamu kayak gini. Pertama Dinda. Kalo bukan karena kejadian waktu itu, kamu pasti udah lepas dari dia. Yang kedua Sandra. Aku inget waktu kita di Michigan. Kamu mabuk manggil-manggil nama Sandra. Aku tau kamu gak bisa lupain Sandra. Kenapa sih Vin, kamu hanya hidup dengan 2 wanita itu?"
"Karena aku bukan playboy kayak kalian. Lebih baik satu wanita, daripada ganti-ganti gak jelas." jawabnya kesal.
"Hidup itu pilihan, bro!" jawab Dave sambil tertawa. Ia merasakan handphonenya bergetar. Ia melihat ada pesan dari Alena.
"Udah nikah kayak gitu. Aku laporin Alena nanti." jawab Calvin.
"Dia udah tau kok. Oh ya, kita ke cafe Alena bentar. Dia pengen ketemu sama kamu." ucapnya sambil memasukkan handphonenya ke saku.
Tak lama mobil memasuki halaman cafe milik Alena. Dave keluar terlebih dahulu. Calvin hanya menatap sinis. Iapun berjalan mengikuti Dave dari belakang.
Tiba-tiba Calvin menghentikan langkahnya. Rasanya sudah sangat lama ia tidak melihat Sandra. Ada Sandra disana. Calon istrinya, pikirnya bersemangat. Tanpa sadar ia tersenyum. Wait, Sandra pake dress?
Alena memberikan bisikan pada Sandra.
"Calon suami kamu dateng." bisiknya.
Kedua mata Sandra membesar. Ia langsung menoleh kebelakang. Calvin sedang berdiri disana dengan Dave berdampingan. Ia langsung menatap Alena.
"Kamu sengaja manggil Calvin?" bisik Sandra.
"Buat apa? Aku cuma manggil Dave buat kesini." jawab Alena bohong.
"Sayang, udah makan belum?" tanya Dave ketika ia sudah duduk disamping Alena. Kedua orang didepannya hanya menatap sinis pada kemesraan Dave dan Alena. Tiba-tiba Dave memeluk bahu Alena. "Aku kangen banget sama kamu!"
Sandra langsung menoleh kesamping dan menutup wajahnya dengan tangan kirinya. Begitu pula dengan Calvin. Mereka berdiri bersamaan.
"Aku ke toilet dulu, bentar."ucap Sandra sambil berjalan ke dalam. Begitu pula dengan Calvin. Ia pergi ke toilet pria.
Dave tertawa melihat kedua orang itu salah tingkah.
"Kita berhasil sayang." ucap Dave.
"Kamu liat tadi muka Calvin merah gitu." jawab Alena sambil tertawa.
"Lebih baik kita pergi. Kita biarin mereka ngobrol berdua. Kita liat dari dalem." ucap Dave sambil menarik lengan Alena kedalam.
Sandra berjalan ke meja tapi disana kosong. Begitu pula dengan Calvin. Mereka mendapati meja itu kosong.
Sandra langsung membawa tas itu dan berbalik. "Aku pulang aja."
Calvin menarik lengan Sandra sampai ia tidak bisa melanjutkan langkahnya.
"Tunggu. Kita harus bicara, Sandra." ucap Calvin serius.
Sandra menghela nafas. "Oke, cepetan." jawabnya
"Ikut aku." ucap Calvin sambil menarik tangan Sandra ke mobilnya.
Ia mulai menjalankan mobilnya. Sandra hanya diam sambil melihat keluar kaca. Keluar kaca lebih menyenangkan daripada melihat Calvin.
Mereka kini berada disebuah tempat yang Sandra pun tidak tahu ada dimana. Mereka berdua terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Kita gak bisa marahan kayak gini terus." ucap Calvin. Ia menatap Sandra. "Maafin aku. Tapi mau gimanapun minggu depan kita menikah."
"Mau kamu gimana?" tanya Sandra.
"Terserah. Aku ikutin mau kamu. Aku yang udah buat kamu terpaksa untuk menikah."
Sandra mulai tersenyum. "Beneran kamu mau ikutin semua keinginan aku?"
Calvin mengangguk. "Contohnya apa?"
"Pindah ke apartemen aku."
"Oke, aku setuju." jawab Calvin.
Sandra langsung mengeluarkan kertas yang sudah ia buat dirumah tadi. Bertemu dengan Alena membuatnya berfikir pasti ada kesempatan bertemu Calvin nanti. Dan ternyata memang mereka bertemu.
"Ada 3poin yang aku pikir menguntungkan kita berdua." ucap Sandra licik. Ia tersenyum.
Calvin hanya melihat Sandra. Ia cukup melihat Sandra bisa tersenyum.
"Mana ballpointnya? Aku tanda tangan dimana?" tanya Calvin.
"Disini." jawab Sandra.
Calvin mulai menandatangani surat yang sudah ditempeli materai itu. Ia tidak mau membacanya karena ia pikir itu hanya akan menguntungkan Sandra.