Perjuangan seorang Nayra Kalista yang menghadapi begitu kerasnya dunia ini, dunia yang tak adil untuk dirinya hidup. Dari kecil menjadi seorang yatim-piatu, hidup di panti asuhan, rela putus sekolah demi menjadi tulang punggung bagi saudaranya di panti asuhan. Sampai akhirnya harta satu-satunya yang dijaga selama ini direnggut oleh pria asing yang Nayra sama sekali tak kenal.
Hidupnya hancur bertubi-tubi. Apakah ia bisa menjalani hidup nya kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Apakah Nayra bisa bahagia dengan cobaan yang begitu berat ini?
yuk mampir biar tau perjalanan hidup Nayra!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cacil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 28
🍁🍁🍁
"Tak usah repot-repot, ini hanya lebam sedikit jadi Bapak tak usah repot-repot untuk mengobati tangan saya."
"Saya tak suka dibantah jadi turuti saja perkataan saya!" Andrian menarik tangan Nayra lalu membawanya ke sebuah ruangan di kantor itu.
"Bapak mau membawa saya ke mana?"
"Lihat saja nanti."
"Tapi bukannya Bapak ada urusan? Kenapa Bapak masih ada di kantor?"
"Kamu diam saja dan ikuti apa yang saya perintahkan."
Tak lama kemudian Andrian melepas tangan Nayra setelah sampai di sebuah ruangan yang terdapat banyak obat-obatan dan peralatan medis. Mungkin itu ruang tempat orang sakit perusahaan ini karena Nayra belum pernah ke sini perusahaan sebelumnya.
"Kita di mana ini Pak?" tanya Nayra sambil melirik ke sana ke mari untuk melihat sekeliling ruangan itu.
"Kamu diam saja! Sini tanganmu!"
Andrian menarik tangan Nayra yang lebam itu dengan agak sedikit lembut dari biasanya. Terlihat Andrian mengolesi salep ke tangan Nayra dengan perlahan-lahan.
"Aw..." Nayra meringis kesakitan ketika dioleskan salep oleh Andrian.
"Sakit?" tanya Andrian sambil meniup-niup tangan yang baru saja diolesi olehnya.
"Sedikit."
"Tahan dulu sebentar! Saya akan mengobati tanganmu."
Nayra memerhatikan wajah Andrian yang sedang mengobati tangannya. Ia melihat ada ketulusan di raut wajah Andrian ketika mengobatinya tapi ketika mengingat kejadian malam itu seketika Nayra menjadi trauma didekat-dekat Andrian apalagi sampai disentuh, membuat Nayra merasakan perihnya malam itu.
"Jangan mendekat!" Nayra menarik tangannya dari genggaman Andrian lalu menjauh dari hadapan Andrian.
"Kamu kenapa? Saya belum selesai mengobati tanganmu," Andrian heran melihat perubahan Nayra.
"Tolong jangan mendekat!" Nayra perlahan-lahan menjauhi jarak terhadap Andrian. Tapi Andrian malah tambah mendekati Nayra karena merasa aneh melihat perubahan sikap Nayra.
"Tolong Bapak jangan mendekat! Jangan sentuh saya Pak! Saya mohon... hiks..." Nayra mengeluarkan air matanya ketika kembali mengingat kejadian malam itu. Terasa masih nyata waktu itu membuat ia masih trauma sampai detik ini.
Sedangkan Andrian tak bisa berbuat apa-apa untuk memenangi Nayra saat ini.
"Hiks... Kau jahat... Kau beregsek..." entah kenapa Nayra tak bisa mengontrol dirinya untuk mengeluarkan unek-uneknya selama lima tahun ini. Apa mungkin ini pengaruh obat yang ia minum sebelum pergi bekerja tadi, mungkin obat itu mempunyai dosis tinggi dan kadar alkohol membuat Nayra tak bisa mengendalikan diri.
"Maksud kamu apa Nay?"
"K-kau Kau... Laki-laki beregsek yang pernah aku temui... Kau laki-laki biadab... hiks..." Nayra menujuk ke arah wajah Andrian.
"Kamu kenapa bertingkat seperti ini? Apakah kamu mabok?" Andrian mencurigai Nayra mabuk karena sikapnya seperti orang selesai minum-minum keras.
"Kau jahat! Jahat... Jahat! Jahat! Jahat!"
Melihat Nayra yang ingin terjatuh membuat Andrian langsung mendekap tubuh Nayra dengan erat ke pelukannya.
"Lepaskan aku laki-laki beregsek! Lepaskan aku! Aku benci kamu!" Nayra memukul-mukul dada bidang Andrian dengan keras. Bukannya Andrian melepasi pelukannya dari Nayra malah ia mengencangi pelukannya.
"Aku benci laki-laki seperti kamu."
"Kamu berhak membenciku tapi aku minta satu alasan saja kenapa kau membenciku."
Bukan menjawab malah Nayra kembali memukuli dada bidang Andrian sambil mengumpat Andrian dengan perkataan yang tidak-tidak. Sebelum menjawab pertanyaan Andrian, Nayra malah pingsan karena kelelahan berteriak sedari tadi.
Sesaat kemudian Nayra terbangun dari pingsannya tadi. Ia melihat dirinya berada di ruangan tadi dengan tubuh yang berbaring di tempat tidur.
"Aw..." pekik Nayra merasakan pusing di kepalanya.
"Kamu tidak pa-pa?" tanya Andrian yang langsung beranjak dari duduknya ketika melihat Nayra siuman.
"Apa yang sudah terjadi Pak?"
"Kamu tadi pingsan."
"Apa yang sudah terjadi sebelum saya pingsan tadi? Saya benar-benar lupa apa yang saya lakukan tadi," Nayra terlihat begitu cemas dan takut kalau ada omongannya yang mengungkapkan rahasia itu.
"Tidak ada! Kamu hanya mengumpat ku saja sebelum pingsan."
"Astaga! S-saya tak menyadarinya Pak, maafkan saya! Saya tak bermaksud ingin mengumpat Bapak," Nayra terlihat panik karena sudah berani mengumpat bosnya sendiri.
Tapi Nayra lega karena ia tak mengatakan rahasia itu sebelum pingsan tadi.
"Kamu kenapa meminum obat yang dosisnya begitu tinggi dan terdapat alkohol di obat yang kamu minum?"
"Saya tidak tau kalau obat itu membuat kita mabok seperti itu, tadi saya merasa pusing ketika mau ke kantor jadi saya memutuskan untuk meminum obat tapi karena saya buru-buru untuk ke kantor jadi saya tak melihat merek obat yang saya minum."
"Bodoh! Untung saja kamu tak seperti itu di luar sana, bila tidak banyak orang yang akan berniat jahat dengan dirimu karena kondisi mu yang tak sadarkan diri."
"Maaf Pak! Saya tak akan ceroboh lagi seperti ini. Tapi bagaimana Bapak mengetahui bahwa saya sudah meminum obat yang dosisnya tinggi?"
"I-itu karena saya sering menggunakannya ketika..." Andrian tak mau melanjutkan perkataannya tadi.
"Ketika apa Pak? Bapak melarang saya untuk mengonsumsinya tapi Bapak sendiri yang meminumnya."
"Itu dulu kalau sekarang saya tak pernah lagi mengonsumsinya?"
"Kenapa Bapak berhenti untuk mengonsumsinya?"
"Karena itu tidak baik bagi kesehatan."
"Bila Bapak tau kalau obat itu tidak baik untuk kesehatan tapi Bapak sendiri kenapa mau mengonsumsinya?"
"Saya dulu berbeda dari sekarang, jika saya ceritakan masalalu saya kepadamu mungkin kamu tak akan percaya."
"Tanpa kamu ceritakan aku sudah tau bagaimana masalalu kamu yang begitu kejam, sampai ada wanita yang kamu rusak masa depannya," batin Nayra membayangkan kejadian itu. Tak terasa matanya berkaca-kaca.
"Kamu menangis?" tanya Andrian yang ingin menghapus air mata Nayra. Dengan cepat Nayra mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari tatapan Andrian.
"Tidak! Saya tadi hanya kelilipan saja," bohong Nayra sambil mengusap air matanya.
"Pak! Saya harus pulang sekarang jadi tolong jangan cegah saya untuk pulang saat ini."
"Tapi kondisi mu sepenuhnya bulum membaik."
"Saya sudah merasa baikan jadi saya tak pa-pa!" Nayra turun dari tempat tidur itu sambil memasang sepatunya.
"Kalau gitu saya yang mengantarkan mu pulang, bila kamu menolaknya maka saya tak akan mengizinkan kamu untuk pulang," ancaman Andrian membuat Nayra tak bisa berkutik sama sekali.
"Oke-oke saya mau diantarkan oleh Bapak."
Di perjalanan pulang Andrian serta Nayra hanya saling berdiaman saja tak ada obrolan sama sekali. Hanya ada suara kendaraan dari luar yang berlalu lalang.
Karena Nayra tak suka dengan kondisi seperti ini, Nayra pun memberanikan diri mencari topik agar di dalam mobil tak terasa begitu tengang.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^
typoo yaaaa