Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga
Dion selalu menegaskan pada dirinya sendiri bahwa perasaanya pada Kiko adalah salah, 'tidak mungkin, tidak mungkin' perkataan itu yang selalu dia lekatkan pada dirinya.
"silahkan dimakan Tuan Dion"
Kiko menyodorkan masakan yang dimasaknya tadi pada Dion sedangkan dirinya beranjak ingin pergi.
"kau tidak makan?" tanya Dion
"tidak, aku akan makan malam diluar"
Ng
"kau akan keluar?" tanya Dion sambil mengunyah makanannya
Kiko mengangguk, "iya, aku akan keluar sebentar"
ah, dia mungkin akan keluar dengan Nina. pikirnya.
Kiko memasuki kamarnya untuk bersiap siap mengganti pakaian.
"hm, aku harus memakai pakaian apa ya?"
Kiko memilah pakaian dalam lemarinya.
"apa aku pakai ini ya?" mengambil sebuah gaun di atas lutut
"eh, tapi kan aku hanya menonton bukan ingin berkencan"
kemudian Kiko memilah pakaian merasa tak ada yang bagus untuk Ia kenakan.
"ah, terserahlah! aku pakai ini saja"
****
Disisi lain Dion sedang menghubungi Gogo untuk membicarakan perihal bisnis yang sedang Ia kembangkan.
"kau urus saja, jangan sampai Alex mengakusisi perusahaan cabang. proyek kali ini tidak boleh gagal"
"baik Tuan, oh ya, Tuan besar Yogi besok akan berkunjung ke perusahaan"
"apa? kenapa mendadak sekali?" Dion kaget
"saya juga baru mendapat pesan langsung dari Tuan, beliau mengatakan bahwa ingin membicarakan hal penting dengan Anda"
"ya baiklah, kau urus saja besok"
Dion langsung mematikan sambungan telfonnya, serta menoleh pada Kiko yang keluar dari kamarnya.
Kiko mengenakan gaun seatas lutut dan berlengan panjang, rambut Ia urai dan sedikit terkesan bergelombang. mengubah penampilannya yang biasanya hanya bermodalkan jaket tebal, kini menjadi wanita yang lebih anggun dan feminim.
eh, dia mau kemana kenapa berdandan secantik itu.
Dion membelalak tak percaya, ada sesuatu yang menggelitik pikirannya.
dia tidak mungkin sedang ingin berkencan kan?
saat pikiran muncul, seketika itu pula terdengar suara bunyi mobil terparkir tepat di depan rumah Kiko.
"Tuan, aku pergi keluar dulu ya?!" pamit Kiko
"eh tunggu tunggu!" Dion menghalangi langkah Kiko
"ada apa Tuan?"
Dion memutar otaknya mencari akal.
"akh perutku sakit!" Dion mengaduh kesakitan memegangi perutnya
"ya Tuhan, begitu sakitkah?", Kiko panik, "mari saya antarkan ke kamar"
"tidak perlu, tolong ambilkan obat yang aku beli tadi dikamar!"
tanpa banyak bertanya, Kiko pun melangkah pergi ke kamar Dion guna mengambil obat yang Dion katakan.
Tok Tok Tok
Dion beralih berakting dan membuka pintu untuk Riko dan menatapnya tajam juga ketus.
"selamat malam" sapa Riko sambil memegang bunga
"ada apa kau kemari?" tanya Dion tanpa menjawab sapaan Riko
loh bukankah ini pria yang galak tadi dikantor
"bukankah ini rumah Kiko? saya ada janji keluar dengannya"
"Kikonya sudah keluar dari tadi kerumah temannya"
"benarkah? bukankah dia berjanji akan keluar bersama saya malam ini"
"ya mana aku tahu, dia tadi hanya mengatakan kalau ada temannya datang, suruh katakan kalau dia menunggu dirumah Nina"
"tolong berikan alamat teman Kiko?!" menyodorkan ponselnya
Dion mengambil ponsel Riko dan mengetik alamat Nina.
"sudah" Dion memberikan ponsel Riko kembali lalu..
BRUKK! Dion menutup membanting pintu
"eh, dia galak sekali" gumam Riko, "kenapa dia tinggal bersama Kiko ya? apa dia sodaranya? ah, sudahlah aku harus segera menemui Kiko"
Riko pun kembali ke mobilnya dan melaju pergi ke alamat yang diberikan oleh Dion.
"ha ha mampus aku kerjain" Dion terbahak membayangkan Riko terjebak di alamat yang salah pasalnya Dion juga tidak tahu alamat Nina.
"Tuan, ini obatnya!" Kiko berlari memberikan obat
"kenapa kau lama sekali sih?"
"saya mencarinya dimana mana ternyata ada di dalam laci paling bawah"
tepat dugaan Dion, agar Kiko lama mencari obatnya. dia kan bodoh, pikirnya
"ah sudahlah aku sudah tidak sakit lagi"
"beneran sudah tidak sakit lagi?"
Dion mengangguk.
lalu Kiko teringat akan temannya, Riko. yang datang menjemputnya tadi karena Ia sempat mendengar suara mobil terparkir dihalaman rumahnya.
Kiko melangkah membuka pintu dan keluar rumah, Ia tidak melihat apapun.
"eh, bukannya tadi ada suara mobil", Kiko kemudian melirik jam tangannya, "bukankah ini sudah malam dan filmnya akan segera diputar, kemana ya kok belum datang juga?"
Kiko mengernyitkan dahi tak mengerti.
tak lama kemudian Dion ikut keluar dan sudah berdandan rapi memakai blazer untuk menunjang penampilannya.
wah
Kiko terkagum melihat pesona Dion, diliriknya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan wajah melongo juga penuh takjub.
"ngapain kau bengong", bentak Dion, "hayo ikut aku"
"eh tapi Tuan, saya sudah ada janji"
tanpa banyak bicara Dion menggapai jemari Kiko dan menuntunnya melangkah keluar menuju taxi.
Kiko hanya bisa pasrah mengikuti Dion, pandangannya hanya tertuju pada jemari mereka yang saling melekat satu sama lain membuat jantung Kiko tak hentinya berdebar.
Deg
Deg
jantungku, hentikan! hentikan! kau tidak boleh seperti ini, ini salah. dia tidak mungkin menyukaimu sebagai perempuan.
Dion membukakan pintu mobil untuk Kiko masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.
"kita mau kemana Tuan?"
"nonton" jawab Dion dingin
apa kita akan berkencan?
sejenak pikiran itu terlintas dibenak Kiko.
tidak mungkin, inikan sama saja dengan Riko. kita hanya pergi menonton layaknya seorang teman. apalagi Dion kan sudah mempunyai kekasih, dan itu tidak mungkin seorang perempuan.
tanpa sadar Kiko menatap sedih pada Dion karena merasa perasaannya salah.
"hei mesum, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Dion dengan tatapan risih
"eh, he he maaf Tuan, aku tak sengaja"
"tak sengaja apanya?", Dion menyentil dahi Kiko hingga Ia mengaduh kesakitan, "buang jauh jauh pikiran anehmu dari otak kotormu itu!"
"he he Tuan tambah tampan deh kalau lagi marah"
"cih, risih. tidak perlu merayuku!"
"huh, galak sekali" gumam Kiko kesal
sial sial sial, kenapa aku berdebar untuk pria seperti dia sih.
****
sementara itu Riko sudah berkeliling mengitari komplek tapi tak juga menemukan nomor rumah yang diberikan oleh Dion.
hingga Riko bertemu dengan wanita berpenampilan acak acakan memakai jaket tebal seperti Kiko.
"permisi Nona" sapa Riko
"wah tampannya" gumam Nina melongo
"Nona, permisi?" melambaikan tangan didepan muka Nina yang melamun
"eh, iya. ada yang bisa saya bantu?"
"apa Nona tahu alamat ini?" memberikan alamat diponselnya
Nina menggelengkan kepala, "alamatnya benar tapi nomor rumahnya tidak ada"
"wah benarkah?"
ah sial, aku dikerjain
"memangnya Tuan mau pergi ke rumah siapa?" tanya Nina
"ke rumah Nina temannya Kiko, teman sekantor saya"
"ah, saya saya", sahut Nina girang, "saya Nina teman Kiko"
Riko memperhatikan penampilan lusuh Nina dengan tatapan tidak mungkin.
"benar, ini saya Nina" meyakinkan Riko
"kalau begitu, apa Kiko ada dirumah Nona?"
"tidak ada tuh"
sial, sudah ku duga pria itu mengerjaiku
"ya sudah, terimakasih Nona, saya pamit ke rumah Kiko dulu!"
Riko hendak melangkah membalikkan badan tapi buru buru Nina merampas bunga milik Riko yang akan diberikannya pada Kiko.
"terimakasih bunganya" teriak Nina dari kejauhan yang sudah berlari meninggalkan Riko
"wanita aneh", gumamnya
****