Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Tingkah aneh Victoria
“Tuan Reed, tolong aku…” Suara lirih terdengar seperti retakan di tengah sunyi pelan, nyaris seperti tak nyata, namun cukup untuk menghantam kesadaran Alexander dengan hentakan tajam.
Kata yang menggema, mengguncang ruang dingin yang seolah berhenti berdetak.
Alexander sempat terdiam, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia menepis tangan Rico dari lengan Victoria dan melangkah tergesa, hampir tanpa sadar, mendekati gadis yang baru saja memanggilnya. Langkah-langkahnya berat namun cepat, seperti ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat, menembus jarak di antara mereka.
“Kenapa?” tanyanya dengan suara tegas tapi bergetar, tangannya menyibakkan rambut panjang Victoria ke samping.
Di balik helai rambut kusut itu, wajah gadis itu tampak pucat, namun bukan pucat karena takut, lebih seperti lelah menahan sesuatu yang nyaris tak bisa diceritakan.
Victoria tak menjawab. Ia hanya bergeleng pelan, lalu, tanpa aba-aba, kepalanya perlahan bersandar di dada Alexander. Sentuhan itu membuat pria tinggi itu menegang seketika; napasnya tertahan di tenggorokan. Ia sempat berpikir untuk menjauh, tapi entah kenapa tubuhnya enggan bergerak, seakan rasa kasihan menahannya.
“Ada apa?” suaranya melembut tapi matanya menatap ke arah Rico, meminta jawaban yang bahkan asistennya pun tak mengerti. “Jika terjadi sesuatu, katakan… aku bukan peramal.”
Rico hanya menatap bingung, tak mampu berkata apa-apa. Alexander menarik napas dalam, menahan kesal dan keheranan yang bercampur jadi satu. “Kau pergilah ke pusat IGD,” ujarnya tegas, namun nadanya masih menjaga agar gadis di pelukannya tak merasa diusir. “Laporkan hasil kematian anak itu ke sana, lalu kembali lagi.”
Rico ragu. “Anda tidak ikut, Tuan?”
Alexander memutar matanya tajam, setengah lelah. “Apa kau buta? Aku sedang ditempeli koala besar. Cepat pergi!”
Nada sinisnya membuat Rico menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan…” Ia melangkah menjauh, meninggalkan suara langkah yang menggema di koridor panjang rumah sakit.
Begitu Rico menghilang di tikungan, keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu. Hanya ada suara detak jam dinding yang lambat, dan napas gadis yang bersandar di dadanya. Alexander menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap langit-langit seolah mencari logika di balik situasi absurd ini.
“Kau menangis?” tanyanya datar, mencoba mencari tanda di wajah gadis itu. Tapi tak ada air mata. Hanya wajah kosong dengan pandangan yang tembus jauh ke belakangnya, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat.
“Gadis sepertimu bisa menangis?” tanyanya lagi, setengah mengejek, setengah khawatir. “Kalau kau hanya diam, apa yang bisa kubantu?”
Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menepuk lembut kepala Victoria. Gerakannya hati-hati, seakan takut menyentuh sesuatu yang bisa pecah kapan saja. “Jika ada yang menyakitimu, katakan saja…”
Namun sebelum kata-katanya selesai, tarikan kasar terasa di lehernya. Dasinya mendadak tertarik kuat, membuat tubuhnya terhuyung sedikit ke depan.
Alexander menatap Victoria, terperanjat. Gadis itu mendongak dengan senyum miring yang sama sekali tak menunjukkan kelembutan. Matanya dingin, pupilnya melebar seperti kehilangan cahaya manusiawi.
“Apa yang kau—” belum sempat Alexander menyelesaikan kalimatnya, gadis itu berbisik di telinganya, napasnya panas dan pelan, membuat bulu kuduknya berdiri.
“Tiga hari... waktumu hanya tiga hari, Alexander.”
Nada suara Victoria terdengar rendah, datar, tapi penuh sesuatu yang sulit dijelaskan antara ancaman dan keputusasaan. Untuk pertama kalinya, gadis itu memanggilnya tanpa embel-embel “tuan”.
Alexander terpaku. Ia tak tahu kenapa, tapi dada kirinya terasa menegang, seperti baru saja mendengar kabar kematian seseorang yang belum ia kenal.
Tatapannya tak sempat mencari jawaban ketika Victoria menarik tubuhnya menjauh. Cengkeraman yang tadi begitu kuat di dasinya perlahan melonggar, seperti helai benang yang terurai satu per satu.
Tubuh mungil itu melangkah mundur, wajahnya tanpa ekspresi, seolah rasa bersalah atau ketakutan sudah dihapus dari dirinya.
Alexander yang masih belum bisa memproses ucapan itu langsung meraih pergelangan tangannya, menahannya agar tidak pergi.
“Kau pikir kau mau ke mana, hah?!” suaranya meninggi tanpa sadar, mencampur antara kekhawatiran dan kebingungan. Jemarinya menekan kulit halus di pergelangan tangan Victoria, merasakan denyut nadi yang anehnya terasa lambat, terlalu lambat untuk manusia yang hidup.
Namun gadis itu hanya berdiri diam.
Matanya menatap kosong, menembus ruang seperti melihat sesuatu jauh di luar dunia ini.
Tatapan itu… dingin, hampa, tapi menyimpan kesadaran yang menakutkan.
Alexander menelan ludah, dadanya sesak.
Sebagai detektif yang telah menghadapi puluhan wajah pembunuh dan korban, baru kali ini ia melihat sorot mata yang benar-benar tak menyisakan kehidupan.
“Victoria!” panggilnya lagi, kali ini lebih pelan, nyaris seperti permohonan.
Ia mengguncang tubuh gadis itu, mencoba menariknya kembali ke kenyataan, tapi tidak ada reaksi.
Yang ada hanya pandangan kosong yang menembus dirinya, seolah Alexander hanyalah bayangan yang sebentar lagi akan lenyap.
Lalu, perlahan tanpa suara, tanpa rasa Victoria melepaskan tangannya dari genggaman Alexander. Ia berbalik, melangkah menjauh, gerakannya ringan, hampir tak meninggalkan jejak suara.
Langkah yang seolah sudah terbiasa berjalan di antara dunia hidup dan mati.
“Tiga hari... apa maksudmu, Victoria?” gumam Alexander lirih, tapi gadis itu sudah menghilang di ujung lorong sebelum kata-katanya sempat menyusul.