NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: DYON MENGHILANG

#

Senin pagi. Dyon nggak datang ke sekolah.

Selasa. Masih nggak datang.

Rabu. Bangkunya kosong.

Kamis. Andra mulai khawatir.

Jumat. Andra ke gubuk Dyon—kosong. Pintu terkunci. Nggak ada tanda-tanda kehidupan.

Dyon... menghilang.

---

Kota sebelah. Kota industri yang penuh pabrik, asap, polusi. Jauh dari rumah—tiga jam naik bus.

Dyon turun dari bus—tas ransel lusuh di punggung. Isinya cuma baju dua stel, foto orang tua, sama hape butut yang layarnya retak tapi masih nyala. Di hape itu... ada satu foto. Foto Ismi. Foto yang dia ambil diam-diam waktu Ismi lagi senyum di perpustakaan—jilbab putih, mata berbinar, senyum yang hangat.

Foto itu... satu-satunya yang dia punya.

Dyon jalan ke kawasan pabrik—cari kerjaan. Pabrik tekstil. Pabrik sepatu. Pabrik apapun yang nerima.

Akhirnya diterima di pabrik sepatu—buruh harian. Upah Rp 80.000 sehari. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas malam. Enam belas jam. Tanpa libur.

Dyon terima—nggak ada tawar menawar.

---

Hari pertama kerja.

Pabrik besar. Mesin berisik—bunyi dengung keras yang bikin telinga sakit. Bau lem menyengat—bikin pusing. Udara panas—AC cuma ada di ruang bos, nggak di area buruh.

Dyon di bagian assembly—rakit sepatu. Ambil sol, tempel lem, pasang ke atas sepatu, tekan keras. Ulangi. Ribuan kali sehari.

Tangannya cepet lecet—lem panas ngebakar kulit. Punggung sakit—berdiri enam belas jam nggak ada istirahat kecuali makan siang lima belas menit.

Tapi dia tahan.

Harus tahan.

*Buat Ismi. Buat masa depan.*

Pulang malam—ke kontrakan sempit yang dia sewa Rp 400.000 sebulan. Kamar kecil—cuma muat kasur tipis, sama meja plastik. Kamar mandi di luar—sharing sama sepuluh orang. Kotor. Bau.

Tapi... lebih baik dari gubuk.

Makan malam—nasi bungkus Rp 7.000. Isinya nasi, tempe, tahu, sayur. Nggak ada lauk. Tapi kenyang.

Setelah makan, Dyon belajar.

Belajar matematika dari buku bekas yang dia beli Rp 10.000 di pasar loak. Belajar fisika. Belajar bahasa Inggris—penting buat kuliah nanti.

Matanya sering nutup sendiri—ngantuk parah. Tapi dia paksa melek. Kopi sachet Rp 1.000—diseduh pakai air panas dari dispenser umum. Minum—pahit, tapi bikin melek.

Belajar sampai jam dua pagi.

Tidur jam dua.

Bangun jam enam.

Ulangi.

Setiap hari.

Tanpa henti.

---

Minggu ketiga.

Dyon udah kurus—tulang pipi menonjol. Mata cekung. Kulit gosong—kena panas pabrik terus-terusan. Tangan penuh luka bakar—bekas lem panas.

Tapi tabungannya... bertambah.

Rp 80.000 x 6 hari \= Rp 480.000 seminggu.

Dikurangi makan Rp 7.000 x 7 hari \= Rp 49.000.

Sisa Rp 431.000.

Sebulan bisa nabung hampir Rp 2.000.000—setelah bayar kontrakan.

Dua juta... cukup buat apa?

Belum cukup buat kuliah. Tapi... lebih baik dari nol.

---

Malam Minggu. Hari libur—satu-satunya hari libur dalam seminggu.

Dyon duduk di kasur—sendirian. Kamar gelap—cuma ada lampu bohlam redup yang kedip-kedip.

Buka hape. Layar retak—tapi foto Ismi masih keliatan jelas.

Jilbab putih. Senyum manis. Mata berbinar.

Cantik.

Dia... cantik banget.

Dyon ngelus layar hape—pelan. Jari gemetar.

"Ismi..." bisiknya—suara serak. "Kamu... kamu gimana sekarang? Kamu... kamu masih nangis gara-gara aku?"

Air mata keluar—nggak bisa ditahan.

"Maafin aku... maafin aku udah ninggalin kamu. Aku... aku tau aku janji bakal bertahan bareng. Tapi... tapi aku nggak punya pilihan."

Tangannya ngepal—keras. "Aku... aku harus jadi lebih kuat. Harus... harus punya uang. Harus bisa kuliah. Harus... harus jadi orang yang layak buat kamu."

Dia peluk hape—erat. Kayak peluk Ismi langsung.

"Tunggu aku, Ismi," tangisnya pecah—keras, kayak anak kecil. "Kumohon... tunggu aku. Aku... aku akan kembali. Aku janji. Aku... aku akan jadi orang yang bisa lindungin kamu. Yang... yang bisa berdiri di samping kamu dengan kepala tegak."

Nangis sampai ketiduran—hape masih dipeluk di dada. Foto Ismi masih nyala di layar.

---

Sementara itu, di kota asal...

Ismi duduk di bangku sekolah—kosong. Ngeliatin bangku Dyon yang kosong di belakang.

Seminggu.

Dua minggu.

Tiga minggu.

Dyon nggak datang.

Nggak ada kabar.

Hapenya nggak aktif—mungkin dijual, mungkin rusak.

Ismi nanya ke Andra—berkali-kali. "Dyon dimana? Dia... dia baik-baik aja kan?"

Andra cuma geleng—sedih. "Dia... dia pindah kota. Kerja. Dia bilang... dia bilang mau ngumpulin uang buat masa depan. Buat... buat kamu."

Ismi nangis—lagi. Untuk kesekian kalinya.

Di rumah, dia nggak mau makan. Berat badan turun drastis. Mata selalu merah—bekas nangis terus.

Ibu Sarah khawatir—tapi nggak tau harus gimana. Pak Hendra tetep keras kepala—nggak peduli.

"Dia akan lupa sendiri," kata Pak Hendra dingin. "Anak muda... mudah jatuh cinta, mudah lupa."

Tapi Ismi... nggak lupa.

Setiap malam, dia buka laptop—baca pesan terakhir Dyon. Berkali-kali.

**"Tunggu aku, Ismi. Kumohon... tunggu aku."**

"Aku tunggu," bisik Ismi ke layar laptop—air mata ngalir. "Aku... aku akan tunggu. Berapa lama pun. Aku... aku janji."

---

Dua bulan berlalu.

Dyon masih di kota sebelah. Masih kerja enam belas jam sehari. Masih belajar sampai jam dua pagi.

Tabungannya udah Rp 4.000.000.

Empat juta.

Masih jauh dari biaya kuliah—minimal Rp 20.000.000 buat biaya masuk plus semester pertama.

Tapi... dia nggak menyerah.

Tiap malam, dia buka hape—liat foto Ismi.

Tiap malam, dia nangis.

Tiap malam, dia bisik janji yang sama.

"Tunggu aku, Ismi. Aku... aku akan kembali jadi orang yang layak."

Dan Ismi...

Di kota asal...

Juga bisik janji yang sama.

"Aku tunggu, Dyon. Aku... aku akan tunggu."

Dua hati yang terpisah jarak.

Dua hati yang masih... saling mencintai.

Meskipun dunia memisahkan mereka.

Meskipun nggak ada jaminan mereka akan bertemu lagi.

Tapi...

Cinta sejati... nggak kenal jarak.

Nggak kenal waktu.

Cinta sejati... bertahan.

Meskipun sakit.

Meskipun sendirian.

---

**BERSAMBUNG**

---

**

**HOOK:** *Aku menghilang bukan karena aku lemah. Tapi karena aku perlu jadi lebih kuat. Untuk cinta yang layak diperjuangkan.*

1
sitanggang
pertama kali apanya, udah diulang2, bego👎👎🤦🤦
sitanggang
parah ....kebanyakan gagapnya🤦👎
sitanggang
ternyata lemah 👎👎👎👎
checangel_
Tak semudah itu Edward, ingat! orang baik pasti menang 🤝
checangel_
Hebat Dyon /Applaud/
checangel_
Wah, perumahan bersubsidi 🤧/Good/
checangel_
Sekarang sekolahan berbasis ramah anak semua/Good/
checangel_: No comment lah /Silent/, cukup sekian dan terima tahu /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Gimana rasanya makan bebarengan begitu? nikmatnya tiada banding, sekelas resto mewah /Good/
checangel_
Yap, zaman sekarang yang di cari memang keterampilan, tapi tahulah ....🤧
checangel_
Yap, kejujuran adalah harga yang tidak bisa dibayar dengan uang 🤝
checangel_
Jarang ada loh, orang yang setulus Pak Hendra ini 🤧
Dri Andri: hanya sekedar motivasi dan inspirasi aja kak.. yang asli real yang itu
total 7 replies
checangel_
Efek membela kebenaran, diri sendiri pun terbuangkan /Sob/
checangel_
Apakah dunianya sebohong itu?🤧
checangel_
Baik banget sih Leornad 🤧, teman bukan sekadar teman biasa, tetapi kamu juga pengacara luar biasa 🤝
checangel_: 💯/Good/
total 3 replies
checangel_
Tunjukan pesonamu Dyon, jangan biarkan koruptor menggema dalam pondasimu 🤝
checangel_
Dunia kerja memang seperti itu, ada aja yang dengki
checangel_
Ketika pondasi yang terlihat kuat, tapi bisa rapuh karena sebuah ancaman 🤧
checangel_
Dyon, kamu dermawan sekali 🤧
checangel_: آمين
total 6 replies
checangel_
Roda yang selalu berputar 🤧
checangel_: 🤭/Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Pertahankan janji itu ya Sulaiman, ingat! janganlah selalu menatap langit, jika posisimu sudah berada di tingkat yang layak, karena di balik pertahananmu ada teman yang selalu mendukungmu🤝/Smile/
Dri Andri: ya begitulah.. maklum manusia yang tak lukut dari kesalahan
total 10 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!