Ketika Gadis tomboy bertemu dengan Hello Kitty bernyawa.
Sebuah kesalahpahaman membuat dua remaja harus di keluarkan oleh pihak sekolah. Mereka dinikahkan secara paksa demi menutupi aib Keluarga.
Warning:
Ada sejuta kebucinan di dalamnya.
Info novel dan visual cek Instagram :
@anarita_be
Penulis : Anarita
Cover By: Ay_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat drama Korea
Pagi ini adalah hari terakhir Jennie bisa bernafas dengan lega, sore hari nanti Nyonya medusa sudah akan pulang ke Indonesia. Itu artinya kebebasan Jennie mulai terenggut dari hidupnya. Harus lebih hati-hati juga agar tidak mendapatkan hukuman. Mengandalkan bantuan dari Reyno juga tidak baik, cowok itu masih suka berubah-ubah mood-nya. Intinya Jennie harus berjuang sendiri di dalam istana Medusa ini.
Hari ini kedua pasangan konyol itu juga bertengkar lagi, Reyno marah karena Jennie terus menanyakan tentang Farhan. Selama empat hari berturut-turut, Jennie terus mengoreksi informasi tentang Farhan pada suaminya. Reyno sampai di buat kesal oleh kebawelan gadis itu.
"Jadi sekertaris Farhan itu anak yatim piatu?" Jennie terperangah kaget setelah mendengar informasi yang ia dapat. "Oh, pantesan dia kelihatan marah pas aku bahas tentang ibu."
"Jennie!" Reyno kesal karena istrinya terus memikirkan kehidupan Farhan."Dia itu udah nyakitin kamu, lihat tangan kamu, lukanya masih belum sembuh sampai sekarang. Farhan juga ngga minta maaf-kan?" Reyno tidak terima, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku ngga masalah, kok?" menggeleng samar.
"Jadi kamu beneran udah jatuh cinta sama dia? Kamu terus nanyain dia selama empat hari berturut-turut, loh. Kamu mau selingkuh sama Farha." Reynonya kesal.
"Aku sih ngga ada mikir ke arah situ, cuma aku ada sedikit feeling Farhan bisa nolongin aku kalau aku sampai ditindas sama Mami kamu, makanya aku niat untuk dekatin dia," tutur Jennie jujur apa adanya.
"Kenapa harus Farhan? Kan Reyno udah janji kalau mau jagain Jennie. Kamu ngga percaya sama aku?" Reyno semakin dibuat naik darah.
"Kamu?" Jennie berdecih setelahnya. "Mana mungkin aku bisa percaya seratus persen sama kamu, kamu kan masih suka ngambek-ngambek gak jelas. Inget kemarin? Kamu marah sama aku gara-gara aku ketiduran pas nonton drama." 😆
Reyno marah dan tidak terima ketika Jennie membandingkan niat baiknya dengan hal kecil seperti itu.
"Reyno kan udah bilang, itu episode terpenting. Sudah diingatkan jangan sampai ketiduran, tapi Jennie malah bobo pulas. Nempel-nempel Reyno lagi. Itu namanya Jennie ngga ngehargain mereka yang sudah capek-capek menampilkan akting terbaik." Reyno melipat kedua tanganya di depan dada seperti biasa. Wajahnya ditekuk lecek saking kesalnya.
"Nah ini-nih, yang paling aku ngga suka dari kamu. Belain aja terus idola baj*ngan kamu, lupain kalo aku itu istri kamu. Terus puja-puja mereka sampai mati. Kamu kan selalu lupa sama aku kalo udah bahas idola kamu. Empat hari aku ilang juga ngga akan dicariin kalo udah nonton drama." Akhirnya semua unek-unek dalam diri Jennie keluar juga.
"Kok, Jennie ngomong gitu, sih? Akting mereka emang keren, makanya Reyno suka. Lagian kamu bilang kalau kamu juga suka nonton drama kan? dasar nyebelin!" Reyno tidak terima malah balik nyolot.
"Terus aja, terus ... terus belain idola halu kamu. Banggain istri plastik kamu di tv. Silahkan kamu main istri-istrian sama wanita-wanita halu yang hanya bisa kamu lihat di tv." Ada bantal sofa yang Jennie lemparkan ke wajah Reyno setelah mengucapkan kalimat itu, saking emosinya.
Kamu itu udah punya istri. Tapi seminggu ini kamu sibuk ngehalu dan main suami-istrian sama astis muka plastik itu. Arhh... bodoh! Kenapa aku jadi ikut cemburu gini, sih?
"Aku tahu kamu ngambek gara-gara aku sibuk nonton drama Korea, tapi bukan berarti kamu bisa hina idola-idola aku seenak kamu, dong." Lagi-lagi Reyno masih membela artis kesayanganya, membuat rahang Jennie semakin mengeras karena emosi.
"Oke. Mereka manusia-manusia terbaik sepanjang masa, puas kamu?" Kata mereka ditujukan pada artis pujaan hati Reyno.
"Ya udah, mendingan kita makan dulu, Reyno yang masakin, deh." Mencoba merayu walau sepertinya itu sulit.
"Woahhh, kamu tumben banget mau masakin aku. Ada angin apa? Artis idola kamu udah meninggal, makanya baikin aku." Masih marah dan tidak mau berbaikan.
Tiba-tiba Farhan datang dengan aura dingin yang mecekam. "Permisi Tuan muda, bolehkah saya berbicara dengan nona Muda?"
Jennie tersentak girang." Hei, apakah kau sudah memutuskan jawabanmu kemarin? kau mau berpacaran denganku?" Ada tangan yang menarik daun telinga Jennie setelah kalimat itu dilontarkan.
"Jadi kamu serius, kamu udah nembak dia?" Kesal, tapi Reyno tidak cemburu sama sekali karena ia tahu sifat Farhan seperti apa. Tidak mungkin pria berumur dua puluh tujuh tahun itu menyukai gadis kecil seperti Jennie.
"Hiyaaa ... hiyaa ... tonton saja drama kesayanganmu, bahkan kamu tidak peduli saat aku mengatakanya kemarin." Jennie menepis tangan Reyno yang masih menempel di telinganya. Lagi dan lagi mereka masih membahas masalah drama.
"Saya hanya ingin berbicara sebentar dengan istri anda Tuan Muda, mohon beri kami sedikit waktu," ucap Farhan sambil menundukan kepalanya santun.
"Apa kamu tidak mau menjelaskan dulu masalah apa yang ingin kau katakan, Farhan? Kau akan berpacaran dengan istriku?" Pandanganya memicik kesal pada Farhan.
"Saya rasa anda tidak segila istri anda, Tuan." Farhan melirik Jennie, gadis itu langsung melotot begitu Farhan mengucapkan kalimat sindiran itu. Tidak, itu bahkah lebih dari sekedar sindiran. Pria tua itu mengatakanya dengan sangat jelas. Pikir Jennie dalam hatinya.
"Baiklah ... baiklah, aku pergi Farhan, dan untuk Jennie, selamat karena kamu sudah ditolak sebelum mendapatkan jawaban." Reyno tergelak lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Sebenarnya Farhan sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Tuan Haris, namun pria itu masih saja tetap merasa bahwa dirinya tidak seistimewa itu. Reyno dan William juga sering menyuruh Farhan agar menanggil orang tuanya dengan sebutan Papi-Mami, namun Farhan menolaknya dengan halus. Panggilan Tuan dan nyonya lebih pantas untuk diucapkanya, Begitu juga memanggil William dan Reyno dengan sebutan Tuan muda pertama dan Tuan muda kedua.
"Ada apa?" Kali ini Jennie bertanya jutek efek masih marah pada suaminya. "Ada apa Kaka memanggilku."
"Saya hanya ingin meminta maaf atas kecelakaan yang menimpa Nona Muda waktu itu." Bahkan itu sudah sangat terlambat, insiden cambukan itu sudah empat hari yang lalu, Farhan bisa meminta maaf langsung waktu itu jika ia memang mau melakukanya. Minta maaf hanyalah alasan untuk mengobati rasa penasaran Farhan, ada hal lain yang ia ingin ketahui dari gadis kecil itu.
"Minta maafmu basi," cetus Jennie cepat. " Tapi Kaka Farhan, apa benar anda tidak mau menjadi pacar saya?" Mengalihkan pembicaraanya sesuka hati Jennie.
"Tidak mau!" Jawaban lempeng itu keluar tanpa ragu-ragu dari mutut Farhan. "Nona, bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Eh," Sedikit terkejut. "Tanya apa?" Jennie langsung penasaran dengan hal yang ingin Farhan tanyakan.
"Kalung anda-" Menunjuk kalung panjang dengan liontin kaca bulat yang menggantung di leher Jennie. " Di mana anda mendapatkanya? Maksudnya beli di mana?" Ah, akhirnya Farhan benar-benar menanyakan kalimat itu. Pertanyaan yang telah mengganjal di pikiranya selama empat hari terakhir.
"Ah, kalung ini. Aku memilikinya sejak lahir, ini pemberian nenekku. Apa Kaka menyukainya? Jika kau mau menjadi pacarku, aku akan memberikan kalung ini untukmu." tersenyum penuh harapan.
"Tidak terima kasih. Saya tidak butuh kalung apa lagi anda, Nona." Farhan bangkit dari posisis duduknya. "Tolong jangan pernah panggil saya dengan sebutan Kaka jika anda tidak mau ada fitnah yang akan mempersulit hidup anda, permisi." Farhan berlalu pergi meninggalkan Jennie sendiri di ruang keluarga.
Gadis itu masih ternganga. Untuk apa dia menanyakan tentang kalung ini kalau tidak menginginkanya? Jennie bergumam dalam hatinya.
Tangan Farhan bergetar lemas saat ia sudah mencapai ambang pintu keluar. Bahkan ia buru-buru keluar agar kegugupanya tidak di ketahui oleh Jennie. Cowok itu segera merogoh ponselnya di saku celana untu menghubungi seseorang.
"Tolong periksa latar belakang Nona Jennie secara menyeluruh." Telpon di tutup. Farhan melangkah lagi menuju parkiran mobil.
Siapa sebenarnya kamu, Nona?
***
Siapa hayo?
kacau itu papa kalian 😂😂😂😂😂😂😂