Candy seorang gadis lulusan SMK harus terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang CEO muda, Ezza. Lambat laun tanpa disadari cinta mereka perlahan tumbuh sampai lahirlah putra mereka Daffin.
Tetapi restu dari Ibu Ezza tak kunjung didapat sampai ahirnya Candy dijebak ibu mertuanya dan Ezza mempercayai hal itu. Karena merasa sakit hati, Ezza pun menyetujui calon yang dipilihkan ibunya untuk menggantikan posisi Candy sebagai istrinya.
Delima hadir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ezza, tetapi ia hanya mengincar harta Ezza. Saat Ezza terjebak rekan bisnis hingga masuk penjara, Delima menjauh.
Saat itulah cinta mereka diuji. Candy yang berjuang demi keluarga besar Hadi Wijaya saat Ezza dipenjara. Ia pun yang memperjuangkan Ezza sampai ahirnya ia bisa keluar dari penjara.
Dengan segala ketulusan cinta Candy akankah mampu mengembalikan kasih sayang dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CANGGUNG
Happy reading all😘
.
.
"Pagi pa," sapa Candy yang memakai pakaian casualnya.
"Loh, gak ke kantor?" tanya Tuan Hadi.
"Papa lupa ya kalau hari ini aku mau ke tempat seseorang," ucap Candy sengaja menyamarkan tujuannya.
Karena memang saat itu mereka sedang sarapan pagi dan ada Daffin disana.
"Nyam, nyam ..."
Daffin masih asyik mengunyah sarapannya meski sebenarnya rasa keingin-tahuannya sudah meledak di dalam hatinya.
Tak lupa Candy juga mengambilkan susu untuk menemani sarapan Daffin.
"Makasih Moms."
"Sama-sama sayang."
"Ya sudah nanti berangkatnya hati-hati, papa hanya bisa mendoakan kalian saja."
"Iya Pa, terimakasih."
Karena waktu berangkat sekolah sudah tiba, Daffin segera berpamitan pada Candy dan kedua kakek neneknya.
"Kek, nenek, Daffin sekolah dulu ya, Assalamu'alaikum."
Ia pun salim pada kedua kakek neneknya itu, lalu berpamitan pada ibunya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati sayang," ucap mereka hampir bersamaan.
Candy pun mengantarkan putranya sampai pitu depan. Hingga ia masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke sekolah.
Setelah mobil yang dipakai Daffin menghilang, belum sempat ia masuk, dari arah gerbang sudah terlihat sebuah mobil berwarna putih memasuki halaman rumah itu.
Candy nengeryitkan dahinya, matanya memicing melihat hal itu.
"Astaga, dokter Richard benar-benar datang kesini, untuk apa?"
Tak mau dokter itu melihatnya, Candy segera bergegas masuk ke dalam rumah.
Tuan Hadi yang melihat Candy buru-buru masuk ke dalam ruang makan membuat dirinya bertanya-tanya.
"Ada apa nak, kok keliatan buru-buru?"
Candy segera meminum satu gelas air putih dan mengusap bibirnya agar tak belepotan.
"Maaf pa, ma, di depan ada dokter Richard."
"Kan memang papa yang menyuruh dia kemari," ucap Tuan Hadi dengan santai.
Mata Candy melotot dengan sempurna.
"Ha-ah untuk apa pa?"
"Untuk menemani kamu pergi mengunjungi Ezza."
"Ha-ah, kalau Mas Ezza salah sangka gimana pa?"
"Biarin, biar dia sadar, harusnya ia tidak menyia-nyiakan kamu."
"Astaghfirullah ..." gumam Candy.
"Harusnya gak begitu juga pa."
"Sekalian biar bisa jagain calon bayi kamu, bukankah kandungan kamu sudah masuk semester ahir, kalau bukan dia siapa lagi?"
Candy menunduk pasrah. Tak lama kemudian sang dokter sudah bergabung dengan mereka.
"Assalamu'alaikum," sapanya pada semua penghuni ruang makan itu.
"Wa'alaikumsalam," ucap mereka serempak.
"Selamat pagi om, tante dan Candy?"
"Pagi, ayo bergabung saja sekalian sarapan dulu."
"Terimakasih om, kebetulan tadi sudah sarapan."
"Ya sudah kalau begitu, hmm ..."
"Saya cuma mau minta tolong agar kamu menemani menantu saya untuk pergi mengunjungi Ezza."
"Iya om."
Sejak kehadiran dokter Richard sudut pandang Nyonya Hadi sudah terlihat tidak suka.
"Dasar menantu kurang aj** beraninya membawa lelaki ke dalam rumah ini," gumamnya.
Hanya saja, saat ini ia sudah tidak menunjukkan ketidaksukaannya karena ia terkena struk, jadi ia hanya bisa diam di tempat.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Candy ahirnya pamit pada ayah mertua dan ibu mertuanya. Meski Candy tau sorot mata Nyonya Hadi masih belum berubah, ia tetap menghormatinya.
"Om, tante, saya permisi dulu."
"Iya, hati-hati."
Dokter Richard segera menyusul Candy yang sudah berjalan lebih dahulu darinya. Meski ia ia tau Candy sangat tidak menyukai hal ini, tetapi demi kehamilannya ia pun menyetujui usul ayah mertuanya.
Di dalam mobil.
"Jangan lupa pakai sabuk pengamannya ya Nona Candy."
"Hmm ..."
Dokter Richard hanya tersenyum ketika mendapati respon Candy yang selalu dingin kepadanya.
"Andai aku yang bertemu lebih dulu denganmu, mungkin hari ini aku menjadi orang yang paling berbahagia."
"Meski aku tau perasaan ini salah, tetapi entah kenapa aku menikmatinya, maafkan aku Candy."
"Oh ya, sudah tidak ada keluhan tentang kandungan kamu ahir-ahir ini bukan?"
"Alhamdulillah sudah tidak ada dokter."
"Alhamdulillah, tetapi saya harap kamu tetap meminum vitamin yang sudah saya resepkan, oke."
"Iya Pak Dokter."
.
.
Sementara itu di sebuah gubuk kecil di tengah hutan.
"Katakan padaku apa yang membuatmu kembali ke tempat ini?" tanya Ki Parto sambil menyesap cerutunya.
"A-anu mbah, saya ingin balas dendam dengan seseorang mbah."
"Apakah orang yang sama seperti dulu."
Delima mengangguk.
"Mau diapakan lagi dia, bukankah dia sudah masuk penjara," ucap Ki Parto santai.
"Saya hanya ingin membuat rezeki orang itu mampet mbah, saya gak rela untuk perlakuannya yang begitu saja membuang saya seperti sampah."
"Ha ha ha ... karena kamu terlalu sombong, hingga kau melupakan keberadaanku yang harusnya setiap bulan kau harus singgah disini."
"Apa kau lupa dengan perjanjian kita dahulu, hah!" gertak Ki Parto pada Delima.
Sungguh bodohnya dia, yang selama ini terlalu melupakan syarat yang harus ia lakoni agar pelet itu tetap berfungsi baik padanya.
"Ma-maaf mbah, saya benar-benar lupa, saya minta ampun," ucap Delima sambil bersimpuh.
Ia benar-benar lalai terhadap kewajibannya. Andaikan saja ia mematuhi persyaratan dari Ki Parto, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.
"Lalu mau kamu lanjutkan atau bagaimana?" tanya Ki Parto sungguh-sungguh.
"Dilanjutkan Ki," jawab Delima.
"Ha ha ha ... kalau kau mau melanjutkan hal itu sepertinya kau salah orang."
"Bagaimana bisa begitu ki?"
"Tentu saja bisa mbak, asalkan kau harus menyetujui syarat dariku tanpa garus bertanya kembali."
"Kalau itu saya sanggup Ki," jawab Delima mantap.
"Benarkah??" tanya Ki Parto memastikan kembali ucapan Delima.
"Iya saya yakin."
"Kalau begitu kembalilah ke kamarmu, dan tunggulah syarat dariku itu di rumahmu dengan tenang."
"Ha-ah... oke."
Setelah memastikan Delima pergi kembali ke gubuknya. Maka Ki Parto mengutus seorang untuk mengunjungi gubuk yang berisi Delima.
"Aman ki."
"Bagus laksanakan tugasku, pastikan tidak ada warga ataupun masyarakat yang lewat sini malam ini."
"Baik."
Seketika aura mencekam mengelilingi dua gubuk di tengah hutan itu. Bahkan suara burung gagak terdengar saling bersautan disana. Membuat enggan masyarakat yang mau melewati daerah itu.
"Sepertinya Ki Parto akan melakukan ritual itu lagi," gumam salah seorang pemuda dibalik sebuah pohon mahoni yang besar.
Tak mau aksinya ketauan, ia pun segera mengayun sepedanya menjauhi area itu. Dengan langkah yang tergesa-gesa ahirnya ia bisa keluar dari lingkaran setan itu.
"Alhamdulillah," ucapnya kemudian.
"Maafkan aku mbak gak bisa menolongmu."
Sedangkan di dalam gubuknya Delima sudah ketakutan luar biasa. Suara burung gagak yang mengelilingi atap gubuknya seolah memberi pertanda bahwa ia sedang dalam mode bahaya.
Ki Parto sedang menyempurnakan ilmunya saat ini, maka ia pun harus mengorbankan salah seorang wanita untuk langkah terahirnya. Untungnya Delima datang menyerahkan dirinya, kini ia pun tersenyum penuh kemenangan.
"Ha ... ha ... ha ... tunggu aku pengantinku," ucapnya dengan lantang.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏🙏