Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: LOW-INTENSITY, HIGH-FIDELITY & THE UNAPOLOGETIC BORING
Disclaimer: Bab ini mengandung kebahagiaan dalam hal-hal yang tidak layak diposting, komunikasi tanpa performa, dan keindahan yang hanya bisa dinikmati dalam definisi 480p.
---
< The New Normal: A Cinematic in Miniature >
Jakarta, 11.03. Ardi mengirim foto. Bukan ke Story, tapi langsung ke chat Kinan. Foto seekor kucing gemuk tidur di atas motor tua di depan warteg. Caption: "Bosnya bilang namanya Dadu. Kebetulan banget."
Bandung, 11.05. Balasan Kinan: foto tumpukan buku perpustakaan yang salah disusun, membentuk pola acak. Caption: "Algoritma manusia. Lebih chaos."
Itulah pola baru mereka: sharing micro-moments. Tidak spektakuler. Tidak didramatisir dengan filter. Hanya cuplikan kecil dari hari mereka, dikirim sebagai bukti: "Aku melihat ini, dan kamu adalah orang pertama yang kupikirkan." High-fidelity dalam kesederhanaan.
< The "Boring" Date That Went Unposted >
Kinan pulang ke Jakarta untuk libur akhir pekan. Biasanya, ini bahan untuk reunion post yang aesthetic. Tapi mereka malah menghabiskan Sabtu dengan:
Membantu Bowo pindah kos. Berkeringat, berdebu, minum teh botol di pinggir jalan.
Mencuci piring menumpuk di dapur kos Kinan sambil mendengarkan podcast lawas.
Tidur siang di sofa yang terlalu pendek, kaki mereka bersandar di ujung yang berbeda.
Tidak ada satu pun foto yang diambil. Kebahagiaan itu offline. Momen itu seperti file .RAW yang tidak pernah diedit untuk konsumsi publik terjaga keasliannya, disimpan hanya dalam memori mereka.
< The Unfiltered Check-In >
Mekanisme "Low-Intensity, High-Fidelity" mereka punya satu ritual: Sunday Night Voice Note. Setiap Minggu malam, mereka merekam voice note terpisah, maksimal 3 menit, berisi refleksi minggu itu. Boleh tentang apapun: kerja, keresahan, hal receh.
Voice Note Kinan (Minggu ke-2): "Minggu ini gue belajar kalau nggak semua brief klien harus gue bilang 'yes'. Gue tolak satu project karena nilainya nggak sejalan. Rasanya... dewasa. Tapi juga takut. Apa gue bisa survive jadi 'selective'? Anyway, gue beli tanaman sukulen. Namanya Sirih. Gue rawat dia biar nggak mati kayak yang dulu."
Voice Note Ardi (Minggu ke-2): "TA gue diacc, akhirnya. Rasanya... kosong? Kayak nggak ada musuh lagi buat dilawan. Sekarang gue cuma ngerjain musik buat game temen, dan... nge-game. Iya, gue main game RPG jadul. Nggak produktif, tapi seneng. Oh, kucing Dadu di warteg sekarang ikut nongkrong kalo gue makan siang."
Tidak ada tekanan untuk membalas cepat. Tidak ada ekspektasi untuk jawaban yang mendalam. Voice note itu seperti time capsule mingguan yang dikirim ke orbit satu sama lain, hanya untuk didengar dan diakui: "Aku di sini. Aku mengalami ini."
< The Aesthetic of "Enough" >
Kinan mulai proyek baru: "Analog Archive". Dia membeli kamera film bekas. Setiap minggu, dia memotret hanya satu rol film (36 eksposur). Subjeknya biasa saja: sarapannya, jalan ke studio, teman sekamarnya yang sedang tertidur. Hasilnya dia scan, tapi tidak diunggah. Dia cetak dan tempel di buku album fisik. Prosesnya lambat, mahal, dan tidak efisien. Itulah poinnya.
Ardi, di sisi lain, menemukan kenyamanan dalam limitation. Dia membatasi diri hanya menggunakan 3 plugin synth untuk membuat musik selama sebulan. Dengan batasan itu, kreativitasnya justru meledak. Dia membuat track berjudul "Three Tools & A Memory" sebuah lagu yang strukturnya sederhana, tapi lapisan emosinya dalam. Dia mengirim preview-nya ke Kinan.
Kinan mendengarkannya sambil melihat foto-foto analognya yang belum dicetak. Dan tiba-tiba dia tersadar: mereka sedang menciptakan bahasa baru. Bukan bahasa yang viral, bukan bahasa yang mudah dikonsumsi. Tapi bahasa yang padat, penuh arti, dan hanya dimengerti oleh mereka berdua. Seperti kode morse pribadi di era broadband.
< The Glitch That Was Actually a Feature >
Suatu hari, mereka sepakat untuk "Digital Sunset" pukul 20.00. Matikan semua notifikasi, nonaktifkan internet.
Pukul 21.15, Ardi teringat satu hal yang harus dia tanyakan ke Kinan. Dia menyalakan paket data 1GB-nya, mengirim satu pesan: "Kinan, urgent: Sirih (tanaman) itu butuh disiram berapa hari sekali?"
Kinan, yang juga melanggar "sunset", langsung membalas: "SEMINGGU SEKALI. JANGAN KEBANYAKAN. KOK TANYANYA SEKARANG?"
"Karena gue lagi di depan tanaman hias dan inget Sirih lo. Jadi kepikiran."
"...Dasar."
Pelanggaran aturan itu justru terasa manis. Itu bukan glitch, itu human moment. Bukti bahwa keinginan untuk terhubung bisa mengalahkan aturan yang mereka buat sendiri, dan itu tidak apa-apa.
< The Unapologetic Boring: A Manifesto in Two Parts >
Minggu ke-6 dalam fase "Low-Intensity", Kinan menulis essay terbaiknya untuk newsletter "Grounding Cables". Judulnya: "In Defense of the Uncurated, Boring, and Deeply Human Connection."
"...We have been sold the idea that love must be cinematic. That it must be worthy of a montage, a playlist, a thread. But what about the love that exists in the buffer? In the waiting for a reply that you know will come, eventually? In the sharing of a mundane photo of a fat cat on a motorcycle because you have no profound reason to, other than the fact that it made you smile, and you wanted to multiply that smile by sending it to someone who gets it?... The most radical act of love in the digital age might just be... to be boring together. To refuse to perform. To exist in low-resolution, and find the beauty in the pixelated truth of it all."
Ardi tidak berkomentar panjang tentang essay itu. Dia hanya mengirim voice note 10 detik: suara ketukan jari di atas meja kayu, membentuk ritme sederhana. Lalu pesan: "Soundtrack for your manifesto. Boring beat for a boring, beautiful thing."
---
LAST LINE: Di ponsel Kinan, notifikasi dari aplikasi kamera film mengingatkannya bahwa rol filmnya sudah penuh dan siap dicuci. Di laptop Ardi, sebuah file musik baru tersimpan dengan nama "Boring_Beat_01.wav". Di antara mereka, ada peta yang tidak terlihat: terhubung oleh kabel fiber optik dan satelit, tetapi juga oleh foto kucing, nama tanaman, voice note mingguan, dan kesepakatan untuk tidak takut menjadi membosankan. Mereka mungkin tidak lagi menjadi trending topic. Tapi dalam peta pribadi mereka, sinyalnya stabil, frekuensinya jelas, dan koneksinya meski low-intensity menghantarkan setiap bit informasi dengan sempurna, tanpa loss, tanpa noise. Dan di era di segala sesuatu bisa di-compress dan di-stream, mereka memilih untuk menjadi file lossless yang berat, yang hanya bisa disimpan di storage terbaik, dan dinikmati dalam privasi yang paling terjaga. 🎞️🔈