Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Berusaha menolak
Singkat cerita, tiba saatnya Agha dan keluarga datang ke rumah kiyai Hasan pemilik pesantren Nurul Huda untuk meminang putri bungsunya.
"Nak udah siap belum?." Tanya umah yang tak henti-henti bertanya dengan Agha yang masih diam didalam kamar serta mengunci pintu nya.
"Sebentar umah." Ujar Agha dengan nada malas.
"Kamu ini udah ngalahin dandannya cewek tau gak, lama banget." Bukan umah yang bicara, tapi mbak Aqila.
Abah tau itu hanyalah bualan Agha saja, karena anaknya itu lagi santai di kamar, sebab tadi pagi Agha masih mengenakan pakaian santai dan duduk di kursi kerjanya mengerjakan laporan yang tiada hentinya.
"Udah sayang, kita tunggu beberapa menit lagi, Erlan masih menyiapkan hatinya. Mau gimana juga ini langkah awal Erlan setelah kejadian lampau, kamu masih ingat kan sayang?." Ujar Abah dengan nada lembut membuat umah mengerti posisi anaknya.
"Iya tentu ingat mas, tapi lihat udah siang ini, perjalanan dari sini dua jam."
"Iya tau kok, bentar yah mas hampiri Erlan, kamu tunggu di ruang tamu sama mbak Aqila."
"Iya mas."
Abah mulai jalan menuju kamar Agha, mengetuk pintu kamar Agha sambil bisik kalau yang ketuk adalah Abah, Agha langsung membuka pintu kamarnya lalu menutup kembali.
"Loh, udah siap ternyata." Ujar Abah nadanya lembut tapi pancaran matanya tidak bisa berbohong kalau Abah bisa merasakan apa yang Agha rasakan saat ini.
"Abah." Ujar Agha langsung memeluk tubuh abah, Abah membawa Agha duduk di atas tempat tidur membiarkan Agha mengeluarkan semua emosi nya yang selama ini di pendam.
"Nangis aja nak, abah tau kok rasanya. Nangis bukan berarti buat kamu lemah sebagai laki-laki, nangis lah sepuas kamu nak, tapi janji sehabis ini jangan nangis lagi yah." Ujar Abah sambil menepuk pelan bahu Agha, sesekali mengelus.
Emang diantara abah dan umah, Agha lebih dekat dengan abah, mungkin abah merasa bersalah dan kasihan dengan apa yang dipikul Agha, mulai dari perusahaan, merelakan masa main waktu kecil, ditambah kehilangan seseorang yang sangat spesial di hidupnya. Sungguh berat beban yang dipikul anak bungsunya, walaupun Agha selalu berusaha kuat dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi belakangan ini kondisi tubuhnya turun dan sudah berapa kali sakit dan masuk ke rumah sakit.
"Hiks, berat bah. Erlan kira bakalan sanggup, tapi gak bah Erlan gak sanggup, Erlan kalah bah, hiks."
"Maafin abah sama umah yah, terutama abah yang udah melimpahkan tanggung jawab besar perusahaan sama kamu sedari dulu, sampai kamu kehilangan masa main waktu kecil."
"Gak bah, abah sama umah gak salah. Tapi ini berat banget bah, entahlah belakangan ini Erlan semakin lemah."
"Itu karena kamu pendam semua emosi kamu selama ini, dari kesal, lelah bahkan amarah. Abah tau kita harus mengendalikan emosi, tapi kalau mau sesekali di keluarkan, keluarkan lah. Kalau gak sanggup, cerita yah sama abah kalau gak sama Allah. Biar hati kamu tenang dan beban yang kamu terima sedikit ringan, sekali lagi maafin abah yah."
"Nanti Erlan coba cerita ke abah, tapi ini hanya rahasia kita aja ya bah."
"Tentu dong, kapan abah tidak amanah dalam menjaga rahasia kita?."
"Sejauh ini belum pernah sih bah."
"Nah udah mendingan?."
"Udah, tapi mata Erlan bengkak bah."
"Hahaha, gak apa. Masih ganteng kok anak abah, siapa dulu dong abah nya."
"Duh abah mulai kepedean."
"Dih ngaku aja kali, toh gen abah lebih dominan di adek sama mbak Aqila, lihat aja umah hanya dapat hikmah nya aja."
Emang benar kalau Agha dan mbak Aqila lebih mirip ke abah dari segi wajah, warna bola mata, rambut sedikit pirang, bahkan tinggi badan, umah beneran dapat hikmahnya saja.
"Iya juga sih, kok bisa yah."
"Bisa dong, gen orang tua laki-laki itu lebih dominan, makanya kadang umah cerita sama abah kalau umah memperbaiki keturunan."
"Hahaha, iya juga sih, tapi itu mas Andra kalah gen nya, buktinya bola mata Aya sama percis mbak Aqila."
"Berarti Aya gak mau ayah bunda nya berantem gegara gen anaknya."
"Iya sih."
"Yaudah yuk, udah di tunggu dari tadi sama yang lain di ruang tamu."
Abah dan Agha mulai berjalan ke arah ruang tamu, setelah itu perjalanan di mulai dengan satu mobil. Keberangkatan mereka hanya di hadiri abah, umah, mbak Aqila, mas Andra, Agha, Aya dan Hamzah, mereka berangkat naik mobil abah Pajero sport yang muat banyak.
Bay the way, kunjungan kali ini sekalian acara tunangan, Minggu semalam waktu Agha di Jepang, abah, umah, mbak Aqila dan mas Andra datang untuk melamar mempertanyakan kelanjutan hubungan Agha dan Syakila. Ternyata Syakila setuju, begitu pula dengan abi dan umi nya. Hanya Agha saja yang tidak di ajak, dan saat ini dirinya ingin sekali membuang barang-barang yang ada di bagasi, saat ini Agha kebagian duduk di kursi paling belakang yah begitulah resiko anak bungsu.
Gila, acara tunangan tapi banyak banget yang di bawa, tapi lebih banyak waktu ke rumah Alice sih. Ah iya, Alice maafin abang yah, malah sekarang abang dijodohkan sama wanita lain. Batin Agha sambil memegang salah satu bungkus antaran dengan wajah mendung lagi.
Tapi kita lihat, seberapa sanggup dia hadapi sifat gua, enak saja main masuk kedalam hidup gua yang tenang ini. Batin Agha lagi.
Dua jam berlalu, mereka sudah sampai di depan gerbang pesantren Nurul Huda, letak rumah kiyai ada didalam kawasan pesantren, jadi kalau mau masuk yah lewati gerbang pesantren dulu.
"Assalamualaikum Hasan." Ucap abah yang emang gak panggil dengan embel-embel kiyai, karena kiyai Hasan sendiri yang dari dulu memaksa untuk memanggilnya nama.
"Wa'alaikumsalam, mari masuk."
Rombongan keluarga Agha pun masuk kedalam rumah, sebelum itu Agha, mas Andra dan mbak Aqila membawa keluar barang-barang yang mereka bawa di mobil, dibantu juga sama saudara nya abi Hasan.
"Ya Allah, kok banyak banget bawaannya." Ucap tak enak umi Sarah.
"Gak apa dong, namanya juga acara tunangan sekalian antaran, ini belum semua loh." Ujar umah sambil tersenyum.
"Duh gak enak akunya."
"Ya ampun, kayak sama siapa aja."
"Ini minum dulu, habis dari perjalanan jauh kan." Ujar umi saat menantunya membawa air minum.
"Iya, makasih yah Sarah."
"Sama-sama."
Acara pun di mulai dari obrolan ringan para orang tua, tapi saat mau mulai acara, Agha meminta waktu sebentar untuk bicara berdua dengan Syakila.
"Sebelumnya, boleh saya bicara berdua dengan Syakila?."
"Boleh, silahkan. Tapi ingat jangan terlalu lama dan abi sarankan, kalian bicara di halaman depan yah, agar terhindar dari zina." Ujar abi dan di anggukkan kepala oleh Agha dan Syakila.
Saat sampai di halaman depan, Agha langsung to the poin mengeluarkan niatnya untuk membatalkan acara perjodohan ini yang akan masuk ketahap tunangan.
"Kenapa kamu terima perjodohan gila ini?."
Saat Agha bertanya, posisi Agha memandang lurus ke depan tanpa sedikitpun melirik ke sebelahnya tempat Syakila berada.
"Karena sejak awal saya melihat wajah A'a, saya udah jatuh cinta." Ujar Syakila dengan nada pelan sambil menundukkan kepalanya, tapi Agha masih bisa mendengar apa yang Syakila ucapkan.
"Ck, alasan mendasar." Gumam Agha.
"Kamu tidak kenal saya, begitu juga dengan saya tidak kenal kamu." Ucap Agha lagi.
"Saya udah sangat mengenal A'a dari umah."
"Ck, apa yang kamu tau tentang saya?." Tanya Agha dengan nada remeh.
"A'a belum selesai dengan masa lalu, A'a masih di bayang-bayang mendiang teh Alicia."
"Kamu tau sendiri kalau saya masih belum siap dengan masa lalu, dan kamu tau kan persyaratan untuk menikah itu ialah sudah selesai dengan masa lalu nya agar kedepannya tidak menjadi masalah. Sementara kamu, malah tidak memperhatikan itu."
"Saya tau A'a, saya udah tanya sama Allah, dan jawabannya A'a lah jodoh saya."
"Ck, bodoh!. Terlepas dari itu semua, apakah kamu sanggup menghadapinya, kamu tau untuk kedepannya pernikahan ini bakalan tidak sehat, dari dulu saya tidak sudi ada perempuan yang masuk kedalam hidup saya kecuali Alice."
Sebelum Agha melanjutkan ucapannya, Agha melihat Syakila dengan tatapan matanya tajam dan ekspresi nya dingin. Syakila yang melihat itu langsung menundukkan kepalanya, tubuhnya seketika menggigil dan keberaniannya tadi sedikit menciut.
"Kamu tau, wanita saya yang sangat berharga di hidup saya udah di ambil sama Allah. Setelah itu dunia saya tidak ada artinya lagi dan cinta saya sudah habis, udah berapa banyak perempuan sana bahkan anaknya sahabat abah dan umah yang ingin menjadi pendamping saya, dan beberapa dari mereka menginginkan saya untuk jadi menantunya, semua itu saya tolak mentah-mentah. Malah kamu pula yang tidak ada apa-apanya datang menerobos masuk kedalam kehidupan saya yang tenang ini. Kamu tau, tidak ada perempuan seorangpun yang bisa menandingi Alice, karena Alice lah yang setara dengan mereka semua, termasuk kamu."
"Maaf jika perkataan saya sangat kasar dan tajam sampai membuat hati kamu sakit, tapi ini adalah cara saya untuk membuat kamu mundur dan saya yang akan membatalkan perjodohan gila ini."
Sepanjang Agha ngomong, Syakila hanya diam sambil mendengarkan, saat Agha membalikkan tubuhnya menghadap depan, sebab tadi dirinya berdiri berhadapan dengan tubuh Syakila.
"Saya tau A'a, tapi saya tidak ingin perjodohan ini batal, saya bisa terima konsekuensi untuk kedepannya."
Mendengar itu Agha malah emosi, dan mengambil permen yang selalu di bawanya untuk meredakan emosinya, usulan dari Alice yang memang manjur.
"Dasar bodoh!."
"Saya gak peduli A'a bilang saya apa, tapi yang A'a harus tau saya ini sangat ingin menjadi istri A'a dan saya tidak ingin perjodohan ini batal. A'a gak lihat para orang tua kita yang sangat bahagia mengingat akan pernikahan kita, saya gak bisa membuat mereka memasang wajah kecewa ketika kita membatalkan perjodohan ini."
"Apa yang kamu incar dari saya, tidak mungkin kamu sangat keras ingin masuk kedalam hidup saya. Katakan, apa yang udah orang tua saya janjikan ke kamu dan keluarga kamu?."
"Tidak ada A'a, tidak ada yang mereka janjikan dan tidak ada yang saya incar dari A'a."
"Ck, gak usah munafik, kamu tau latar belakang saya. Pasti ada yang kamu incar kan dari saya, katakan."
"Yah, yang saya incar dari A'a adalah menciptakan keluarga yang bahagia dimasa depan, keluarga harmonis, saling melimpahkan kasih sayang dan cinta didalamnya."
"Kalau begitu, saya tidak menginginkan nya, saya tidak ingin membangun keluarga dengan kamu."
"Kenapa A'a seperti ini?."
"Kamu bertanya, baik saya akan jawab. Saya hanya ingin membangun keluarga dengan Alice seorang, tidak dengan wanita lain. Jadi saya mau kamu stop memaksa ingin masuk kedalam hidup saya, kamu tau sendiri jika perjodohan gila ini berlanjut dengan pernikahan, saya yakin kedepannya kamu bakalan meneteskan airmata dan sakit hati."
"Kalau tentang hati saya yang sakit, saya terima A'a, karena saya tau konsekuensinya."
"Itu kamu tau, kenapa masih bertahan?."
"Karena aku yakin, kalau A'a bisa berubah."
"Wanita bodoh, yang ada kamu nangis dan sakit hati terus keluarga kamu tau dan kamu menceritakan betapa jahatnya dan bejatnya saya yang membuat hati kamu sakit dan tidak membahagiakan kamu, serta kamu juga mau rusak reputasi saya yang udah susah payah saya bangun, gitu rencana kamu kan?."
"Tidak A'a, kamu sangat berburuk sangka sama aku. Mau gimana kedepannya pernikahan kita, aku gak bakalan menjelekkan suami ku atau menceritakan aib rumah tangga ku sendiri pada siapapun. A'a tenang aja, aku gak seburuk itu."
Wah, gila juga nih perempuan, makin di pukul mundur malah makin maju. Gede juga nyalinya, lawan yang sulit untuk di jatuhkan, baiklah kita lihat siapa yang akan kalah. Batin Agha.
"Terserah kamu, jangan salahkan saya dan jangan jadikan saya sebagai pelaku atas air mata kamu yang keluar serta sakit hati kamu. Kedepannya kamu bakalan jalani hari-hari yang suram dan hubungan kita hanya sekedar diatas kertas, saya tegaskan ke kamu untuk tidak menuntut cinta dan kasih sayang yang seharusnya kamu dapat dari saya."
"Tidak masalah A'a, selagi ada Allah dan Allah subhanallah wa taala tidak akan memberikan hambanya cobaan melebihi kemampuannya."
Setelah mendengarkan Syakila bicara, Agha langsung melengos masuk kedalam rumah tanpa pedulikan Syakila.
"Yok semangat Syakila, ini baru permulaan." Gumamnya sambil menyemangati dirinya sendir dan masuk ke dalam rumah menyusul Agha.