"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Takdir Tiara
Pagi harinya, Tiara nekad mencari dokter yang bernama Lingga, siapa tahu lowongan itu memang rezekinya.
5 Milyar adalah jumlah yang sangat banyak. Dia membutuhkan uang untuk memperbaiki rumah Budhe Arni, juga untuk mengumpulkannya agar bisa membayar pengacara, maupun orang-orang yang handal dalam menangani kasus seperti ini.
Dokter bernama Lina Marlina itu harus merasakan akibatnya, rumah sakit itu harus digusur bagaimanapun caranya. Tiara sudah bertekad tidak akan kalah. Dia sudah terlalu banyak menanggung masalah dalam diam, sekarang Dia tidak akan mau mengalah apalagi pada penjahat-penjahat yang menindas rakyat kecil!
"Permisi, suster, maaf, Saya mau mencari dokter Lingga, apa hari ini beliau ada jadwal praktik disini?"
"Dokter Lingga? Iya hari ini beliau ada praktek, tapi setelah jam makan siang. Kalau boleh tahu, ada apa ya mba?"
"Saya ada keperluan penting. Tapi, kalau suster bisa menyampaikannya, tolong bilang saja Saya berminat untuk mendaftar jadi Ibu susu" Ucap Tiara.
Suster itu kaget. Informasi itu adalah rahasia. Kebetulan dirinya adalah asisten dokter Lingga z kalau dokter Lingga tahu bahwa wanita ini mendapatkan informasi itu entah darimana, Dia pasti mendapatkan masalah.
"Mbak, beneran mau? Mbak tahu darimana?" Suster itu tiba-tiba berbisik. Tiara jadi merasa bersalah karena menguping. Sepertinya informasi ini adalah rahasia. Kalau Tiara bilang Dia mendengarnya dari dua orang suster itu, Mereka pasti akan mendapatkan teguran yang keras.
"Aku nggak sengaja denger. Tapi, itu benar nggak sus?"
Suster itu tampak berfikir. Lalu mengangguk, mengiyakan.
"Oke kalau mbak mau, nanti siang mbak kesini lagi ya, biar saya ajak ketemu dokter Lingga"
"Baik Sus, makasih"
"Tapi, mbak beneran punya asi, terus anak mbak gimana nanti?"
"Anak saya baru meninggal sus. Tapi ASI saya masih melimpah, saya jamin"
"Oh, maaf mbak, Saya nggak tahu..." Ucap suster itu dengan tidak enak hati. Tapi begitu melihat baju pasien Tiara yang basah di bagian 'itu', Suster itu percaya bahwa Tiara benar-benar memiliki ASI yang banyak.
Setelah jam makan Siang, Suster itu datang ke ruangan Tiara saat wanita itu tengah bersiap-siap untuk menemuinya. Kebetulan Anita dan Budhe Arni juga ada disana, Mereka pun bertanya pada Tiara.
"Ada apa dek? Kok kayaknya rahasia banget?" Tanya Anita yang heran saat melihat suster itu datang dengan gelagat yang aneh dan memanggil Tiara sambil berbisik-bisik.
"Nanti Aku ceritain mbak Nit, Aku pergi dulu"
Belum sempat Anita merespon, Tiara sudah melesat jauh meninggalkannya dan Budhe Arni di ruangan pasien itu.
****
"Mbak Tiara umur berapa sekarang?"
"Tahun ini, 24 tahun Bu dokter" Jawab Tiara dengan lugas, dan tubuh yang tegak, mirip calon karyawan baru yang sedang di interview.
Dokter bernama Lingga itu tersenyum. Dia lalu berkata, "Santai aja Tiara, jangan tegang begitu"
"Oh, Iya dok"
"Asisten Saya bilang anak Kamu baru aja meninggal? Saya turut berdukacita ya"
Tiara mengangguk dan kemudian menjawab, "Terima kasih"
"Jadi alasan Kamu mau jadi Ibu susu karena bayarannya?"
"Betul" Jawab Tiara terus terang, Dia merasa tidak perlu menutupi apapun. Tapi Dokter Lingga justru merasa puas. Dia bukannya tidak tahu, saat Tiara datang, Dia langsung mengenali wajah wanita ini.
Wanita ini beserta temannya? atau saudaranya? Yang viral beberapa waktu lalu atas kasus kematian bayi di rumah sakit swasta yang memang bermasalah dari dulu, tapi entah kenapa belum juga tutup sampai sekarang, padahal bukan hanya bayi Tiara yang pernah menjadi korbannya.
Tapi, malah Tiara dan Anita membuat video permintaan maaf? Dunia memang banyak tidak adilnya.
Mungkin rumah sakit itu memang tempat untuk menyetor 'tumbal', Astaghfirullahal'adziim. Dokter Lingga tiba-tiba beristighfar karea bisa memiliki pemikiran ekstrim seperti itu.
Yang jelas, dokter Lingga bisa menebak, Tiara pasti membutuhkan banyak uang untuk hal itu. Tapi, itu bukan urusan Dokter Lingga, selama pasien yang mencari Ibu Susu ini cocok dengan Tiara, maka tidak ada salahnya mencoba bukan? Mungkin ini bisa menjadi jalan takdir bagi Tiara untuk membalaskan dendam atas kematian anaknya.
"Oke, Saya akan infokan dulu ya, kalau orangnya bersedia, akan Saya kabari"
Tiara mengangguk, kemudian setelah berbincang sebentar, Tiara pun keluar dari ruangan dokter Lingga.
Tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha. Batin Tiara menyemangati diri sendiri.
Sore harinya, saat bersiap untuk pulang, asisten dokter Lingga tiba-tiba memanggilnya dengan tergesa-gesa.
"Mbak, kata dokter Lingga, kamu berangkat ke Ibukota malam ini juga"
"Hah? Kenapa? Kok mendadak, emangnya orangnya udah mau sama Saya?"
"Nggak tahu, makanya dokter Lingga manggil Kamu sekarang"
"Ok"
Kebetulan dokter Lingga keluar dari ruangannya. Wajahnya yang tegang tiba-tiba menjadi lebih tenang saat melihat Tiara.
"Tiara, Kamu berangkat malam ini ya, bayi itu tiba-tiba masuk ruang NICU karena dehidrasi parah. Kamu harus sampai ke sana malam ini"
Tiara mengangguk, tiba-tiba Dia juga ikut merasa panik.
Anaknya pernah masuk NICU dan keluar dalam keadaan tidak bernyawa. Mendengar bayi lain kini dalam keadaan yang sama, jantungnya berdebar dengan kencang, tubuhnya juga ikut menegang.
"Tapi, biodata Saya gimana Bu dokter?"
"Udah, Kita urus itu nanti. Malam ini Kamu berangkat sama Saya ke Ibukota ya, Kamu siap-siap sekarang, bawa barang seadanya aja, kalau ada yang kurang nanti bisa beli disana saja"
"B-baik Bu dokter. Kalau begitu Saya izin sama Budhe dan kakak saya dulu"
"Oke silahkan, jangan lama-lama ya, nanti asisten Saya yang nganter Kamu ke parkiran" Ucap Dokter Lingga, lalu berlalu pergi dengan terburu-buru.
Begitu juga dengan Tiara, Ia segera bergegas kembali ke ruang rawatnya untuk mengambil pakaiannya yang hanya beberapa disana, dompet serta handphonenya yang tengah di charge.
"Dek... Kamu... Mau pergi?"
"Mba Nit, Aku harus pergi ke ibukota sekarang"
"Lho, lho, lho, kok mendadak nduk, ada apa?"
Tanya Budhe Arni. Beliau yang tengah makan pun segera berdiri menghampiri Tiara. Sementara Anita masih berkedip-kedip kebingungan karena kaget atas keputusan Tiara yang mendadak.
"Aku dapat tawaran kerjaan disana, bayarannya sangat tinggi. Aku udah bilang sama Mbak Nit, Aku harus nabung banyak, kalau mau balas dendam Aku harus punya uang banyak dulu"
"Tunggu dulu dong, kerjaannya apa? gimana kalau Kamu dibohongi?"
"Insya Allah nggak mbak, dokter rumah sakit ini yang ngenalin Aku sama calon bos baru Aku ini. Nanti Kamu cari aja dokter Lingga, biar beliau bantu jelaskan. Sekarang Aku harus pergi dulu. Kalau Aku udah terima gaji pertama, Aku akan kirimkan ke mba Nita buat renovasi rumah Budhe dulu ya"
"Tiara... Kamu kok nggak diskusi dulu sama mbak..."
"Maaf mbak, Aku..." Tiara merasa bersalah karena mengambil keputusan sebesar ini tanpa meminta pendapat dari Anita dan Budhe Arni. Tapi Dia harus....
Anita membuang nafas berat, Dia kemudian berkata,
"Ya sudah, hati-hati, pokoknya hape kamu harus on terus, Aku juga udah pasang penyadap lokasi di hape Kamu, kalau ada apa-apa langsung telepon, terus pulang, paham?"
"Iya Mbak Nit, Aku ngerti... makasih yaaa, doain Aku" Ucap Tiara, lalu memeluk Anita dan Budhe Arni secara bergantian.
"Budhe jaga kesehatan ya, kalau nanti udah sempat, Tiara pasti pulang"
"Ati-ati nduk, kok yo mendadak banget iki lho" Gerutunya dengan wajah cemas. Tiara menghambur ke pelukan wanita baik hati ini sekali lagi, sebelum asisten dokter Lingga memanggilnya dan menyuruhnya bergegas.
"Tiara pergi dulu mbak Nit, budhe, Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam..."
terima kasih ya,udh buat tia tegas dan tdk menye menye. suka dgn karakter tia yg sekarang.
jgn jatuh ke lubang yg sama dan jatuh cnta lgi dgn tirex,manusia kaku,egois,kasar dan mulut tajam dan tdk peka.
lgi an ya,gw heran ama lu rex,kaga ad jiwa kebapakan lu dah,sama jayden aj kaya kaga ad ikatan batin ,minimal dekat dan sayang. darah daging sndri . 😒😒