warning!!!
cerita di pertengahan bab, penuh ke bengekkan hakiki. diharap di baca pada siang hari, karena kalau di baca malam hari, takutnya di katain, neng Kunti 🤣
Karena tragedi mobil bergoyang berkali-kali, membuat Rose light Kato dan Davin Jackson.
Melangsungkan pernikahan mendadak.
keduanya yang tidak pernah percaya akan sebuah ikatan pernikahan itu pun harus terpaksa menyetujui pernikahan mendadak tersebut.
Akankah Rose light Kato yang biasa di juluki, perawan tua abadi itu bersatu dengan pria berdaki julukan untuk Davin Jackson.
saksikan keseruan mereka dengan keluarga Kato dan Jackson hanya di sini 😁☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
"TIDAK!'
Teriakkan Rose, Davin, membuat granny Gabriela dan nenek Margaretha mengelus dada.
Bagaimana tidak, jantung keduanya seakan memompa cepat.
"Plak"
Sebuah tangan kiri melayang di bagian belakang kepala Davin.
"Kau, membuat jantungku bergetar," sentak granny, dan kembali memukul kepala Davin.
"Dia yang berteriak duluan wanita tua, aku hanya refleks ikuti berteriak," protes Davin dengan mimik wajah jengah.
"Lama-lama, kepalaku bisa hancur," gumam Davin dan menjauh dari jangkauan granny.
"Kalian tetap harus menikah, TITIK!" Perintah granny tidak ingin dibantah. Nenek Margaretha pun ikut mengiyakan titah granny dengan menganggukkan kepalanya.
"No!" Sela Davin dan Rose bersamaan.
"Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah kalian perbuat." Dengan tatapan mengintimidasi kepada Rose dan Davin, granny menginginkan keduanya menikah.
"Kalian sudah mencoreng nama baik keluarga," timpal nenek Margaretha.
Kedua wanita paruh baya itu duduk dengan mimik wajah serius dan penuh ketegasan.
"Kalian tetap harus menikah!" Titah granny tegas.
Rose dan Davin hanya bisa merebahkan punggung keduanya di sandaran kursi dan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar.
"Tapi, maaf, aku tidak bisa!" Tolak David dengan wajah serius.
"Cucuku," lirih nenek Margaretha.
"Tidak nek!" Tolak Davin dengan kepala menggeleng dan tatapan serius.
"Aku sudah memiliki kekasih, jadi tidak mungkin aku menikahi, cucu anda," jelas Davin.
"Deg"
Tiba-tiba jantung Rose berdetak dan merasa aneh saat mendengar perkataan Davin.
"Kekasih? Cih, kenapa dia harus menciumku, kalau sudah memiliki kekasih," batin Rose kesal.
Entah mengapa ia begitu tidak terima oleh ucapan Davin, ia merasa marah dan terbakar.
"Tidak!" Teriak Rose dalam hati, kepalanya pun ikut menggeleng.
"Kau, kenapa sayang?" Tanya granny lembut.
"Tidak!" Jawab Rose cepat dengan perasaan entah apa.
"Perasaan apa ini? Cih ini tidak mungkin," monolog Rose menolak pikirannya.
"Aku pun tidak setuju menikah dengannya, granny …, apa granny lupa? Kriteria calon suami yang aku inginkan? Aku menginginkan, calon suami yang goodboy, bukan bad boy sepertinya. Yang kulitnya dipenuhi daki di mana-mana," pungkas Rose dengan tatapan meremeh ke arah Davin.
Davin yang tadinya menunduk kini mengangkat kepalanya dan menoleh kesamping. Dimana Rose menatapnya sinis.
"Jaga bicaramu, perawan tau!" Seru Davin yang bangkit dari duduknya dan berpindah kedepan Rose.
"Ini, bukan daki, tapi tato, TA-TO!" Geram Davin sambil menunjukkan tatonya di depan Rose.
"Cih! Sama saja dengan pulau daki," cibir Rose dengan mimik jengah.
"KAU!" Davin menunjuk wajah cantik Rose.
"Argh" Davin berteriak saat Rose menggigit jari telunjuk Davin.
"Dasar perawan tua, sialan!" Pekik Davin.
"Ini alasan aku tidak ingin menikah dengannya, nek. Dia wanita kasar dan arogan. Siapapun pria yang dekat dengannya pasti menjauh," ujar Davin memberikan alasan.
"Apa katamu!" Sentak Rose tidak terima dengan ucapan Davin.
"Hey, manusia pulau berdaki. Asal kau tahu, di dunia ini bukan kau saja pria, tapi masih banyak pria yang lebih tampan dari mu dan lebih terawat," berang Rose.
"Jadi, kau mengakuiku tampan, nona salju?" Tanya Davin dengan senyum menyebalkannya.
"Tidak!" Elak Rose sambil membuang pandangannya.
"Akui saja kalau aku ini, tampan dan seksi," bisik Davin tepat di telinga Rose.
Rose hanya mencebikkan bibirnya dan mendelikkan matanya ke samping, sembari tersenyum sinis.
"Dalam mimpimu," ketus Rose dan mendorong tubuh kekar Davin.
"Ck! Dasar perempuan kasar, perawan tua," sungut Davin.
Sedangkan kedua nenek-nenek itu hanya terdiam menatap dalam dan menyaksikan perdebatan kedua muda- mudi di depannya.
Mereka menilai keduanya bagaikan tom and Jerry. Sangat tidak bisa akur dan jauh berbeda dari segi penampilan dan juga prinsip. Hanya satu kesamaan mereka, yaitu sama-sama keras kepala.
"Bukankah, seorang pria akan mencari seorang gadis perawan?" Tiba-tiba granny melayang bertanya kepada Davin yang sedang menarik-narik rambut Rose.
"Tidak! Aku tidak menyukai yang tertutup. Aku suka yang sudah mempunyai jejak jalan menuju arah yang tepat," seloroh Davin asal.
Granny dan nenek Margaretha menganga mendengar celetukan Davin.
"Jadi kamu menyukai bekas pakai?"
"Tidak juga,"
"Jadi apa maksud kamu, bodoh!" Sentak granny emosi sembari memijat lehernya yang tiba-tiba kaku.
"Aku tidak menyangka, cucumu selain bodoh, dia juga murahan," ucap granny.
"Dia hanya tidak tahu membedakan, mana tertutup dan terbuka," bisik nenek Margaretha.
Granny menghentikan tangannya yang sedang memijat tengkuk lehernya dan menatap sahabatnya bingung.
"Dia pun masih perjaka," bisik nenek Margaretha.
"Benarkah?" Tanya granny dengan mata tuanya mengerut.
"Hm!"
"Apa kau yakin?"
"Aku pernah, mendengar dia berbicara seperti itu kepada teman-temannya," jelas nenek Margaretha.
"Dasar tukang pencuri pembicaraan," cibir granny.
"Apakah, kita perlu melakukan tes, kepada mereka?" Bisik granny.
"Caranya?" Tanya nenek Margaretha.
"Tenang, aku punya rencana," ucap granny dengan senyum liciknya.
"Dasar wanita tua, licik," cibir nenek Margaretha.
Kembali Rose dan Davin menyaksikan bisik-bisik kedua nenek-nenek di depan mereka.
Jarak mereka bahkan kini sangat dekat, sehingga tanpa sadar, Davin merangkul pundak Rose.
"Kau tahu, apa yang mereka rencanakan?" Bisik Davin.
Rose menoleh dan hampir saja bibir keduanya menempel, Davin bahkan dengan usilnya ingin mengecup bibir Rose, tapi dengan cepat Rose menjauhkan wajahnya.
"Jaga sikapmu, pria berdaki," erang Rose dengan gigi yang bergesekan.
"Aku suka eranganmu, baby," bisik Davin dan sengaja menghempuskan nafasnya.
"Dasar pria sialan," maki Rose dan mendorong kembali tubuh Davin yang mana pria itu hanya terkekeh.
"Ngomong-ngomong, apa yang mereka bisikan?" Tanya Rose penasaran.
"Kamu mau tahu?" Tanya Davin balik.
"Hm!"
"Sini, aku bisikkan,"
"No. Kau akan membisikan hal kurang ajar," tolak Rose.
Namun tak urung juga ia mendekat ke arah Davin, karena penasaran.
"Mereka sedang merencanakan sesuatu tentang, kita," bisik Davin sambil mencuri aroma tubuh Rose yang begitu memabukkan.
"Tentang apa?"
"Tentang mencetak anak."
"Kenapa begitu?"
"Karena mereka ingin cepat-cepat, menimang cicit, padahal mereka saja berdiri susah," cibir Davin.
"Apa hubungannya, kita dan mencetak anak?" Tanya Rose dengan wajah penasaran.
Ia memang merasa kerdil soal keintiman dan juga proses pembuahan.
Di pikirannya hanya ada laba dan angka-angka nilai dolar yang bisa ia hasilkan, setiap bulannya.
Davin bahkan berkedip tidak percaya, seorang wanita yang memasuki usia dewasa tidak mengetahui tentang hentak- menghentak?
"Really? Kau tidak tahu?! Tanya Davin kurang yakin.
"Apa?! Tanya balik Rose.
"Tentang, ini," Davin yang masih melengos itu, menunjuk ibu jari kirinya dan telunjuknya yang membentuk lingkaran dan jari telunjuk yang dimasukkan kedalam lingkaran tersebut.
Rose memperhatikan gerak-gerik jari Davin dan dengan konyolnya mengikutinya.
"Oh Tuhan, ternyata dia perawan tua abadi."
.
berarti Sisil yg membuat rumah tangga mereka berantakan yaaa
Gw ngakak hbs