"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Karin mengepalkan jemarinya di balik pintu kamar. Nama Sinta terus bergaung di kepalanya, menolak pergi. Ia menarik napas panjang, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin tatapannya mengeras, rahangnya mengatup tegas. "Aku harus cari tau semua ini" .ucapnya
Karin pun bergegas pergi dari rumah tanpa memedulikan Mona yang masih berada di dalam rumahnya. Ia memilih menemui papahnya, ingin menanyakan siapa sebenarnya Sinta dan alasan di balik perubahan sikap Mona terhadap dirinya.
“Heh, Karin, kamu mau pergi ke mana?” Langkah Karin terhenti ketika sebuah tangan mencengkeram pergelangan lengannya.
“Bukan urusan Mamah. Lepaskan tangan aku sekarang juga,” ucap Karin tegas.
Karin sudah tak peduli meski Mona marah karena sikap kasarnya, bahkan jika nantinya Mona mengadu kepada papahnya. Karin merasa sudah tidak mengenal Mona yang dulu lagi. Mona benar benar sudah berubah sejak kehadiran Laura.
“Kamu benar-benar keterlaluan, Karin. Mamah masih di sini, tapi kamu malah pergi begitu saja. Lihat Laura, dia begitu perhatian pada Mamah, tidak seperti kamu,” ucap Mona.
Ucapan mamahnya itu membuat hati Karin terasa sangat sakit. Ia tak menyangka Mona akan mengatakan hal tersebut, padahal selama ini Karin selalu berusaha perhatian kepadanya, namun tak pernah dihargai sama sekali.
Karin keluar meninggalkan rumah lalu melajukan mobilnya tanpa menoleh kembali. Keputusannya sudah bulat—ia harus pergi ke kantor papahnya untuk menanyakan semuanya tentang Sinta. Karin tak ingin terus-menerus hidup dalam bayang-bayang rasa curiga.
"Aku harus ketemu papah, sekarang juga".
***********
Namun sebelum Karin sempat bertemu dengan papahnya, perasaan tak nyaman menyusup pelan. Dari kaca spion, ia menangkap bayangan mobil yang terus mengikuti nya, seolah membuntutinya sejak tadi. Jantung Karin berdegup lebih cepat. Rasa takut dan curiga bercampur siapa sebenarnya yang mengikuti dirinya?
“Kok mobil itu dari tadi masih di belakang, ya…” gumam Karin lirih. Ia melirik kaca spion sekilas, lalu kembali menatap jalan, jemarinya tanpa sadar mengencang di setir. “Siapa, sih?”
Tanpa pikir panjang, Karin langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap mobil itu tak lagi mampu mengikutinya. Namun sayang, perkiraannya keliru. Kendaraan itu masih terus membuntuti dari belakang, hingga akhirnya Karin terpaksa menginjak rem dan menghentikan mobilnya.
Karin membuka pintu mobil dengan cepat. Ia mendekati mobil yang terus mengikutinya, mata nya menatap tajam ke arah pengemudi.
“Hei! Turun! Sebenarnya kamu siapa, kenapa terus mengikuti aku?” suaranya nyaring, hampir bergetar oleh amarah dan ketakutan.
sosok pria didalam mobil itu menatap Karin melalui kaca jendela, senyumnya tipis tapi menusuk. “Kamu nggak perlu tahu siapa aku,” suaranya rendah dan dingin, “tapi aku… orang yang tahu semua rahasia Mona.
Karin terhenti seketika, jantungnya berdegup kencang. Matanya melebar, napasnya tercekat. Bagaimana mungkin pria itu tahu bahwa dirinya sedang mencoba mengungkap rahasia mamahnya? Rasa takut dan curiga menyelimuti setiap sudut pikirannya.
Karin mencondongkan tubuhnya sedikit, alisnya berkerut. Matanya menatap tajam ke arah pria itu, suara seraknya nyaris tersendat. “Bagaimana… kamu bisa tahu semua ini?”
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Karin. Ia hanya menyerahkan selembar kertas putih ke tangannya.
Sebelum pergi, pria itu menoleh ke Karin. “Kalau kamu ingin tahu semua rahasia Mona, temui aku nanti malam di Cafe Kenanga,” ucapnya, lalu meninggalkan Karin sendirian.
Karin, yang masih bingung dan belum memahami maksud pria misterius itu, langsung membuka kertas putih yang diberikan kepadanya.
Karin membuka surat itu perlahan. Matanya membesar saat melihat foto Mona dengan seorang perempuan yang tengah menggendong bayi kecil. Napasnya tersendat, pandangannya berulang kali menelusuri gambar itu, sementara serangkaian pertanyaan tanpa jawaban berputar di kepalanya: "Siapa perempuan itu? Dan bayi itu… siapa?".
*****Bersambung******
*jangan lupa like dan subscribe ya kak🙏 terimakasih*
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak