Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kediaman Kusuma - Kamar Zaverio - Tengah Malam
Cahaya biru dari layar laptop menerangi wajah Zaverio yang pucat karena kelelahan. Jam digital di meja menunjukkan pukul 02.47 dini hari. Dia sudah terjaga selama hampir 20 jam tanpa henti, mata merahnya menatap tajam ke layar yang menampilkan berbagai rekaman CCTV.
Di sekeliling laptopnya, bertebaran notes dengan tulisan tangan yang berantakan—nama-nama, waktu, pola pergerakan, sketsa wajah yang blur.
Aku tidak bisa percaya siapapun, pikir Zaverio, jemarinya mengetik dengan cepat—hack security system mansion Paramitha bukanlah hal sulit bagi seseorang yang pernah menjadi CEO perusahaan teknologi di kehidupan sebelumnya.
Bahkan keluargaku sendiri... aku tidak bisa percaya. Tidak sampai aku tahu persis siapa musuhnya.
Dia memutar ulang rekaman CCTV taman belakang mansion Paramitha—rekaman dari malam saat Vyan mendengar sesuatu yang membuatnya takut.
Frame demi frame, Zaverio perhatikan dengan seksama.
Dan di sana—di pojok layar, sekitar pukul 23.30 malam itu—bayangan kecil Vyan terlihat bersembunyi di balik semak-semak, tubuhnya gemetar, mulutnya tertutup dengan tangannya sendiri seolah mencoba tidak bersuara.
Zaverio zoom in, memperlambat playback.
Dua bayangan terlihat di frame—dua orang yang berjalan di taman, berbicara dengan suara yang tidak tertangkap audio karena mereka terlalu jauh dari mikrofon CCTV.
Tapi ada sesuatu...
Zaverio pause di frame tertentu. Salah satu bayangan itu mengangkat tangannya—gesture saat bicara—dan cahaya bulan menangkap sesuatu di jarinya.
Tato.
Tato kecil berbentuk kupu-kupu di jari telunjuk.
Zaverio langsung screenshot, zoom in maksimal hingga pixelated, tapi masih bisa terlihat—kupu-kupu hitam dengan sayap yang detail.
Ini petunjuk. Petunjuk pertama.
Dia membuka database karyawan mansion Paramitha yang dia hack—semua bodyguard, pelayan, asisten, bahkan tukang kebun.
Satu per satu dia cross-check dengan foto yang ada.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Matanya sudah perih, kepalanya pusing, tapi dia tidak berhenti.
Dan akhirnya—
BINGO.
Wajah di layar cocok dengan bayangan di CCTV.
Nama: Hendrik Sutanto
Posisi: Kepala Keamanan Mansion Paramitha
Masa Kerja: 25 tahun
Keterangan khusus: Dipercaya oleh Darma Paramitha. Veteran keamanan. Pernah menyelamatkan nyawa Aditya Paramitha dua kali.
Dan di foto database—di tangan kanannya yang terangkat saat bersumpah—terlihat jelas tato kupu-kupu kecil di jari telunjuk.
Zaverio membeku.
Orang kepercayaan. Veteran 25 tahun. Penyelamat keluarga Paramitha.
Dan dia... dia pengkhianat?
Tapi tunggu. Kalau dia pengkhianat, kenapa dia masih bekerja untuk Paramitha selama 25 tahun? Kenapa baru sekarang bertindak?
Kecuali...
Kesadaran menghantam Zaverio seperti kereta api.
Kecuali dia adalah sleeper agent. Ditanam sejak lama. Menunggu waktu yang tepat.
Ini bukan kebetulan. Ini rencana jangka panjang.
Zaverio meraih ponselnya, jemarinya bergetar saat mengetik pesan untuk Darma.
Tapi dia berhenti sebelum send.
Tunggu. Kalau aku kirim pesan, dan ponsel Kakek Darma di-tap...
Dia menghapus pesan itu, berpikir keras.
Aku harus warning dia tapi tanpa membuat musuh tahu bahwa aku tahu.
Kediaman Paramitha - Ruang Kerja Darma - Waktu yang Bersamaan
Darma Paramitha duduk di kursinya, layar monitor di hadapannya menampilkan feed CCTV yang sama—taman belakang, malam saat Vyan bersembunyi.
Pak Hendra, asisten pribadinya yang sudah bekerja 30 tahun, berdiri di sampingnya dengan wajah serius.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Hendra pelan.
Darma tidak menjawab langsung. Matanya terus menatap layar, mencoba membaca apa yang Vyan lihat malam itu.
Ponselnya berdering.
Arman Syailendra
Darma mengangkat, menekan speaker.
"Arman, apa kamu tahu tentang Vyan yang mengetahui sesuatu terkait taman belakang mansion?" tanya Darma sambil berjalan ke jendela, menatap taman belakang yang gelap.
Ada jeda sejenak di seberang.
"Apa yang Paman katakan? Aku tidak paham." Suara Arman terdengar bingung—terlalu bingung. "Aduh, Paman pasti ngigau lagi nih. Paman, tidurlah. Mungkin jam 2 nanti... Aditya akan datang ke mimpi Paman."
Darma membeku.
Aditya. Arman tidak pernah menyebut nama Aditya secara sembarangan setelah kematiannya—terlalu menyakitkan.
Kecuali...
Isyarat. Dia memberi isyarat.
"Jam 2" - waspada level 2. Ancaman serius.
"Aditya di mimpi" - seseorang yang dekat dengan Aditya terlibat. Orang dalam.
Darma langsung mengerti. Percakapan mereka sedang disadap. Ada yang mendengarkan.
Dia harus bicara dengan kode.
"Arman," kata Darma dengan nada yang dibuat-buat lelah, "Dita tadi menangis karena bertengkar dengan Vyan di taman belakang. Tolong bawa Vyan ke sini besok untuk menghibur cucuku. Dan... pakailah jaket merah. Serta bawa bunga mawar merah untuk Dita. Dia suka warna merah."
Kode keluarga Paramitha-Syailendra yang sudah mereka buat 20 tahun lalu:
-Jaket merah: Ada mata-mata yang mengawasi dari luar mansion.
-Bunga merah: Kerahkan kekuatan penuh untuk penjagaan keluarga
-Suka warna merah: Bahaya level tertinggi. Ancaman pembunuhan.
"Paman, jangan khawatir," jawab Arman dengan nada yang juga dibuat-buat santai. "Sekarang tidurlah. Tidak baik untuk Paman bersama gelapnya malam. Paman harus tidur untuk menyingkirkan gelapnya malam dan menyambut terang."
Darma tercekat.
Kode Arman:
-Gelapnya malam: Musuh sudah masuk ke dalam mansion Paramitha
-Menyingkirkan gelap, menyambut terang: Selalu waspada. Jangan percaya siapapun. Bahkan orang terdekat.
Baiklah," Darma mengakhiri panggilan dengan tangan gemetar.
Dia berbalik ke Pak Hendra—asisten yang sudah bekerja 30 tahun, yang dia percaya dengan nyawanya.
"Pak Hendra, Anda boleh keluar. Saya akan istirahat."
"Baik, Tuan Besar." Pak Hendra membungkuk dan keluar.
Begitu pintu tertutup, Darma jatuh duduk di kursinya.
Musuh sudah di dalam. Orang dalam. Orang yang aku percaya.
Siapa? Pak Hendra yang sudah 3**0 tahun bersamaku? Hendrik yang 25 tahun melindungi keluargaku? Bi Atun yang mengasuh Anindita sejak bayi?
Siapa yang mengkhianatiku?
Dia menatap foto Anindita di meja—cucunya yang tersenyum lebar.
"Maafkan Kakek, cucuku," bisiknya. "Kakek tidak tahu... Kakek tidak tahu siapa yang harus dipercaya lagi."
...****************...
Satu Bulan Kemudian - Kamar Anindita - Malam Hari
Satu bulan berlalu dengan lambat dan menyiksa untuk Anindita.
Setiap hari sama. Bangun, sarapan dengan kakek, belajar dengan guru privat yang membosankan, makan siang sendirian, karena kakek selalu sibuk, belajar lagi, makan malam dengan kakek yang terlihat semakin tua dan lelah setiap hari, kemudian tidur.
Tidak ada Vyan. Tidak ada Zaverio. Tidak ada teman-teman sekolah. Tidak ada dunia luar.
Hanya kamar ini. Kamar dengan lima bodyguard di luar pintu, tiga bodyguard di dalam yang berjaga shift, dan Bi Sari—pengasuhnya sejak bayi—yang tidur di samping tempat tidurnya setiap malam.
Anindita sudah tidak protes lagi. Dia sudah terlalu lelah untuk protes.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dia berbaring di tempat tidur dengan boneka Sisi dipeluk erat. Bi Sari tidur di samping tempat tidurnya—di kasur kecil yang sengaja diletakkan di sana.
"Bi..." bisik Anindita di kegelapan.
"Ya, Nona?" Bi Sari langsung terbangun—instinctnya sebagai pengasuh selama 6 tahun membuatnya selalu siaga.
"Kapan Dita bisa main sama Vyan lagi?"