NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mengubah Takdir
Popularitas:239.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.

Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

'Apakah… aku bisa mengalahkannya?'

Pertanyaan itu berputar-putar di benak Barra, seperti gema yang tak pernah berhenti. Alex, nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak.

Selama dua tahun di SMA Cahaya Senja, Alex adalah bayangan paling gelap dalam hidupnya. Tinju tanpa ampun, kepala yang ditekan ke dalam toilet sampai napasnya hampir habis, tubuhnya ditelanjangi di tengah kelas, tawa orang-orang yang menonton, lalu video yang beredar, menjadi bahan ejekan satu sekolah. Dari hari itu, sesuatu di dalam diri Barra benar-benar runtuh.

Di tahun ketiga, ia sebenarnya sudah ingin menyerah. Pergi, menghilang dari tempat ini, namun orang tuanya tak punya pilihan lain. Tak ada uang untuk pindah kota, tak ada biaya untuk sekolah lain. SMA Cahaya Senja adalah satu-satunya harapan yang tersisa, maka Barra bertahan, bukan karena berani, tapi karena tak punya jalan lain.

“Lihatlah si cungkring ini…” suara Alex memecah lamunan itu. Ia melangkah maju setengah langkah, wajahnya datar, nyaris bosan. “Bagaimana bisa, kau tiba-tiba menjadi kuat?”

Barra menelan ludah, kenangan lama menyergap seperti ombak dingin. “Ka-kau…” suaranya nyaris tak keluar. “Tidak perlu tahu.”

Alis Alex sedikit berkerut. “Oh?” senyum tipis terbit di sudut bibirnya, senyum yang sama, senyum yang dulu selalu mendahului penderitaan. “Sepertinya kau mulai berani, ya. Walaupun tiba-tiba jadi kuat…” sorot matanya merendah, menghina. “Apakah kau pikir, kau bisa mengalahkanku?”

Kata-kata itu seperti pisau yang mengorek luka lama.

'Sial…' Barra menggertakkan gigi. 'Walaupun aku kuat… aku masih tidak yakin.'

Tangannya mengepal, namun jari-jarinya gemetar. Alex berdiri di hadapannya seperti tembok raksasa, tinggi, dingin, dan tak pernah runtuh. Trauma itu menekan dari dalam, membuat napasnya berat, membuat kakinya terasa goyah.

Di luar kelas, langkah kaki terdengar mendekat.

“Menarik…” sebuah suara tenang terdengar dari balik kerumunan. “Baru sampai, sudah ada tontonan seperti ini.”

Dion berdiri di ambang jendela kelas, matanya menyapu cepat. Tiga anak buah Alex terkapar, murid-murid menahan napas. Lalu pandangannya berhenti pada Barra, pada tangan yang gemetar, pada bahu yang menegang.

'Apakah, dia memiliki Trauma…' Dion menyadarinya seketika, Alex adalah nerakanya.

Ia melangkah setengah langkah ke depan, lalu berhenti. Keinginannya untuk turun tangan muncul begitu saja, satu gerakan saja, dan semua ini akan berakhir, namun Dion menahan diri.

'Jika aku membantunya sekarang,' pikirnya pelan, 'dia dengan mudah menang… tapi tembok itu akan tetap berdiri di dalam dirinya.'

Tatapan Dion mengeras, bukan pada Alex, melainkan pada Barra. 'Kau harus melangkah sendiri kali ini, hadapi ketakutanmu. Aku ada di sini… tapi jalan itu milikmu.'

Di dalam kelas, dua pasang mata masih saling menatap. Yang satu dipenuhi ejekan dan keyakinan lama, yang lain bergetar, namun untuk pertama kalinya, tak sepenuhnya mundur.

Udara menegang, detik-detik terasa memanjang.Ini bukan sekadar pertarungan fisik, ini adalah pertarungan melawan masa lalu.

“Pecundang sepertimu, apa yang bisa kau lakukan?!”

Teriakan Alex memecah udara kelas seperti cambukan. Detik berikutnya, tubuhnya melesat maju, cepat, brutal, tanpa ragu. Angin terbelah oleh gerakannya.

Barra membelalakkan mata, jantungnya berdegup kacau. 'Apa aku bisa…?

Belum sempat pikiran itu selesai, tinju Alex sudah tiba.

Baaak!

“Kugh!”

Rasa sakit menghantam wajah Barra. Kepalanya terhuyung, namun tubuhnya tidak terpental seperti dulu. Tidak terlempar, tidak terhempas ke lantai, ia masih berdiri.

Di dalam kelas, jerit tertahan terdengar. Siswa-siswi spontan berhamburan keluar, menonton dari balik jendela dan pintu. Murid dari kelas lain berdatangan, ponsel terangkat, kamera menyala.

“Pecundang tetaplah pecundang! Matilah kau!!” teriak Alex, mabuk oleh rasa unggul.

Baaak! Buuuk! Baaak!

Tinju demi tinju mendarat di wajah Barra. Pipi, rahang, pelipis, semuanya dihantam bertubi-tubi. Barra tidak menghindar, tidak membalas. Tubuhnya kaku, seperti membeku di masa lalu. Ingatannya kembali ke toilet, ke lantai dingin, ke tawa yang menghancurkan martabatnya.

Di luar jendela kelas, Dion berdiri diam.

“Kenapa dia tidak menghindar…” gumamnya pelan. “Apakah traumanya sedalam itu.”

Ekspresinya tetap datar, namun rahangnya mengeras.

Para penonton menahan napas. Mereka menunggu momen runtuh itu, menunggu Barra tumbang seperti biasanya.

Namun detik itu… tidak pernah datang.

Barra mengepalkan tangannya. Otot-otot lengannya menegang, gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang sedang pecah di dalam dirinya.

“Hahaha!” Alex tertawa liar. “Cuma segini? Sampah!!”

“Bangsat…!” suara Barra pecah, parau.

“Kenapa kau menindasku terus menerus?!”

“Aku tidak pernah berbuat salah padamu!!”

Untuk pertama kalinya, Barra bergerak.

Ia menghindar satu pukulan, satu langkah kecil ke samping. Gerakan sederhana, namun cukup untuk memutus rantai masa lalu.

Lalu.

Wuuush!

Tinju Barra melesat.

Buaaak!

Pukulan itu menghantam wajah Alex dengan kekuatan penuh, tidak ragu. tidak tertahan, mata Alex membelalak.

“Ti-tidak mungkin…!”

Braaak!

Tubuhnya terlempar jauh. Meja dan kursi terguling saat punggungnya menghantamnya, sebelum akhirnya tubuh itu membentur dinding kelas dengan suara berat dan memekakkan.

Hening sesaat.

Di luar jendela, Dion berbisik nyaris tak terdengar, “Akhirnya… kau melawan traumamu.”

“Ap-apa yang terjadi?!” teriak seorang siswa sambil merekam dengan tangan gemetar.

“Mustahil! Dia memukul Alex sampai terpental… hanya dengan satu pukulan!” sahut yang lain.

Kerumunan meledak, sorak sorai membanjiri lorong. Nama Barra disebut-sebut dengan nada tak percaya, korban yang berdiri, penindas yang jatuh.

Barra tersenyum tipis.

Namun di balik senyum itu, napasnya bergejolak. Amarah, kebencian, dan sesuatu yang lebih gelap bercampur menjadi satu. Matanya menatap tubuh Alex yang tergeletak di dinding kelas, dingin, tajam.

Bagi Barra, tembok itu telah runtuh. Bagi Dion… ini baru permulaan.

1
Kaisar surgawi
stats MC sudah 100/100 seharusnya itu udh melebihi pasukan elite tentara atau bahkan pembunuh bayaran, tpi kenapa lawan pelajar 2vs1 masih lama perlawanannya ? ini authornya ga bisa memahami kalkulasi kekuatan yg dia buat kah ? misal kekuatan orang dewasa saja 10/100 harusnya dengan kekuatan MC 100/100 apalagi semua statnya 100/100 udh sangat kuat dan ga perlu lama2 ngadepin semut2 kaya mereka
Dita Permana
duit ratusan milyar tapi brangkat skolah masih naik bis🤭
Dita Permana
lagi-lagi dapet novel yg dialog system nya gak pake tanda kurung, tapi yg ini mudah2han seru ceritanya dan tata bahasa nya bagus
pauzi aja
ceritanya makin kacau
pauzi aja
coba d naikan kekuatan mcnya sekil cma 1 musuh semakin gila.
pauzi aja
pondasi tapi masih lemah
pauzi aja
cnya babi terlalu lembek.
pauzi aja
babi sama alurnya yg d harar mcnya anak buahnya jga minta ampun.
pauzi aja
sdh babak belus baru datang dasar pokisi indonesia taunya d kasih duit baru datang.
pauzi aja
knpa kekuatan mcnya ega d tingkatkan,dan jga ega menambah bela dirinya.
pauzi aja
kn ada kasbek 50%.. jadi kembali 150m.
pauzi aja
wih murah betul 10juta..ap ega salah.membangun 1 lantai aja kalau harga normal 100juta lebih ini cerita tahun berapa sih ap ceritanya tahun 80
pauzi aja
coba kekuatanya d naikan k 5ribu.dan tampah sekil bertarungnya.
pauzi aja
mcnya goblok sdh tau kekuatan lawan meningkat ,knpa ega menambah kekuatan jga
pauzi aja
coba tambah sekil berkelahinya jangan boQking aja.
pauzi aja
tambah kehalian lagi taici.,
pauzi aja
coba tambah lagi kekuatannya
pauzi aja
ceritanya bagus.
pauzi aja
sepi
pauzi aja
coba langsung rak s
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!