NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kudeta Sang Ratu

Setelah drama pemberontakan ala Sesilia terlaksana dan menghasilkan kegagalan, Penthouse milik sang monster diselimuti keheningan yang aneh. Keheningan itu bagi sang tikus kecil dijadikan fase istirahat untuk kembali dengan pemberontakan cerdas lainnya. Setidaknya cerdas bagi ia sendiri.

Dalam keheningan itu, wajah sang gadis tampak lebih tenang dan patuh. Gadis itu sedang mencoba sebisanya untuk menampakkan wajah bak orang yang sudah menyerah pada keadaan. Tetapi dalam kepalannya, ribuan sel-sel baru sedang terbentuk. Seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu. Begitulah kinerja sel-sel otaknya. Ratusan bahkan ribuan cara untuk kabur sedang disulam sesempurna mungkin. Otak seorang calon dokter bedah sedang bekerja dengan presisi tinggi. 

Sang gadis, menyadari satu kesalahan fatal yang dilakukannya. Selama ini ia menghadapi Axel dengan emosi menggebu-gebu, lelaki itu sebaliknya menghadapi segalanya dengan ketenangan dan didukung oleh sistem yang canggih. Sistem yang secanggih canggih milik Axel akan sangat sulit dihadapi oleh Sesilia seorang, apalagi dengan hanya mengandalkan kemarahan biasa. Maka, dengan tekad kuat, ia memutuskan bahwa untuk menghadapi sang monster dengan sistemnya yang canggih, ia harus menjadi bagian dari sistem itu sendiri, dengan kata lain Ia harus menjadi virus yang tidak terdeteksi. Virus yang bisa merusak sistem.

​Pagi itu, Sesilia tidak lagi menolak tablet protokol. Ia bangun pukul 05:30 tepat, melakukan meditasi singkat untuk menstabilkan detak jantungnya. Karena ia tahu bahwa jam tangan biometrik di pergelangan tangannya sedang melaporkan setiap lonjakan adrenalin ke server monster itu. Setelah semua selesai, ia melangkah menuju ruang makan dengan penuh percaya diri. 

​Axel, yang sedang menyesap kopi hitamnya sambil meninjau laporan pasar global, mengangkat alisnya saat melihat tikus kecilnya duduk di hadapannya dengan senyum tipis yang sopan. Tidak ada lagi pemandangan mata yang sembab, karena menangis terlalu lama. Juga tidak ada lagi bibir yang terkatup rapat karena amarah yang tertahan.

​"Kau kelihatan segar pagi ini, tikus kecil," ucap Axel, matanya yang kelabu mencari tanda-tanda kebohongan dari gadis didepannya.

.

​"Ekhm..” Gadis itu terbatuk-batuk guna mengurangi ketegangannya.

“Aku semalaman berpikir tentang banyak hal, termasuk tentang kita. Dan mulai sadar bahwa seharusnya aku bersyukur karena kau sangat baik hati dan mau menjadikanku sebagai tunangan. Padahal masih banyak gadis yang lebih segalanya dari aku. Jadi, aku akan mencoba menggunakan semua fasilitas sebagai tunangan Axel steel dengan baik. Juga Tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi seperti kemarin. Sejujurnya pemberontakan kecil kemarin sangat konyol, juga hanya membuatku lelah dan mungkin akan menghambat studiku," jawab Sesilia, suaranya datar dan sok profesional. 

"Jika harus berada di sini, aku lebih baik menggunakan fasilitasmu untuk menjadi dokter terbaik. Seperti yang kamu inginkan. Sebuah investasi yang kinerjanya tinggi." Sang gadis menarik napas panjang setelah mengatakannya.

​Axel menyandarkan punggungnya, menatap gadis didepannya dengan cara pandang yang baru. Ia sangat menyukai perubahan ini, namun sisi predatornya tetap waspada.

 "Pilihan yang logis, tikus kecil. Aku senang kau mulai melihat dunia dari perspektifku."

​Sesilia hanya mengangguk kecil, sambil menyendok omeletnya. Di dalam kepalanya yang kecil, ia sedang memetakan sesuatu yang jauh lebih besar. Seperti sedang mempelajari pola perilaku sang monster, jadwal rutinnya, dan yang paling penting, batasan-batasan dari kegilaan pria itu.

Sang tikus kecil mulai menerapkan taktik yang ia namai sebagi Kepatuhan Aktif. Caranya adalah dengan tidak lagi menunggu monster itu memerintah, selain itu ia juga harus meminta lebih banyak hal. Seperti akses ke jurnal medis yang lebih eksklusif, meminta peralatan laboratorium tambahan di sayap pribadinya, dan bahkan meminta agar diizinkan menghadiri seminar medis internasional melalui konferensi video.

​Axel memberikan semuanya dengan senang hati. Baginya, keinginan tikus kecilnya untuk berkembang di bawah fasilitas pemberiannya adalah bukti bahwa sangkarnya mulai terasa seperti rumah.

​Namun, Sesilia menggunakan permintaan-permintaan ini hanya untuk satu tujuan, yaitu pemetaan infrastruktur.

​Saat teknisi datang untuk memasang mikroskop elektron baru atau saat Tuan Han mengantarkan perangkat lunak medis terbaru, Sesilia memperhatikan cara mereka mengakses jaringan internal gedung. Ia memperhatikan kode-kode warna pada kabel optik yang terpasang di dinding, dan juga mencatat durasi waktu yang dibutuhkan sistem keamanan untuk melakukan reboot setiap tengah malam.

Langkah lain yang dilakukannya adalah mulai menjinakkan Axel dengan cara yang lebih licik. Dimulai dari mengajak lelaki itu berdiskusi tentang kasus-kasus medis yang rumit saat makan malam. Ia tahu betul bahwa Axel memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan sangat sombong akan hal itu. Dengan membiarkannya, maka sang monster akan merasa menjadi mentor yang penting baginya, dengan begitu kepercayaan dari monster itu padanya akan berangsur-angsur meningkat. Hal ini sangat penting.

​"Bagaimana menurutmu tentang prosedur Ross pada pasien dengan degenerasi aorta ini?" tanya gadis itu suatu malam, sambil menyodorkan tabletnya pada Axel.

Lelaki itu, yang merasa tersanjung secara intelektual, mendekat. Kehadirannya yang biasanya sangat mengintimidasi kini terasa sedikit lebih lunak karena sedang berada dalam mode problem solver.

​"Secara mekanis, itu efisien, tapi risiko pendarahannya tinggi jika kontrol tekanan darah pasca-operasinya tidak dikelola oleh sistem otomatis," jawab Axel, jemarinya menggeser layar tablet sang gadis.

​Sesilia memperhatikan pergerakan jari lelaki itu, otaknya sesekali mencatat pola gestur yang digunakan Axel untuk membuka enkripsi tertentu pada perangkatnya. Ia tidak mencoba mencuri kode karena itu terlalu berisiko,ia hanya sedang mempelajari logika berpikir monster itu dalam menyusun kata sandi.

​Di tengah situasi yang makin kondusif, Sesilia menemukan bahwa kegilaan Axel telah mencapai tahap di mana pria itu mencoba mengintegrasikan sang gadis ke dalam fungsi biologisnya sendiri. Dengan kata lain, monster itu berusaha menyatukan ritme biologis mereka berdua agar lebih selaras. Menyatu. Tindakan yang benar-benar diluar nalar manusia normal.

​Suatu malam, saat sang monster sedang tertidur lelap, sesuatu yang jarang terjadi, Sesilia menyelinap keluar ke ruang kerja utama. Bukan untuk mencari jalan keluar, namun untuk mencari informasi. Hal yang ditemukannya adalah sebuah brankas kecil di belakang potret keluarga Steel yang lama. Dengan menggunakan pola gestur yang ia pelajari selama diskusi medis mereka, gadis itu mencoba beberapa kombinasi logika.

Dan setelah beberapa kali percobaan gagal, akhirnya ​Brankas itu berhasil terbuka.

​Isinya bukan uang atau dokumen rahasia perusahaan. Isinya adalah kumpulan benda-benda pribadi miliknya yang seharusnya sudah hilang bertahun-tahun lalu. Ada seikat rambut yang dipotong saat ia tertidur, sebuah sapu tangan yang tertinggal di rumah keluarga Steel empat tahun lalu, dan yang paling mengerikan adalah sebuah botol vial kecil berisi sampel darah.

​Sesilia teringat saat ia melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di kampus tahun lalu. Axel pasti telah menyuap petugas lab untuk mendapatkan sisa sampel darahnya.

​Di samping benda-benda itu, terdapat sebuah jurnal fisik dengan sampul hitam dan ada tulisan tangan yang diyakininya sebagai tulisan milik Axel. Ia membacanya dengan napas tertahan.

​“Darah miliknya adalah bensin bagi mesin hidupku. Selama DNA-nya ada dalam genggamanku, dia tidak akan pernah bisa menjauh dariku, barang selangkah pun. Jika akhirnya gadis itu mati, aku akan menggunakan sampel ini untuk memastikan tidak ada satu sel pun darinya yang luput dari sejarah. Karena gadis itu bukan sekadar gadis biasa. Ia adalah alasan terbesar dari keberadaanku didunia ini. Axel Steel.”

Gadis itu menutup jurnal tersebut dengan tangan gemetar. Axel tidak hanya terobsesi, pria itu seperti menganggapnya tuhan dan pria gila itu sedang melakukan pemujaan terhadap dirinya. 

 Axel Steel sangat mencintai ide tentang dirinya, Sesilia yang sempurna dan patuh sehingga pria itu akan menutup mata pada anomali kecil selama anomali itu dibungkus dalam kepatuhan pada semua aturannya.

​Sesilia dengan segala otak encernya mulai melakukan sesuatu yang dia sebut sebagai eksperimen stres pada sistem pengawasan Axel. Ia tahu bahwa detak jantungnya dipantau melalui jam tangan biometrik. Jadi, gadis itu mulai melatih teknik pernapasan vagal untuk menurunkan detak jantungnya secara drastis saat ia sedang merasa sangat marah atau sedang merencanakan sesuatu.

​Ia ingin menciptakan data palsu, agar monster itu percaya bahwa tikus kecilnya merasa tenang dan bahagia, padahal di dalam kepalanya ia sedang menyusun rencana perlawanan.

​Suatu sore, ia sengaja menjatuhkan vas bunga favorit Axel di ruang tamu. Biasanya, detak jantungnya akan melonjak karena takut. Namun, kali ini berbeda, ia menarik napas panjang, menenangkan sarafnya, mencoba membuat detak jantungnya tetap stabil di angka 65 bpm.

​Axel masuk ke dalam ruangan, terkejut melihat pecahan kaca berserakan di lantai, lalu melirik tablet pemantaunya.

​"Kau menjatuhkan vas itu, tapi jantungmu tetap tenang," ucap pria itu, nadanya penuh selidik.

​"Itu hanya vas bunga. Kau bilang sendiri kan, agar jangan sampai akuterjebak dalam drama yang tidak perlu," jawabnya sambil tersenyum manis, senyum paling palsu yang pernah ia buat.

 "Aku hanya sedang belajar mengendalikan emosiku, seperti yang kau ajarkan."

Lelaki itu terdiam, mencerna situasi. Untuk pertama kalinya, muncul keraguan tipis di matanya. 

Apakah ia berhasil menjinakkan tikus kecilnya sepenuhnya, ataukah gadis itu telah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar mangsa yang memberontak?

​Namun, obsesi gilanya memenangkan keraguan itu. Pria itu mencoba percaya bahwa akhirnya sang gadis

mengerti posisinya. 

"Bagus. Aku suka kemajuanmu." Ucapnya tanpa ragu.

​Adaptasi Sesilia mulai membuahkan hasil. Ia kini diizinkan memiliki akses yang lebih luas ke perpustakaan digital Steel Group dengan alasan "riset lintas disiplin." Ia menggunakan akses ini sebaik mungkin untuk membangun jalur komunikasi rahasia.

​Ia tidak mengirim email atau pesan teks karena semuanya akan terdeteksi oleh filter AI Axel. Sebaliknya, ia menyisipkan pesan-pesan tersembunyi dalam draf-draf jurnal medis yang ia unggah ke server universitas. Menggunakan kode-kode medis (misalnya, urutan asam amino tertentu yang jika diterjemahkan menjadi huruf-huruf pesan) untuk berkomunikasi dengan sahabatnta, Uni.

Gadis itu memberi tahu Uni bahwa ia aman, tapi ia sedang berada dalam "operasi jangka panjang." Kemudian meminta sahabatnya untuk mulai mencari informasi tentang kelemahan hukum dalam kontrak-kontrak Steel Group di luar negeri.

Setelah perjuangan panjang seharian. Malam ini, dua sejoli itu menghabiskan malam bersama. Bukan dalam konteks yang intim. Tetapi sekedar melihat bintang di langit bersama. Sang gadis bersandar pada pagar balkon dengan santai, menatap lampu kota seolah-olah ia adalah penguasa tempat itu. Disampingnya, berdiri sang monster, tangannya menggenggam tangan gadis itu. Untuk pertama kalinya, gadis itu tidak berontak. Ia justru membalikkan telapak tangannya dan menggenggam jari-jari Axel.

​"Kau terasa berbeda, tikus kecil," bisik Axel, suaranya dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang dalam.

​"Aku hanya menyadari bahwa tidak ada gunanya melawan monster sepertimu," jawabnya, sembari menatap lelaki itu dengan mata yang jernih. "Lebih baik aku belajar bagaimana cara berlayar di dalamnya."

​Axel tersenyum, jenis senyum yang menampakkan kepuasan. Pria itu tidak menyadari bahwa di balik genggaman lembut Sesilia, gadis itu sedang menghitung denyut nadinya. Ia sedang mempelajari bagaimana cara membuat pria paling berkuasa di Jakarta ini merasa aman, agar saat saatnya tiba, ia bisa menghancurkan sangkar emas ini dari dalam.

 Sang Ratu tidak lagi mencoba melarikan diri dari istananya. Ia mulai merencanakan bagaimana cara mengkudeta Sang Raja, agar tanpa disadari ia telah kehilangan mahkotanya.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!