Rasa kecewa bisa membuat orang berubah, itulah yang dialami oleh gadis bernama Karin. Kecewa pada keadaan dan keluarganya membuatnya memendam kemarahan dan melampiaskannya pada jalan hidupnya sendiri.
Bukan hanya Karin sendiri yang mengalami itu, namun juga ada beberapa orang yang hidup berdampingan dengannya, yang memilih jalan yang sama.
Tapi, akankah seterusnya jalan yang ia tempuh berlalu seperti itu?
Karin : Aku hanya manusia biasa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuya hafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia kita berdua
Keluarga Andara banyak mengobrol dengan Roy. Kehangatan keluarga itu membuat Roy merasa nyaman. Sesuatu yang sangat jarang ia dapatkan saat ia bersama dengan keluarganya.
Roy merasa bersyukur bisa merasakan kebersamaan dengan keluarga itu. Walaupun ia tidak tau apakah hal itu bisa berjalan selamanya. Roy tidak berani untuk berharap terlalu jauh.
Acara kecil-kecilan yang dimaksud oleh Andara hanyalah berupa acara kumpul keluarga yang berisikan anggota keluarga Andara saja. Sama sekali tidak ada orang lain, apalagi keluarga Roy seperti yang pemuda itu maksud.
Alasannya pada Thanit hanya alasan palsu. Sebenarnya tidak sepenuhnya palsu, hanya saja Thanit pasti menganggap Roy menginap di rumah ayah kandungnya, bukan ayah mertuanya.
.
.
.
Setelah hari menjelang siang, Andara mengajak Roy untuk berkunjung ke kamarnya. Kamar yang tidak dibiarkan oleh gadis itu dimasuki oleh siapapun, hanya seorang ART saja yang masuk untuk membersihkannya.
Andara memiliki banyak rahasia di dalam kamarnya itu. Ia tidak ingin kalau apa yang dirahasiakannya diketahui oleh keluarganya. Tapi itu tidak berlaku untuk Roy. Andara merasa tak perlu menyembunyikan rahasianya pada Roy.
"Silahkan masuk," ucap Andara sambil membuka pintu kamarnya. Roy terpaku sejenak di depan pintu. Melihat pemandangan ruangan itu yang baginya sangat indah.
"Ayo masuk," ajak Andara pada Roy karena pemuda itu hanya diam saja. Roy mengerjap lalu ikut masuk mengikuti Andara.
Roy tampak kagum melihat kamar dengan nuansa pink yang cantik itu. Ia sampai tidak berkedip saat menatapi seisi ruangan itu. Andara tersenyum geli dengan sikap Roy. Baginya reaksi Roy terlalu berlebihan.
"Ayo duduk," ajak Andara pada Roy. Namun pemuda itu nampak enggan untuk mengalihkan pandangannya dari ruangan itu.
"Aku ingin menikmati pemandangan kamarmu dulu."
Andara terkekeh. "Apa sih kamu ini? Seperti melihat pemandangan luar ruangan saja."
"Kamarmu memang indah. Walaupun masih kalah cantik dari pemandangan di tamanku. Tapi ruangan ini terasa menenangkan. Aku sebenarnya memimpikan memiliki kamar seperti ini."
"Oh ya?"
Roy mengangguk kemudian duduk di samping Andara yang duduk di kasur. Tapi tatapan pemuda itu tak bisa beralih dari sekeliling ruangan itu.
"Kamarmu ramai sekali."
"Aku suka keramaian."
"Pasti menyenangkan saat melihat sekeliling kamar sambil mengenang masa lalu."
"Masa lalu?"
"Kamu memiliki banyak sekali teman. Foto mereka sampai memenuhi seisi kamarmu."
Andara lagi-lagi tertawa. "Aku suka mengabadikan kebersamaan dengan mereka. Ini juga untuk membuatku teringat pada mereka. Aku orangnya gampang sekali lupa. Sebagian dari mereka saja sudah tidak aku ingat walaupun foto mereka berjejeran di sana."
"Maka dari itu kamu juga tidak mengingatku."
Andara merasa kurang senang saat mendengar itu. "Memangnya kamu ingat padaku?"
"Aku ingat, tapi kan kita tidak bertemu selama belasan tahun. Perubahan wajahmu membuat ku tidak mengenalimu."
Andara memicingkan matanya tidak percaya. "Masa?" Roy menatapnya dengan tatapan datar.
Andara berdiri dan berjalan menghampiri meja riasnya. Roy memperhatikannya yang tampak sedang memililh sesuatu. Kemudian Andara menghampiri Roy lagi sambil menunjukkan sesuatu.
"Ini adalah koleksi ku. Aku senang menyimpan banyak barang. Bahkan sampai barang-barang itu memenuhi isi lemari ku," ucap Andara sambil melihat sekilas ke arah lemari besar yang berdiri di pinggir ruangan.
Roy melihat barang-barang yang terlihat cantik itu, tapi pemuda itu sama sekali tidak mengetahui itu apa dan apa kegunaannya.
"Apa semua ini? Kenapa kamu menunjukkan nya padaku?"
Andara tersenyum penuh arti. "Kamu bisa mencobanya kalau kamu mau. Kamu setidaknya pernah melihat para gadis memakai ini kan?"
"Aku bukan gadis." Roy mencebik sambil mengalihkan tatapannya dari Andara.
"Ohh... Jadi kamu tidak pernah tertarik untuk memakai barang-barang seperti ini?"
"Apa yang kamu pikirkan? Tentu saja aku tidak pernah tertarik."
"Hem.... Begitu ya. Kalau begitu biar aku sendiri yang memakainya. Kamu cukup melihat saja."
Roy memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh Andara. Pemuda itu tampak serius saat Andara memoleskan sesuatu pada kuku cantiknya. Setiap pergerakan Andara tidak luput dari perhatiannya.
"Sudah selesai!" Ucap Andara sedikit keras saat semua jarinya sudah berubah warna.Gadis itu mengangkat jari-jarinya seolah ingin memamerkan itu pada Roy.
Roy terlihat kagum dengan kuku-kuku cantik itu. Pemuda itu tanpa sadar tersenyum sambil menyentuh tangan Andara.
"Kamu mau? Kalau mau, aku akan memakaikannya juga pada kukumu." Roy tersadar dan memindahkan tangannya. Pemuda itu terdiam.
"Tenang saja, ini akan menjadi rahasia kita berdua," bisik Andara tepat di telinga Roy. Gadis itu terkikik seolah ada yang lucu.
.
.
.
"Bagus,kan? " tanya Andara pada Roy yang akhirnya ikut dipakaikan juga cat kuku oleh gadis itu.
Roy tampak menunduk malu. "Mm... Iya. Ini bagus. Warnanya sangat cantik."
Andara tersenyum senang seolah mempunyai teman baru untuk memamerkan keseniannya. "Sudah ku duga, kamu pasti suka."
"Tapi, apakah tidak apa-apa jika aku memakainya?"
"Tidak masalah. Warna ini bisa dihilangkan,kok. Lagipula, kamu hanya bersamaku. Tidak ada yang akan melihat ini."
"Kan ada keluarga mu di sini." Pemuda itu tampak khawatir.
"Kamu bisa menyembunyikan tanganmu."
"Aku tidak bisa selalu melakukan itu, bukan?"
"Sembunyikan saja tanganmu di balik tanganku."
Roy menatapnya aneh. "Sudahlah, aku anggap ini resiko mengikuti keinginanmu."
Andara tertawa senang. "Tapi kamu suka,kan?" Gadis itu menaik turunkan alisnya. Roy menjadi geram sendiri,tapi memang dia suka dengan penampilan kuku barunya. Ia sebenarnya sudah lama menginginkan hal itu.
"Akan aku tunjukkan hal yang lain."
"Apa lagi?"
"Kamu lihatlah dulu. Kita akan terlihat mirip nanti."
Andara memoleskan make up pada wajahnya dengan teliti. Perlahan namun pasti, terlihat hasil yang sangat memuaskan. Roy tampak takjub dengan hasil akhir dari karya Andara.
"Bagaimana? Apa aku cantik?" tanya Andara dengan senyuman yang sangat manis. Tanpa terlihat malu sedikitpun saat mengucapkan itu.
"Sa-sangat cantik," ucap Roy seolah tidak sadar. Andara semakin tersenyum senang.
"Aku akan melakukannya juga padamu."
"Apa?" Seketika Roy tersadar.
"Kemarilah. Ini tidak akan sakit,kok. Aku sudah lama ingin me-makeover seseorang. Apa kamu keberatan?" Andara terlihat sedih.
Roy merasa Andara sedang mengerjainya. Tapi melihat wajah sedih Andara membuat Roy menjadi tidak tega. Akhirnya ia pun menyetujuinya.
"Hihi... Anggap saja ini adalah sebuah pengalaman. Kita hanya sedang bermain. Lagipula, permainan ini tidak berbahaya," ucap Andara dengan riangnya.
Roy hanya bisa pasrah saat gadis itu akan memulai aksinya. Andara berdiri di depan Roy yang duduk di kasur. Satu tangan Andara memegang peralatan makeup nya dan satu tangannya lagi memegang rahang Roy. Andara terus tersenyum saat memulai aksinya.
Senyuman di wajah Andara menghilang saat ia menatap dengan lekat wajah suaminya. Tatapan mereka bertemu dan seolah terkunci. Keduanya terdiam cukup lama dengan posisi itu.
Kedua manik Andara bergerak seolah meneliti wajah suaminya. Begitu pula yang dilakukan oleh Roy. Tidak tau kenapa, pemuda itu merasa ada sesuatu yang berbeda dengan istrinya itu.
Andara seolah terpesona dengan wajah Roy. Gadis itu terus terdiam sambil masih memegangi rahang suaminya.
Perlahan, wajahnya kian mendekati wajah suaminya. Dengan tatapan yang sama, Roy juga melakukan hal itu. Seolah ada magnet yang menarik keduanya untuk saling mendekat.
Cup
Andara menempelkan bibirnya pada bibir Roy. Melakukan hal itu dengan pikiran yang ia sendiri tidak mengerti. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan perasaan aneh yang seolah baru untuk nya.
Sementara Roy sendiri tampak terbuai oleh perbuatan Andara. Pemuda itu seolah mengikuti alur yang dibuat oleh istrinya. Tanpa merasa canggung. Tidak pula merasa terganggu dengan perbuatan Andara. Pemuda itu menerimanya, seolah itu juga yang ia inginkan.
Mereka cukup lama terbuai dalam keadaan itu. Hingga mereka tersadar setelah merasa membutuhkan banyak pasokan oksigen. Keduanya saling menjauhkan wajah mereka yang sudah memerah.
Dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal, Andara mencoba untuk menatap wajah Roy. Namun hanya sekilas karena ia merasa tak enak hati. "Maaf," ucapnya lirih.
Tak ada jawaban dari pemuda di depannya membuatnya merasa khawatir. Berpikir apakah Roy marah terhadapnya? Namun saat ia menatap wajah Roy, pemuda itu juga sedang menatapnya.
Roy menarik Andara untuk duduk di kasur bersamanya.
"Ini akan menjadi rahasia kita berdua," bisik Roy dengan nafas yang menyapu wajah Andara, membuat gadis itu terpaku dibuatnya.
"Mari kita lanjutkan."
.
.
.
bersambung...
kalo orang lain berubah jadi buruk karena perkataan seseorang, belum tentu seseorang itu mau bertanggung jawab
jijik atuh neng kalo dicolok mah
siapa nih yang suka ngeliatin kucing jantan berantem? 😂🙏