NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 The Fragile Shield

Kegelisahan Leo Alexander Caelum telah mencapai titik didih. Teka-teki Jacob malam itu seperti parasit yang memakan kewarasannya. Alih-alih merenung dengan bijak, ego Leo justru mendorongnya untuk melakukan tindakan yang melanggar batas. Ia harus membuktikan bahwa Liora hanyalah seorang manipulator yang sedang bersandiwara.

​Dengan kunci cadangan yang ia ambil secara paksa dari meja Jacob, Leo mendatangi kontrakan kecil Liora di pinggiran kota saat gadis itu masih berada di toko buku. Tempat itu sangat sederhana, jauh dari kemewahan mansion, namun terasa sangat bersih dan tenang. Leo mulai menggeledah, membuka lemari, hingga akhirnya ia sampai ke sebuah tempat sampah kecil di sudut kamar mandi.

​Di sana, ia menemukannya. Gulungan perban putih yang sudah mengeras karena noda darah kecokelatan yang pekat. Ada aroma antiseptik yang tajam menyeruak dari sana.

​"Apa ini?" bisik Leo, keningnya berkerut. "Luka kaca itu seharusnya sudah sembuh. Kenapa ada darah sebanyak ini?"

​Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Liora melangkah masuk dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Matanya membelalak melihat Leo berdiri di tengah kamar pribadinya sambil memegang bungkusan sampah yang mengerikan itu.

​"Apa yang Anda lakukan di sini?!" suara Liora yang biasanya lirih mendadak meninggi, bergetar karena amarah yang murni.

​Liora berjalan cepat, merebut bungkusan itu dari tangan Leo dengan kasar. "Keluar! Anda tidak punya hak untuk menggeledah barang pribadi saya! Anda benar-benar pria paling tidak tahu sopan santun yang pernah saya temui!"

​Leo tertegun sejenak melihat ledakan emosi Liora, namun ia segera memasang topeng angkuhnya kembali. Ia menatap Liora dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis itu tampak sangat rapuh; kulitnya tidak lagi sekadar pucat, tapi nyaris transparan seperti porselen yang akan pecah. Bibirnya membiru, dan matanya cekung dalam.

​"Aku hanya ingin melihat sejauh mana kau menyimpan rahasia busukmu," balas Leo sinis, meskipun di dalam hatinya ia merasa ngeri melihat kondisi fisik Liora. "Lihat wajahmu. Kau terlihat seperti mayat berjalan. Kenapa kau pucat sekali? Apa kau sedang mencoba berakting sakit agar Jacob terus mengurusmu?"

​Liora memegangi pinggiran meja, tubuhnya sedikit limbung. "Saya hanya sedang demam. Itu bukan urusan Anda."

​"Demam?" Leo tertawa mengejek, tawa yang penuh dengan kebencian yang dipaksakan. "Hanya karena demam kau bertingkah seolah-olah akan mati besok pagi? Lebay sekali! Kau pikir dengan wajah menderita itu aku akan luluh? Kau benar-benar ratu drama, Liora. Orang-orang miskin sepertimu memang selalu menggunakan kelemahan fisik untuk menarik simpati."

​Liora menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sangat berat dan menyakitkan di dadanya. "Jika menurut Anda saya lebay, maka pergilah. Berhenti memperhatikan 'drama' saya. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!"

​"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjelaskan perban berdarah itu!" Leo menunjuk tempat sampah tadi. "Luka di tanganmu tidak mungkin mengeluarkan darah sebanyak itu. Kau menyembunyikan sesuatu, bukan? Apa kau sedang mencoba mengelabui Ibuku dengan penyakit palsu agar dia memberimu lebih banyak uang?"

​Liora tertawa lirih, sebuah tawa yang terdengar sangat pedih. "Uang? Anda pikir semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan uang? Anda begitu kaya, Tuan Leo, tapi Anda sangat miskin secara jiwa. Anda tidak akan pernah mengerti apa pun, karena di mata Anda, semua orang adalah musuh yang mencoba merampas harta Anda."

​"Jangan menceramahiku!" bentak Leo. "Kau pucat karena kau malas makan dan lebih suka dikasihani! Berhenti bersandiwara. Besok kau harus datang ke rumah sakit untuk menemui Ibu. Jika tidak, aku akan menyeretmu sendiri."

​Liora hanya diam. Ia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat. Setiap kata yang diteriakkan Leo terasa seperti palu yang menghantam jahitan operasinya yang belum sepenuhnya kering. Ia merasa sesuatu yang hangat mulai mengalir lagi di balik pakaiannya—jahitannya robek lagi akibat gerakan kasar saat merebut sampah tadi.

​"Keluar..." bisik Liora pelan.

​"Kau mengusirku?!"

​"KELUAR!" teriak Liora dengan sisa kekuatannya, sebelum akhirnya ia jatuh terduduk di kursi sambil memegangi perutnya.

​Leo mendengus, ia membenahi jasnya yang mahal. "Baiklah. Nikmati 'demam' manjamu itu. Tapi ingat, Liora, jangan harap kau bisa membodohi aku selamanya. Aku akan tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan dengan Jacob."

​Leo melangkah keluar dengan angkuh, membanting pintu kecil itu hingga bergetar. Ia masuk ke mobil mewahnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Liora memang hanya sedang berlebihan. Namun, bayangan wajah pucat Liora dan aroma darah dari perban itu terus menghantuinya. Di kursi kemudi, tangan Leo gemetar tanpa ia sadari.

​Ada suara kecil di lubuk hatinya yang berbisik bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar, namun egonya yang raksasa segera membungkam suara itu. Ia lebih memilih percaya bahwa Liora sedang menipunya daripada harus menghadapi kenyataan bahwa ia sedang menghina seseorang yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk.

​Sementara itu, di dalam kontrakan sepi, Liora meringkuk di lantai. Ia menangis tanpa suara, membiarkan darah kembali membasahi lantai kayu, berdoa agar Tuhan memberinya sedikit lagi waktu untuk melihat Eleanor sembuh, sebelum ia benar-benar harus menyerah pada rasa sakit yang tak tertahankan ini.

​"Bagi Leo, penderitaan Liora adalah sandiwara, karena ia terlalu takut untuk menyadari bahwa dirinyalah sutradara dari tragedi tersebut."

​"Leo menganggap 'demam' Liora adalah tindakan lebay, tanpa tahu bahwa itu adalah api dari tubuh yang sedang berjuang melawan kematian."

​"Kesombongan seringkali menutup mata seseorang dari kebenaran yang paling nyata, hingga akhirnya penyesalan datang sebagai tamu yang tak diundang."

​"Liora tetap melindungi rahasianya bukan karena ia kuat, tapi karena ia ingin mati dengan harga diri yang tidak tercemar oleh rasa kasihan Leo."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!