Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.
Ini sungguh tidak masuk akal.
Lara termangu berdiri tidak percaya di depan gedung catatan sipil.
Matanya nanar memandang akta nikah yang ia pegang dalam genggaman tangannya.
Ia baru saja selesai mendaftarkan pernikahannya bersama Stefan.
Bagaimana bisa ia begitu saja setuju menikah dengan anak muda, yang belum ia kenal dengan baik.
Siapa dia, siapa orang tuanya, dimana kampung halamannya.
Satu pun ia belum mengetahui tentang siapa Stefan yang sebenarnya, tapi ia sudah setuju begitu saja mendaftarkan pernikahannya dengan Stefan.
Dan, satu lagi yang membuat ia tidak percaya, usia Stefan yang sebenarnya.
Dua puluh dua tahun!
Ia nyaris tertawa kencang, mengetahui usia suami berondongnya tersebut, ternyata baru dua puluh dua tahun.
Astaga naga! perbedaan yang sangat mencolok.
Walau memiliki tubuh yang jangkung, dan bentuk tubuh atletis seperti pria dewasa, Stefan masih sangat muda untuk dirinya.
"Kenapa? kak Lara kok bengong? sini aku yang simpan akta nikahnya!"
Stefan mengambil akta nikah Lara dengan cepat dari tangan Lara, lalu menyimpannya bersama akta nikahnya ke dalam saku celananya.
"Kembalikan!"
"Tidak! biar aku saja yang pegang, aku takut nanti kak Lara berubah pikiran, dan menceraikan ku!" jawab Stefan.
Lara tidak dapat berkata-kata mendengar apa yang dikatakan Stefan.
Berubah pikiran? menceraikannya?
Lara kembali ingin tertawa dengan kencang.
Ia merasa lucu mendengar ucapan anak muda, yang tidak ia sangka begitu takut ia tinggalkan.
Ia merasa sikap Stefan hampir sama seperti dirinya, saat di awal pernikahannya dengan David.
Waktu ia menikah dengan David, hatinya sangat senang sekali.
Dan ia begitu takut diceraikan David, sehingga ia menyembunyikan akta nikah David di lemarinya.
Siapa sangka, David tidak pernah perduli walau ia menyembunyikan di mana pun akta nikahnya.
Melihat raut wajah Lara yang tiba-tiba datar, Stefan seketika merasa bersalah mengatakan apa yang baru saja ia katakan.
"Kenapa? apa aku membuat kak Lara sedih?" tanyanya panik.
Lara menggelengkan kepalanya, "Tidak!" jawabnya.
"Tidak? tapi raut wajah kak Lara tidak memperlihatkan baik-baik saja! apa tadi aku sudah mengatakan yang salah?" tanya Stefan tidak percaya.
"Iya! sampai kapan kamu terus memanggilku dengan panggilan kakak? aku merasa seperti kakakmu, bukan istrimu!" jawab Lara mengalihkan hal yang sebenarnya ia pikirkan.
Stefan menyunggingkan senyuman mendengar jawaban Lara, "Oh!"
Ia mendekati Lara dengan senyuman yang semakin lebar, "Kalau begitu, aku harus memanggil sebutan apa pada kak Lara? sayang, istri, atau memanggil dengan nama saja?"
Stefan mengedip-ngedipkan matanya menatap Lara, sembari terus menyunggingkan senyumnya.
"Ehem!" Lara menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Stefan.
Ia jadi bingung sendiri, sebutan apa yang cocok untuk dirinya, dipanggil suami berondongnya tersebut.
"Te.. terserah mau panggil apa, asal jangan kakak!" jawab Lara memalingkan wajahnya dari tatapan Stefan.
"Oh, baiklah! aku akan panggil sayang, kalau kita hanya sedang berdua saja, istri untuk panggilan di depan umum, dan memanggil nama di waktu tertentu saja, bagaimana? apakah kak Lara merasa puas, dengan sebutan yang pantas untuk istriku?" tanya Stefan semakin tersenyum lebar.
"Ehem! terserah kamu saja!" jawab Lara semakin salah tingkah.
Ia mencoba menyembunyikan wajahnya, yang memerah mendengar sebutan yang diberikan Stefan untuk dirinya.
Stefan tersenyum senang mendengar jawaban Lara, dan ia pun menarik Lara masuk ke dalam dekapannya.
Ia memeluk Lara dengan erat, lalu mengecup puncak kepala Lara dengan perasaan bahagia.
"Istriku semakin cantik kalau tersipu seperti itu, membuat ku ingin melakukan sesuatu padanya!" kata Stefan dengan senyuman, yang terus saja tersungging dibibirnya.
Ia sangat bahagia, karena tujuannya akhirnya tercapai mendapatkan Lara menjadi istrinya.
Janji yang pernah ia ucapkan pada Lara dua belas tahun yang lalu, selalu ia pegang dengan erat dalam hatinya.
Sudah waktunya ia menunjukan indentitasnya yang sebenarnya pada Lara.
"Ayo kita pulang!" Lara melepaskan pelukan Stefan, "Karena kita sudah menikah, mulai besok kita perlu membuat pengaturan!"
"Pengaturan? pengaturan apa, kak?" tanya Stefan bingung.
"Tentu saja soal pekerjaan! aku akan mencari pekerjaan, untuk menafkahi keluarga kita! aku tidak mungkin membiarkan kamu sendiri yang bekerja!" jawab Lara.
Sebelum ia menikah dengan David, ia tadinya sangat ingin menjadi seorang desainer perhiasan.
Karena ia lebih mengutamakan mengejar cinta David, ia pun mengubur dalam-dalam keinginannya menjadi seorang desainer perhiasan.
Sepertinya inilah waktu yang tepat ia menunjukkan bakatnya, untuk menjadikannya sebagai mata pencahariannya menghidupinya dan Stefan.
Senyuman Stefan semakin lebar memperlihatkan giginya yang rapi, mendengar jawaban Lara.
"Aku tidak ingin kak Lara bekerja, biarkan saja aku yang bekerja! istriku dirumah saja bersantai, dan memanjakan diri, atau mengerjakan apa yang disukainya!"
"A.. apa? tidak bisa! bagaimana mungkin aku bermalas-malasan, sementara kamu yang bekerja?!"
"Tentu saja! istriku adalah Nyonya Alden, Ibu dari anak-anak ku kelak, dan Nyonya yang harus dilayani dengan baik!" jawab Stefan dengan nada pasti.
Dan perkataan Stefan terdengar memang seharusnya, seperti apa yang ia katakan status Lara sebagai istrinya.
Mendengar apa yang dikatakan Stefan, Lara pun tertawa kecil.
Ia merasa Stefan sedang berkhayal menjadi seorang konglomerat, dan berkhayal memperlakukan dirinya menjadi seorang Nyonya, yang hanya menikmati kekayaan suaminya.
"Kamu ini terlalu tinggi berkhayal!" kata Lara sembari terus tertawa kecil.
Ia memang dari keluarga kalangan atas, tapi ia tidak pernah menikmati kehidupan yang mewah.
Saat ia menikah dengan David, ia tidak pernah memanjakan dirinya, karena ingin menyenangkan David.
Walau di vila David memiliki dua pengasuh, tapi ia tidak pernah mengharapkan dua pengasuh tersebut melayani dirinya.
Itu semua karena otak cintanya, sampai rela menjadi seperti pengasuh bagi David, demi mendapatkan perhatian dan cinta David.
"Aku tidak berkhayal, kak! istriku adalah Nyonya yang akan mendominasi dalam rumah kita! juga Nyonya Alden yang bermartabat!" jawab Stefan dengan nada yang terdengar sangat meyakinkan.
Dan terdengar tegas dengan apa yang ia ucapkan.
Lara seketika terdiam mendengar perkataan Stefan, begitu melihat raut wajah Stefan yang tampak serius dengan apa yang ia katakan.
"Ayo, kita pulang ke istana kita! aku akan membuktikan apa yang kukatakan pada kak Lara, kalau kak Lara adalah Ratu di kediaman Jourell!"
Lara tertegun mendengar kata-kata terakhir Stefan.
Juorell? nama yang sepertinya ia kenal.
Kening Lara berkerut memikirkan nama itu sangat mirip dengan nama perusahaan David bekerja.
Juorell grup! ya, itu nama perusahaan David bekerja sebagai Direktur di sana.
Kenapa bisa Stefan menyebutkan kediaman Juorell?
Masih dengan perasaan bingung, Lara membiarkan Stefan meraih tangannya, dan membawanya ke jalan untuk mencari taksi.
Eh! tiba-tiba Lara tertegun melihat Stefan menghampiri sebuah mobil hitam mewah.
Ia tidak menyadari, sejak kapan mobil mewah itu terparkir di depan gedung catatan sipil tersebut.
Tiga mobil hitam mewah yang terparkir berdekatan, dengan beberapa pria berpakaian formal serba hitam, berdiri tegak di samping masing-masing mobil.
Bersambung.........