Wanita Keras Kepala dan tak suka diatur selain menurut pada satu orang yaitu Kingnya, ia adalah sosok yang keras dan acuh.
Namun, ada hal dibalik sikap bengis itu muncul membuat ia dijahui banyak orang bahkan tak satupun pria yang mampu menyentuh hatinya.
Bagaimana jika ia di jodohkan dengan pria yang tak kalah Arogan dan keras kepala, kasar bahkan sama sekali tak menyukainya sedari awal bertemu?
Akankah mereka bertahan, atau malah berpisah ditengah ketidak cocokan Perasaan dan Kekerasan hati itu?
Na'as hati itu mulai mencair, masa lalu kelam datang menghampiri menerjang pondasi yang sama sekali tak kokoh karna hanya satu hati yang menopangnya. membuat goresan luka yang membekas dalam.
"Akan ku lepas, jika kau bahagia,"
Satu lirihan kata yang terucap dengan netra Elang yang menatap sendu kepergian seseorang yang sudah membuat jiwanya terbelah untuk yang kedua kalinya.
Sudah cukup rasanya Mencinta! tak ada yang menghargai hingga mereka pergi begitu saja.
Bagaimana kelanjutannya, apakah mereka tetap bersama atau malah kembali hidup keras masing-masing.
Simak ceritanya di Novel Author kesayangan ini😂..
Mohon Mampir...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita sebenarnya!
Wajah penuh miris remaja yang berdiri dihadapan Wanita cantik dengan wajah bergurat kemarahan itu lansung meredupkan api semangat di hidupnya, kepalanya tertunduk lesu dengan kedua tangan yang mencengkram erat Pakaian Sekolah menegah atas yang terlihat sudah lusuh akibat termakan waktu.
"Punya apa kau ingin menikah dengan Putriku?"
Degg..
Pertanyaan itu lansung menusuk uluh hatinya, ia hanya Laki-Laki berumur 17 Tahun yang hidup berjuang sendiri di tengah kejamnya Negara Amerika, ia tak punya apapun untuk di banggakan selain Motor Pespa Butut itupun tak akan bernilai bagi Keluarga besar Eliotes ini.
"Ma..Maaf, Nyonya! tapi saya Mencintai Alen!"
Senyum sinis itu muncul dengan guratan wajah yang sama sekali tak senang dengan hubungan secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan Putrinya dan Lelaki jalanan ini.
"Cinta itu tak cukup untuk menghidupi putriku!"
"Ta..Tapi saja berjanji akan berusaha! saya akan..!"
"Apa yang kau bisa?"
Stephen seketika tertegun diam, sekolahnya saja masih belum tentu akan mencapai pendidikan tinggi, tapi ia sangat yakin bisa menghidupi Alen Cinta hatinya itu.
"Jawab! kenapa kau diam saja?"
"Sayang!"
Dady Tom yang menengahi kekesalan istrinya, ia menatap Stephen dengan rumit, wajah pria ini sangatlah manis dan lembut, ia yakin Alen jatuh cinta akan Kehangatan yang di tawarkan, tapi ia sebagai orang tua dari Alen tentu tak ingin membuat Putrinya hidup tanpa jaminan.
"Nak! kami memang paham kalau kau sangat mencintai Alen putri kami, tapi kau tahu sendiri kami tak bisa memberikannya begitu saja sedangkan kau masih hidup tak berkecukupan!"
Stephen terlihat bungkam dengan dada yang bergemuruh kuat, ia datang kesini karna ingin memperjelas hubungannya dan Alen, namun sayangnya ia hanya debu di Keluarga ini.
"Tapi..Tapi saya sangat mencintai Putrimu, Tuan!"
Lirihan lemah itu muncul, ia tak sanggup jika harus melepas Alen, ia tak bisa melihat wanita itu bahagia dengan Pria lain tanpa dirinya seorang.
"Kau itu seharusnya tahu diri! aku tak masalah jika Putriku mau denganmu dan Kau MAMPU menghidupinya, tapi lihatlah kondisimu sekarang!"
"Nyo..Nyonya! Aku..!"
"Cukup!! sudah cukup kau membantah, Kau itu laki-laki! kau pimpinan keluarga, aku tak ingin Putriku malah di injak oleh orang lain!"
Tegas Momy Berry yang lansung masuk ke dalam Kediamannya meninggalkan Stephen yang berdiri kaku didepan pintu sana dengan mata yang hampir saja tak sanggup menatap yang lain.
Melihat kesedihan Stephen, Dady Tom lansung menepuk bahu kokoh pria itu dengan jantan, ia paham dan mengerti tapi ia tak bisa berbuat apapun karna ini memang ketentuanya.
"Kau bisa mengubah Nasipmu! Nikahi putriku!"
Seketika Stephen mengangkat kepalanya menatap Dady Tom yang tersenyum menatap Stephen yang benar-benar mendapat secercah harapan bahkan mata Remaja Laki-Laki ini terlihat berbinar cerah.
"Tu..Tuan! A..Apa kau..!"
"Hm!Layakan hidupmu dan raihlah apa yang kau mau! aku yakin kau bisa!"
Stephen tersenyum Refleks memeluk Dady Tom yang menepuk punggung Stephen jantan penuh ketegasan, ia akan mencoba menunggu namun kalau sudah terlalu lama ia tak bisa bertahan lama.
"Terimakasih!! Terimakasih, Tuan!"
"Hm, tapi kau jangan terlalu lama! aku tak menjamin kalau kau pergi begitu jauh!"
Stephen menganggukinya pasti lalu pamit pergi berlari menuju Parkiran dengan wajah yang bergurat beberapa persen, Harapan namun juga mendung akibat ketidak mampuan.
Ia memacu Pespanya ke Pantai didekat Pelabuhan Kapal yang selalu berhenti menunjukan deretan kapal yang tertata rapi, itu tempat biasa ia dan Alen berkencan pada saat pulang sekolah, Nasional Park yang bertajuk pemandangan kapal.
Setelah beberapa lama ia sampai disana dan lansung menempatkan Kendaraan Uniknya itu didekat Parkiran dan berlari ke sebuah Taman Pepohonan rindang di tepi Pantai sana.
"Step!!!"
Suara lembut seorang gadis remaja berseragam sekolah yang melambaikan tangannya pada Stephen yang tersenyum lepas berlari menyonsong sang kekasih.
Grepp..
Tubuh keduanya bertubruk penuh rindu dengan Alen si gadis berambut panjang ke'emasan dengan wajah manis dan sangat Feminim bersama Rok diatas lutut itu, sangatlah imut dan cantik.
"Nona Mnis sudah duluan, hm?"
"Sayang! apa kata Momy dan Dady?"
Pertanyaan yang lansung Alen ungkapkan, ia tak melepas belitan tangannya kepinggang Stephen yang tertegun namun tetap tersenyum membelai surai emas ini.
"Kau sangat ingin tahu, hm?"
"Iya, Step! kan kita mau menikah selesai Sekolah, nanti!"
Stephen hanya bisa diam, ia terlalu percaya diri hingga mengatakan itu pada Si Manisnya ini, tapi ia takut membuat Alen kecewa.
"Sayang, ayo duduk!"
Stephen memangku Alen diatas ayunan di bawah pohon sana seraya menatap Kapal-Kapal besar yang berhenti setelah 3 Bulan berlayar, nyiur angin itu menerpa wajah keduanya dengan kekelutan pikiran Stephen yang menatap lemah wajah Cantik Alen yang begitu berbinar setiap harinya.
"Sayang!"
"Hm?"
Alen menatap Stephen yang menyingkirkan helaian rambut panjang Alen yang tertiup angin pantai yang segar.
"Step! kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Bagaimana kita menikah saat aku sudah punya segalanya?"
Degg..
Alen lansung tersentak kaget lalu berbalik menatap Stephen sulit dengan mata sendunya yang membuat jantung Step bergetar.
"Kau tak mau menikah denganku?"
"Sutt! Bukan begitu, aku hanya ingin membahagiakanmu!"
"Ta..Tapi aku sudah bahagia, Step! aku..aku bahagia bersamamu!"
Suara bergetar Alen yang nyaris ingin menangis, impiannya sedari lama seketika retak mendengar kalimat itu.
"Tapi aku ingin memberimu Dunia ini!"
"Tidak hiks! aku..aku mau kau, bukan Dunia ini, Sayang!"
Stephen memeluk Alen yang menangis dipelukan hangatnya, aku juga tak bisa sayang, aku paham tentang kemauan Kedua orangtua mu, aku bukanlah laki-laki yang berada.
"Step hiks! aku..aku mau kita menikah secepatnya, aku mau kau hiks!"
"Jangan menangis, aku janji akan kembali dan..!"
"Step!!"
Pekik Alen menepuk dada Stephen keras, ia tak suka menunggu dan ditinggalkan sendiri, bahkan ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya kelak.
"Alen!"
"Jangan katakan itu!"
Bantah Alen menutup mulut Stephen yang sungguh ingin lari dari situasi ini, namun ia sudah yakin untuk Bekerja keras di luar sana dan Fokus mencari kekayaan dan kehidupan yang bisa menyetarakan segalanya.
"Aku akan kembali! aku janji dan aku akan menikahimu detik itu juga!"
"Jangan hiks, Jangan Step!"
Alen bertambah terisak mendengarnya, ia menggeleng lemah dengan tangan Stephen yang menangkup pipinya lembut.
"Aku berjanji, tak akan lama Sayang! kita akan segera membina keluarga sendiri, KAU, AKU dan ANAK kita!"
"A..Aku..!"
Stephen tersenyum meyakinkan dengan wajah yang benar-benar membuat Alen terbujuk rayu hingga hanya diam merasa berat, bahkan ia tak mau melepas belitan tangannya ke leher Stephen.
"Ayo kita pulang, ini sudah sore!"
"Ti..Tidak mau!"
Suara bergetar Alen dengan sekugukan kecil itu tanpa ingin turun dari pangkuan Stephen yang menghela nafas berat lansung menggendong Alen yang terdiam menangis tak henti.
"Heyy! Sudahlah, nanti Manisnya ilang sayang!"
"Step!!! Hiks, aku tak mau!! aku mau menikah, Aku mau menikah sekarang juga!!!"
Rengek Alen yang tak sanggup menatap penuh harapan pada Stephen yang akan tetap kekeh, ia sekuat tenaga menjadi kuat demi wanita ini.
"Ayo kita pulang, kau kembung nanti!"
Ucap Stephen mengalihkan pembicaraan dan membawa Alen pulang Kekediaman Eliotes, si sepanjang perjalanan ia terus mengecup tangan wanita itu karna takut besok ia tak melihat wanita ini lagi.
Dan benar saja, esok harinya Alen yang sedang bangun dari tidurnya pun menelan kehampa'an dari sepucuk surat yang Stephen titipkan pada Penjaga Manshionya.
Manis sayang! Pagi Nona Manis sayangku, kau pasti baru bangun, hm? cihh, ayo tersenyumlah, aku butuh senyummu, ini sudah pagi tapi kau tetap saja masam begitu.
*Ini surat pertama dan Terakhir untukmu, Maaf jika aku pergi tak memberi tahumu, Sayang! tapi aku janji, aku akan pulang dengan Kejayaan dan menikahi Si Manis ku ini, JANJi Stepmu ini akan cepat terjadi.
Jangan menangis, nanti Manismu Hilang, tersenyumlah hingga aku datang, Aku akan selalu mencintaimu, SANGAT dan SELAMANYA ALEN*.
Seketika air mata Alen luruh dengan tubuh yang lemas merosot ke dinding kamarnya, ia menangis mencengkram erat surat ini dengan hati yang sakit dan penuh luka.
.........
Flasbackh Of..
Alen seketika terdiam dengan kepalan tangan yang menguat mendengar cerita masa lalu yang ternyata di sebabkan oleh kedua orang tuanya.
"Itu karnanya aku Pergi! dan..!"
"Jadi mereka yang menuntutmu untuk Pergi!"
"Alen, Sayang! Mereka tak salah, buktinya kita masih bertemu dan..!"
"Tapi ini berbeda, Step!!"
Bentak Alen kuat membuat Stephen tersentak melihat perubahan yang timbul dari diri Alen, rambut yang tak lagi panjang dengan tatapan yang menajam, tak lemah seperti dulu.
"Apanya yang berbeda, hm? Kita bertemu sekarang, aku..aku sudah datang dan akan menepati janjiku!"
Alen terdiam dengan air mata yang mendesak keluar, sangat mudah bicara begitu jika tak tahu apa yang telah terjadi setelah 7 Tahun berlalu.
"A..Aku..!"
"Nona!"
Stephen terkejut saat sekelimpok Pria berpakaian hitam dan bermasker itu lansung menarik Alen dari pelukannya dibawah sinaran bulan diatas Gedung Apartemenya ini.
"Kalian siapa? Lepaskan Kekasihku!"
Ucap Stephen pada Smith yang berusaha tak memukuli pria ini dengan Alen yang memberontak lepas dari cengkalan mereka.
"Kalian apa-apa'an ha? lepas!!"
"Kau terlalu berani. NONA!"
Tekan Smith lalu meloncat dari atas Gedung tinggi itu membuat Stephen terkejut setengah mati ingin menggapai tubuh Alen namun ia sudah di dorong mundur oleh Pasukan gelap ini
Brughh.
"Alenn!!"
"Sebaiknya kau jahui, Nona kami!"
Desis Anggota Nareus yang juga lansung terjun kebawah sana dengan Peralatan lengkap yang sudah menanti untuk membawa wanita Liar ini, tak ada cara lain selain memaksa wanita keras kepala itu untuk kembali pulang Kekediaman Lordnya.
......
Vote and Like Sayang..