"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: IBLIS DI BALIK LAYAR
Bau gas yang manis namun mematikan mulai memenuhi paru-paruku. Di dalam gudang bawah tanah yang pengap ini, waktu seolah membeku. Sepuluh detik. Suara wanita dari interkom itu tidak main-main. Dingin, tanpa emosi, seperti mesin yang diprogram untuk memusnahkan.
"Aris! Pecahkan ventilasinya!" teriakku sambil menutupi hidung dengan syal sutra.
Kak Surya menarik sebuah tuas tersembunyi di balik meja kerja Ayah yang berat. "Tidak ada waktu! Yati, ikut aku!"
Aris melepaskan tembakan ke arah kunci pintu besi, namun pelurunya memantul. Sistem keamanan rumah ini telah diambil alih sepenuhnya oleh pihak luar. Di tahun 2026, rumah pintar bukan lagi perlindungan, melainkan jebakan maut jika kendalinya jatuh ke tangan yang salah.
"Tujuh... enam... lima..." Suara interkom itu menghitung mundur dengan nada monoton yang mengerikan.
Surya berhasil membuka sebuah lubang tikus di lantai jalur pelarian darurat yang dibangun Ayah sejak dulu. Aris mendorongku masuk lebih dulu. Tepat saat tubuhku meluncur ke dalam terowongan gelap yang sempit, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi rumah.
BOOM!
Suhu udara mendadak naik drastis. Gelombang panas menjilat tumitku. Aku berteriak saat debu dan puing-puing runtuh di belakangku, menutup jalan kembali. Dalam kegelapan total, aku merangkak dengan perut yang terasa kaku. Tuhan, lindungi bayi ini, doaku dalam hati yang paling dalam.
Satu jam kemudian, kami muncul di sebuah semak-semak lebat di pinggir sungai, jauh dari area perumahan mewah itu. Dari kejauhan, aku bisa melihat asap hitam membubung tinggi ke langit Manado yang mendung. Rumah itu simbol penindasanku, saksi bisu darah dan air mataku kini telah rata dengan tanah.
Aris terbatuk-batuk, wajahnya menghitam karena jelaga. Kak Surya berdiri dengan napas tersengal, menatap puing-puing itu dengan tatapan kosong.
"Siapa dia, Kak? Siapa wanita itu?" tanyaku dengan suara serak.
"Lidya kencana," Surya meludah ke tanah. "Ibu kandung Stevanus. Semua orang mengira dia meninggal karena bunuh diri dua puluh tahun lalu. Tapi nyatanya, dia adalah otak di balik Kencana Group, perusahaan bayangan yang mendanai semua kejahatan Stevanus. Stevanus hanya pion yang bodoh dan emosional. Lidya-lah yang menginginkan tanah Ayah karena kandungan mineral langka di bawahnya."
Aku terduduk di atas rumput basah. Rasa mual kembali menghantam. Jadi, selama lima tahun ini, aku tidak hanya berurusan dengan suami yang kejam, tapi dengan dinasti kriminal yang sangat rapi. Stevanus menindasku bukan hanya karena sifat narsistiknya, tapi karena itu adalah bagian dari instruksi ibunya untuk menghancurkan mentalku agar aku menyerahkan aset keluarga dengan mudah.
"Dia baru saja mencoba membunuh kita semua," bisikku. "Dia tidak peduli pada anaknya sendiri yang sedang di penjara?"
"Bagi Lidya, Stevanus sudah gagal," sahut Aris sambil memeriksa ponsel satelitnya yang masih berfungsi. "Begitu Stevanus tertangkap polisi, dia dianggap limbah. Lidya meledakkan rumah itu bukan hanya untuk membunuhmu, Widya, tapi untuk menghapus semua bukti fisik yang bisa menghubungkan dia dengan Stevanus."
Kemarahanku yang sempat padam kini berkobar kembali, lebih besar dan lebih murni. Jika dulu aku hanya ingin menghancurkan Stevanus, kini aku punya target baru yang lebih besar.
Malam itu, kami bersembunyi di sebuah rumah aman milik Aris yang terletak di pinggiran kota. Aris memberikan sebuah laptop baru padaku.
"Kita tidak bisa lagi bergerak sebagai Widya Pratama secara terbuka," ujar Aris serius. "Lidya tahu kau masih hidup. Dia akan memburumu."
"Maka biarkan dia memburuku," kataku sambil menatap layar yang menampilkan data saham Kencana Group. "Aris, gunakan seluruh sisa dana dari konsorsium. Kita lakukan serangan balik. Bukan lewat senjata, tapi lewat apa yang dia cintai paling besar: kekuasaannya."
Aku mulai mengetik dengan cepat. Menggunakan pengetahuan internal yang kudapatkan dari wasiat Ayah, aku mulai melacak aliran dana ilegal yang masuk ke perusahaan bayangan Lidya. Di tengah malam yang sunyi, ditemani detak jantung bayiku yang semakin kuat, aku merancang skema untuk menjatuhkan harga saham mereka dalam semalam.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Seseorang mencoba melakukan panggilan video ke laptopku melalui jalur terenkripsi.
Aku menekan tombol accept.
Layar menampilkan sebuah ruangan kantor yang sangat mewah. Seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul rapi duduk di kursi kebesaran. Wajahnya sangat mirip dengan Stevanus, namun matanya memiliki kedinginan yang tidak pernah dimiliki Stevanus.
"Yati... atau Widya. Kau cukup tangguh untuk ukuran wanita yang baru saja kehilangan rahimnya," suara Lidya terdengar meremehkan melalui speaker.
"Aku masih bernapas, Lidya. Dan itu adalah kesalahan terbesarmu," balasku tenang.
Lidya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung racun. "Kau pikir kau bisa menang? Aku punya Stevanus di tanganku. Dan kau pasti ingin tahu, mengapa istrimu dulu sangat mudah percaya padanya?"
"Aku istrinya, Lidya. Jangan berputar-putar."
"Bukan itu maksudku," Lidya mendekatkan wajahnya ke kamera. "Stevanus memilikimu karena sebuah rahasia besar tentang orang tuamu yang tidak pernah kau ketahui. Ayahmu tidak meninggal karena sakit, Yati. Dia meninggal karena aku memberinya pilihan: nyawanya, atau nyawa bayi yang sedang dikandung ibumu saat itu. Bayi yang sekarang kau anggap sebagai kakakmu, Surya."
Aku menoleh ke arah Kak Surya yang berdiri di sudut ruangan. Wajah Surya mendadak pucat.
Lidya tertawa kecil melihat ekspresiku. "Tanyakan padanya, Yati. Tanyakan pada Surya... siapa sebenarnya yang membayar biaya operasinya lima tahun lalu dan menyuruhnya bersembunyi? Surya bukan menyelamatkanmu, dia adalah informanku yang bertugas memastikan kau tetap dalam kendali Stevanus sampai tanah itu berpindah tangan."
Surya melangkah mundur, tangannya gemetar hebat. Dia tidak berani menatap mataku. "Yati... aku bisa jelaskan... ini tidak seperti yang kau bayangkan..."
Pintu rumah aman tiba-tiba digedor dari luar. Bukan oleh polisi, tapi oleh sepasang pria bersenjata lengkap dengan seragam Kencana Group.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...