NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: DYON MENGHILANG

#

Senin pagi. Dyon nggak datang ke sekolah.

Selasa. Masih nggak datang.

Rabu. Bangkunya kosong.

Kamis. Andra mulai khawatir.

Jumat. Andra ke gubuk Dyon—kosong. Pintu terkunci. Nggak ada tanda-tanda kehidupan.

Dyon... menghilang.

---

Kota sebelah. Kota industri yang penuh pabrik, asap, polusi. Jauh dari rumah—tiga jam naik bus.

Dyon turun dari bus—tas ransel lusuh di punggung. Isinya cuma baju dua stel, foto orang tua, sama hape butut yang layarnya retak tapi masih nyala. Di hape itu... ada satu foto. Foto Ismi. Foto yang dia ambil diam-diam waktu Ismi lagi senyum di perpustakaan—jilbab putih, mata berbinar, senyum yang hangat.

Foto itu... satu-satunya yang dia punya.

Dyon jalan ke kawasan pabrik—cari kerjaan. Pabrik tekstil. Pabrik sepatu. Pabrik apapun yang nerima.

Akhirnya diterima di pabrik sepatu—buruh harian. Upah Rp 80.000 sehari. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas malam. Enam belas jam. Tanpa libur.

Dyon terima—nggak ada tawar menawar.

---

Hari pertama kerja.

Pabrik besar. Mesin berisik—bunyi dengung keras yang bikin telinga sakit. Bau lem menyengat—bikin pusing. Udara panas—AC cuma ada di ruang bos, nggak di area buruh.

Dyon di bagian assembly—rakit sepatu. Ambil sol, tempel lem, pasang ke atas sepatu, tekan keras. Ulangi. Ribuan kali sehari.

Tangannya cepet lecet—lem panas ngebakar kulit. Punggung sakit—berdiri enam belas jam nggak ada istirahat kecuali makan siang lima belas menit.

Tapi dia tahan.

Harus tahan.

*Buat Ismi. Buat masa depan.*

Pulang malam—ke kontrakan sempit yang dia sewa Rp 400.000 sebulan. Kamar kecil—cuma muat kasur tipis, sama meja plastik. Kamar mandi di luar—sharing sama sepuluh orang. Kotor. Bau.

Tapi... lebih baik dari gubuk.

Makan malam—nasi bungkus Rp 7.000. Isinya nasi, tempe, tahu, sayur. Nggak ada lauk. Tapi kenyang.

Setelah makan, Dyon belajar.

Belajar matematika dari buku bekas yang dia beli Rp 10.000 di pasar loak. Belajar fisika. Belajar bahasa Inggris—penting buat kuliah nanti.

Matanya sering nutup sendiri—ngantuk parah. Tapi dia paksa melek. Kopi sachet Rp 1.000—diseduh pakai air panas dari dispenser umum. Minum—pahit, tapi bikin melek.

Belajar sampai jam dua pagi.

Tidur jam dua.

Bangun jam enam.

Ulangi.

Setiap hari.

Tanpa henti.

---

Minggu ketiga.

Dyon udah kurus—tulang pipi menonjol. Mata cekung. Kulit gosong—kena panas pabrik terus-terusan. Tangan penuh luka bakar—bekas lem panas.

Tapi tabungannya... bertambah.

Rp 80.000 x 6 hari \= Rp 480.000 seminggu.

Dikurangi makan Rp 7.000 x 7 hari \= Rp 49.000.

Sisa Rp 431.000.

Sebulan bisa nabung hampir Rp 2.000.000—setelah bayar kontrakan.

Dua juta... cukup buat apa?

Belum cukup buat kuliah. Tapi... lebih baik dari nol.

---

Malam Minggu. Hari libur—satu-satunya hari libur dalam seminggu.

Dyon duduk di kasur—sendirian. Kamar gelap—cuma ada lampu bohlam redup yang kedip-kedip.

Buka hape. Layar retak—tapi foto Ismi masih keliatan jelas.

Jilbab putih. Senyum manis. Mata berbinar.

Cantik.

Dia... cantik banget.

Dyon ngelus layar hape—pelan. Jari gemetar.

"Ismi..." bisiknya—suara serak. "Kamu... kamu gimana sekarang? Kamu... kamu masih nangis gara-gara aku?"

Air mata keluar—nggak bisa ditahan.

"Maafin aku... maafin aku udah ninggalin kamu. Aku... aku tau aku janji bakal bertahan bareng. Tapi... tapi aku nggak punya pilihan."

Tangannya ngepal—keras. "Aku... aku harus jadi lebih kuat. Harus... harus punya uang. Harus bisa kuliah. Harus... harus jadi orang yang layak buat kamu."

Dia peluk hape—erat. Kayak peluk Ismi langsung.

"Tunggu aku, Ismi," tangisnya pecah—keras, kayak anak kecil. "Kumohon... tunggu aku. Aku... aku akan kembali. Aku janji. Aku... aku akan jadi orang yang bisa lindungin kamu. Yang... yang bisa berdiri di samping kamu dengan kepala tegak."

Nangis sampai ketiduran—hape masih dipeluk di dada. Foto Ismi masih nyala di layar.

---

Sementara itu, di kota asal...

Ismi duduk di bangku sekolah—kosong. Ngeliatin bangku Dyon yang kosong di belakang.

Seminggu.

Dua minggu.

Tiga minggu.

Dyon nggak datang.

Nggak ada kabar.

Hapenya nggak aktif—mungkin dijual, mungkin rusak.

Ismi nanya ke Andra—berkali-kali. "Dyon dimana? Dia... dia baik-baik aja kan?"

Andra cuma geleng—sedih. "Dia... dia pindah kota. Kerja. Dia bilang... dia bilang mau ngumpulin uang buat masa depan. Buat... buat kamu."

Ismi nangis—lagi. Untuk kesekian kalinya.

Di rumah, dia nggak mau makan. Berat badan turun drastis. Mata selalu merah—bekas nangis terus.

Ibu Sarah khawatir—tapi nggak tau harus gimana. Pak Hendra tetep keras kepala—nggak peduli.

"Dia akan lupa sendiri," kata Pak Hendra dingin. "Anak muda... mudah jatuh cinta, mudah lupa."

Tapi Ismi... nggak lupa.

Setiap malam, dia buka laptop—baca pesan terakhir Dyon. Berkali-kali.

**"Tunggu aku, Ismi. Kumohon... tunggu aku."**

"Aku tunggu," bisik Ismi ke layar laptop—air mata ngalir. "Aku... aku akan tunggu. Berapa lama pun. Aku... aku janji."

---

Dua bulan berlalu.

Dyon masih di kota sebelah. Masih kerja enam belas jam sehari. Masih belajar sampai jam dua pagi.

Tabungannya udah Rp 4.000.000.

Empat juta.

Masih jauh dari biaya kuliah—minimal Rp 20.000.000 buat biaya masuk plus semester pertama.

Tapi... dia nggak menyerah.

Tiap malam, dia buka hape—liat foto Ismi.

Tiap malam, dia nangis.

Tiap malam, dia bisik janji yang sama.

"Tunggu aku, Ismi. Aku... aku akan kembali jadi orang yang layak."

Dan Ismi...

Di kota asal...

Juga bisik janji yang sama.

"Aku tunggu, Dyon. Aku... aku akan tunggu."

Dua hati yang terpisah jarak.

Dua hati yang masih... saling mencintai.

Meskipun dunia memisahkan mereka.

Meskipun nggak ada jaminan mereka akan bertemu lagi.

Tapi...

Cinta sejati... nggak kenal jarak.

Nggak kenal waktu.

Cinta sejati... bertahan.

Meskipun sakit.

Meskipun sendirian.

---

**BERSAMBUNG**

---

**

**HOOK:** *Aku menghilang bukan karena aku lemah. Tapi karena aku perlu jadi lebih kuat. Untuk cinta yang layak diperjuangkan.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!