Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Teror Loker dan Perlindungan Ekstrem
Foto ciuman kening di acara double date itu meledak di media sosial SMA Dirgantara. Bukannya mereda, kebencian sebagian siswi terhadap Maura justru mencapai titik didih. Mereka merasa Maura sudah "mencuri" pangeran mereka secara permanen.
📦 Teror di Pagi Hari
Senin pagi, Maura berjalan menuju lokernya dengan perasaan tidak enak. Benar saja, bau busuk menyengat tercium saat ia mendekat. Di depan lokernya, ada sebuah kotak sepatu yang sudah terbuka, isinya bangkai tikus dan foto wajah Maura yang dicoret-coret dengan tinta merah bertuliskan "PERGI ATAU MATI".
Maura mundur selangkah, wajahnya pucat. Dia berani menghadapi debat, tapi teror fisik seperti ini membuatnya mual.
"Anjir! Siapa yang berani ngelakuin ini?!" seru Fanila yang baru datang. Dia langsung menutup hidungnya. "Gila! Ini udah kelewatan!"
"Gue lapor OSIS sekarang," ujar Keysha dingin, matanya menatap tajam ke arah kerumunan siswi yang sedang berbisik-bisik di ujung koridor.
Tiba-tiba, kerumunan itu terbelah. Arazka datang dengan langkah lebar, diikuti Rangga dan Miko. Begitu melihat isi kotak itu, rahang Arazka mengeras. Urat di lehernya terlihat menegang—tanda dia sedang sangat marah.
"Buang kotaknya, Ko," perintah Arazka pendek. Suaranya rendah tapi mematikan.
"Siap, Ketua," Miko langsung mengambil kotak itu dengan jijik dan membawanya pergi.
Arazka menatap Maura yang masih gemetar. Tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang menonton, Arazka menarik Maura ke dalam pelukannya. Dia mendekap kepala Maura di dadanya, seolah ingin menyembunyikan gadis itu dari dunia.
"Gue bilang jangan jalan sendirian, kan?" bisik Arazka di telinga Maura. Kali ini, tidak ada nada mengejek. Hanya ada kekhawatiran yang nyata.
"Gue... gue gak nyangka mereka bakal nekat," sahut Maura lirih di dada Arazka.
🛡️ Tindakan Ekstrem: Pindah Markas
Arazka melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke seluruh koridor. "Denger semuanya! Siapa pun yang berani nyentuh Maura, berarti berurusan langsung sama gue dan ALVEGAR. Gue gak akan segan-segan ngeluarin siapa pun dari sekolah ini kalau berani main fisik!"
Suasana koridor mendadak senyap. Ancaman Arazka bukan main-main.
"Rangga, kunci loker Maura. Mulai hari ini, semua barang dia pindahin ke markas ALVEGAR," perintah Arazka.
"Hah? Markas ALVEGAR?" Maura kaget. "Loe gila? Itu kan tempat cowok semua!"
"Itu tempat paling aman di sekolah ini. Gak ada yang berani masuk sana tanpa izin gue," balas Arazka tegas. "Loe bakal ngerjain tugas OSIS dan belajar di sana. Di bawah pengawasan gue langsung."
"Gue gak mau! Loe mau jadiin gue tawanan?"
"Ini bukan soal mau atau enggak, Maura. Ini soal keselamatan loe. Perjanjian kita masih jalan, dan gue gak mau 'milik' gue lecet sedikit pun."
🏠 Kehidupan di Markas
Siangnya, Maura terpaksa duduk di sofa kulit markas ALVEGAR yang mewah. Di pojok ruangan, Danis sedang asyik bermain game dengan Kinara yang sesekali tertawa polos karena kalah terus. Rangga sibuk dengan laptopnya, sementara Asean dan Keysha di sudut lain tampak sedang mendiskusikan teknik bela diri.
Miko masuk membawa tumpukan cemilan. "Selamat datang di hotel bintang lima ALVEGAR, Maura! Jangan sungkan, anggep aja rumah sendiri. Asal jangan berantakin koleksi kaset gue!"
Maura menghela napas. Dia merasa aneh berada di sana, tapi dia harus mengakui, di sini dia merasa aman.
Arazka duduk di samping Maura, membawa segelas cokelat panas. "Minum. Biar loe tenang."
Maura menerima gelas itu. "Loe... kenapa segitunya jagain gue? Ini udah lewat dari sekadar perjanjian, Arazka."
Arazka menyandarkan punggungnya, menatap Maura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Loe itu musuh gue yang paling berharga, Maura. Gue gak suka kalau ada orang lain yang bikin loe takut. Cuma gue yang boleh bikin loe kesel."
Maura tersenyum tipis. "Loe emang aneh."
"Loe juga aneh. Kenapa loe gak teriak pas liat bangkai itu?"
"Gue gak mau mereka seneng liat gue lemah."
Arazka mengulurkan tangan, mengacak rambut Maura pelan. "Pinter. Itu baru Maura yang gue kenal."
Di tengah suasana yang mulai santai, tiba-tiba pintu markas digedor keras. Fanila masuk dengan napas tersengal.
"Arazka! Maura! Gawat! Ada sekelompok cewek dari sekolah sebelah—geng motor cewek—tunggu di depan gerbang. Katanya mereka mau 'memberi pelajaran' buat pacar Ketua ALVEGAR!"
Arazka berdiri seketika. "Sekolah sebelah? Black Roses?"
"Kayaknya mereka disewa sama orang dalam sini," duga Rangga sambil menutup laptopnya.
Arazka mengambil jaket kulitnya. Dia menatap Maura. "Tetap di sini. Jangan keluar sampai gue balik."
"Gue ikut!" tegas Maura.
"Gak, Maura! Ini bukan debat OSIS. Ini urusan lapangan," potong Arazka.
"Ini urusan gue! Mereka nyari gue, kan? Gue gak mau sembunyi di balik punggung loe!" Maura berdiri menantang.
Arazka terdiam sebentar, lalu dia menyeringai bangga. "Oke. Tapi loe di belakang gue. Dan loe, Asean, Keysha... siapin mental. Kita kasih tahu mereka kenapa ALVEGAR dan The Queens gak bisa diremehin."
TO BE CONTINUED