NovelToon NovelToon
DENDAM SANG TERKHIANATI

DENDAM SANG TERKHIANATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.

Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.

Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.

Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.

Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamatan Zero

Langkah kaki Keira bergema di tangga beton gedung lama yang jarang dilewati. Di belakangnya, dua teman Zero mengikuti dengan ragu, langkah mereka gemetar membayangkan kengerian yang menanti di atap.

Namun, Keira tidak merasakan hal yang sama. Fokusnya tajam, napasnya diatur sedemikian rupa.

Di persimpangan koridor lantai atas, Ardan yang baru saja ingin kembali ke kelasnya terhenti. Ia sedang asyik memutar-mutar gantungan kunci granat plastik milik Keira di jarinya ketika matanya menangkap siluet gadis itu. Ardan menyipitkan mata. Ekspresi Keira saat ini sangat berbeda dengan gadis yang ia ganggu tadi pagi. Ada keheningan yang berbahaya di mata itu.

"Mau apa dia ke atas?" gumam Ardan pelan. Didorong rasa penasaran, ia memasukkan kembali gantungan kunci itu ke sakunya dan berbelok, mengikuti Keira dari jarak yang aman tanpa suara sedikit pun.

Begitu pintu besi atap terbuka dengan suara derit yang memilukan, pemandangan di depan mereka sangat brutal.

Zero tampak tersungkur di atas semen yang kasar, seragamnya robek di beberapa bagian. Di depannya berdiri lima siswa kelas 12 yang bertubuh jauh lebih besar.

Pemimpin mereka, seorang pria dengan tato kecil di lehernya, sedang bersiap mengayunkan ikat pinggang dengan gesper besi berat ke arah Zero.

"Jadi ini jagoan kelas 11 yang mau jadi pahlawan kesiangan?" ejek si pemimpin. "Karena lo tidak mau setoran, lo yang harus membayar dengan nyawa!"

"Berhenti!" suara Keira membelah udara.

Gerombolan itu menoleh dan tertawa terpingkal-pingkal melihat siapa yang datang.

"Seorang gadis? Lo bawa pacar lo untuk melihat lo dihajar, Zero?"

Zero mendongak dengan susah payah, matanya membelalak kaget. "Keira! Pergi! Ini bukan urusan lo!"

Keira mengabaikan peringatan Zero. Ia melepas jaket olahraga yang ia kenakan, menyisakan kaos polos yang memudahkannya bergerak.

"Aku akan memberi kalian satu kesempatan," ucap Keira sambil meregangkan jemarinya. "Pergi sekarang, atau aku pastikan kalian harus menggunakan tandu untuk turun dari sini."

"Banyak omong. Hajar dia!" teriak si pemimpin.

Dua orang terdepan merangsek maju. Salah satunya melayangkan pukulan mentah yang sangat mudah dibaca.

Keira bergerak seperti bayangan ia merunduk, lalu dengan satu gerakan upper-cut yang presisi, ia menghantam dagu lawan pertama hingga matanya memutih dan jatuh pingsan seketika.

Belum sempat lawan kedua bereaksi, Keira melakukan tendangan low-kick yang mematahkan keseimbangannya, disusul dengan serangan siku yang telak mengenai pelipisnya.

Di balik pintu yang sedikit terbuka, Ardan terpaku. Ia menyaksikan setiap gerakan Keira dengan tatapan tak percaya.

Itu bukan gerakan bela diri sekolah biasa. Itu adalah teknik Close Quarter Combat tingkat tinggi yang hanya diajarkan pada pasukan khusus atau agen rahasia.

Keira bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ia menghindari ayunan gesper besi si pemimpin hanya dengan geseran kepala yang minimalis, lalu menangkap tangan pria itu, memutarnya hingga bunyi krek terdengar, dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang tak masuk akal bagi seorang gadis seusianya.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, lima perundung itu terkapar berserakan di atap. Keira berdiri tegak, napasnya bahkan tidak memburu. Ia berjalan mendekati Zero yang masih terpaku tak percaya di lantai.

"Bangun," ucap Keira dingin, mengulurkan tangan. "Jangan membuatku menyesal telah datang ke sini."

Ardan, yang masih bersembunyi di balik pintu, merogoh sakunya dan menggenggam gantungan kunci granat itu dengan erat. Kini ia tahu pasti Keira bukan sekadar siswi pindahan.

Ardan menarik diri dari balik pintu besi yang berkarat. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, napasnya tertahan. Matanya menatap gantungan kunci di tangannya dengan tatapan yang kini jauh lebih serius. Ia sudah melihat cukup banyak.

"Menarik," gumam Ardan pelan.

Ia memilih untuk segera pergi, menuruni tangga dengan langkah seringan kucing. Ia tahu Keira tidak membutuhkan bantuannya.

Di atas atap, keheningan yang mencekam.

Dua teman Zero masih mematung, mulut mereka menganga lebar seolah nyawa mereka baru saja terbang keluar.

Mereka menatap Keira seperti melihat hantu atau malaikat maut.

Keira berjalan mendekati Zero. Tanpa banyak bicara, ia membantu pemuda itu untuk duduk bersandar di dinding.

Wajah Zero hancur sudut bibirnya robek dan matanya mulai membiru. Namun keterkejutannya melihat apa yang baru saja terjadi jauh lebih besar daripada rasa sakitnya.

Keira berdiri tegak di depan Zero, menatapnya dengan pandangan dingin yang menusuk tulang. Tidak ada rasa kasihan, hanya ada peringatan keras.

"Masih mau ngajakin aku duel, hah?" tanya Keira, suaranya datar namun tajam.

Zero hanya bisa terdiam, menatap Keira dengan tatapan kosong sekaligus rasa malu yang luar biasa.

"Urungkan niatmu. Kau sudah lihat sendiri, kan? Kau tidak akan pernah berhasil," lanjut Keira. "Udah, sekolah yang benar. Berhenti jadi sampah yang memalak orang lain. Gunakan hidupmu untuk jadi orang berguna nantinya."

Setelah melemparkan kalimat pedas itu, Keira berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya terdengar mantap di atas beton atap, meninggalkan Zero yang kini dipapah oleh kedua temannya dengan susah payah.

"Gila ..." bisik salah satu teman Zero sambil membantu Zero berdiri. "Dia itu manusia atau apa, Zero? Dia menghajar mereka semua seolah-olah mereka itu cuma boneka."

Zero tidak menyahut. Ia hanya menatap pintu tempat Keira menghilang.

Di balik rasa sakit yang menyiksa tubuhnya, ada sebuah tekad baru yang tumbuh.

1
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
SI bapak baru ngeuh klo Keira nya berubah
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh makin tegang, keira harus jujur sama papa Marvin
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
wah hebat juga frans, pasti frans curiga waktu keira keluarin jurus Combatnya
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
meilan memang harus di beri pelajaran, aq kira meilan sdh sadar trnyata belum
Dew666
🍭🍭🍭🍭
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
pasti ada dendam kesumat nih si zero sm ardan 🤔
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Di KO kan, makanya jangan sok jagoan jadi cowok 😏
Dew666
🔮🔮🔮🔮
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
ehh kenapa sma ayahnya Keira?
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh ada apa sama ayah keira jangan bilang ada turut campur orion
Dew666
💜💜💜
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
makin seru thor ceritanya🫶
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
mampus kmu orion
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
maaf kak sibuk banget kemarin.. dan gak punya tabungan bab🤧
Dew666
Tumben up cuma 1 thor?
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Dew666
🍦🍦🍦🍦🍦
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
ayoo kei saatnya beraksi, musnahkan semuanya babat habis lah
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Depinisi keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa kamu kei, niat hati pindah sekolah pengen yang lebih baik eh malah tambah parah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!