Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Memang jadi tumbal
"Itu tadi suara Nanda bukan yang berteriak." ujar Bu Laras mendengar suara.
"Aku tak keluar dulu melihat dia, kasihan masih hamil muda bocah itu." Mbak Sri segera bangkit karena memang mendengar ada suara orang yang berteriak.
"Tadi dia bilang mual jadi tak suruh ke kamar mandi yang belakang." ujar Bu Narti.
Mbak Sri segera keluar dari dalam rumah untuk mencari keberadaan Nanda yang sedang mual dan muntah, tapi setelah melihat kamar mandi kosong maka mbak Sri bingung ke mana pergi nya Nanda sekarang karena dia sama sekali tidak terlihat ada di dalam kamar mandi yang ada di luar rumah itu.
Pandangan wanita setengah baya ini beredar ke sana kemari untuk memastikan apakah Nanda memang masih ada di sini atau dia memang sudah pergi dari kamar mandi tersebut, walau tidak bisa di bohongi perasaan Mbak Sri sekarang juga mendadak seperti ada sesuatu yang sangat aneh namun dia berusaha untuk tetap tegar dan tidak berlari.
Kadang bila manusia yang peka maka mereka bisa merasakan tentang kehadiran makhluk halus yang kasat mata di tempat mereka berada sekarang, sama halnya dengan Mbak Sri ini karena dia merasa ada sesuatu yang tengah berdiri dan mengawasi dia dari balik semak belukar sebelah rumah Bu Narti dan juga Pak Kamil.
Namun ketika dia menoleh untuk menyaksikan secara langsung tempat itu sama sekali tidak ada yang aneh sehingga Mbak Sri hanya bisa menarik nafas panjang, ini Nanda juga belum ketemu dan tanpa sengaja mata Mbak Sri melihat sesuatu bercahaya dari balik pohon pisang sehingga dia mau tidak mau menuju arah tersebut.
"Nanda!" Mbak Sri berusaha memanggil.
Tapi tidak ada jawaban dari suara Nanda yang ada di balik pohon pisang itu sehingga dia agak curiga bahwa sesuatu telah terjadi, perlahan namun pasti dia berjalan mendekat dan tak lupa menghidupkan senter karena memang lampu belum hidup dan hanya menggunakan lampu teplok pada bagian dalam rumah.
"Nanda!"
"Jangaaaaaan sentuh aku, pergi kau setan!" Nanda duduk meringkuk di bawah pohon pisang karena ketakutan.
"Ya Allah Kamu kenapa kok menangis di sini?!" Mbak Sri kaget ketika melihat keadaan Nanda yang sudah penuh dengan keringat.
"Si..siapa ini?" Nanda mendengar suara yang tidak asing dan dia menatap wajah Mbak Sri.
"Ini aku, Sri." Mbak Sri mengulurkan tangan kepada Nanda yang masih duduk meringkuk.
"Ada setan, ada setan di sini dan aku tidak bisa bergerak karena ketakutan!" Nanda histeris dan dia segera memeluk Mbak Sri yang ada di hadapannya.
"La Ilaha illallah, badan mu sangat dingin seperti ini loh." Mbak Sri sangat kaget ketika memegang tubuh Nanda.
Sedangkan Nanda sama sekali tidak peduli dengan omongan Mbak Sri karena dia terus saja melihat ke arah belakang yang berdiri pohon pisang begitu besar dan juga kokoh, Mbak Sri merasa memang ada sesuatu sehingga dia langsung menarik tangan Nanda agar segera pergi dari kebun pisang ini.
Walau Mbak Sri tidak melihat secara langsung tapi dia yakin memang ada sesuatu yang telah di lihat oleh Nanda sehingga dia terlihat sangat ketakutan dan sampai berkeringat dingin, agak aneh juga karena jarak pohon pisang dan kamar mandi cukup jauh tapi ternyata Nanda malah sampai di sini.
"Arman jadi hantu dan dia barusan menampakan diri di hadapan ku, Mbak." isak Nanda yang ketakutan.
"Yang benar kamu, Nan?!" Mbak Sri agak tidak percaya.
"Demi Allah aku tidak bohong kalau barusan memang ada Arman di balik pohon pisang itu, dia pucat dengan tali yang masih melilit leher." jelas Nanda kembali.
"Ajak saja dia masuk, Bude Sri." Purnama muncul di hadapan mereka berdua.
"Nduk ini Nanda bilang kalau dia barusan melihat arwah gentayangan di sekitar sini." Mbak Sri berusaha untuk mengajak Purnama berbicara.
"Sudah tidak usah di bahas lagi karena nanti malah jadi panjang, ajak saja dia masuk ke dalam." Purnama terlihat seolah tidak ingin menanggapi ucapan Mbak Sri.
Melihat Purnama yang bersikap cuek seperti itu maka Mbak Sri tidak melanjutkan pembicaraan dengan gadis tersebut karena dia tahu tabiat Purnama bagaimana, bila terus dipaksa untuk di ajak berbicara maka nanti yang ada Purnama hanya akan naik darah dan malah mengamuk.
Jadi lebih baik dia bercerita kepada Bu Laras saja karena jelas Bu Laras nanti akan lebih mendengarkan di banding kan dengan Purnama, Purnama sendiri segera menuju pohon pisang itu ketika Mbak Sri sudah mengajak Nanda masuk ke dalam rumah karena dia ingin melihat sendiri bagaimana bentuk Arman.
"Kau ingin melihat Arman itu ya?" Maharani ada di sebelah Purnama.
"Dia tadi kelihatannya memang datang ke sini untuk membuat masalah." Purnama memperhatikan sekitar dengan seksama.
"Mungkin saja benar kalau dia bukan mati gantung diri, pasti ada sesuatu yang mau dia sampaikan bila kita bisa bertemu dengan dia." Maharani jadi semakin penasaran.
"Ah untuk apa juga bertemu dengan arwah gentayangan seperti itu." Purnama berkata cuek.
"Ya kan siapa tahu saja kita bisa menolong, ingat kata Ibu kita harus menolong orang yang membutuhkan bantuan." Maharani berusaha untuk mengingatkan.
"Masalah nya dia bukan lagi manusia jadi tidak perlu kita menolong dia." bantah Purnama.
Maharani tidak bisa untuk menjawab lagi karena benar apa yang di katakan oleh Purnama bahwa yang ada di sekitar sini bukan manusia, memang agak sulit mengajak Purnama bekerja sama untuk mencari tahu tentang iblis itu karena dia tidak ingin membuang tenaga untuk menolong orang yang memang membutuhkan.
Sebab Purnama sendiri masih kewalahan untuk menghadapi nafsu dia yang sering tidak terkontrol ketika melihat para manusia, di dalam pikiran siluman ular ini adalah bagaimana cara memakan jeroan manusia yang ada di kampung tersebut dan dia sedang berusaha keras untuk menahan keinginan itu agar tidak kena marah oleh Bu Laras.
"Dia tidak mungkin bisa muncul karena ada sesuatu yang mengikat dia." Purnama berkata sambil menatap pohon pisang itu.
"Nah kan berarti benar kalau dia bukan mati karena bunuh diri." ujar Maharani penuh semangat.
"Seperti nya memang bukan, bisa di bilang dia di jadikan tumbal." Purnama mengangguk pelan.
"Jadi ayo kita cari tahu siapa yang sudah menjadikan dia tumbal." ajak Maharani.
Namun Purnama kembali menggeleng karena dia memang tidak ada niat untuk membantu orang, biar saja orang mau berbuat apa karena dia tidak pernah peduli dan menurut Purnama hanya akan membuang tenaga bila dia kepo dengan urusan orang yang ada di desa ini.
Selamat sore menjelang malam Besti, jangan lupa like dan komen kalian ya.